- Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » »

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Selasa, 24 September 2013 | Selasa, September 24, 2013

KOMPETENSI SOSIAL GURU
Oleh : Afdhol Abdul Hanaf

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Pendidikan merupakan icon fundamental dalam rangka membenahi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Dengan pendidikan, manusia akan memiliki akhlak, moral, ataupun etika  yang baik  sehingga tercipta kehidupan yang teratur. Dengan pendidikan yang sesungguhnyalah manusia akan mampu merekonstruksi pola pikirnya.
Dunia pendidikan saat ini sedang diguncang oleh berbagai perubahan. Perubahan-perubahan ini merupakan penyesuaian dari kebutuhan masyarakat maupun permasalahan-permasalahan yang terjadi pada saat ini. Di Indonesia, permasalahan-permasalahan dalam pendidikan sangatlah bervariasi. Sebagai contoh tawuran antara SMA 70 Jakarta dengan SMA 6 Jakarta yang memakan korban meninggal dunia. Hal ini merupakan ketidakberhasilan dari sebuah proses pendidikan sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan pun sangat sulit untuk dicapai.
Guru merupakan salah satu faktor keberhasilan dari sebuah proses pendidikan. Pada dasarnya guru merupakan pendamping dari peserta didik dalam rangka mengembangkan potensinya dan mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Proses pendidikan/pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik apabila guru tidak mampu berkomunikasi dengan peserta didik. Oleh karena itu, guru haruslah memiliki sebuah kemampuan dalam bergaul ataupun berkomunikasi dengan peserta didik. Tidak hanya itu, guru juga harus dapat berkomunikasi dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sosial. Kemampuan inilah yang sering disebut dengan kompetensi sosial guru.
B.            Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian dari kompetensi sosial?
b.      Apa saja ruang lingkup kompetensi sosial guru?
c.       Apa karakteristik guru yang memiliki kompetensi sosial?
d.      Apa saja aspek-aspek kompetensi sosial?
e.       Mengapa kompetensi sosial sangat penting dimiliki oleh seorang guru?
f.       Bagaimana peran guru di lingkungan masyarakat?
g.      Bagaimana cara mengembangkan kompetensi sosial?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kompetensi Sosial
Menurut Buchari Alma (2008:142), kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah[1]. Seorang guru harus berusaha mengembangkan komunikasi dengan orang tua peserta didik sehingga terjalin komunikasi dua arah yang berkelanjutan. Dengan adanya komunikasi dua arah, peserta didik dapat dipantau secara lebih baik dan dapat mengembangkan karakternya secara lebih efektif pula. Suharsimi juga memberikan argumennya mengenai kompetensi sosial. Menurut beliau, kompetensi sosial haruslah dimiliki seorang guru, yang mana guru harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dengan siswa, sesama guru, kepala sekolah, dan masyarakat sekitarnya.[2]
Dalam Standar Nasional Pendidikan, Pasal 28 ayat (3) butir d, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar[3]. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut dalam RPP tentang guru, bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk[4] :
1.      Berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat.
2.      Menggunakan tekhnologi komunikasi dan informasi secara fungsional.
3.      Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua/wali peserta didik.
4.      Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Kompetensi sosial menurut Slamet yang dikutip oleh Syaiful Sagala dalam bukunya kemampuan Profesional Guru dan tenaga Kependidikan terdiri dari sub kompetensi yaitu :
1.    Memahami dan menghargai perbedaan serta memiliki kemampuan mengelola konflik dan benturan.
2.    Melaksanakan kerja sama secara harmonis.
3.    Membangun kerja team (team work) yang kompak, cerdas, dinamis dan lincah
4.    Melaksanakan komunikasi secara efektif dan menyenangkan.
5.    Memiliki kemampuan memahami dan menginternalisasikan perubahan lingkungan yang berpengaruh terhadap tugasnya.
6.    Memiliki kemampuan menundukkan dirinya dalam system nilai yang berlaku di masyarakat.
7.    Melaksanakan prinsip tata kelola yang baik.[5]
Berdasarkan beberapa pengertian kompetensi sosial di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial guru adalah kemampuan dan kecakapan seorang guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif pada pelaksanaan proses pembelajaran serta masyarakat sekitar.
B.     Ruang Lingkup Kompetensi Sosial Guru
Berkaitan dengan ruang lingkup kompetensi sosial guru, Sanusi (1991) mengungkapkan bahwa “kompetensi sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru”. Menurut Permendiknas No. 16 tahun 2007 terdapat 5 kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh guru yang diuraikan secara perinci sebagai berikut:
1.    Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik.
2.    Bersikap simpatik.
3.    Dapat bekerja sama dengan dewan pendidikan/komite sekolah.
4.    Pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan.
5.    Memahami dunia sekitarnya (lingkungannya).
C.    Karakteristik Guru yang Memiliki Kompetensi Sosial
Menurut Musaheri, ada dua karakteristik guru yang memiliki kompetensi sosial, yaitu[6]:
1.      Berkomunikasi secara santun
Les Giblin menawarkan lima cara terampil dalam melakukan komunikasi dengan santun, yaitu[7]:
a.    Ketahuilah apa yang ingin anda katakan
b.   Katakanlah dan duduklah
c.    Pandanglah pendengar
d.   Bicarakan apa yang menarik minat pendengar
e.    Janganlah membuat sebuah pidato.
2.      Bergaul secara efektif
Bergaul secara efektif mencakup mengembangkan hubungan secara efektif dengan siswa. Dalam bergaul dengan siswa, haruslah menggunakan prinsip saling menghormati, mengasah, mengasuh dan mengasihi.
Ada 7 kompetensi sosial yang harus dimiliki agar guru dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif, baik disekolah maupun dimasyarakat, yakni: [8]
1.      Memiliki pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama.
2.      Memiliki pengetahuan tentang budaya dan tradisi.
3.      Memiliki pengetahuan tentang inti demokrasi.
4.      Memiliki pengetahuan tentang estetika.
5.      Memiliki apresiasi dan kesadaran sosial.
6.      Memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan.
7.      Setia terhadap harkat dan martabat manusia.
Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru berkaitan dengan kompetensi sosial dalam berkomunikasi dengan orang lain, antara lain:
1.    Bekerja sama dengan teman sejawat
              Jagalah hubungan baik dengan sejawat, buahnya adalah kebahagiaan.[9] Guru-guru harus berinteraksi dengan sejawat[10]. Mereka harus dapat bekerja sama dan saling menukar pengalaman. Dalam bekerjasama, akan tumbuh semangat dan gairah kerja yang tinggi.[11]
              Dalam ayat 7 kode etik guru disebutkan bahwa “Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial”. Ini berarti bahwa: (1) guru hendaknya menciptakan dan memelihara hubungan sesama guru dalam lingkungan kerjanya, dan (2) guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial didalam dan diluar lingkungan kerjanya.
2.    Bekerjasama dengan kepala sekolah
              Kepala sekolah merupakan unsur pembina guru yang paling strategis dalam jabaran tugas di lingkungan pendidikan formal. Menurut Smith, mereka harus mampu menciptakan sistem kerja yang harmonis, menampakkan suatu tim kerja yang mampu mendorong guru bekerja lebih efektif.
3.    Bekerja sama dengan siswa
Guru bertugas menciptakan iklim belajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan gembira. Kreatifitas siswa dapat dikembangkan apabila guru tidak mendominasi proses komunikasi belajar, tetapi guru lebih banyak mengajar, memberi inspirasi agar mereka dapat mengembangkan kreatifitas melalui berbagai kegiatan belajar sehingga siswa memperoleh berbagai pengalaman belajar Hal itu dapat memberi kesegaran psikologis dalam menerima informasi. Disinilah terjadi proses individualisasi dan proses sosialisasi dalam mendidik.[12]
Adapun hal-hal yang menentukan keberhasilan komunikasi dalam kompetensi sosial seorang guru adalah:
1.      Audience atau sasaran komunikasi, yakni dalam berkomunikasi hendaknya memperhatikan siapa sasarannya sehingga sang komunikator bisa menyesuaikan gaya dan “irama” komunikasi menurut karakteristik sasaran. Berkomunikasi dengan siswa SD tentu berbeda dengan siswa SMA
2.      Behaviour atau perilaku, yakni perilaku apa yang diharapkan dari sasaran setelah berlangsung dan selesainya komunikasi. Misalnya seorang guru sejarah sebagai komunikator ketika sedang berlangsung dan setelah selesai menjelaskan Peristiwa Pangeran Diponegoro, perilaku siswa apa yang diharapkan. Apakah siswa menjadi sedih dan menangis merenungi nasib bangsanya, atau siswa mengepalkan tangan seolah-olah akan menerjang penjajah Belanda. Hal ini sangat berkait dengan keberhasilan komunikasi guru sejarah tersebut.
3.      Condition atau kondisi, yakni dalam kondisi yang seperti apa ketika komunikasi sedang berlangsung. Misalnya ketika guru Matematika mau menjelaskan rumus-rumus yang sulit harus. Seorang guru harus mengetahui kondisi siswa tersebut, apakah sedang gembira atau sedang sedih, atau sedang kantuk karena semalam ada acara. Dengan memahami kondisi seperti ini maka guru dapat menentukan strategi apa yang ia gunakan agar nantinya apa yang diajarkan bisa diterima oleh siswa.
4.      Degree atau tingkatan, yakni sampai tingkatan manakah target bahan komunikasi yang harus dikuasai oleh sasaran itu sendiri. Misalnya saja ketika seorang guru Bahasa Inggris menjelaskan kata kerja menurut satuan waktunya, past tense, present tense dan future tense, berapa jumlah minimal kata kerja yang harus dihafal oleh siswa pada hari itu. Jumlah minimal kata kerja yang dikuasai oleh siswa dapat dijadikan sebagai alat ukur keberhasilan guru Bahasa Inggris tersebut., Apabila tercapai berarti ia berhasil, sebaliknya apabila tidak tercapai berarti ia gagal.
D.    Aspek-Aspek Kompetensi Sosial
Gullotta dkk (1990) mengemukakan beberapa aspek kompetensi sosial, yaitu[13]:
1.      Kapasitas kognitif, merupakan hal yang mendasari keterampilan sosial dalam menjalin dan menjaga hubungan interpersonal positif. Kapasitas kognitif meliputi harga diri yang positif, kemampuan memandang sesuatu dari sudut pandang sosial, dan keterampilan memecahkan masalah interpersonal.
2.      Keseimbangan antara kebutuhan bersosialisasi dan kebutuhan privasi. Kebutuhan sosialisasi merupakan kebutuhan individu untuk terlibat dalam sebuah kelompok dan menjalin hubungan dengan orang lain. Sedangkan kebutuhan privasi adalah keinginan untuk menjadi individu yang unik, berbeda, dan bebas melakukan tindakan tanpa pengaruh orang lain.
3.      Keterampilan sosial dengan teman sebaya, merupakan kecakapan individu dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya sehingga tidak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kelompok dan dapat terlibat dalam kegiatan kelompok.
E.     Pentingnya Kompetensi Sosial
Dalam menjalani kehidupan, guru menjadi seorang tokoh dan panutan bagi peserta didik dan lingkungan sekitarnya. Abduhzen mengungkapkan bahwa “ Imam Al-Ghazali menempatkan profesi guru pada posisi tertinggi dan termulia dalam berbagai tingkat pekerjaan masyarakat. Guru mengemban dua misi sekaligus, yaitu tugas keagamaan dan tugas sosiopolitik.” Yang dimaksud dengan tugas keagamaan menurut Al-Ghazali adalah tugas guru ketika ia melakukan kebaikan dengan menyampaikan ilmu pengetahuan kepada manusia guru merupakan makhluk termulia di muka bumi. Sedangkan yang dimaksud dengan tugas sosiopolitik adalah bahwa guru membangun, memimpin, dan menjadi teladan yang menegakkan keteraturan, kerukunan, dan menjamin keberlangsungan masyarakat.[14]
Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibanding profesi lainnya. Ungkapan yang sering digunakan adalah bahwa “guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani. Untuk itu, guru haruslah mengenal nilai-nilai yang dianut dan berkembang di masyarakat tempat melaksanakan tugas dan bertempat tinggal. Apabila ada nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya, maka haruslah ia menyikapinya dengan hal yang tepat sehingga tidak terjadi benturan nilai antara guru dengan masyarakat. Apabila terjadi benturan antara keduanya maka akan berakibat pada terganggunya proses pendidikan. Oleh karena itu, seorang guru haruslah memiliki kompetensi sosial agar nantinya apabila terjadi perbedaan nilai dengan masyarakat, ia dapat menyelesaikannya dengan baik sehingga tidak menghambat proses pendidikan.[15]
F.     Peran Guru di Masyarakat
Guru merupakan kunci penting dalam menjalin hubungan antara sekolah dengan masyarakat. Oleh karena itu, ia harus memiliki kompetensi untuk melakukan beberapa hal sebagai berikut:[16]
1.      Membantu sekolah dalam melaksanakan tekhnik-tekhnik hubungan sekolah dan masyarakat.
2.      Membuat dirinya lebih baik lagi dalam masyarakat karena pada dasarnya guru adalah tokoh milik masyarakat.
3.      Guru merupakan teladan bagi masyarakat sehingga ia harus melaksanakan kode etiknya.
Adapun peran guru di masyarakat dalam kaitannya dengan kompetensi sosial dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Guru sebagai Petugas Kemasyarakatan
Guru memegang peranan sebagai wakil masyarakat yang representatif sehingga jabatan guru sekaligus merupakan jabatan kemasyarakatan. Guru bertugas membina masyarakat agar mereka dapat berpartisipasi dalam pembangunan.
2.      Guru sebagai Teladan di Masyarakat
Dalam kedudukan ini, guru tidak lagi dipandang sebagai pengajar di kelas, akan tetapi diharapkan pula tampil sebagai pendidik di masyarakat yang seyogyanya memberikan teladan yang baik kepada masyarakat.
3.      Guru Memiliki Tanggungjawab Sosial
Peranan guru di sekolah tidak lagi terbatas untuk memberikan pembelajaran, akan tetapi harus memikul tanggungjawab yang lebih besar, yakni bekerjasama dengan pengelola pendidikan lainnya di dalam lingkungan masyarakat. Untuk itu, guru harus lebih banyak melibatkan diri dalam kegiatan di luar sekolah.
G.    Cara Mengembangkan Kompetensi Sosial Guru
Kemasan pengembangan kompetensi sosial untuk guru, calon guru (mahasiswa keguruan), dan siswa tentu berbeda. Kemasan itu harus memperhatikan karakteristik masing-masing, baik yang berkaitan dengan aspek psikologis maupun sistem yang mendukungnya.  Untuk mengembangkan kompetensi sosial seorang pendidik, kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini. Beberapa dimensi ini, misalnya, dapat kita saring dari konsep life skills. Dari 35 life skills atau kecerdasan hidup itu, ada 15 yang dapat dimasukkan ke dalam dimensi kompetensi sosial, yaitu:[17]
1.    Kerja tim                                                    9. Berempati                         
2.    Melihat peluang                                       10. Kepedulian kepada sesama
3.    Peran dalam kegiatan kelompok              11. toleransi
4.    Tanggung jawab sebagai warga               12. Solusi konflik
5.    Kepemimpinan                                         13. Menerima perbedaan
6.    Relawan sosial                                         14. Kerjasama
7.    Kedewasaan dalam berelasi                     15. komunikasi
8.    Berbagi                                                    
Kelimabelas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan sebagai pengembangan kompetensi sosial bagi para pendidik dan calon pendidik. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita. Cara mengembangkan kecerdasan sosial di lingkungan sekolah antara lain: diskusi, berani menghadapi masalah, bermain peran, kunjungan langsung ke masyarakat dan lingkungan sosial yang beragam.
BAB III
KESIMPULAN

Kompetensi guru merupakan suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar nantinya proses pendidikan dapat berjalan dengan efektif dan dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi sosial. Kompetensi sosial guru adalah kemampuan dan kecakapan seorang guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif pada pelaksanaan proses pembelajaran. Berdasarkan pengertian tersebut, seorang guru harus memiliki kompetensi sosial yang baik agar dapat memperlancar dalam pencapaian tujuan pendidikan. Seorang siswa akan merasa nyaman dan segan ketika seorang guru mampu berkomunikasi dengan baik dengan siswanya.
Seorang guru yang memiliki kompetensi sosial akan diterima baik di lingkungan masyarakat sekitar. Hal tersebut terjadi karena dengan penguasaan kompetensi sosial bagi guru, maka ia mampu berkomunikasi dengan baik dengan masyarakat, dapat menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang menjadi pegangan masyarakat dimana ia bertugas, serta mampu mengatasi masalah sosial yang timbul di masyarakat. Seorang guru juga menjadi teladan bagi masyarakat. Oleh sebab itu kompetensi sosial perlu dimiliki oleh setiap guru agar nantinya ia mampu beradaptasi dan diterima oleh masyarakat dengan baik. Apabila guru bisa beradaptasi dengan baik dan tidak ada pertentangan di dalam masyarakat, maka tujuan pendidikan pun akan mudah untuk dicapai.
Cara mengembangkan kecerdasan sosial di lingkungan sekolah antara lain: diskusi, berani menghadapi masalah, bermain peran, kunjungan langsung ke masyarakat dan lingkungan sosial yang beragam. Jika kegiatan dan metode pembelajaran tersebut dilakukan secara efektif maka akan dapat mengembangkan kecerdasan sosial bagi seluruh warga sekolah, sehingga mereka menjadi warga yang peduli terhadap kondisi sosial masyarakat dan ikut memecahkan berbagai permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat.



[1] Agus Wibowo dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter : Strategi Membangun Kompetensi dan Karakter Guru, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2012), halaman 124.
[2] Kang  Anjum, Kompetensi Sosial Guru, https://ahmadmuhli.wordpress.com/ 2012/03/01/kompetensi-sosial-guru/, diakses pada tanggal 29 Oktober 2012 pukul 22.08.
[3] E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2007), halaman 173.
[4] Ibid.
[5] Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, (Bandung: Alfabeta, 2009) hal. 38
[6] Kang  Anjum, Kompetensi Sosial Guru, https://ahmadmuhli.wordpress.com/ 2012/03/01/kompetensi-sosial-guru/, diakses pada tanggal 29 Oktober 2012 pukul 22.08.
[7] Ibid.
[8] E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru..., hal.176
[9] Sudarwan Danim, Pengembangan Ptofesi Guru: Dari Pra-Jabatan, Induksi, ke Profesional Madani, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 229
[10] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), hal. 16
[11] Piet A. Sahertian, Profil Pendidik Profesional, (Yogyakarta: Andi Offset, 1994), hal. 62-63
[12] Piet A. Sahertian, Profil Pendidik Profesional..., hal. 63
[13] Ekal Ghifari, Kompetensi Sosial, http://www.scribd.com/doc/47441892/BAB-2-kompetensi-sosial, diakses pada tanggal 29 Oktober 2012 pukul 19.16.
[14] E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya,  2007),  halaman 174.
[15] Ibid.,
[16] Ibid, halaman 175..
[17] Kompetensi Sosial Guru dalam  www.gamadidaktika.com
Share this article :

2 komentar:

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger