- Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » »

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Selasa, 12 Januari 2016 | Selasa, Januari 12, 2016

FILSAFAT ILMU
(Kajian Atas Filsafat Barat dan Islam)
 oleh: Afdhol Abdul Hanaf, S. Pd. I

BAB I
PENDAHULUAN

Filsafat dan ilmu merupakan dua kat yang saling terkait satu sama lain, baik secara substansial maupun historis. Hal ini dikarenakan kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Sebaliknya, perkembangan ilmu juga sangat memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran umat manusia (khususnya bangsa Yunani) dari pandangan mitosentris menjadi geosentris. Sebelumnya, manusia beranggapan bahwa semua kejadian alam ini dipengaruhi oleh dewa. Oleh karena itu, para dewa harus dihormati dan ditakuti sekaligus disembah. Dengan munculnya filsafat, pola pikir tersebut dapat dirubah dari tergantung pada dewa menjadi pola pikir yang tergantung pada rasio.[1]
Mendewakan rasio dan hanya percaya pada sesuatu yang ilmiah (empiris), itulah sebutan yang pantas bagi dunia barat saat ini. Mereka sudah tidak percaya lagi terhadap mitologi ataupun dogma dari Gereja. Mereka merasa telah dibohongi oleh dogma-dogma tersebut sehingga mereka sudah tidak percaya lagi padanya. Namun, dengan pengetahuan ilmiahnya tersebut, justru mereka mampu membuat peradaban barat menjadi semakin maju. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat menjadi bukti bahwa peradaban barat saat ini berkembang sangat pesat.
Sebagai seorang yang beragama Islam, tentu mereka akan menolak bahwa kebenaran hanya datang dari hal-hal yang dapat diilmiahkan. Hal ini dikarenakan umat Islam meyakini bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw merupakan ajaran yang benar, meskipun tidak dapat diterima oleh rasio manusia. Tuhan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah juga menjadi salah satu penyebab umat Islam tidak sependapat dengan barat.
Berawal dari sini kiranya sangat menarik apabila kita mengkaji filsafat ilmu dan filsafat barat, baik dilihat dari sejarahnya maupun pandangannya terhadap ilmu. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis mencoba mengkaji sedikit terkait dengan filsafat ilmu dalam perspektif barat dan Islam.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Filsafat Ilmu
1.    Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Filsafat merupakan sebuah disiplin ilmu yang berkaitan dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan merupakan titik ideal dalam kehidupan manusia. Dengan filsafat, manusia dapat bersikap dan bertindak atas dasar pertimbangan kemanusiaan yang tinggi, bukan asal bertindak sebagaimana yang biasa dilakukan oleh manusia. Kebijaksanaan ini tidak dapat dicapai dengan jalan biasa. Ia memerlukan langkah-langkah khusus dan istimewa dalam mencapai kebijaksanaan tersebut.[2]
Falsafah merupakan kata yang diadopsi dari bahasa Arab yang diartikan sebagai hakikat atau hikmah. Sementara dalam bahasa Yunani, filsafat berasal dari kata philos yang diartikan sebagai kebijaksanaan dan sophia yang berarti cinta. Kata filsafat yang diartikan sebagai cinta kepada kebijaksanaan (love of wisdom) merupakan suatu pengertian yang seyogyanya ada pada pemahaman setiap makhluk yang berakal.[3]
Filsafat dan ilmu pengetahuan tidaklah sama, akan tetapi keduanya memiliki hubungan yang erat. Filsafat dan ilmu pengetahuan dapat menjadi kegiatan manusia. Untuk memahami antara keduanya, kita bisa melihat dari proses dan hasilnya. Apabila dilihat dari hasilnya, filsafat dan ilmu merupakan hasil dari kegiatan berpikir secara sadar. Sedangkan dilihat dari prosesnya, keduanya menunjukkan suatu kegiatan yang berusaha untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan manusia dengan menggunakan prosedur-prosedur tertentu secara sistematis dan kritis.[4]
Filsafat dan ilmu pengetahuan juga jelas tampak berbeda ketika berhadapan dengan masalah-masalah yang bersifat praktis. Ilmu pengetahuan bersifat informasional dan analitis untuk bidang-bidang tertentu, tetapi filsafat tidak sekedar memberikan informasi melainkan juga memberikan pandangan menyeluruh di mana informasi-informasi dari kehidupan hanya menjadi satu bagian saja yang harus dikaitkan dengan pengetahuan lainnya. Bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah anak dari filsafat.[5]
2.    Filsafat dan Filsafat Ilmu
Filsafat merupakan hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya.[6] Karena luasnya lingkungan pembahasan filsafat ini, maka diturunkanlah filsafat tersebut kedalam beberapa cabang yang salah satunya adalah filsafat ilmu. Dengan kata lain, filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang membahas mengenai ilmu. Tujuan filsafat ilmu adalah menganalisis akan ilmu pengetahuan dan menganalisis bagaimana cara-cara pengetahuan ilmiah tersebut diperoleh. Jadi, filsafat ilmu merupakan penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara untuk memperolehnya. Pokok perhatian dari filsafat ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah ilmu itu sendiri.[7]
Filsafat ilmu merupakan suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap lambang-lambang yang digunakan, dan terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan. Telaah kritis ini dapat diarahkan untuk mengkaji ilmu empiris dan ilmu rasional. Telaah kritis ini juga dapat diarahkan untuk mengkaji studi-studi bidang etika, estetika, kesejarahan, antropologi, geologi, dan lain sebagainya. Dalam hubungan ini yang paling utama ditelaah adalah ihwal penalaran dan teorinya.[8]
Filsafat ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:[9]
a.       Filsafat ilmu dalam arti luas, yakni menampung permasalahan yang menyangkut hubungan ke luar dari kegiatan ilmiah, seperti: 1) implikasi ontologik-metafisik dari citra dunia yang bersifat ilmiah; 2) tata susila yang menjadi pegangan penyelenggara ilmu; 3) konsekuensi pragmatik-etik penyelenggara ilmu; dan sebagainya.
b.      Filsafat ilmu dalam arti sempit, yakni menampung permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan ke dalam yang terdapat dalam ilmu, seperti sifat pengetahuan ilmiah, cara-cara mengusahakannya, dan cara mencapai pengetahuan ilmiah tersebut.
3.    Objek dan Tujuan Kajian Filsafat Ilmu
a.       Objek Kajian Filsafat Ilmu
Sebagaimana bidang-bidang ilmu yang lain, maka filsafat ilmu memiliki objek kajian tersendiri. Adapun objek kajian dari filsafat ilmu adalah sebagai berikut:[10]
1)      Objek Material Filsafat Ilmu
Objek material adalah objek yang dijadikan sasaran penyelidikan oleh suatu ilmu atau objek yang dipelajari oleh suatu ilmu itu. Objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu , sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum.
2)      Objek Formal Filsafat Ilmu
Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Setiap ilmu pasti berbeda dalam objek formalnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan. Artinya, filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu itu? Bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah? Apa fungsi pengetahuan itu bagi manusia? Problem inilah yang dibicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan, yaitu landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
b.      Tujuan Kajian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu sebagai cabang khusus filsafat yang membicarakan tentang ilmu pengetahuan secara keseluruhan, maka secara umum mengandung tujuan-tujuan sebagai berikut:[11]
1)      Mendalami unsur-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat, dan tujuan ilmu.
2)      Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbeagai bidang, sehingga kita mendapatkan gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3)      Menjadi pedoman bagi para pembelajar dalam mendalami studi yang berkaitan dengan persoalan ilmiah maupun nonilmiah.
4)      Mendorong pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
5)      Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.
B.     Rasionalisme dan Empirisme
1.      Sumber Pengetahuan
Rasionalisme adalah aliran atau paham filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Menurut aliran ini, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir.[12] Menurut kaum rasionalis,satu-satunya sumber pengetahuan adalah akal budi manusia. Akal budilah yang memberi pengetahuan yang pasti benar tentang sesuatu. Konsekuensinya, kaum rasionalis menolak anggapan bahwa pengetahuan bisa diperoleh melalui panca indera. Bagi mereka, akal budi saja sudah cukup memberi pemahaman baginya, terlepas dari panca indera. Dengan demikian, akal budi saja bisa membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan kita, bahwa kita boleh merasa pasti dan yakin akan pengetahuan yang diperolehnya.[13] Atas dasar ini, maka bagi kaum rasionalis, semua pengetahuan adalah pengetahuan apriori yang mengandalkan silogisme.
Adapun aliran empirisme merupakan aliran atau paham yang menekankan pada peran pengalaman dalam memperoleh pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal.[14] Paham empirisme mekatakan bahwa sumber pengetahuan satu-satunya bagi manusia adalah pengalaman. Hal yang paling pokok untuk bisa sampai pada pengetahuan yang benar adalah data dan fakta yang ditangkap oleh panca indera. Dengan kata lain, satu-satunya pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan panca indera. Maka, sumber pengetahuan adalah pengalaman dan pengamatan panca indera tersebut yang memberi data dan fakta bagi pengetahuan kita. Semua konsep dan ide yang dianggap benar sesungguhnya bersumber dari pengalaman panca indera.[15]
Menurut aliran ini, apa yang dipikirkan oleh akal berasal dari pengalaman. Pengalamanlah yang membentuk mindset manusia. Oleh karena itu, sumber pengetahuan dari aliran ini adalah segala sesuatu yang dapat diterima oleh panca indera, atau dengan kata lain sumber pengetahuan aliran ini adalah pengalaman manusia itu sendiri.
Pandangan realitas yang dipahami oleh kedua aliran ini, yakni rasionalisme dan empirisme didasarkan pada penyempitan realitas menjadi terbatas pada alam  tabi’i, yang dianggap sebagai satu-satunya tingkat realitas. Apa yang dapat diindera dan dapat diterima oleh akal, itulah pengetahuan. Maka dari itu, aliran rasionalisme dan empirisme menyangkal adanya otoritas dan intuisi. Menurut kedua aliran ini, otoritas dan intuisi merupakan puncak pengalaman dan/ atau puncak intelektual manusia. Secara lebih rinci, bahwa intuisi dan otoritas muncul karena pengamatan inderawi dan penyimpulan logis yang telah amat lama direnungkan oleh pikiran, yang maknanya tiba-tiba terpahamkan.[16]
2.      Metode Pendekatan
Studi tentang filsafat ilmu dilakukan dengan berdasarkan beragamnya pendapat dan pandangan. Agar studi filsafat menjadi sistematis, fungsional, dan kooperatif, perlulah kiranya melakukan pendekatan-pendekatan sehingga dapat membuka wawasan yang lebih luas. Pendekatan yang dipakai dalam menelaah suatu masalah dapat dilakukan dengan menggunakan sudut pandang atau tinjauan dari berbagai cabamg ilmu, seperti ilmu ekonomi, ilmu politik, psikologi, ataupun sosiologi. Sebagai contoh adalah pendekatan yang berdasarkan ilmu ekonomi. Maka ukuran ekonomilah yang harus digunakan untuk memilih berbagai masalah, pertanyaan, dan data yang akan dibahas mengenai suatu gejala.[17]
Menurut Muhadjir, pendekatan filsafat ilmu adalah sebagai berikut: pertama, pendekatan sistematis, yakni mencakup data-data yang falid sebagai filsafat ilmu; kedua, pendekatan mutakhir dan fungsional dalam pengembangan teori. Yang dimaksud mutakhir di sini adalah identik dengan hasil pengujian lebih akhir dan valid bagi suatu aliran atau pendekatan; dan ketiga, pendekatan komparatif, yakni bahwa suatu penelaahan suatu aliran atau model harus disajikan sedemikian rupa sehingga dapat dibuat komparasi untuk dipilih salah satu.[18]
Dengan memahami pendekatan-pendekatan dalam filsafat ilmu, maka ketika melakukan studi filsafat dapat memilih pendekatan secara tepat sehingga dapat ditentukan metodenya secara tepat pula dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Oleh karena itu, cara untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah, maka harus menggunakan metode ilmiah, berpikir secara rasional dan bertumpu pada data-data empiris.[19]
3.      Metode Keilmuan sebagai Sintesa
Metode keilmuan merupakan suatu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar. Metode ini juga sering disebut sebagai metode ilmiah (schientific methods). Ilmu pengetahuan bertujuan untuk memperoleh kebenaran ilmiah, yakni suatu kebenaran yang pasti tentang suatu objek penelitian. Oleh karena itu, metode ilmiah yang digunakan mempunyai latar belakang, yakni keterkaitannya dengan tujuan yang tercermin di dalam ruang lingkup ilmu pengetahuan.[20]
Satu hal yang penting bahwa cara kerja metode ilmiah pastilah melakukan analisis dan sintesis dengan peralatan pemikiran induktif dan deduktif. Penalaran induksi merupakan proses kegiatan penalaran yang bertolak dari suatu bagian, kekhususan, dari yang individual, menuju ke suatu keseluruhan, umum, dan universal. Sebaliknya, deduksi adalah suatu proses kegiatan penalaran yang bertolak dari keseluruhan, umum, dan universal menuju ke suatu bagian, kekhususan, dan individual.[21]
Dalam menentukan kebenaran, aliran rasionalisme dan empirisme menggunakan dua metode, yaitu metode analitik-sintetis apriori (rasionalisme) dan analitik-sintesis aposteriori (empirisme). Pengetahuan analitik-sintesis apriori merupakan analisa dan sintesa dari sesuatu dengan cara diamati dan diukur. Hal ini dapat dicontohkan bahwa satu ditambah empat hasilnya pasti akan sama dengan lima.[22] Adapun pengetahuan analitik-sintetik aposteriori berarti kita menerapkan metode analisis dan sintesa terhadap sesuatu bahan yang terdapat di alam empiris atau dalam pengalaman sehari-hari oleh sesuatu pengetahuan tertentu. Analitik-sintesis aposteriori menunjuk kepada hal-hal yang ada berdasarkan pengalaman atau dapat dibuktikan dengan melakukan suatu tangkapan inderawi. Pengetahuan analitik-sintesis aposteriori itu merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan cara menggabungkan pengertian yang satu dengan yang lain dari apa yang ada dalam tangkapan inderawi atau yang ada dalam pengalaman empiris.[23] Dengan kata lain, apa yang dikaji oleh aliran empirisme masuk pada kajian social science, yakni mengkaji manusia dan permasalahannya.[24]
4.      Karakteristik Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan menurut pandangan aliran rasionalisme dan empirisme adalah pengetahuan yang dapat diterima oleh rasio maupun indera.  Artinya, sesuatu bisa dikatakan benar apabila bisa dibuktikan dan dibenarkan oleh akal pikiran manusia. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan menurut dua aliran ini adalah ilmu science atau pengetahuan ilmiah.
Ciri persoalan pengetahuan ilmiah antara lain adalah persoalan dalam ilmu tersebut penting untuk segera dipecahkan dengan maksud untuk memperoleh jawaban. Di samping itu,ilmu pengetahuan dapat memecahkan masalah sehingga mencapai suatu kejelasan serta kebenaran, walaupun bukan kebenaran akhir yang abadi dan mutlak. Kemudian, setiap jawaban dalam masalah ilmu yang telah berupa kebenaran harus dapat diuji oleh orang lain. Pengujiannya tersebut dapat berbentuk pembenaran dan penyangkalan.[25]
Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie mempunyai 5 ciri pokok, yaitu:
a.       Empiris, artinya pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
b.      Sistematis, artinya berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur.
c.       Objektif, artinya pengetahuan tersebut bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan hati.
d.      Analitis, artinya pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peran dari bagian-bagian itu.
e.       Verifikatif, yakni dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun juga.
C.    Ilmu dalam Perspektif Islam
1.      Pengertian Ilmu
Berbicara tentang ilmu dalam pandangan Islam memang mempunyai cakupan yang luas. Menurut pandangan Islam, keberadaan Islam menjadi sumber motivasi pengembangan ilmu. Ilmu merupakan pengkajian dan pembicaraan mengenai keberadaan alam, manusia, dan penciptaannya yang pada umumnya mengakui adanya kekuatan supranatural pada adanya Tuhan dari mengamati dan memikirkan seta merenungkan keberadaan alam dan manusia, baik melalui argumentasi kosmologis maupun argumentasi ontologis.[26]
Menurut Naquib Al-Attas, ilmu pengetahuan merupakan ilmu yang berurusan dengan objek-objek yang dapat diketahui. Objek tahu adalah segala sesuatu dalam alam lahiriah yang ada di sekitar kita. Selain tahu, ada dimensi lain dari ‘ilm, yaitu kenal.            [27] Kenal lebih intens dibanding dengan tahu. Pernyataan ini menunjukkan klaim bahwa ilmu merupakan objek-objek yang dapat diketahui dan diamati oleh indera dan juga merupakan objek-objek yang dikenalnya, seperti klaim adanya Tuhan, ajaran agama dan lain-lain.
2.      Sumber pengetahuan
Dalam perspektif Islam, sumber ilmu pengetahuan bukan hanya terletak pada realita empiris sebagaimana yang diungkapkan oleh barat, melainkan juga pada hal-hal yang bersifat supra empirik (realitas transendental). Realitas transendental ini merupakan kebenaran yang di luar jangkauan manusia. Artinya, otak manusia tidak mampu untuk menalar dan mengkaji secara rasional dan empirik. Oleh karena itu, dalam memahami hal-hal yang bersifat supra empirik, umat Islam membutuhkan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan. Wahyu dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan karena hal-hal yang bersifat supra empirik sumber utamanya adalah Tuhan yang mana Tuhan telah menurunkan wahyu-Nya kepada umat manusia melalui para Rasul-Nya.[28]
Dalam Islam, semua hal yang ghaib adalah sumber dari ilmu pengetahuan. Hal ini telah tertera dalam Q.S Al-Baqarah ayat 3:
tûïÏ%©!$# tbqãZÏB÷sムÍ=øtóø9$$Î/ tbqãKÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# $®ÿÊEur öNßg»uZø%yu tbqà)ÏÿZãƒ
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.[29]
Selain wahyu, sumber ilmu pengetahuan yang lain dalam Islam adalah intuisi. Intuisi merupakan pemahaman langsung akan kebenaran-kebenaran agama, realitas, dan eksistensi Tuhan yang diberikan langsung oleh Tuhan itu sendiri.[30] Dengan kata lain, intuisi merupakan ilmu yang langsung diberikan oleh Allah Swt tanpa melalui proses pendidikan.
3.       Karakteristik Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan dalam Islam dan ilmu pengetahuan barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini dikarenakan memang berawal dari pemikirannya pun memiliki perbedaan. Ilmu pengetahuan barat hanya mespesifikasikan kepada ilmu yang empirik dan dapat diterima secara logika. Berbeda halnya dengan ilmu pengetahuan Islam, di samping memakai kedua hal tersebut juga tidak menafikan adanya intuisi dan otoritas. Jadi cakupan ilmu Islam lebih luas dibandingkan dengan ilmu barat.
Adapun karakteristik ilmu pengetahuan dalam Islam adalah sebagai berikut:
a.    Tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan As-Sunnah.
b.   Bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama. Artinya, ilmu yang diperoleh dapat digunakan untuk penyelidikan dan pemenemuan hal-hal yang baru dan tidak menjadi monopoli bagi penemunya saja. Setiap orang dapat menggunakan dan memanfaatkan hasil penyelidikan atau hasil penemuan orang lain.
c.    Kebenarannya tidak mutlak, dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya adalah manusia. Namun yang perlu diketahui adalah kesalahan-kesalahan itu bukan karena metodenya, melainkan terletak pada manusia yang menggunakan metodenya tersebut.
d.   Objektif, artinya yang menggunakannyanya tidak tergantung kepada pemahaman secara pribadi.[31]
4.      Metode Pengetahuan
Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam memperoleh kebenaran. Metode yang pertama adalah penggunaan indera batin dalam memperoleh kebenaran. Indera batin ini merupakan alat untuk mengakui realitas transendental,otoritas, dan kebenaran di luar rasio manusia. Indera batin ini mempersepsi citra-citra inderawi dan maknanya, menyatukan atau memisahkannya, mengkonsepsi gagasan-gagasan tentangnya, menyimpan hasil-hasilnya, dan melakukan inteleksi terhadapnya. Apabaila metode pengetahuan hanya menggunakan panca indera lahiriah dan rasio saja, maka dalam Islam, di samping menggunakan indera lahir, juga menggunakan indera batin. Penggunaan indera lahir saja hanya akan sampai pada “rupa”. Namun apabila juga digunakan indera batin, maka akan sampai pada “makna”.[32]
Di samping menggunakan indera batin, dalam ilsam juga terdapat metode lain dalam memperoleh kebenaran, yakni intuisi. Berkenaan dengan intuisi pada tingkat kebenaran yang tinggi, mak intuisi tidak datang dengan tiba-tiba pada diri seseorang. Akan tetapi terdapat proses untuk mencapai intuisi tersebut. Caranya adalah dengan upaya pembersihan hati agar bisa mengenal dekat, bahkan karena begitu ekat, ia menyatu dengan Sang pemiliki ilmu sebenarnya, yaitu Allah Swt. Metode ini apabila dikaitkan dalam filsafat ilmu Islam disebut dengan irfani. Metode pembersihan hati ini juga diajarkan pada ilmu tasawuf. Menurut Al-Attas, cara menggapai hal tersebut adalah dengan melakukan praktik pengabdian kepada Tuhan secara ikhlas.[33] Dalam mencapai tingkat kebenaran melalui intuisi, manusia dapat berusaha mendapatkannya dengan pembersihan hati tersebut, akan tetapi pada akhirnya Allah sendirilah yang menentukan dalam hal memberikan intuisi tersebut kepada manusia yang telah berusaha untuk mencapai maqamnya.
Metode pencapaian kebenaran juga dapat melalui otoritas. Dalam Islam, tingkat otoritas tertinggi adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Dalam mengungkapkan ilmu pengetahuan tersebut dapat dicari dengan melihat kedua sumber tertinggi dari otoritas tersebut. Oleh karena itu, metode ini perlu menggunakan indera batin dalam menerima otoritas-otoritas tersebut. Metode ini dalam filsafat ilmu Islam disebut sebagai metode bayani.
Metode pencapaian makna juga dapat dilakukan melalui otoritas intuisi. Maksudnya adalah bahwa kebenaran bisa ditemukan atas dasar pengalaman intuitif, yaitu baik yang terkait dengan tataran indera dan realitas inderawi maupun yang terdapat dalam realitas transendental yang kemudian dapat diterima oleh orang tersebut.
5.      Kesatuan (Integrasi) Ilmu Pengetahuan
Adanya pemikiran integrasi ilmu pengetahuan diawali dengan munculnya sekularisasi ilmu pengetahuan itu sendiri, yakni dengan memisahkan antara ilmu umum dengan ilmu agama. Adanya sekularisasi ini ternyata ditolak oleh gereja. Kondisi ini memotivasi para cendikiawan muslim untuk mengintegrasikan kembali ilmuumum dengan ilmu agama.
Upaya yang pertama kali diusulkan adalah islamisasi ilmu pengetahuan. Tokoh yang mengusulkan ini adalah Isma’il Raji Al-Faruqi yang kemudian dilanjutkan oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Proses islamisasi ilmu pengetahuan ini adalah dengan cara penguasaan ilmu-ilmu barat dan penguasaan ilmu-ilmu Islam dan menentukan relevansi Islam terhadap ilmu-ilmu modern tersebut. Dengan kata lain, islamisasi ilmu pengetahuan berusaha supaya umat Islam tidak begitu saja menerima dan meniru metode-metode dari luar. Ilmu pengetahuan dikembalikan pada pusatnya, yaitu tauhid. [34]
Upaya islamisasi ilmu bagi kalangan muslim yang telah lama tertinggal jauh dalam peradaban dunia modern memiliki dilema tersendiri. Dilema tersebut adalah apakah akan membungkus sains barat dengan label Islami atau berupaya keras mentransformasikan normativitas agama. Kemunculan ide islamisasi ilmu tidak lepas dari ketimpangan-ketimpangan yang merupakan akibat langsung dari keterpisahan antara ilmu umum dengan ilmu agama. [35]
Upaya islamisasi ilmu pengetahuan mendapat kritik dari Kuntowijoyo. Menurut beliau, nama yang tepat untuk integrasi ilmu pengetahuan adalah ilmuisasi Islam. Beliau mengusulkan agar melakukan perumusan teori ilmu pengetahuan yang didasarkan pada al-Qur’an, menjadikan al-Qur’an sebagai suatu paradigma. Upaya yang dilakukan adalah objektivikasi. Islam dijadikan sebagai suatu ilmu yang onjektif sehingga ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dapat dirasakan oleh seluruh alam, tidak hanya untuk umat Islam, tetapi nonmuslim juga bisa merasakan hasil dari objektivikasi ajaran Islam.[36]
D.    Sejarah Ilmu Pengetahuan
1.         Peradaban Yunani dan Romawi (7SM - 6M)
Zaman Yunani Kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat. Pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Pada masa itu, Yunani dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat. Mereka tidak percaya lagi pada mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu saja). Mereka justru menumbuhkan sikap an inquiring attitude, yakni suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis. Sikap inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis ini pulalah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa. Beberapa filsuf pada masa itu antara lain Thales, Phytagoras, Socrates, Plato, dan Aristoteles.[37]
Adapun setelah Yunani dikuasai oleh Romawi, bidang filsafat tetap berkembang. Akan tetapi sangat sedikit filsufnya. Pada masa ini muncul beberapa aliran sebagai berikut:[38]
a.         Stoisisme, yakni aliran yang menyatakan bahwa jagad raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut logos. Oleh karena itu, segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari.
b.        Epikurisme, yakni aliran yang memandang bahwa segala-galanya terdiri atas atom-atom yang senantiasa bergerak. Manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak bolah takut pada dewa-dewa.
c.         Skeptisisme, yakni alairan yang memandang bahwa bidang teoritis manusia tidak sanggup mencapai kebenaran.sikap umum mereka adalah kesangsian.
d.        Eklektisisme, yakni suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur filsafat dari aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
e.         Neo Platonisme, yakni paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat Plato. Tokohnya adalah Plotinus. Seluruh filsafatnya berkisar pada Allah sebagai yang satu. Segala sesuatu berasal dari yang satu dan ingin kembali kepada-Nya.
2.         Abad Pertengahan (6M – 15 M)
Zaman pertengahan merupakan suatu kurun waktu yang ada hubungannya dengan sejarah bangsa-bangsa di benua Eropa. Pengertian umum tentang zaman pertengahan adalah berkaitan dengan perkembangan pengetahuan yang dimulai dari jatuhnya kekaisaran Romawi Barat hingga munculnya renaisance di Italia.[39]
Zaman pertengahan (Middle Age) ditandai dengan pengaruh yang cukup besar dari agama Katolik terhadap kekaisaran dan perkembangan kebudayaan pada saat itu. Pada umumnya orang Romawi sibuk dengan masalah keagamaan tanpa memperhatikan masalah duniawi dan ilmu pengetahuan. Pada saat itu yang tampil dalam lapangan ilmu pengetahuan adalah para teolog. Oleh karena itu, aktivitas ilmiah selalu berkaitan dengan aktivitas keagamaan. Dengan kata lai, kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada waktu itu adalah ancilla theologiae (abdi agama). Oleh karena itu, sejak jatuhnya kekaisaran Romawi Barat, hingga abad ke-10, di Eropa tidak ada kegiatan dalam bidang ilmu pengetahuan yang spektakuler. Periode ini dikenal dengan abad kegelapan.[40]
3.         Peradaban Islam
Sejak awal kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap ilmu. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad Saw ketika diutus oleh Allah Swt sebagai rasul, hidup dalam masyarakat yang terbelakang. Paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang melekat pada masyarakat Arab masa itu. Kemudian Islam menawarkan cahaya penerang yang mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat yang berilmu dan beradab.[41]
Berbeda halnya dengan di eropa yang mengalami abad kegelapan, di dunia Islam pada masa yang sama justru mengalami masa keemasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peradaban dunia dikuasai oleh Islam. Bahkan, pada masa Daulah Bani Umayah telah ditemukan suatu cara pengamatan astronomi, delapan abad sebelum Galileo Galilei dan Copernicus melakukannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat di dunia Islam tersebut dimungkinkan oleh adanya pengamatan yang terus menerus dan adanya dorongan dari pemerintah. Dengan demikian, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tiga faktor penting, yaitu politik, agama, dan ilmu pengetahuan berada pada satu tangan. Keadaan ini sangat menguntungkan perkembangan ilmu pengetahuan lebih lanjut. Selama 600-700 tahun lamanya kemajuan kebudayaan dan ilmu pengetahuan tetap ada pada bangsa-bangsa yang beragama Islam.[42]
Pada abad ke-18 dalam sejarah Islam adalah abad yang paling menyedihkan. Menjelang abad ke-18 ini dunia Islam telah merosot ke tingkat yang serendah-rendahnya. Begitu dahsyatnya proses kejatuhan peradaban dan tradisi keilmuan Islam yang kemudian menjadikan umat Islam sebagai bangsa yang dijajah oleh bangsa barat. Runtuhnya tradisi keilmuan Islam disebabkan karena adanya kematian semangat ilmiah di kalangan umat Islam. penyebab lainnya adalah adanya persepsi yang keliru dalam memahami pemikiran Al-Ghazali. Orang umumnya mengecam Al-Ghazali karena ia menolak filsafat. Padahal sebenarnya ia menawarkan sebuah metode yang ilmiah, rasional, dan menekankan pentingnya analisis.[43]
4.         Modern
Filsafat barat modern yang kelahirannya didahului oleh suatu periode yang disebut dengan renaisans dan dimatangkan oleh gerakan aufklaerung di abad 18, di dalamnya mengandung dua hal yang penting. Pertama, semakin berkurangnya kekuasaan Gereja. Kedua, semakin bertambahnya kekuasaan ilmu pengetahuan. Pengaruh gerakan renaisans dan aufklaerung ini telah menyebabkan peradaban dan kebudayaan barat modern berkembang pesat dan semakin bebas dari pengaruh otoritas dogma-dogma gereja. Terbebasnya manusia barat dari otoritas Gereja berdampak pada semakin cepatnya perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan pada zaman renaisans dan aufklaerung, perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan tidak lagi didasarkan pada otoritas dogma-dogma Gereja, melainkan didasarkan atas kesesuaiannya dengan akal. Sejak saat itu, kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan didasarkan atas kepercayaan dan kepastian intelektual (sikap ilmiah) yang kebenarannya dapat dibuktikan berdasarkan metode, perkiraan, dan pemikiran yang dapat diuji. Kebenaran yang dihasilkan tidak bersifat tetap, akan tetapi dapat dikoreksi sepanjang waktu.[44]
Dengan demikian, filsafat barat modern memiliki corak yang berbeda dengan periode pertengahan. Perbedaan ini terletak pada otoritas kekuasaan politik dan ilmu pengetahuan. Jika abad pertengahan otoritas kekuasaan mutlak dipegang oleh Gereja dengan dogma-dogmanya, maka pada zaman modern otoritas kekuasaan terletak pada kemampuan akal manusia itu sendiri. manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh kekuasaan manapun, kecuali oleh kekuasaan yang ada pada dirinya sendiri. para filosof modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau dogma-dogma Gereja, juga tidak berasal dari kekuatan feodal, melainkan dari diri manusia sendiri. Sebagai pewaris zaman renaisans, filsafat zaman modern ini bercorak antroposentris, yaitu manusia menjadi pusat perhatian penyelidikan filsafat. Semua filsuf pada zaman ini menyelidiki segi-segi subjek manusiawi; “aku” sebagai pusat pemikiran, pusat pengamatan, pusat kebebasan, pusat tindakan, pusat kehendak, dan pusat perasaan.[45]


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Ilmu, filsafat, dan filsafat ilmu merupakan tiga rangkaian penting yang saling berkaitan antara yang satu dengan lainnya. Ilmu merupakan pengetahuan yang bersifat informasional dan analitis untuk bidang-bidang tertentu, tetapi filsafat tidak sekedar memberikan informasi melainkan juga memberikan pandangan menyeluruh di mana informasi-informasi dari kehidupan hanya menjadi satu bagian saja yang harus dikaitkan dengan pengetahuan lainnya. Kaitannya antara filsafat dan filsafat ilmu adalah bahwa filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang fokus membahas tentang ilmu. Oleh karena itu, objek kajian filsafat ilmu adalah seluruh ilmu pengetahuan yang ada.
Kajian akan filsafat ilmu menimbulkan berbagai perbedaan sehingga muncullah beberapa aliran besar. Beberapa di antaranya adalah rasionalisme dan empirisme. Paham rasionalisme beranggapan bahwa sesuatu dianggap kebenaran apabila dapat diterima oleh akal. Aliran ini berkembang dan objek kajiannya banyak pada natural science. Adapun aliran empirisme mengatakan bahwa sesuatu dikatakan benar apabila dapat diamati menggunakan indera. Objek kajiannya lebih kepada social science. Kedua aliran ini sama-sama menolak adanya sumber ilmu pengetahuan dari intuisi maupun otoritas.
Berbeda halnya dengan Islam, umat muslim menganggap bahwa ilmu disamping dapat diperoleh dari indera lahir maupun rasio, ilmu juga dapat diperoleh melalui intuisi dan otoritas. Untuk mendapatkan intuisi tersebut, seseorang harus membersihkan hatinya untuk dekat dengan sang pemilik ilmu (Allah), bahkan menyatu dengannya. Namun demikian, memperoleh intusi atau tidak itu adalah kehendak AllahSwt, manusia hanya sekedar berusaha. Adapun ilmu yang berasal dari otoritas adalah wahyu Allah dan Sunnah Rasulullah. Penggunaan otoritas sebagai sumber ilmu harus diiringi oleh indera batin agar dapat menerima otoritas tersebut.
Sejarah membuktikan bahwa umat Islam pernah mengalami kejayaan, di mana ilmu pengetahuan sangat berkembang pesat. Di saat yang sama justru Eropa berada zaman kegelapan. Mereka sangat terikat oleh dogma-dogma gereja sehingga tidak dapat mengembangkan ilmu pengetahuan. Akan tetapi sejak renaisans, paradigma tersebut mulai berubah menjadi rasio lah yang ditinggikan. Berawal dari situlah eropa bangkit dan mampu menguasai peradaban dunia dan pada saat itu pulalah peradaban Islam runtuh.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam dan Filsafat Sains, penerjemah: Saiful Muzani, Bandung: Mizan, 1995.

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

Hasan, Erliana, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian Ilmu Pemerintahan, Bogor: Ghalia Indonesia, 2011.

Ihsan, Fuad, Filsafat Ilmu, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

Keraf, Sonny, dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filososfis, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metode, dan Etika, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Mustansyir Rizal, dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.

RI, Departemen Agama, Al-Hidayah: Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka,Banten: Kalim, 2010.

Salam, Burhanuddin, Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Soyomukti, Nurani, Pengantar Filsafat Umum: dari Pendekatan Historis, Pemetaan Cabang-Cabang Filsafat, Pertarungan Pemikiran, Memahami Filsafat Cinta, hingga Panduan Berpikir Kritis-Filosofis, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

Suhendi, Hendi, Kapita Selekta Filsafat, Bandung: CV Pustaka Setia, 2010.

Surajio, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.

Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

Susanto, Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.



[1] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. xi.
[2] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 1.
[3] Erliana Hasan, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian Ilmu Pemerintahan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hlm. 1.
[4] Nurani Soyomukti, Pengantar Filsafat Umum: dari Pendekatan Historis, Pemetaan Cabang-Cabang Filsafat, Pertarungan Pemikiran, Memahami Filsafat Cinta, hingga Panduan Berpikir Kritis-Filosofis, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 131.
[5] Nurani Soyomukti, Pengantar Filsafat Umum: dari Pendekatan Historis, Pemetaan Cabang-Cabang Filsafat, Pertarungan Pemikiran, Memahami Filsafat Cinta, hingga Panduan Berpikir Kritis-Filosofis, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 131.
[6] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 9.
[7] Surajio, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hlm. 64.
[8] Ibid,  hlm. 65.
[9] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, .........., hlm. 13.
[10] Ibid, hlm. 15.
[11] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 20.
[12] Fuad Hasan, Filsafat Ilmu, ........., hlm. 150.
[13] Sonny Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filososfis, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 44.
[14] Fuad Hasan, Filsafat Ilmu, ........., hlm. 163.
[15] Sony Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan.............., hlm. 49.
[16] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, penerjemah: Saiful Muzani, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 29.
[17] Susanto, Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 52.
[18] Ibid.
[19] Ibid, hlm. 53.
[20] Susanto, Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 84.
[21] Ibid, hlm. 85.
[22] Surajiyo, Filsafat Ilmu ............., hlm. 37.
[23] Ibid, hlm. 36-37.
[24] Nasrudin Harahap, Filsafat Ilmu: Topik-Topik Epistemologi, materi perkuliahan pada tanggal 20 September 2014, Konsentrasi PAI, jurusan PI, pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
[25] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 58.
[26] Hendi Suhendi, Kapita Selekta Filsafat, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 396.
[27] Syed Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat .........., hlm.21-23.
[28] Nasrudin Harahap, Filsafat Ilmu: Topik-Topik Epistemologi, materi perkuliahan pada tanggal 2 Desember 2014, Konsentrasi PAI, jurusan PI, pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[29] Departemen Agama RI, Al-Hidayah: Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka,(Banten: Kalim, 2010),hlm.3
[30] Syed Muhammad Naquib Al-Attas,Islam dan Filsafat ........., hlm. 36.
[31] Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm, 24.
[32] Syed Muhammad Naquib Al-Attas,Islam dan Filsafat .........,HLM. 36.
[33] Ibid, hlm. 38.
[34] Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metode, dan Etika, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hlm. 7.
[35] Hendi Suhendi, Kapita Selekta Filsafat, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 246.
[36] Ibid.
[37] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, .........., hlm. 195.
[38] Ibid, hlm. 197-198.
[39] Ibid, hlm. 198.
[40] Ibid, hlm. 199.
[41] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, .........., hlm. 32.
[42] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, .........., hlm. 200.
[43] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, .........., hlm. 46-48.
[44] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu,..........., hlm. 71-72..
[45] Ibid, hlm. 72-73.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger