- Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » »

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Rabu, 26 Juni 2013 | Rabu, Juni 26, 2013

 TUJUAN DAN KURIKULUM
PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : Afdhol Abdul Hanaf, S. Pd. I, dkk.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, sejak itulah timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi sejalan dengan tuntutan masyarakat.
Dunia pendidikan Islam di dunia masih dihadapkan pada berbagai persoalan-persoalan yang ada, mulai dari soal rumusan tujuan pendidikan yang kurang sejalan dengan tuntutan masyarakat, sampai kepada persoalan guru, metode, kurikulum, dan lain sebagainya. Upaya dalam mengatasi masalah tersebut tentu masih dilakukan dengan berbagai upaya. Di sinilah peran filsafat dalam memperbaiki situasi pendidikan islam yang mengalami berbagai persoalan.
Salah satu faktor untuk memperbaiki pendidikan islam adalah dengan perbaikan kurikulum. Kurikulum merupakan sebuah acuan dalam proses pendidikan agar nantinya pendidikan tersebut dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Di dalam kurikulum tidak hanya dijabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik dan peserta didik, akan tetapi juga segala kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang perlu, karena mempunyai pengaruh tentang anak didik. Misalnya oleh raga, kepramukaan, widya wisata, seni budaya, mempunyai pengaruh cukup besar dalam proses mendidik anak didik.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa tujuan dari Pendidikan Islam ?
2.      Bagaimana kurikulum Pendidikan Islam tersebut ?
3.      Apa ciri-ciri kurikulum dalam Pendidikan Islam ?
4.      Apa prinsip-prinsip kurikulum dalam Pendidikan Islam ?
5.      Apa asas-asas kurikulum pendidikan dalam Islam tersebut ?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui tujuan dari Pendidikan Islam.
2.      Untuk mengetahui kurikulum Pendidikan Islam.
3.      Untuk mengetahui ciri-ciri kurikulum dalam Pendidikan Islam.
4.      Untuk mengetahui prinsip-prinsip kurikulum dalam Pendidikan Islam.
5.      Untuk mengetahui asas-asas kurikulum pendidikan dalam Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tujuan Pendidikan Islam
Setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan. Dapat diketahui bahwa tujuan dapat berfungsi sebagai standar untuk mengakhiri suatu usaha, mengarahkan usaha yang dilalui, dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan yang lain. Selain itu tujuan dapat membatasi ruang gerak agar kegiatan yang dilakukan dapat terfokus pada apa yang telah dicita-citakan.
Sebagai suatu kegiatan yang terencana, pendidikan islam memiliki kejelasan tujuan yang hendak dicapai. Banyak dari para ahli yang mengkaji dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi tujuan pendidikan tersebut. Hal ini bisa dimengerti karena tujuan pendidikan mempunyai kedudukan yang amat penting.[1]
Semua tujuan pastilah membahas mengenai sasaran yang hendak dicapai dalam satu waktu tertentu. Demikian pula dalam pendidikan islam, dengan meneliti maksud dari beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadist, Para ahli kemudian mencoba merumuskan tujuan pendidikan islam. Prof. Dr. M. A’thiyah Al-Abrasyi menyimpulkan dalam satu kata bahwa tujuan pendidikan itu ialah fadhilah atau keutamaan.[2] Maksudnya adalah bahwa pendidikan dan pengajaran bukanlah untuk memenuhi otak peserta didik dengan berbagai macam ilmu yang belum mereka ketahui, akan tetapi tujuannya adalah mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah, membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka dalam menghadapi kehidupan dengan ikhlas dan jujur. Al-Ghazali pun berpendapat bahwa tujuan dari pendidikan ialah mendekatkan diri kepada Allah SWT,  bukan mencari pangkat ataupun bermegah-megahan.[3]
Tujuan pendidikan islam menurut Kongres Pendidikan Islam sedunia di Islamabad pada tahun 1980, bahwa pendidikan harus merealisasikan cita-cita islami yang mencakup pengembangan kepribadian muslim yang bersifat menyeluruh secara harmonis berdasarkan potensi psikologis dan filosofis (jasmaniah). Manusia mengacu kepada keimanan dan ilmu pengetahuan secara seimbang sehingga terbentuklah muslim yang berjiwa tawakkal secara total kepada Allah SWT.[4] Hal ini diambil dari firman Allah dalam Q.S Al-An’am ayat 162 :
@è% ¨bÎ ÎAx|¹ Å5Ý¡èSur y$uøtxCur ÎA$yJtBur ¬! Éb>u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÏËÈ
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” ( Q.S Al-An’am : 162 )
Rumusan di atas juga sesuai dengan firman Allah SWT :
 Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ
Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”( Q.S Al-Mujaadalah : 11 ).
Dengan demikian tujuan pendidikan islam sama luasnya dengan kebutuhan manusia, baik masa kini maupun masa yang akan datang. Manusia tidak hanya memerlukan iman atau agama, akan tetapi manusia juga memerlukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi sebagai alat untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan sebagai sarana untuk mencapai kehidupan spiritual yang baik di akhirat kelak.
Perumusan tujuan Pendidikan Islam harus berorientasi pada hakikat pendidikan yang meliputi beberapa aspek, yaitu;
1.      Tujuan dan tugas hidup manusia
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan membawa tujuan dan tugas hidup tertentu. Tugas manusia berupa ibadah (sebagai Abdullah) dan tugas sebagai wakil Allah di muka bumi (Khalifatullah).
2.      Memperhatikan sifat-sifat dasar manusia, yaitu konsep tentang manusia bahwa ia diciptakan sebagai khalifah Allah di muka bumi, serta untuk beribadah kepada-Nya.
3.      Tuntutan masyarakat
Tuntutan masyarakat baik berupa pelestarian nilai-nilai budaya yang telah melembaga dalam kehidupan suatu masyarakat, maupun pemenuhan terhadap tuntutan kebutuhan hidupnya dalam mengantisipasi perkembangan dan tuntutan dunia modern.
4.       Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam
Dimensi kehidupan ideal Islam mengandung nilai yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia, untuk mengelola dan memanfaatkan dunia sebagai bekal kehidupan di akhirat serta mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan di akhirat yang lebih membahagiakan. Manusia dituntut agar tidak terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yang dimiliki. Namun demikian, kemelaratan dan kemiskinan dunia harus diberantas, sebab kemelaratan dunia bisa menjadikan ancaman yang menjerumuskan manusia pada kekufuran. Dimensi tersebut dapat memadukan antara kepentingan hidup  duniawi dan ukhrowi. Keseimbangan dan keserasian antara kedua kepentingan hidup ini menjadi daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari berbagai gejolak kehidupan yang menggoda ketentraman dan ketenangan hidup manusia, baik yang bersifat spiritual, sosial, kultural, ekonomis, maupun ideologis dalam hidup pribadi manusia.[5]
            Upaya dalam pencapaian tujuan pendidikan Islam harus dilaksanakan dengan semaksimal mungkin. Abdurrahman Saleh Abdullah dalam bukunya “Educational Theory, a Qur’anic Outlock” menyatakan, tujuan pendidikan Islam dapat dibagi menjadi  empat macam, yaitu :
1.      Tujuan pendidikan jasmani (ahdaf Al-jismiyah)
Tujuan pendidikan jasmani digunakan untuk mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi melalui pelatihan keterampilan-keterampilan fisik.
2.      Tujuan pendidikan rohani
Tujuan pendidikan rohani digunakan untuk meningkatkan jiwa dari kesetiaan yang hanya kepada Allah semata dan melaksanakan moralitas Islami yang diteladani oleh Nabi Muhammad SAW dengan berdasarkan pada cita-cita ideal dalam Al-Qur’an. Indikasi pendidikan rohani adalah tidak bermuka dua, berupaya memurnikan dam menyucikan diri manusia secara individual dan sikap negatif.
3.      Tujuan pendidikan akal
Pengarahan intelegensi untuk menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan telaah tanda-tanda kekuasaan Allah dan menemukan pesan dari ayat-ayat-Nya yang membawa iman kepada sang pencipta. Tahapan pendidikan akal ini adalah:
a.       Pencapaian kebenaran ilmiah
b.      Pencapaian kebenaran empiris
c.       Pencapaian kebenaran meta empiris atau mungkin lebih tepatnya sebagai kebenarann filosofis.
4.      Tujuan pendidikan sosial
Tujuan pendidikan sosial adalah pembentukan kepribadian yang utuh dari roh, tubuh, dan akal. Identitas individu di sini tercermin sebagai “an nas” yang hidup pada masyarakat plural.
B.     Kurikulum Pendidikan Islam
1.      Pengertian Kurikulum dan Kurikulum Pendidikan Islam
Istilah kurikulum memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh para pakarnya sejak dulu sampai dengan dewasa ini. Tafsiran-tafsiran tersebut berbeda satu sama lain, sesuai dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar bersangkutan. Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “Curriculae”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh peserta didik yang bertujuan untuk memperoleh ijazah.[6] Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang disiapkan berdasarkan rancangan yang sistematis dan koordinatif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan.[7]
Kartomo Wirosukoarjo mendefinisikan kurikulum sebagai suatu kegiatan yang direncanakan untuk dialami, diterima, dan dilakukan oleh peserta didik agar dapat mencapai tujuan.Prof. Dr. Sikun Pribadi juga mengungkapkan bahwa kurikulum ialah suatu program belajar yang merupakan pengalaman belajar bagi para pelajarnya yang mengikuti program studi tersebut. Sedangkan Drs. Dakir mendefinisikan kurikulum sebagai suatu sistem perencanaan kegiatan pendidikan yang ditujukan kepada peserta didik oleh suatu lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dari bermacam-macam definisi ini, dapat dilihat bahwa pengertiannya hampir sama, yaitu merupakan satu perencanaan pengajaran, baik berupa bahan pelajaran ataupun kegiatan pembelajaran.[8]
Kurikulum pendidikan islam mengandung arti sebagai suatu rangkaian program yang mengarahkan kegiatan belajar-mengajar secara terencana, sistematis, dan mencerminkan cita-cita para pendidik sebagai pembawa aroma islami.[9] Dengan kata lain, materi-materi yang diajarkan haruslah sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Menurut pandangan Prof. Dr. Mohammad al-Djamaly, semua jenis ilmu yang terkandung dalam Al-Qur’an harus diajarkan oleh peserta didik. Ilmu-ilmu tersebut meliputi ilmu agama, sejarah, ilmu falak, ilmu bumi, ilmu jiwa, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, biologi, ilmu hitung, ilmu hukum, sosiologi, ekonomi, balaghah, bahasa arab, dan segala ilmu yang dapat mengembangkan kehidupan umat manusia dan yang mempertinggi derajatnya.[10]
2.      Ciri-Ciri Kurikulum dalam Pendidikan Islam
Omar Mohammad al-Toumy menyebutkan lima ciri-ciri dari kurikulum pendidikan islam. Kelima ciri tersebut secara ringkas dapat disebutkan sebagai berikut :[11]
a.       Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan, metode, alat, ataupun tekhnik bercorak agama.
b.      Meluas cakupannya dan menyeluruh kandungannya. Maksudnya adalah bahwa kurikulum harus betul-betul mencerminkan semangat, pemikiran dan ajarannya menyeluruh. Di samping itu ia juga luas dalam perhatiannya. Ia memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar.
c.       Bersikap seimbang di antara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum.
d.      Bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh peserta didik.
e.       Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan minat dan bakat peserta didik.
3.      Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
Selain memiliki ciri-ciri sebagaimana disebutkan di atas, kurikulum pendidikan juga mempunyai beberapa prinsip yang harus ditegakkan. Al-Syaibany menyebutkan tujuh prinsip kurikulum pendidikan islam, yaitu :[12]
a.       Prinsip pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilai-nilainya. Setiap bagian yang terdapat dalam kurikulum , mulai dari tujuan, kandungan, metode, dan sebagainya harus berdasarkan pada agama dan akhlak islam.
b.      Prinsip menyeluruh pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum, yakni mencakup tujuan membina akidah, akal, dan jasmaninya.
c.       Prinsip keseimbangan yang relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum.
d.      Prinsip keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan, maupun kebutuhan ajar.
e.       Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual di antara peserta didik, baik dar segi minat maupun bakatnya.
f.       Prinsip menerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.
g.      Prinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum.
4.      Asas Kurikulum Pendidikan Islam
Muh.al-Thoumy al Syaibany, menetapkan empat dasar pokok dalam kurikulum pendidikan Islam, yaitu[13]:
a.  Asas Agama
Dasar yang ditetapkan berdasarkan nilai-nilai ilahi yang tertuang dalam Al-Quran maupun As-Sunnah, karena kedua kitab tersebut merupakan nilai kebenaran yang universal, abadi dan bersifat futuristik. Selain kedua sumber tersebut masih ada sumber lain, yaitu dasar yang bersumber dari dalil ijtihad. Dalil ijtihad berupa ijma’, Qiyas, Istihsan dan lain-lain.
b.  Asas Falsafah
Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam, dengan dasar filosifis, sehingga susunan kurikulum PAI mengandung suatu kebenaran, terutama dari nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini kebenaran. Hal tersebut karena salah satu kajian filsafat adalah sistem nilai, baik yang berkaitan dengan arti hidup, masalah kehidupan, norma-norma yang muncul dari idividu, sekelompok masyarakat, maupun suatu bangsa yang dilatar belakangi oleh pengaruh agama, adat istiadat, dan konsep individu tentang pendidikan.
c. Asas Psikilogis
Dasar psikologis mempertimbangkan tahapan psikis anak didik, yang berkaitan dengan perkembangan jasmaniah, kematangan, bakat-bakat jasmaniah, intelektual, bahasa, emosi, sosial, kebutuhan dan keinginan individu, minat dan kecakapan.
d.      Asas Sosial
Dasar sosiologis memberikan implikasi bahwa kurikulum pendidikan memegang peranan penting terhadap penyampaian dan pengembangan kebudayaan, proses sosialisasi individu, rekonstruksi masyarakat.
BAB III
KESIMPULAN
Sebagai suatu kegiatan yang terencana, pendidikan islam memiliki kejelasan tujuan yang hendak dicapai. Semua tujuan pastilah membahas mengenai sasaran yang hendak dicapai dalam satu waktu tertentu. Demikian pula dalam pendidikan islam, dengan meneliti maksud dari beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadist, Para ahli kemudian mencoba merumuskan tujuan pendidikan islam. Salah satunya adalah tujuan pendidikan yang diungkapkan oleh Al-Ghazali. . Beliau berpendapat bahwa tujuan dari pendidikan ialah mendekatkan diri kepada Allah SWT,  bukan mencari pangkat ataupun bermegah-megahan.
Kurikulum pendidikan islam merupakan suatu rangkaian program yang mengarahkan kegiatan belajar-mengajar secara terencana, sistematis, dan mencerminkan cita-cita para pendidik sebagai pembawa aroma islami.[14] Kurikulum pendidikan islam harus dapat bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh peserta didik. Di samping itu, kurikulum haruslah disesuaikan dengan minat dari peserta didik agar nantinya mereka dapat dengan lebih mudah menerima apa yang disampaikan oleh pendidik.
Ada beberapa asas atau landasan dalam kurikulum pendidikan islam. Landasan-landasan tersebut adalah landasan agama, landasan filosofis, landasan psikologis dan landasan sosial. Landasan-landasan ini harus dijadikan sebagai pertimbangan saat membuat dan mengembangkan kurikulum pendidikan islam. 


[1] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 1997), halaman 45.
[2] Muhammad Zein, Filsafat Pendidikan Islam, ( Yogyakarta:IAIN Sunan Kalijaga,1985), halaman 17.
[3] Ibid, halaman 18.
[4] Arifin, Ilmu Pendidikan Islam:Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta:Bumi Aksara, 2006), halaman 55.
[5] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung: Trigenda karya, 1993), hlm. 154
[6] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Bandung:Bumi Aksara, 1994), halaman 16.
[7] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, ( Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 1997), halaman 123.
[8] Muhammad Zein, Filsafat Pendidikan Islam, ( Yogyakarta:IAIN Sunan Kalijaga, 1985 ), halaman 73.
[9] Arifin,  Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta:Bumi Aksara, 2006), halaman 136.
[10] Ibid, halaman 137.
[11] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, ( Jakarta:LoGOS Wacana Ilmu, 1997), halaman 127.
[12] Ibid, halaman 128.
[13] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung: Trigenda karya, 1993), hlm. 187-193
[14] Arifin,  Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta:Bumi Aksara, 2006), halaman 136.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger