Pendidik dalam Pendidikan Islam - Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » » Pendidik dalam Pendidikan Islam

Pendidik dalam Pendidikan Islam

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Kamis, 22 September 2011 | Kamis, September 22, 2011

PENDIDIK
DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam
Dosen Pengampu :
Dr. Sabarudin, M.Si




Disusun Oleh :
Nama : Afdhol Abdul Hanaf
Kelas : II / PAI-D


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
SEMESTER GENAP 2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahamat dan hidayah-Nya, sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa manusia ke jalan yang terang, ad diin islam.
Alhamdulillahirabbil’alamin, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Pendidik Dalam Pendidikan Islam”.
Harapan kami, semoga makalah ini dapat menjadi embun esok hari yang senantiasa memberikan kesejukan dan penyegaran bagi kami, serta para pembaca.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, berbagai saran dan kritik yang bersifat membangun dengan lapang dada sangat kami harapkan.



Yogyakarta, Maret 2011



Penyusun



PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pendidik ialah orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing,sehingga antara pendidik dan pengajar memiliki perbedaan. Seorang pendidik tidak hanya bertanggung jawab pada penguasaan materi, akan tetapi juga bertanggung jawab membentuk kepribadian peserta didik yang bernilai tinggi.
Fungsi dasar pendidikan dalam masyarakat meliputi :
a) Alat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide nasional dan masyarakat.
b) Alat untuk perubahan dan perkembangan.
c) Melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif.
Dalam pendidikan islam tidak hanya menyiapkan anak didik memainkan peranannya sebagai individu dan anggota masyarakat saja, tetapi juga membina sikapnya agar menjadi manusia yang beragama, tekun beribadah, mematuhi peraturan agama, serta menghayati dan mengamalkan nilai luhur agama dalam kehidupan sehari-hari.
B. Peran Guru
Roestiyah NK mengemukakan bahwa seorang guru memiliki peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar, diantaranya :
1. Fasilitator, yaitu menyediakan situasi dan kondisi yang dibutuhkan individu peserta didik.
2. Pembimbing, yaitu memberikan bimbingan terhadap peserta didik dalam interaksi belajar mengajar, agar siswa tersebut mampu belajar dengan lancar dan berhasil secara efektif dan evisien.
3. Motivator, yaitu memberikan dorongan dan semangat agar siswa giat dalam belajar.
4. Organisator, yaitu mengorganisasikan kegiatan belajar siswa.
5. Manusia sumber, di mana guru dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa, baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.

C. Syarat-syarat Pendidik dalam Islam
Agar peserta didik dapat menjadi manusia yang beragama, tekun beribadah dan berguna bagi orang lain, maka pendidik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Beriman
Seorang pendidik Islam harus seorang yang beriman, yaitu meyakini akan keesaan Allah SWT. Iman kepada Allah SWT merupakan asas setiap aqidah. Dengan mengimani Allah SWT selanjutnya akan diikuti pula dengan keimanan yang lainnya. Keyakinan terhadap keesaan Allah SWT disebut juga dengan tauhid. Kalimat tauhid dalam Islam adalah “ lailaha illa Allah”. Firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19 yang artinya :
“ Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan mohonlah ampunan bagi dosamu........”.
Iman yang benar harus memiliki tiga syarat, yaitu pengakuan dalam hati, pengucapan dengan lidah dan pengamalan dengan anggota badan. Oleh karena itu iman bukan saja merupakan kepercayaan yang bersifat pribadi, akan tetapi mempunyai eksistensi terhadap seluruh aspek kehidupan. Seorang pendidik Islam harus mempunyai keimanan yang benar.
2. Bertaqwa
Syarat penting yang harus dimiliki pula oleh pendidik Islam adalah taqwa. Taqwa adalah menjaga diri agar selalu mengerjakan perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya, serta merasa takut kepada-Nya baik secara sembunyi maupun secara terang-terangan. Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Imran ayat 102 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”
Seperti halnya iman yang bukan sekedar urusan kepercayaan saja, taqwa juga bukan sekedar amalan batin semata, akan tetapi implikasi taqwa juga terlihat dalam kehidupan.

3. Ikhlas
Pendidik yang ikhlas adalah pendidik yang berniat semata-mata karena Allah, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan, atau hukuman yang dilakukannya. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan adalah sebagian dari asas iman dan keharusan islam. Allah tidak akan menerima perbuatan tanpa dikerjakan secara ikhlas. Perintah untuk ikhlas tercantum dalam Al-Qur’an dengan tegas dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (dengan ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dan menunaikan zakat; yang demikian itulah agama yang lurus”.
4. Berakhlak
Seorang pendidik haruslah mempunyai akhlak yang baik. Orang yang berakhlak adalah orang yang mengisi dirinya dengan sifat-sifat terpuji dan menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela. Beberapa tanda pendidik yang berakhlak diantaranya melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberikan haknya kepada yang berhak dan menjadi tauladan yang baik, khususnya bagi peserta didik.
Karena pentingnya kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia, maka diutuslah Rasulullah SAW untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Sabda Rasulullah SAW yang artinya :
“ Sesungguhnya saya ( Muhammad SAW ) ini diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. ( H.R. Ahmad Ibn Hanbab )
5. Berkepribadian yang Integral
Berkepribadian yang integral adalah dapat menghadapi segala persoalan dengan wajar dan sehat, karena segala unsur dalam pribadinya bekerja seimbang dan serasi. Pikirannya mampu bekerja dengan tenang, setiap masalah dapat dipahaminya dengan obyektif, sebagaimana adanya. Maka sebagai guru ia dapat memahami kelakuan anak didik sesuai dengan perkembangan jiwa yang sedang dilaluinya. Pernyataan anak didik dapat dipahami secara obyektif, artinya tidak ada ikatan dengan prasangka atau emosi yang tidak menyenangkan.
Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 142 :
“ Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat islam) umat yang seimbang, adil, dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia........”
Ketika guru sedang mendapat masalah atau dalam kesulitan, maka haruslah menghadapi masalah tersebut dengan tabah dan berusaha mencari pemecahannya tanpa mengganggu tugas-tugasnya menjadi guru, khususnya dalam proses belajar-mengajar.
6. Cakap
Guru yang cakap minimal ia harus menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan dalam pendidikan. Tidak hanya menguasai dalam teorinya saja, akan tetapi juga harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
7. Bertanggung Jawab
Islam menempatkan manusia di dunia ini dalam kedudukan istimewa, yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya :
“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi........”
Sebagai khalifah, ia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya kepada Allah SWT. Setiap pribadi harus menyadari bahwa kelak segala amal perbuatannya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT di akhirat, maka di dalam hidupnya manusia harus berusaha agar apa yang dilakukannya di dunia ini hanya semata-mata karena Allah SWT dan menurut keridhaan Allah SWT, sehingga semua amal dan perbuatannya bernilai ibadah. Seorang guru harus bertanggung jawab untuk menuntun peserta didiknya untuk dekat dengan Allah SWT dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
8. Keteladanan
Guru merupakan pembimbing murid-muridnya dan menjadi tokoh yang akan ditiru, maka kepribadiannya pun menjadi teladan bagi murid-muridnya. Sebaik-baik kurikulum dan cukupnya buku serta alat pelajaran, namun tujuan kurikulum itu tidak akan tercapai jika guru yang melaksanakan kurikulum tersebut tidak memahami, tidak menghayati apalagi kepribadiannya tidak baik dan tidak bisa dijadikan contoh.
9. Memiliki Kompetensi Keguruan
Kompetensi keguruan adalah kemampuan yang diharapkan yang dapat dimiliki oleh seorang guru. Pada dasarnya, seorang guru harus memiliki tiga kompetensi, diantaranya :
a. Kompetensi Kepribadian
Setiap guru memiliki kepribadiannya sendiri-sendiri yang unik. Tidak ada guru yang sama, walaupun mereka sama-sama memiliki pribadi keguruan. Seorang guru harus terampil dalam :
Mengenal ataupun mengetahui harkat dan potensi dari setiap peserta didik yang diajarnya.
Membina suasana sosial yang meliputi interaksi belajar mengajar sehingga amat bersifat menunjang secara moral (batiniah) terhadap murid bagi terciptanya kesamaan arah dan kesepahaman dalam pikiran murid dan guru.
Membina suatu perasaan saling menghormati, bertanggung jawab, dan saling percaya-mempercayai antara guru dan murid.
b. Kompetensi Penguasaan atas Bahan Pengajaran
Penguasaan yang mengarah kepada spesialisasi atas ilmu atau kecakapan atau pengetahuan yang diajarkan. Penguasaannya meliputi bahan bidang studi sesuai dengan apa yang diajarkannya.
c. Kompetensi dalam Cara-Cara Mengajar
Kompetensi dalam cara-cara mengajar atau keterampilan mengajar sesuatu bahan pengajaran sangat diperlukan guru. Khususnya keterampilan dalam :
Merencanakan atau menyusun setiap program satuan pembelajaran, demikian pula merencanakan atau menyusun keseluruhan kegiatan untuk satu satuan waktu.
Mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan (alat peraga) bagi murid dalam proses belajar yang diperlukannya.
Mengembangkan metode-metode mengajar yang sesuai dengan siswa agar lebih efektif dan evisien.
D. Unsur-Unsur Pokok dalam Masalah Belajar
Zakiah Darajat mengemukakan bahwa unsur-unsur pokok yang perlu diperhatikan dalam masalah belajar adalah sebagai berikut :
a. Kegairahan dan kesediaan untuk belajar.
b. Membangkitkan minat murid.
c. Menumbuhkan sikap dan bakat yang baik.
d. Mengatur proses belajar mengajar.
e. Berpindahnya pengaruh belajar dan pelaksanaannya dalam kehidupan nyata.
f. Hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.

Dari kutipan di atas menunjukkan bahwa guru hendaklah berusaha memberikan bimbingan penuh agar tercapainya tujuan pendidikan tersebut.

PENUTUP

Kesimpulan
Seorang guru memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar-mengajar, diantaranya sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, organisator dan manusia sumber. Seorang guru harus berusaha memberikan bimbingan dengan penuh semangat kerja,membangkitkan minat serta menumbuhkan sikap dan bakat yang baik, mengorganisir proses belajar mengajar, sehingga belajar di sekolah dapat ditransferkan ke dalam dunia nyata yang kesemuanya itu dilakukan melalui hubungan yang manusiawi.



DAFTAR PUSTAKA
Rosetiyah NK. 1982. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem. Jakarta:PT Bina Aksara.
Djanika Rachmat. 1985. Sistem Etika Islam. Surabaya:Pustaka Islam.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger