Perilaku Konsumerisme pada Remaja - Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » » Perilaku Konsumerisme pada Remaja

Perilaku Konsumerisme pada Remaja

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Selasa, 10 Januari 2012 | Selasa, Januari 10, 2012


PERILAKU KONSUMERISME PADA REMAJA
Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Psikologi Perkembangan
Dosen Pengampu : Suyadi, M. Pd. I




Disusun Oleh :
Sasmita Harum Sari                  (10410050)
Afdhol Abdul Hanaf                  (10410051)
Befika Fitriya Dewi                   (10410058)
Akhid Nur kholis P                   (10410060)
III / PAI F
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Perilaku konsumtif adalah perilaku yang mencerminkan “serba instan”  atau tidak mau menempuh proses. Perilaku konsumtif  juga  sering dilawankan dengan perilaku produktif. Bahkan, konsumtif cenderung mengarah pada gaya hidup glamor, borju, boros, dan lain sebagainya. Perilaku konsumtif lazim dialami pada masa-masa remaja. Secara umum, para remaja menyadari bahwa perilaku konsumtif merupakan sikap negatif yang kurang bisa diterima dalam hubungan sosial maupun agama. Seperti dalam surat Al Israa’ ayat 27 :
2           Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah 
             sangat ingkar kepada Tuhannya.
Ayat di atas menjelaskan bahwa sifat boros itu adalah saudaranya syaitan. Tetapi, mereka menganggap bahwa perilaku konsumtif merupakan hal yang wajar di kalangan remaja. Mereka menyebut masanya sebagai ‘masa-masa indah’.
Remaja terkesan senang dengan perilaku yang berbau konsumtif dan hedonis (kesenangan/kenikmatan)[1]. Mereka senang mengeluarkan uang demi mendapatkan barang-barang yang sedang popular dan tidak mau ketinggalan zaman. Mereka juga mudah termakan iklan-iklan yang banyak bermunculan di berbagai media, padahal mereka tidak begitu mementingkan barang yang ditawarkan tersebut.
Perilaku konsumtif merupakan dampak sosiologis dari ekspansi pasar. Seperti fenomena yang sering terjadi ketika seorang ibu pergi dengan anaknya. Ketika anaknya ingin meminta sesuatu kepada ibunya dan tidak dipenuhi maka anak tersebut akan marah, alhasil ibunya harus membelikan apa yang diinginkan anaknya tersebut. Persoalannya adalah mengapa mereka jadi haus akan membeli barang-barang produksi yang mereka inginkan?
Dalam rangka syarat rumusan masalah yang sekaligus mencapai tujuan dari penulisan makalah ini, penulis melakukan penelitian di SMA N 2 Wonosari. Alasan dipilihnya subyek penelitian ini adalah :
1.      Sebagian besar siswa SMA N 2 Wonosari merupakan siswa yang berkecukupan.
2.      SMA N 2 Wonosari merupakan salah satu sekolah favorit di Kabupaten Gunungkidul yang menjadi tujuan utama bagi siswa SMP untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.
3.      Sebagian besar siswa SMA N 2 Wonosari beragama islam. Islam mengajarkan untuk tidak berlaku boros, akan tetapi ada siswa di SMA tersebut yang berlaku boros.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan psikologi perkembangan. Penelitian dilakukan di SMAN 2 Wonosari. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana perilaku konsumtif yang ada di SMA Negeri  Wonosari dengan menggunakan sampel penelitian. Sampel yang diambil adalah Sebagian siswa kelas XI.
B.     Rumusan Masalah
1.      Mengapa masa remaja cenderung bersikap konsumtif?
2.      Bagaimana perilaku konsumtif di kalangan remaja saat ini?
3.      Bagaimana menanggulangi sikap konsumerisme di kalangan remaja khususnya di SMA Negeri 2 Wonosari?
C.     Tujuan Penelitian
1.    Untuk mengetahui pengaruh konsumerisme terhadap perkembangan remaja.
2.    Mengetahui akibat dari perilaku konsumtif pada remaja.
3.    Mengetahui solusi yang tepat untuk mengatasi masalah konsumerisme di kalangan remaja.
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Perilaku Konsumerisme dalam Perspektif Psikologi
1.           Pengertian Konsumtif dan Konsumerisme          
Konsumerisme merupakan suatu paham dimana seseorang atau kelompok melakukan dan menjalankan proses pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan, tidak sadar, dan berkelanjutan. Apabila seorang konsumtif menjadikan kekonsumtifannya sebagai gaya hidup, maka orang tersebut menganut paham konsumerisme.
Lubis (dalam Lina & Rasyid, 1997) mendefinisikan bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku membeli atau memakai suatu barang yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan rasional, melainkan adanya keinginanan yang sudah tidak rasional lagi.[2] Adapun pengertian konsumtif menurut Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) adalah kecenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas.[3] Definisi konsep perilaku konsumtif sebenarnya amat variatif. Tetapi pada intinya perilaku konsumtif adalah membeli atau menggunakan barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan.
Fromm (1998) mengatakan bahwa manusia sering dihadapkan pada persoalan untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan kehidupannya. Oleh karena itu, manusia harus melengkapi kebutuhannya tersebut.[4] Pada masa awal peradaban manusia, segala kebutuhan tersebut langsung dipenuhi sendiri dengan jalan memproduksi dan menghasilkan barang yang dibutuhkan secara langsung. Misalnya jika seseorang membutuhkan sesuatau untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin, maka ia akan berburu mencari kulit binatang sebagai penghangat tubuh. Jadi segala usaha, jerih payah, dan pekerjaan yang dilakukannya adalah untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidupnya secara langsung.
Cahyana (1995) memberikan definisi perilaku konsumtif sebagai tindakan yang dilakukan dalam mengkonsumsi berbagai macam barang kebutuhan. Sedangkan Howell dan Dpboye (dalam Munandar, 2001), mengemukakan bahwa perilaku konsumtif merupakan bagian dari aktivitas dan kegiatan mengkonsumsi suatu jasa maupun barang yang dilakukan oleh konsumen. Selanjutnya Echols dan Shadly (dalam Yuriani, 1994) mengemukakan bahwa perilaku konsumtif merupakan bentuk kata sifat yang berasal dari “consumer” yang berarti memakai produk, baik barang-barang industri maupun jasa. Konsumtif berarti bersifat mengkonsumsi barang secara berlebihan.[5]
Berdasarkan dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli, maka dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku individu yang ditunjukkan untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan tidak terencana terhadap jasa dan barang yang kurang atau bahkan tidak diperlukan. Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu yang semata-mata untuk memuaskan kesenangan serta lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan. Tanpa pertimbangan yang matang seseorang akan mudah melakukan pengeluaran demi memenuhi keinginannya yang tidak sesuai dengan kebutuhan pokoknya sendiri.
2.        Indikator Perilaku Konsumtif
Menurut Sumartono (2002), definisi konsep perilaku konsumtif amatlah variatif, tetapi pada intinya muara dari pengertian perilaku konsumtif adalah membeli barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan pokok. Dan secara operasional, indikator perilaku konsumtif yaitu[6] :
a.       Membeli produk karena iming-iming hadiah.
Individu membeli suatu barang karena adanya hadiah yang ditawarkan jika membeli barang tersebut.
b.      Membeli produk karena kemasannya menarik.
Konsumen mahasiswa sangat mudah terbujuk untuk membeli produk yang dibungkus dengan rapi dan dihias dengan warna-warna yang menarik. Artinya motivasi untuk membeli produk tersebut hanya karena produk tersebut dibungkus dengan rapi dan menarik.
c.       Membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi.
Konsumen mahasiswa mempunyai keinginan membeli yang tinggi, karena pada umumnya mahasiswa mempunyai ciri khas dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut, dan sebagainya dengan tujuan agar mahasiswa selalu berpenampilan yang dapat menarik perhatian orang lain. Mahasiswa membelanjakan uangnya lebih banyak untuk menunjang penampilan diri.
d.      Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya).
Konsumen mahasiswa cenderung berperilaku yang ditandakan oleh adanya kehidupan mewah sehingga cenderung menggunakan segala hal yang dianggap paling mewah.
e.       Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status.
Mahasiswa mempunyai kemampuan membeli yang tinggi baik dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut, dan sebagainya sehingga hal tersebut dapat menunjang sifat eksklusif dengan barang yang mahal dan memberi kesan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi. Dengan membeli suatu produk dapat memberikan symbol status agar kelihatan lebih keren dimata orang lain.
f.        Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan.
Mahasiswa cenderung meniru perilaku tokoh yang diidolakannnya dalam bentuk menggunakan segala sesuatu yang dapat dipakai tokoh idolanya. Mahasiswa juga cenderung memakai dan mencoba produk yang ditawarkan bila ia mengidolakan public figure produk tersebut.

g.       Munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi.
Mahasiswa sangat terdorong untuk mencoba suatu produk karena mereka percaya apa yang dikatakan oleh iklan yaitu dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Cross dan Cross (dalam Hurlock,1999)[7] juga menambahkan bahwa dengan membeli produk yang mereka anggap dapat mempercantik penampilan fisik, mereka akan menjadi lebih percaya diri.
h.       Mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda).
Mahasiswa akan cenderung menggunakan produk jenis sama dengan merek yang lain dari produk sebelumnya ia gunakan, meskipun produk tersebut belum habis dipakainya.
3.        Pola Konsumtif pada Remaja
Menurut Koentjaraningrat, bangsa indonesia tergolong orang yang hidup boros. Beliau membandingkan pola hidup bangsa barat dengan pola hidup bangsa indonesia. Apabila bangsa barat mendapat uang lebih biasanya uang tersebut akan disisakan untuk ditabung, akan tetapi apabila bangsa indonesia mendapat uang lebih mereka akan membelanjakan uangnya untuk mentraktir teman-temannya di restoran. Gaya hidup boros ini adalah gaya yang cukup menonjol di kalangan masyarakat indonesia.[8]
Dari sejumlah hasil penelitian para ahli, secara umum ada perbedaan dalam pola konsumsi antara pria dan wanita. Terdapat sifat yang berbeda antara pria dan wanita dalam perilaku membeli. Perbedaan tersebut adalah :
Pria
Wanita
a.       Mudah terpengaruh bujukan penjual.
b.      Sering tertipu karena tidak sabaran dalam memilih barang.
c.       Mempunyai perasaan kurang enak bila tidak membeli sesuatu setelah memasuki toko.
d.      Kurang menikmati kegiatan berbelanja sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan membeli
a.       Lebih tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan kegunaannya.
b.      Tidak mudah terbawa arus bujukan penjual.
c.       Menyenangi hal-hal yang romantis dari pada obyektif.
d.      Cepat merasakan suasana toko.
e.       Senang melakukan kegiatan berbelanja walau hanya window shopping (melihat-lihat saja tapi tidak membeli).[9]

4.      Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif
Assuari (1987) mengemukakan bahwa perilaku konsumtif dapat terjadi karena hal-hal sebagai berikut[10] :
a.       Ingin tampak berbeda dari yang lain
Remaja melakukan pembelian atau pemakaian dengan maksud unuk menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan yang lain.
b.           Ikut-ikutan
Seseorang membeli sesuatu hanya untuk meniru orang lain dan mengikuti mode yang sedang beredar.
Kemudian Stanton (1996) mengatakan bahwa ada kekuatan-kekuatan psikologis yang mempengaruhi perilaku konsumtif, yaitu[11]:
a.       Pengalaman belajar
Kunci untuk memahami perilaku pada konsumen terletak pada kemampuan menginterpretasikan dan meramalkan proses belajar konsumen.
b.      Kepribadian 
Kepribadian didefinisikan sebagai pola ciri-ciri seseorang yang menjadi faktor penentu dalam perilaku responnya.
c.       Konsep diri atau citra diri
Konsep diri dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis dan fisik yang dibawa sejak lahir dan dipelajari selama proses perkembangan diri. Biasanya orang memilih suatu produk dan merk yang sesuai dengan konsep dirinya.
5.      Aspek-aspek Perilaku Konsumtif
Lina dan Rasyid (1997) menyebutkan ada tiga aspek dalam perilaku konsumtif, yaitu[12] :
a.       Aspek pembeli impulsif
Aspek pembeli impulsif adalah pembelian yang didasarkan pada dorongan dalam diri individu yang muncul tiba-tiba.
b.      Aspek pembelian tidak rasional
Aspek pembelian tidak rasional adalah pembelian yang dilakukan karena kebutuhan, tetapi karena gengsi agar dapat dikesankan sebagai orang yang modern atau mengikuti mode.
c.       Aspek pembelian boros atau berlebihan
Aspek pembelian boros atau berlebihan adalah pembelian suatu produk secara berlebihan yang dilakukan oleh konsumen.

6.        Dampak Perilaku Konsumerisme
Kegiatan mengkonsumsi yang berlebihan dapat menimbulkan perilaku konsumtif masyarakat. Perilaku konsumtif adalah perilaku manusia yang melakukan kegiatan konsumsi yang berlebihan.
Perilaku konsumtif ini bila dilihat dari sisi positif akan memberikan dampak:[13]
a.       Membuka dan menambah lapangan pekerjaan karena akan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak untuk memproduksi barang dalam jumlah besar.
b.      Meningkatkan motivasi konsumen untuk menambah jumlah penghasilan karena konsumen akan berusaha menambah penghasilan agar bisa membeli barang yang diinginkan dalam jumlah dan jenis yang beraneka ragam.
B.     Gaya Konsumerisme Remaja Masa Kini
Masa remaja merupakan masa transisi, sehingga tidak sedikit dari mereka melakukan suatu tindakan yang menyimpang. Penyimpangan itu memilki tiga taraf berdasarkan besarnya, yaitu[15]:
1.      Taraf wajar berdasarkan ciri-ciri masa remaja
2.      Taraf menengah yang menunjukkan bahwa seseorang merasa terganggu, sehingga  ia melakukan penyimpangan
3.      Taraf kuat meliputi penyimpangan yang pasif dan penyimpangan yang agresif.  Penyimpangan pasif merupakan bentuk tingkah laku yang menunjukkan ada kecenderungan putus asa dan merasa tidak aman sehingga menarik diri dari kegiatan serta takut memperlihatkan usahanya. Penyimpangan agresif merupakan bentuk tingkah laku sosial yang menunjukkan ada kecenderungan merusak, melanggar peraturan dan menyerang.
Dari penjabaran di atas sudah dapat diketahui bahwa remaja memiliki potensi yang besar untuk melakukan tindakan menyimpang. Salah satu perilaku menyimpang yang kebanyakan dilakukan para remaja yaitu membeli sesuatu yang  bukan lagi sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, akan tetapi lebih cenderung membicarakan masalah eksistensi diri atau biasanya disebut sebagai perilaku konsumtif. Hal ini hampir melanda semua kalangan baik di sekolah maupun di dalam masyarakat. Budaya konsumen kontemporer dicirikan dengan adanya peningkatan gaya hidup yang seakan-akan menekankan bahwa keberadaan penampilan diri justru telah mengalami eksistensi dalam realitas kehidupan sehari-hari senantiasa akan menjadi sebuah proyek peningkatan gaya hidup.[16]
SMAN 2 Wonosari pun tidak lepas dari keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya melalui gaya hidup yang mereka pilih. Mereka mengkonsumsi barang-barang yang kurang penting. Hal ini tentu saja terkait dengan budaya konsumerisme yang tengah melanda semua kalangan. Angket telah disebar kepada 40 subyek penelitian di SMA N 2 Wonosari. Dari hasil analisis angket, terdapat 1 angket yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak dimasukkan ke dalam data. Data menunjukkan bahwa ada sebagian siswa yang suka berbelanja. Terdapat perbedaan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam memilih produk yang dibeli. Rata-rata siswa laki-laki membeli onderdil motor, sedangkan siswa perempuan cenderung membeli baju dan peralatan rias. Hal ini mereka lakukan semata-mata hanya untuk menarik lawan jenis dan menunjukkan keeksistensiannya.
Hasil analisis dari 39 angket dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa SMA N 2 Wonosari tidak berperilaku konsumtif. Hanya ada beberapa siswa yang dapat dikatakan berperilaku konsumtif. Hasil ini diperoleh melalui analisis angket yang telah disebarkan.
Penulis membagi beberapa indikator untuk menyatakan perilaku konsumtif di SMA Negeri 2 Wonosari melalui nilai angket, yaitu :
1.      Nilai angket yang lebih dari 60 dikategorikan sebagai siswa berperilaku konsumtif.
2.      Nilai angket yang berkisar antara 48-59 dikategorikan sebagai siswa biasa-biasa saja.
3.      Nilai angket yang kurang dari 48 dikategorikan sebagai siswa tidak konsumtif.

Berikut ini adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian :
No
Kategori
Jumlah Siswa
Persentase
1
Siswa konsumtif
9
23%
2
Siswa biasa-biasa saja
21
54%
3
Siswa tidak konsumtif
9
23%
Jumlah
39
100%

Dari persentase tersebut terlihat jelas bahwa hanya sebagian siswa yang mengidap perilaku konsumerisme, mayoritas siswa bersikap sewajarnya saja. Kemudian, Siswa yang berperilaku konsumtif dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu  super konsumtif, konsumtif biasa, dan konsumtif lemah. Kategori tersebut juga diperoleh melalu nilai angket. Indikatornya adalah sebagai berikut :
1.      Siswa dikatakan super konsumtif apabila nilai angket lebih dari 75.
2.      Siswa dikatakan konsumtif biasa apabila nilai angket berkisar antara 68-75.
3.      Siswa dikatakan konsumtif lemah apabila nilai angket berkisar antara 60-67.

Siswa yang dinyatakan berperilaku konsumtif ada 9 siswa. Super konsumtif tercatat sebanyak 22,22% (2 siswa), konsumtif biasa ada 44,45% (4 siswa), dan yang konsumtif lemah ada 33,33% (3 siswa). Apabila disajikan ke dalam tabel, hasilnya adalah sebagai berikut :
No
Kategori
Jumlah Siswa
Persentase
1
Super konsumtif
2
22,22%
2
Konsumtif Biasa
4
44,45%
3
Konsumtif lemah
3
33,33%
Jumlah
9
100%

Penelitian tidak hanya dilakukan dengan menggunakan angket, akan tetapi peneliti juga melakukan wawancara kepada beberapa siswa. Berikut ini adalah petikan hasil wawancara antara peneliti dengan beberapa siswa SMA N 2 Wonosari dengan pertanyaan:
a.       Berapa hp yang anda punya?
b.      Seberapa banyak pulsa yang anda keluarkan selama 1 minggu dan digunakan untuk apa?
c.       Seberapa seringkah anda berbelanja dan barang apa yang anda beli?

Subyek  pertama yang diteliti bernama Torry. Ia adalah siswa kelas XI IA2. Dia memiliki 1 hp. Selama 1 minggu dia selalu menghabiskan pulsa Rp. 10.000,00. Pulsa ini digunakan untuk smsan dengan teman dan pacarnya. Di samping itu dia juga sering mengganti onderdil motor setiap bulannya yang membutuhkan biaya lebih dari Rp.200.000,00. 
Kemudian yang kedua adalah Tita, siswi kelas XI IA2. Dia memiliki 2 hp yang biasanya menghabiskan Rp.10.000,00 setiap minggunya. Hp yang pertama digunakan untuk smsan, sedangkan hp yang lain untuk facebookan. Pada saat facebookan dia hanya menggunakan gratisan saja seperti motto yang diungkapkan “kalo ada gratisan kenapa harus bayar?”. Tita lumayan suka berbelanja, karena dia kadang-kadang suka berbelanja jika ia memiliki uang, dan barang yang dibeli tidak harus mahal yang penting enak dipakai, seperti berbelanja di Sakola yang memiliki harga lebih miring (murah).
Selanjutnya Maya, Siswi kelas XI Bahasa. Ia juga memiliki 2 hp, yang  satu digunakan hanya untuk bergaya-gaya, sedangkan hp satunya digunakan untuk smsan dan berjualan pulsa (dagang). Maya biasanya dalam satu minggu dapat menghabiskan pulsa sebanyak Rp. 20.000,00. Tetapi itu semua disesuaikan dengan keadaan. Maya sangat suka berbelanja di Amplas dan Malioboro. Meskipun dia suka berbelanja di Amplas, tetapi tidak menutup kemungkinan ia juga suka berbelanja di tempat-tempat yang dapat dikatakan memiliki harga yang lebih murah.
Subyek yang diteliti selanjutnya adalah Vivi, siswi kelas XI Bahasa. Ia memiliki  2 hp yang menghabiskan pulsa Rp.5.000,00 untuk smsan, dan Rp.10.000,00 untuk internetan. Setiap sisa uang saku yang ia miliki digunaknnya untuk membeli obat vitamin rambut. Dalam satu bulan ia  menghabiskan uang Rp. 100.000,00 untuk berbelanja, seperti untuk menbeli baju atau barang yang lainnya.
Yang terakhir adalah Ida, siswi kelas XI IPA 2. Ia hanya memiliki 1 hp yang menghanbiskan pulsa Rp.7.000,00 yang digunakan untuk smsan dengan teman-temannya dan untuk juga untuk internetan. Ia juga suka berbelanja, walaupun intensitasnya tidak sesering teman-temannya yang lain. Tetapi, ia termasuk siswi yang sangat suka berbelanja. Seperti yang ia katakan “ saya sangat suka berbelanja, tetapi kalau punya uang...hehhehe”.
Dari berbagai pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa memiliki sikap konsumtif. Akan tetapi hasil tersebut belum bisa dijadikan sebagai pathokan untuk menunjukkan siswa SMA N 2 Wonosari semuanya bersikap konsumtif. Hal tersebut dikarenakan sampel yang diambil untuk wawancara kebetulan sebagian besar memiliki perilaku konsumtif.
C.     Upaya Mencegah Perilaku Konsumerisme di Kalangan Remaja
Perilaku konsumtif merupakan salah satu perilaku yang kurang baik, dan sebaiknya dilakukan upaya untuk mencegah perilaku tersebut. Mengenai  hal ini SMA N 2 Wonosari memiliki beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi perilaku konsumtif siswa. Seperti yang diungkapkan oleh ibu Suaibah selaku Guru PAI di SMA N 2 Wonosari, bahwa di SMA N 2 Wonosari melarang siswanya untuk membawa hp, yang bertujuan untuk mengurangi tingkat kesengangan sosial antara yang memiliki hp banyak dan bagus dengan yang hanya memiliki 1 hp saja. Yang kedua, keadaan  kantin di SMA N 2 Wonosari yang sederhana, dengan harga makanan yang dapat dijangkau dan dinikmati oleh semua siswa. Ketiga, dengan diadakannya Baksos, yang bertujuaan untuk melatih siswa agar mau menyisakan uang sakunya untuk membantu orang lain yang membutuhkan dan juga melatih siswa agar dapat mengurangi sifat konsumerismenya dengan menyisakan uang sakunya.
Ibu Suaibah memberikan contoh ”anak-anak kelas tiga membuat kaos kelas, padahal di sekolah sudah disediakan seragam. Bahkan, tidak hanya kelas tiga saja yang membuat kaos kelas tetapi kelas dua juga ikut-itutan membuat kaos kelas”. Beliau berpendapat bahwa perilaku tersebut tidak memiliki nilai positif dan mencerminkan adanya perilaku konsumtif.
Berbeda dengan pendapat dari guru BK yang mengatakan bahwa pembuatan kaos kelas juga memiliki nilai positifnya. Beliau berpendapat bahwa suatu apapun ada manfaatnya dan ada juga mudharatnya. Beberapa manfaat dari tindakan tersebut di antaranya dapat menumbuhkan rasa kebersamaan antarsiswa sehingga kelas akan menjadi kompak. Di sisi lain pembelian kaos juga dapat membantu produsen dalam pemasaran barang produksi. Untuk mengurangi terjadinya perilaku konsumtif maka dari SMA N 2 Wonosari sendiri membuat berbagai kebijakan. Beliau mengatakan “kami berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi adanya siswa yang berperilaku konsumtif, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Beberapa kebijakan kami yang pertama yaitu dengan memasang telepon khusus untuk menghubungi orangtuanya. Jadi siswa di sini dilarang membawa HP karena menurut kami Hp itu mengganggu pelajaran dan tidak ada fungsinya. Kemudian kebijakan yang lainnya, kami melarang anak-anak untuk membawa mobil. Selain itu kita melarang siswa untuk memakai baju dan perhiasan yang mencolok karena akan menimbulkan sikap iri hati antarsiswa. Kemudian kita juga menanamkan sikap peduli terhadap sesama yaitu dengan adanya kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun.”
Berdasarkan wawancara dengan guru agama dan guru BK maka peneliti dapat memberikan argumen bahwa perilaku konsumtif memiliki banyak mudharatnya dan termasuk perilaku tercela.Orang yang boros adalah temannya setan. Seperti firman Allah dalam Q.S Al-Israa’ ayat 26 :
26. Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Untuk menanggulangi perilaku konsumtif pada remaja, peran orangtua sangatlah penting dalam pembentukan mental. Perilaku orangtua juga harus mencerminkan sikap anti konsumtif karena dengan adanya contoh dari orangtuanya, anak lebih mudah untuk menirunya. Orangtua juga harus pandai dalam mengatur sistem keuangan anak. Seharusnya orangtua tidak memenuhi apa yang diinginkan anaknya selama permintaannya hanya untuk bermewah-mewahan. Disamping itu, guru juga berperan penting dalam pembentukan mental anak agar tidak berperilaku konsumtif. Guru dapat menanamkan keimanan karena dengan keimanan anak bisa  mengerti hal-hal yang dibenci oleh Allah.



BAB III
PENUTUP
Perilaku konsumtif adalah perilaku membeli atau memakai suatu barang yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan rasional, tetapi hanya untuk bermewah-mewahan. Perilaku ini sering terjadi pada usia remaja. Para remaja beranggapan bahwa masa inilah masa-masa yang indah. Faktor pnyebabnya antara lain adanya pengaruh dari luar dan kurang siapnya mental anak dalam menghadapi kemajuan zaman.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMA N 2 Wonosari dengan sampel sebanyak 40 subjek penelitian, dapat disimpulkan bahwa hanya ada 23% anak yang berperilaku konsumtif, 54% berperilaku sewajarnya dan 23% tidak berperilaku konsumtif. Dari sampel yang tersedia hanya ada seperempat siswa yang berperilaku konsumtif. Siswa yang berperilaku konsumtif dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu konsumtif super konsumtif, konsumtif, dan konsumtif lemah. Super konsumtif tercatat sebanyak 22,22%, konsumtif ada 44,45% dan yang konsumtif lemah ada 33,33%.
Untuk menanggulangi perilaku konsumtif, diperlukan beberapa bimbingan, pengawasan, dan pengarahan dari orang tua dan semua guru yang mengajar, khususnya guru Pendidikan Agama Islam dan guru BK. Orang tua harus bisa mengatur keuangan anaknya dan tidak memenuhi kieinginan anaknya selama hanya untuk bermewah-mewahan. Di samping orang tua, guru Pendidikan Agama Islam dan guru BK memiliki tanggung jawab untuk membentuk kepribadian dan menanamkan keimanan anak, sehingga anak akan mengerti akan mudharat-mudharat dari perilaku konsumtif dan manfaat apabila meninggalkannya.


DAFTAR PUSTAKA
Ancok, Djamaludin. 2004. Psikologi Terapan : mengupas dinamika kehidupan umat manusia. Yogyakarta : Darussalam Offset
David Chaney. Lifestyles: Sebuah Pengantar Komprehensif. Terj. Nuraeni. Yogyakarta : Jalasutra. 2003
Elizabeth B, Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi kelima. Jakarta: Erlangga
L. Zulkifli. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosdakarya Offset Mappiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional
Rahayu, Siti. 2004. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Sumber Internet :
Ainiyuwanisa, Perilaku Konsumtif Pada Remaja Terhadap Chatting, http://ainiyuwanisa.wordpress.com/2009/11/15/perilaku-konsumtif-pada-remaja-terhadap-chatting-tugas-ii/ tanggal 27 des 7:30
Desha, Luki Viky. Psikologi Konsumen. http://lukivikydesha.blogspot.com/2010/10/definisi-konsumen-konsumsi-konsumtif.html/ diakses pada tanggal 6 Desember 2011, pukul 14.12 WIB
Febriana, Ismi. Psikologi Konsumtif, http://mhikkyu.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 6 Desember 2011, pukul 14.21 WIB
Rifki, Muhammad. Remaja dan Konsumerisme. http://www.sosbud.kompasiana.com,  diakses 11 November 2011, pukul  22.40 WIB.
Siska Purkasih, Masalah Konsumerisme di Kalangan Remaja, http://www.siskapurkasih.blogspot.com,  diakses 11 November 2011,  pukul 22.40 WIB
___, Indikator Perilaku Konsumtif. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23554/3/Chapter%20II.pdf. Akses 27 Desember 2011, pukul 20.08 WIB


[1] arif rahman. Perilaku Hedonisme. http://blog.uad.ac.id/arifrahman/2011/12/05/perilaku-hedonisme/. Akses 5 Januari 2012 pukul 15.00
[2] Luki Viky Desha, Psikologi Konsumen, http://lukivikydesha.blogspot.com/2010/10/definisi-konsumen-konsumsi-konsumtif.html/ diakses pada tanggal 6 Desember 2011, pukul 14.12 WIB
[3]  Ibid.
[4]  Ibid.
[5]  Ibid.
[6]         , Indikator Perilaku Konsumtif, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23554/3/Chapter%20II.pdf. Akses 27 Desember 2011 pukul 20.08 WIB
[7]  Hurlock Elizabeth B, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi kelima. Jakarta: Erlangga, 1980, hal. 119
[8]  Djamaludin Ancok,  Psikologi Terapan, Yogyakarta: Darussalam, 2004, hal. 62
[9] Mastur Sonsaka,  Remaja dalam kubangan Konsumerisme, http://www.mastursonsaka.wordpress.com,  diakses pada tanggal 11 november 2011, pukul 22.40 WIB
[10] Ainiyuwanisa. Perilaku Konsumtif Pada Remaja Terhadap Chatting, http://ainiyuwanisa.wordpress.com/2009/11/15/perilaku-konsumtif-pada-remaja-terhadap-chatting-tugas-ii/, diakses 27 Desember, pukul 19.30 WIB
[11] Ibid.
[12] Ibid.
[13] Billy. Dampak negatif dan positif  perilaku konsumtif. http://billynovarahar.blogspot.com/2010/11/dampak-negatif-dan-positif-perilaku.html. Akses 5 Januari 2012 pukul 15.11
[14] Ismi Febriana, Psikologi Konsumtif,  http://mhikkyu.blogspot.com/, Diakses pada tanggal 6 Desember 2011, pukul 14.21 WIB.
[15]  Andi Mappiere, op.cit, hal. 184
[16] David Chaney, Lifestyles: Sebuah Pengantar Komprehensif, Terj. Nuraeni, Yogyakarta : Jalasutra. 2003, Hlm. 15-16

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger