REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM (Demokratis Abu Bakar Asshiddiq dan Kualitas Guru) - Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » » REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM (Demokratis Abu Bakar Asshiddiq dan Kualitas Guru)

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM (Demokratis Abu Bakar Asshiddiq dan Kualitas Guru)

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Rabu, 09 Oktober 2013 | Rabu, Oktober 09, 2013

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN ISLAM 
(Demokratis Abu Bakar Asshiddiq dan Kualitas Guru)
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf

BAB I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh manusia dalam melestarikan hidupnya.[1] Dengan pendidikan, manusia akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya dari berbagai aspek kehidupan yang mereka alami. Dalam sejarah kehidupan umat manusia, tidak ada masa yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat peningkatan kualitasnya, meskipun dalam masyarakat yang masih terbilang primitif. Bagaimanapun bentuk peradaban manusia tentu di dalamnya berlangsung proses pendidikan. Dengan kata lain pendidikan telah ada sepanjang peradaban manusia.
Pendidikan pada saat ini belum mampu memberikan nuansa baru kepada peserta didik. Apa yang menjadi tujuan pendidikan saat ini belum bisa tercapai. Apa yang menjadi angan-angan sangat bertolak belakang pada kenyataan. Oleh karena itu, mau tidak mau pendidikan harus mengadakan pembaharuan.
Perkembangan islam pada massa khulafaurrasyidin dapat dikatakan sebagai zaman keemasan. Hal ini bisa dibuktikan dengan semakin pesatnya ajaran islam tersebut. Hampir 2/3 bumi yang kita huni ini dipegang dan dikendalikan oleh Islam.[2] Hal itu tentunya tidak terlepas dari para pejuang yang sangat gigih dalam mempertahankan dan menyebarkan agama. Tentu saja dalam penyebaran agama islam ini menggunakan pendidikan yang sangat luar biasa sehingga agama Islam berkembang sangat pesat. Oleh karena itu, makalah ini akan menyelidiki lebih lanjut akan pendidikan era khulafaurrasyidin, khususnya era Abu Bakar Assiddiq, yang kemudian direkonstruksi untuk membenahi pendidikan pada saat ini.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa masalah pendidikan yang terjadi pada saat ini?
2.      Bagaimana pendidikan yang terjadi pada masa Abu Bakar Asshiddiq??
3.      Bagaimana rekonstruksi pendidikan era Abu Bakar Asshiddiq?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui masalah pendidikan yang terjadi pada saat ini.
2.      Untuk mengetahui pendidikan pada era Abu Bakar Asshiddiq.
3.      Memberikan solusi kepada pendidikan saat ini dengan merekonstruksi pendidikan era Abu Bakar Asshiddiq.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Masalah Pendidikan Saat Ini
Mantan Menteri Pendidikan Nasional, H. A. Malikk Fadjar pernah melontarkan statement sebagai berikut: “Pada saat ini di dunia pendidikan kita masih kekurangan guru, kalau tenaga pengajar banyak, tetapi tenaga guru masih sangat langka. Ukuran kualitas Perguruan Tinggi bukan hanya dilihat dari berapa yang bergelar doktor, tetapi berapa banyak guru di dalamnya”.[3] Statement ini cukup menarik untuk dicermati di tengah-tengah situasi krisis yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, baik krisis citra, kepercayaan, maupun krisis image di kalangan dunia internasional. Berbagai krisis tersebut akan lebih parah lagi jika menimpa dunia pendidikan kita.
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, memberikan, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[4] Maksudnya adalah bahwa seorang guru tidak hanya sekedar transfer of knowledge saja, akan tetapi juga harus membentuk kepribadian peserta didik sesuai kultur yang ada.
Menurut Hadari Nawawi, guru adalah orang yang mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah/kelas. Secara lebih khusus lagi beliau mengatakan bahwa guru berarti orang yang bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing. Artinya, guru tidak hanya memberi materi di depan kelas, akan tetapi juga harus dan kreatif dalam mengarahkan perkembangan murid.[5]
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Guru harus memiliki inovasi agar nantinya apa yang menjadi tujuan daripada pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Seorang guru harus dapat menggunakan berbagai macam strategi agar nantinya peserta didik dapat menangkap materi-materi yang telah diberikan dengan mudah dan dapat mengejawantahkan dari apa yang mereka pelajari. Akan tetapi semua ini belum dapat dilakukan oleh guru sehingga tujuan pendidikan pun juga terhambat.
Ketua umum Pengurus Besar PGRI, Sulistiyo mengatakan bahwa ada beberapa persoalan guru yang menonjol dan tidak kunjung mendapat penyelesaian dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Masalah yang pertama adalah kualitas guru yang masih sangat rendah. Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat masa depan anak Indonesia sangat bertumpu pada guru-guru yang memberikan pendidikan. Masalah yang kedua adalah sistem pengangkatan guru yang tidak berdasarkan pada kebutuhan dan masih ada nuansa KKN. Sulistyo mengungkapkan bahwa “masalah-masalah ini sebenarnya paling sering dipersoalkan akan tetapi penyelesaiannya tidak pernah ada”.[6]
Dengan melihat pemaparan di atas tentu dapat diambil kesimpulan bahwa dengan kualitas guru yang masih sangat rendah ditambah dengan sistem pengangkatan guru yang tidak berdasarkan pada kebutuhan, tentu tujuan daripada pendidikan pun akan terhambat. Hal ini dikarenakan guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan kekreatifan siswa sesuai dengan mata pelajaran yang ada. Oleh karena itu tidak ada salahnya apabila kita menengok kembali pesan-pesan yang dipaparkan oleh Sayyidina Abu Bakar Asshidiq serta kondisi pendidikan era beliau.
B.     Kepemimpinan Abu Bakar Asshiddiq.
Abu Bakar Asshidiq merupakan sahabat Rasulullah SAW yang lahir pada tahun 573 Masehi. Ayah beliau bernama Abu Kuhafah (Ustman) yang berasal dari kaum Quraisy. Sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salamah. Abu Bakar diberi gelar Asshiddiq karena amat segera membenarkan Rasul dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa isra’ mi’raj.
Abu Bakar merupakan orang yang pertama masuk Islam ketika agama ini mulai didakwahkan. Baginya tidaklah sulit untuk mempercayai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw dikarenakan sejak kecil beliau telah mengenal keagungan Nabi Muhammad Saw. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumbuhkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk Islam.
Pada saat Abu Bakar diangkat sebagai khalifah menggantikan kedudukan Rasulullah SAW, beliau berpidato yang isinya kurang lebih sebagai berikut:
 “Wahai manusia, sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskan aku. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu penghianatan. Orang yang lemah di antara kamu adalah orang yang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya, dan orang kuat di antara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil haknya, InsyaAllah. Jagnganlah salah seorang dari kamu meninggalkan jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad maka Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mentaati Allah dan Rasulnya, sekali-kali janganlah kamu mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.”[7]
    1. Pendidikan keimanan yaitu, menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah SWT.
    2. Pendidikan akhlak
    3. Kesehatan tentang kebersihan, gerak-gerik dalam sholat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.
C.     Rekonstruksi Pendidikan Era Abu Bakar Asshiddiq
Rekonstruksi yang akan penulis fokuskan adalah pada pidato dari Abu Bakar Asshiddiq. Penulis mengangap bahwa guru juga meupakan seorang pemimpin, lebih khususnya sebagai pemimpin bagi peserta didik. Dalam mengajarkan sebuah materi pembelajaran, seorang guru tidak boleh otoriter. Hal ini sesuai dengan apa yang dipidatokan oleh Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ”Wahai manusia, sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskan aku.” Maksudnya adalah bahwa seorang guru tidak boleh merasa sok pintar. Semua yang ada dalam pikiran guru belum tentu benar. Bisa jadi peserta didik lebih tau dan lebih paham akan materi tersebut. Oleh karena itu dalam pembelajaran akan lebih baik apabila menggunakan metode diskusi sehingga guru pun dapat mencari ilmu walaupun dari peserta didik.
Seorang guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Seperti apa yang telah diungkapkan oleh Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq, Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mentaati Allah dan Rasulnya, sekali-kali janganlah kamu mentaatiku.” Maksudnya adalah bahwa seorang guru harus memberikan seri tauladan yang baik. Di samping itu seorang guru harus memberikan pendidikan yang benar, tidak boleh menyimpang dari apa yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Assunnah. Sebenar dan sebaik apapun pengajaran yang diberikan oleh guru tanpa didukung oleh keteladanan yang baik, maka peserta didik pun akan sulit untuk menerima dan mengejawantahkan apa yang telah mereka pelajari.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai guru, tidaklah boleh berpilih kasih. Artinya, semua peserta didik harus dipandang sama. Ia harus adil. Tidak serta merta peserta didiknya adalah saudaranya sendiri atau sangat pintar, kemudian dipuja-puja ataupun diistimewakan. Sebaliknya, orang yang bukan saudaranya atau orang yang bodoh kemudian dikucilkan, tidak dihiraukan, dan lain sebagainya. Inilah yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Seperti apa yang telah disampaikan oleh Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq bahwa “Orang yang lemah di antara kamu adalah orang yang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya, dan orang kuat di antara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil haknya, InsyaAllah.” Orang yang sekiranya masih kurang pandai harusnya seorang guru memberikan pendekatan dan pendidikan yang lebih agar nantinya mereka dapat memahami materi yang dipelajari. Apabila terdapat peserta didik yang lebih pandai daripada gurunya maka tidak ada alasan bagi guru untuk menerima ilmu dari peserta didik tersebut.


KESIMPULAN
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan peserta didik menuju kepada kedewasaan. Akan tetapi guru pada saat ini belum mampu memberikan nuansa baru kepada peserta didik sehingga tujuan daripada pendidikan pun terhambat. Hal ini dikarenakan masih rendahnya kualitas guru yang ada dan sistem pengangkatan guru yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
Kekhalifahan era Abu Bakar Asshiddiq dapat dijadikan pedoman dalam menjawab persoalan-persoalan pendidikan pada saat ini. Dalam pidatonya setelah beliau diangkat menjadi khalifah menggantikan Rasulullah Saw:Wahai manusia, sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskan aku. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu penghianatan. Orang yang lemah di antara kamu adalah orang yang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya, dan orang kuat di antara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil haknya, InsyaAllah. Jagnganlah salah seorang dari kamu meninggalkan jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad maka Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mentaati Allah dan Rasulnya, sekali-kali janganlah kamu mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.”
Dengan melihat pidato yang diungkapkan oleh Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq maka dapat diambil pelajaran bahwa seorang guru haruslah adil, tidak pandang bulu. Seorang guru juga tidak semata-mata hanya transfer of knowledge saja, akan tetapi juga harus transfer of value. Seorang guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi harusnya sebagai pendidik bagi peserta didik, sehingga tujuan pendidikan Insyaallah akan tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Afifah, Riana. 4 Masalah Utama Guru yang Tak Kunjung Selesai. http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/26/1337430/4.Masalah.Utama.Guru.yang.Tak.Kunjung.Selesai. diakses pada tanggal 25 Maret 2013 pada pukul 8.52.
An-Nainawa, Jumadi Attayani. Pola Pendidikan Khulafaurrasyidin. http://attayanii.blogspot.com.com/read/2012/11/26/1337430/4.Pola.Pendidikan.Khulafaurrasyidin,htm. Diakses pada tanggal 25 Maret 2013 pada pukul 08.02 WIB.
Basya, Aris Hielmy. Rekonstruksi Materi Pendidikan Islam: Refleksi atas Dasar-Dasar Pendidikan Masa Nabi dan Khulafaurrasyidin. http://hielmybasya.blogspot.com/2012/11/rekonstruksi-materi-pendidikan-islam.html, diakses pada tanggal 22 Maret 2013 pada pukul 09.35.
Hamdani, Ihsan dan Ihsan Fuad. 2001. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
Muhaimin. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: Pusat Studi Agama, Politik, dan Masyarakat.
Nawawi, Hadari. 1982. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas sebagai Lembaga Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005. 2006. Tentang Guru dan Dosen. Bandung: Citra Umbara.




[1] Ihsan Hamdani dan Ihsan Fuad, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001), hlm. 28.
[2] Aris Hielmy Basya, Rekonstruksi Materi Pendidikan Islam: Refleksi atas Dasar-Dasar Pendidikan Masa Nabi dan Khulafaurrasyidin, http://hielmybasya.blogspot.com/2012/11/rekonstruksi-materi-pendidikan-islam.html, diakses pada tanggal 22 Maret 2013 pada pukul 09.35.
[3] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Surabaya: Pusat Studi Agama, Politik, dan Masyarakat, 2003), hlm. 209.
[4] Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen, (Bandung: Citra Umbara, 2006), hlm. 2.
[5] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas sebagai Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 123.
[6] Riana Afifah, 4 Masalah Utama Guru yang Tak Kunjung Selesai, http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/26/1337430/4.Masalah.Utama.Guru.yang.Tak.Kunjung.Selesai, diakses pada tanggal 25 Maret 2013 pada pukul 8.52.
[7] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm 70.
[8] Jumadi Attayani An-Nainawa, Pola Pendidikan Khulafaurrasyidin, http://attayanii.blogspot.com.com/read/2012/11/26/1337430/4.Pola.Pendidikan.Khulafaurrasyidin,htm. Diakses pada tanggal 25 Maret 2013 pada pukul 08.02 WIB.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger