USBN PAI - Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » » USBN PAI

USBN PAI

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Selasa, 13 Maret 2012 | Selasa, Maret 13, 2012

Ujian Sekolah Berstandar Nasional
Pendidikan Agama Islam
(USBN PAI)
Oleh : Afdhol Abdul Hanaf

            Sebelum kita memberikan argumen antara setuju dan tidaknya diadakan USBN PAI, terlebih dahulu kita bahas sebenarnya apa USBN PAI itu. Direktur PAI menjelaskan kronologi lahirnya ujian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sekaligus menegaskan bahwa istilah yang digunakan adalah USBN PAI. Jadi, USBN berbeda dengan Ujian Nasional (UN) ataupun Ujian Sekolah (US). Menurutnya, kebijakan USBN PAI lahir dilatarbelakangi antara lain untuk menaikkan derajat PAI, aspirasi guru PAI, meningkatkan mutu PAI sebagai garda depan pendidikan moral dan ketakwaan, PAI lebih sekedar sebagai mata pelajaran pelengkap, sampai pada rekomendasi Komisi VIII DPR RI tahun 2008 yang menghendaki PAI diUNkan. Sifat USBN PAI juga bukan sebagai penentu kelulusan melainkan hanya sebagai salah satu dasar pertimbangan kelulusan peserta didik.
                Adanya sedikit gambaran mengenai USBN PAI di atas, maka kami dapat  menimbang dan memutuskan untuk setuju diadakannya ujian tersebut. Sesuai tujuan dan fungsi USBN dalam Pedoman Pelaksanaan USBN PAI SD, SMP, SMA/SMK yang salah satunya untuk pembinaan dan peningkatan mutu Pendidikan Agama Islam. Kita ketahui bahwa pada saat ini mata pelajaran Pendidikan Agama Islam cenderung disepelekan dan dikesampingkan. Hal ini dikarenakan siswa cenderung konsentrasi pada Ujian Nasional seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan mata pelajaran lainnya sesuai dengan jurusannya masing-masing. Kebijakan sekolah pun memperbanyak jam pelajaran yang di UNkan tersebut sehingga mata pelajaran yang lain, bahkan Pendidikan Agama Islam menjadi korban pengurangan jam mata pelajaran. Terbukti dari pengalaman kami pada saat duduk di bangku SMA. Pada awalnya jam mata pelajaran PAI adalah 3 jam setiap minggunya, akan tetapi jam pelajaran PAI ini dikurangi menjadi 2 jam. Hal ini semakin memojokkan mata pelajaran tersebut. Kita ketahui bahwa ilmu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim adalah ilmu agama, sedangkan ilmu yang lain hukumnya fardhu kifayah. Einstein pun pernah mengatakan bahwa “Pengetahuan tanpa Agama adalah buta, Agama tanpa pengetahuan adalah lumpuh”. Hal ini dapat disimpulkan bahwa antara ilmu dan agama harus berjalan secara beriringan.
            Banyak dari kalangan orang yang tidak setuju dengan USBN PAI memiliki alasan bahwa dengan diadakannya Ujian tersebut justru akan menjadi kericuhan dan perkelahian karena mengandung masalah furu’iyah. Setiap daerah memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai agama. Alasan ini kurang kuat karena soal yang mengandung masalah furu’iyah tidak dimasukkan dalam soal. Di samping itu sesuai dengan pedoman pelaksanaan USBN PAI, disebutkan bahwa soal USBN PAI ditentukan dengan cara  menggabungkan 25% butir soal yang dibuat Penyelenggara Tingkat Pusat dan 75% butir soal yang dibuat Penyelenggara Tingkat Kabupaten/Kota.
            Para kelompok yang tidak setuju diadakannya USBN juga beralasan bahwa dengan diadakannya ujian ini maka akan cenderung mengutamakan pada aspek kognitif saja. Padahal yang terpenting dari agama itu adalah afektifnya, atau perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga belum kami terima alasannya karena di dalam USBN PAI, yang diujikan tidak hanya pada aspek kognitifnya saja. Akan tetapi psikomotoriknya pun diuji dengan diadakannya ujian praktek. Pada ranah afektifnya, guru memberikan laporan dan penilaian kepada siswa mengenai perilakunya di sekolah, dan hasil nilai tersebut diserahkan kepada penyelenggara pusat. Jadi, apabila USBN PAI hanya mengembangkan kognitifnya saja itu tidak benar.
            Diadakannya USBN PAI justru akan lebih mudah dalam mengembangkan siswa dari ranah kognitif, psikomotorik, maupun afektif. Dengan adanya ujian ini secara otomatis jam mata pelajaran PAI di sekolah-sekolah akan ditambah. Apabila PAI tidak diUSBNkan justru akan semakin sulit dalam mengembangkan aspek afektif siswa. Rata-rata jam mata pelajaran PAI saat ini hanya 2 jam setiap minggunya. Hal ini belum tentu cukup untuk memberikan materi pada diri siswa, apalagi mengembangkan karakter siswa agar berakhlak mulia. Sebaliknya, dengan adanya tambahan jam mata pelajaran ini, maka akan semakin banyak pula waktu yang digunakan oleh guru PAI untuk membentuk kepribadian siswa. Di samping memiliki pengetahuan agama yang lebih luas juga memiliki kesempatan yang besar pula untuk memiliki akhlak yang mulia. Di sinilah tugas guru dalam membentuk karakter anak tersebut.
             Kami sengaja masuk jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan supaya bisa menjadi guru PAI. Ketika PAI diUSBNkan maka jam mata pelajaranpun akan ditambah, dan ketika jam mata pelajaran PAI ditambah secara otomatis akan membutuhkan guru PAI yang lebih banyak pula. Itu berarti kesempatan kami menjadi guru PAI pun juga semakin besar. Sangat munafik apabila kami menolak kesempatan yang ada ini. Dengan adanya kesempatan ini kita memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjadi guru, mendapat gaji yang halal, bermanfaat bagi orang lain khususnya siswa, dan yang pasti insyaallah mendapat pahala dari Allah SWT.
Wallahu a’lam.
Share this article :

1 komentar:

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger