Hadits Tentang Dermawan - Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » » Hadits Tentang Dermawan

Hadits Tentang Dermawan

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Selasa, 13 Maret 2012 | Selasa, Maret 13, 2012


HADIST TENTANG DERMAWAN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi  tugas mata kuliah Hadist dan Pembelajarannya
Dengan Dosen Pengampu :
“Dr. Hj. MARHUMAH, M.Pd


Di susun oleh :
KHARISMA RATU SURAYA          (10410049)
SASMITA HARUM SARI                (10410050)
AFDHOL ABDUL HANAF              (10410051)
ARIE DWI NUGROHO                   (10410052)
ARIFUDIN HIDAYAT                      (10410053)

SEMESTER 3
KELAS E
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur dengan hati dan pikiran yang tulus kehadirat Allah SWT, karena berkat nikmat, ma’unah dan hidayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik tanpa ada halangan apapun.
            Shalawat dan salam dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang setia mengorbankan jiwa raga dan lainnya untuk tegaknya syi’ar islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
            Selanjutnya makalah ini disusun dalam rangka untuk menambah wawasan bagi pembaca untuk lebih mengenal dan memahami hadist tentang kedermawanan. Terlepas dari itu makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hadist dan Pembelajarannya dengan dosen pengampu “Dr. Hj. Marhumah, M.Pd
            Disadari bahwa tulisan ini masih banyak memiliki kekurangan, baik dari segi isinya, bahasa, analisis, dan lain sebagainya. Untuk ini, saran dan kritik pembaca dengan senang hati akan penulis terima, diiringi ucapan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb


                                                                                                                            Yogyakarta, 15 Oktober 2011







BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Islam adalah suatu agama yang sangat menekankan agar orang menginfakkan harta kekayaannya di jalan yang baik, dan mencela tabiat kikir yang tidak mau mengulurkan tangan membantu orang lain. Oleh karena itu islam sangat menghendaki agar para pemeluknya bersikap murah hati dan dermawan. Dalam hal itu islam menganjurkan supaya sesama kaum muslimin berlomba-lomba mengejar kebajikan, dan menjadikannya sebagai kegiatan utama dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap muslim wajib untuk hidup ekonomis dan membatasi kepentingan sendiri untuk kepentingan orang lain. Ia harus rela dan ikhlas orang lain turut menikmati karunia Allah SWT yang dilimpahkan kepadanya.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dermawan?
2.      Bagai mana bunyi hadist tentang dermawan?
3.      Apa saja keutamaan dari sifat dermawan?
4.      Apa saja karakteristik sifat dermawan?
5.      Bagaimana contoh sifat dermawan dalam kehidupan sehari-hari?
C.     TUJUAN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Hadist dan pembelajarannya yang diampu oleh Ibu Dr. Hj. Marhumah, M. Pd. Selain itu makalah ini dibuat untuk memberikan pengetahuan  mengenai sifat Dermawan bagi para pembaca





BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian
Sifat dermawan adalah sifat yang harus ditanamkan dalam diri setiap muslim. Menurut kamus bahasa indonesia, dermawan diartikan sebagai pemurah hati atau orang yang suka berderma (beramal dan bersedekah)[1]. Menurut istilah dermawan bisa diartikan memberikan sebagian harta yang dimilikinya untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan dengan senang hati tanpa keterpaksaan. Orang yang dermawan adalah orang yang senang jika bisa membantu orang lain yang sedang ditimpa kesusahan. Dengan memiliki sifat yang dermawan maka hidupnya akan lebih bahagia karena dengan kedermawanannya maka akan melapangkan dadanya. Secara sosial orang yang dermawan akan disenangi banyak orang, sehingga orang pun tidak enggan untuk bergaul dengannya. Sedangkan kebalikannya adalah sifat tamak. Orang yang tamak hidupnya selalu tidak tenang.[2]

B.     Hadist Tentang Dermawan
B.1.
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ اِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ اَحَدَهُمَا : اللهُمَّ اَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ اَللهُمَّ اَعْتِ مُمْسِكًاتَلَفًا (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata. Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada suatu hari  pun yang dilewati oleh hamba-hamba Allah pada setiap paginya melainkan dua Malaikat turun, lalu salah satu dari keduanya berdo’a: Ya Allah berikanlah kepada orang yang suka berinfaq pengganti hartanya itu. Dan yang satu lagi berdo’a: Ya Allah berikanlah kepada orang yang suka menahan hartanya ( orang kikir ) itu kemusnahan.( Mutaffaq ‘alaih)[3]
Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu’alaihiwassalam. Tidak ada sahabat lain yang menyamainya dari segi jumlah hafalannya.Ia meriwayatkan hadist tidak kurang dari 5.374 hadist. Tiga ratus hadits disepakati oleh Bukhari dan Muslim dan imam Al-Bukhari sendiri ditambah dengan 73 hadits.[4]

Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H yaitu tahun terjadinya perang Khibar. Nama asli dari Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr. Rasulullah sendirilah yang memberi julukan Abu Hurairah ketika beliau sedang melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam itu semata karena kecintaan beliau kepadanya.
Rasulullah berdo’a kepada Allah SWT agar Abu Hurairah dianugerahi hafalan yang kuat dan Allah pun mengabulkan do’anya. Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak hafalannya.
Hadist di atas diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang kita ketahui bahwa sebagian besar dari hadist riwayat bukhari dan muslim ini adalah shahih. Imam Bukhari telah menuntut ilmu hadits sejak usia sepuluh tahun. Pada usia sebelas t ahun beliau telah mampu mengoreksi kesalahan para syaikh. Beliau berkata, “ Aku menyusun di dalam kitab shahih-ku kira-kira 600.000 riwayat hadits. Aku tidak akan mencatat sebuah hadits pun di dalam kitab tersebut kecuali melakukan shalat dua rakaat terlebih dahulu.”[5] Sedangkan Imam Muslim melakukan rihlah untuk mencari ilmu hadits di seluruh penjuru negeri. Menurut Al Khatib Al Baghdadi, Muslim mengikuti jejak yang ditempuh oleh Imam Bukhari.[6]
Orang-orang yang menginfakkan hartanya baik dalam keadaan senang ataupun susah senantiasa memperoleh perhatian Allah SWT. Para malaikat berdo’a memohon tambahan rezeki bagi mereka yang mau menafkahkan hartanya. Sedangkan orang yang menimbun kekayaan selalu membayang-bayangkan kehilangan hartanya. Padahal harta benda kelak tidak akan dibawa mati. Oleh karena itu tidak mengherankan bila para malaikat berdo’a seperti itu[7]. Allah pun juga sudah berjanji apabila seseorang berdermawan/bersedekah, maka Allah SWT akan menggantinya, seperti firman Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an :
وَمَآاَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يَخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ. (السباء ـ 39)
Artinya :
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya” (Q.S Saba’ : 39)[8]
Jadi, barang siapa yang mau berderma, maka Allah akan menggantinya. Dalam ayat lain juga dijelaskan bahwa perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah seperti sebuah biji yang tumbuh menjadi pohon yang bercabang tujuh dan pada masing-masing cabang atau tangkainya itu tumbuh seratus biji. Dengan kata lain harta yang dibelanjakan di jalan Allah akan dilipatgandakan sampai tujuh ratus kali, bahkan sampai tak terhingga jika Allah menghendaki.
Hadits lain yang menerangkan bahwa Allah SWT akan mengganti apa yang dia berikan kepada seorang muslim adalah sebagai berikut.
عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عُمَرَ رَضِى اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. : اَلْمُسلِمُ أَخُوالْمُسْلِمِ لاَيَظْلِمُهُ وَلاَيُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.( رواه البخارى ومسلم وأبوداود والنسائ والترمذى  (وقال : حسن صحيح))
Artinya :
“Abdullah Ibn Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim adalah saudaranya muslim (yang lain), dia tidak menganiaya dan menyerahkan saudaranya. Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah memenuhi kebutuhannya. Barang siapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia niscaya Allah melepaskan dia dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah selamanya menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya menolong saudaranya.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Tirmidzi)[9]



B.2.
عَن ابْن عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَذَكَرَ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفَّفُ وَالْمَسْئَلَةَ : اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفَلَى فَالْيَدُ لْعُلْيَا هِىَ الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى هِىَ السَّائِلَةُ (رواه البخارى ومسلم)
Artinya :
Dari Ibnu Umar r.a. berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda sedangkan dia berada di atas mimbar dan menyebut sedekah dan meminta-minta, maka Nabi bersabda: Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, tangan yang di atas itu yang memberi dan tangan yang di bawah itu yang meminta. (H.R Bukhari Muslim).[10]
            Ibnu Umar dilahirkan tidak lama setelah Nabi diutus. Umurnya 10 tahun ketika ikut masuk Islam bersama ayahnya. Kemudian mendahului ayahnya ia hijrah ke Madinah. Pada saat perang Uhud ia masih terlalu kecil untuk ikut perang. Dan Rasulullah saw tidak mengizinkannya. Tetapi setelah selesai perang Uhud ia banyak mengikuti peperangan, seperti perang Qadisiyah, Yarmuk, Penaklukan Afrika, Mesir dan Persia, serta penyerbuan basrah dan Madain.
Az-Zuhri tidak pernah meninggalkan pendapat Ibnu Umar untuk beralih kepada pendapat orang lain.
Imam Malik dan az-Zuhri berkata:” Sungguh, tak ada satupun dari urusan Rasulullah dan para sahabatnya yang tersembunyi bagi Ibnu Umar”.
Ia meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Sayyidah Aisyah, saudari kandungnya Hafshah dan Abdullah bin Mas’ud. Yang meriwayatkan dari Ibnu Umar banyak sekali, diantaranya Sa’id bin al-Musayyab, al Hasan al Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ibnu Sirin, Nafi’, Mujahid, Thawus dan Ikrimah.
Ia wafat pada tahun 73 H. ada yang mengatakan bahwa Al-Hajjaj menyusupkan seorang kerumahnya yang lalu membunuhnya. Dikatakan mula-mula diracun kemudian di tombak dan di rejam. Pendapat lain mengatakan bahwa ibnu Umar meninggal secara wajar.

Sabda Nabi di atas secara mudah dapat di pahami bahwa orang yang memberikan suatu manfaat bagi orang lain lebih utama daripada orang yang menerima manfaat dari orang lain. Di dalam kaidah ushuliah dikatakan bahwa kebajikan yang bersifat sosial itu lebih utama daripada kebajikan yang bersifat individual. Sangatlah jelas orang yang dermawan merupakan kebajikan yang bersifat sosial, sehingga dalam kehidupan bermasyarakat akan damai, bahagia, dan harta yang disedekahkan akan mendapat ganti yang berlipat ganda dari-Nya.[11]
Bersedekah atau berderma mendapatkan posisi yang tinggi di dalam Al-Qur’an, yaitu surat Al-Baqarah ayat 177 :
}§øŠ©9 §ŽÉ9ø9$# br& (#q9uqè? öNä3ydqã_ãr Ÿ@t6Ï% É-ÎŽô³yJø9$# É>̍øóyJø9$#ur £`Å3»s9ur §ŽÉ9ø9$# ô`tB z`tB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# Ïpx6Í´¯»n=yJø9$#ur É=»tGÅ3ø9$#ur z`¿ÍhÎ;¨Z9$#ur tA#uäur tA$yJø9$# 4n?tã ¾ÏmÎm6ãm ÍrsŒ 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur tûüÅ3»|¡yJø9$#ur tûøó$#ur È@Î6¡¡9$# tû,Î#ͬ!$¡¡9$#ur Îûur ÅU$s%Ìh9$# uQ$s%r&ur no4qn=¢Á9$# tA#uäur no4qŸ2¨9$# šcqèùqßJø9$#ur öNÏdÏôgyèÎ/ #sŒÎ) (#rßyg»tã ( tûïÎŽÉ9»¢Á9$#ur Îû Ïä!$yù't7ø9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏnur Ĩù't7ø9$# 3 y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# (#qè%y|¹ ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd tbqà)­GßJø9$# ÇÊÐÐÈ
Artinya:
 Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.[12]
            Ayat di atas membuktikan bahwa bersedekah atau berderma mendapat posisi tinggi dalam ajaran islam. Setelah beriman kepada Allah SWT dan seterusnya, selanjutnya adalah memberikan harta yang dicintainya, baru di seru untuk melaksanakan shalat. Dan itulah orang-orang yang benar dan bertaqwa.
Islam adalah agama yang sangat menganjurkan kepada manusia untuk memiliki kepedulian terhadap sesama, terutama orang sedang membutuhkan bantuan. Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain, seperti yang tertera pada sebuah hadis :
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya”[13]
C.     KEUTAMAAN DERMAWAN

Dermawan memiliki beberapa keutamaan, seperti:

Ø  Menyelamatkan seseorang dari kekufuran
            Sifat dermawan dapat menghindarkan seseorang dari kekufuran, karena dengan sifat dermawan akan melatih seseorang untuk tidak kufur nikmat atau dapat dikatakan sombong dengan apa yang telah ia miliki. Ia akan selalu berfikir dan bersyukur dengan apa yang ia miliki semua adalah pemberian dari Allah SWT dan didalam sebagian hartanya ada hak-hak orang lain yang haris diberikan.         ketika kedermawanan itu kita wujudkan dalam bentuk uluran tangan mengentaskan saudara-saudara kita dari kemiskinan, sebagaimana pernah dikhawatirkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW bahwa “Kemiskinan lebih dekat dengan kekufuran”.[14]


Ø  Akan diberi kemudahan dari segala persoalan hidup yang dihadapinya
Ø  Membersihkan dan mensucikan

Ø  Dapat mencegah murka Allah,
            Semua orang pasti ingin hidup berkecukupan atau bahkan kaya. Namun, banyak yang keliru duga, ia mengira bahwa perbuatan kikir akan mangantarkannya menjadi seorang yang kaya raya. Padahal, itu logika setan saja. ''Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian. Dan Allah mahaluas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.'' (QS.Al-Baqarah [2]: 268).

Ø  Dapat menghapus dosa dan diselamatkan dari api neraka.
Sabda Rasulullah saw dalam hadits riwayat Ibnu Abbas ra:
تَجَافَوْا عَنْ ذَنْبِ السَّخِيِّ فَاِنَّ اللهَ آخِذٌ بِيَدِهِ كُلَّمَا عَثَرَ
Menyingkirlah kamu sekalian dari dosa orang yang dermawan, karena sesungguhnya Allah akan membimbing tangannya setiap kali dia jatuh.

Ø  Mendapatkan pahala yang berlipat ganda
            Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda, ''Harta tidak akan berkurang dengan disedekahkan, dan Imam An-Nawawi menjelaskan, bahwa hadis ini mengandung dua pengertian. Pertama, sedekah itu diberkahi (di dunia) dan karenanya ia terhindar dari kemudharatan. Dan kedua, pahalanya tidak akan berkurang di akhirat, bahkan dilipatgandakan hingga kelipatan yang banyak.
            Hadits yang diriwayatkan oleh Muttafaq 'alaih juga menjelaskan : Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah. Dia mencintai kemurahan. Dan mencintai akhlak mulia serta membenci akhlak yang buruk."






D.    KARAKTERISTIK DERMAWAN
ü  Memberi tanpa mengharapkan imbalan
     Seseorang yang benar-benar dermawan tidak akan pernah mengharapkan sedikitpun imbalan setelah dia membantu orang lain. Entanh itu dengan harta atau dengan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh orang lain. Orang tersebut akan memberikan bantuan dengan hati yang ikhlas, walaupun bantuan  yang ia berikan hanya sedikit.
     Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir ; seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bai siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh : 261)

ü  Tidak mengharapkan pujian (Riya’)
     Seseorang yang dermawan ketika menyumbang, mereka tidak perlu di sebut-sebut jumlah sumbangannya, agar dipuji oleh orang lain karena kebaikan yang telah ia lakukan kepada orang lain yang membutuhkan bantuan.
     Bahkan jika ingin memberikan bantuan, seseorang yang dermawan akan memberikan bantuan apapun tanpa ada seseorang yang menetahuinya. Ia hanya berkeyakinan bahwa apapun yang ia lakukan untuk membantu orang lain hanyalah mengharap Ridho dari Allah SWT.

ü  memiliki perhatian besar terhadap orang yang menderita
     seseorang yang dermawan selalu memiliki kepekaan terhadap orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan. Baik itu dari lahiriah ataupun batiniah. Ia akan memberikan perhatian dan membantu tanpa harus ada yang menyuruh, karena hatinya secara otomatis akan tergerak untuk membantu.

ü  Jika kebetulan tidak dapat membantu maka haruslah  menolak dengan halis dan  meminta maaf karena tidak dapat membantunya.
     Allah mencintai seseorang yang sopan dan dapat menghargai orang lain. Ketika kita tidak dapat membantu orang lain maka kita dapat menolaknya dengan halus tanpa harus menyakiti hati orang yang meminta bantuan, sehingga orang tersebut dapat mengerti dan memahami mengapa kita tidak dapat memberikan bantuan

ü  Dengan meyakini bahwa harta yang kita miliki pada hakikatnya bukan milik kita, maka akan membuat kita ringan saat mengeluarkan dan mambelanjakannya di jalan yang diridhai Alla

E.     CONTOH DERMAWAN
            Diriwayatkan bahwa Aisyah tatkala dapat kiriman uang dari Muawiyah sebanyak seratus delapan puluh ribu dirham, ia membagi-bagikannya kepada masyarakat. Pada sore harinya Aisyah berkata kepada pembantu perempuannya: Coba sediakan saya makan. Lalu pembantu itu datang membawa roti dan minyak. Aisyah berkata kepadanya: Aku tidak dapat memberimu uang satu dirham untuk membeli daging buat besok pagi. Pembantu itu itu berkata: Kalaulah ibu menyuruh saya mengambilnya, akan saya lakukan.
            Allah SWT telah berfirman -yg artinya- “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat haluu’a (keluh kesah lagi kikir). Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali, orang-orang yang mengerjakan salat. Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’aarij: 19-25).[15]







BAB III
PENUTUP

Dermawan merupakan salah satu sifat terpuji yang harus dimiliki oleh seorang mukmin, karena dermawan adalah perbuatan yang mencerminkan hubungan antar manusia yang  baik (Hablumminannas), tetapi tidak mengesampingkan hubungannya dengan Allah (Hablumminallah). Kedermawanan mengajarkan seseorang akan arti sebuah keikhlasan dan kepedulian terhadap orang lain yang membutuhkan bantuan.
Kedermawanan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk melatih seseorang dalam mengatur harta yang dimiliki dengan menyisihkan hartanya dan memberikannya kepada orang lain yang benar-benar membutuhkan. Sifat dermawan yang dimiliki seseorang akan membantu mengurangi kesenjangan yang ada, antara si kaya dan si miskin. Karena didalam perbuatan dermawan yang dilakukan tidak hanya memberikan seseatu yang dimiliki secara ikhlas tetapi juga adanya hubunagn atau silaturahmi yang baik antara penderma dan yang menerimanya.












DAFTAR PUSTAKA

Poerwadarminta. 1984. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka.
Muhammad, Abubakar. 1995. Hadits Tarbiyah. Surabaya:Al-Ikhlas.
Syafe’i Rachmat. 2003. Al-Hadis Aqidah, Akhlaq, Sosial, dan Hukum. Bandung:CV Pustaka Setia.
Soffandi, Wawan Djunaedi. 2006. Syarah Hadits Qudsi. Jakarta:Pustaka Azzam.
Laila, Abu. 1995. Akhlak Seorang Muslim. Bandung:PT Al-Ma’arif.
Al-Qur’an dan Terjemahnya. Al-Jumanatul ‘Ali
Juwariyah. 2010. Hadis Tarbawi. Yogyakarta:Teras.

Hasyim, husaini.1993. Syarah Riyadhush Shalihin. Surabaya:Bina Ilmu
Ahmad, Firdaus. 1990. 325 Hadis Qudsi Pilihan. Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya
file:///G:/hanaf%20coy/Dermawan%20_%20Al%20Islam-SAFA.htm




[1] Poerwadarminta. 1984. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka. Halaman 245.
[3] Muhammad, Abubakar. 1995. Hadits Tarbiyah. Surabaya:Al-Ikhlas. Halaman 280.
[4] Syafe’i Rachmat. 2003. Al-Hadis Aqidah, Akhlaq, Sosial, dan Hukum. Bandung:CV Pustaka Setia. Halaman15.
[5] Soffandi, Wawan Djunaedi. 2006. Syarah Hadits Qudsi. Jakarta:Pustaka Azzam. Halaman 18.
[6] Ibid. Halaman 20.
[7] Laila, Abu. 1995. Akhlak Seorang Muslim. Bandung:PT Al-Ma’arif. Halaman 235.
[8] Al-Qur’an dan Terjemahnya. Al-Jumanatul ‘Ali. Q.S. Saba’ ayat 39.
[9] Syafe’i Rachmat. 2003. Al-Hadis Aqidah, Akhlaq, Sosial, dan Hukum. Bandung:CV Pustaka Setia. Halaman260.

[10] Juwariyah. 2010. Hadis Tarbawi. Yogyakarta:Teras. Halaman 86
[11] Ibid. Halaman 86
[12] Al-Qur’an dan Terjemahnya. Al-Jumanatul ‘Ali. Surat Al-Baqarah ayat 177.
[13] Juwariyah. 2010. Hadis Tarbawi. Yogyakarta:Teras. Halaman 87.
[15] http://souldiaryofislam.blogspot.com/2010/11/menjadi-muslim-dermawan.html
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger