- Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » »

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Selasa, 12 Januari 2016 | Selasa, Januari 12, 2016

IKHTILAF AL-HADIST
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, S. Pd. I

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, manusia membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber dari pengetahuan tersebut dapat bersifat naqli dan aqli. Sumber yang bersifat naqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia, baik masalah dunia maupun masalah agama. Sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah al-Qur’an dan Hadist Rasulullah SAW.[1]
Para ulama telah sepakat bahwa hadist merupakan sumber kedua umat Islam setelah al-Qur’an. Hadist sendiri merupakan apa yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, dan sifat beliau.[2] Akan tetapi, sebagian muhadditsi berpendapat bahwa pengertian hadist yang demikian itu merupakan pengertian yang sempit. Hadist tidak hanya disandarkan pada Nabi SAW saja (marfu’), melainkan juga yang disandarkan kepada sahabat (mauquf), dan yang disandarkan pada tabi’in (maqtu’).[3]
Hadist yang ada pada generasi sekarang ini jumlahnya sangat banyak. Tidak semua hadist dapat diterima secara mutlak. Hal ini disebabkan karena hadist tersebut masih terbagi ke dalam berbagai bentuk hadist, seperti hadist mutawatir, hadist shahih, hasan, dhaif, dan maudhu’. Dalam penggunaan hujjah, para ulama sepakat bahwa hanya hadist mutawatir, hadist shahih, dan hadist hasan lah yang dapat dijadikan sebagai hujjah. Namun, hadist-hadist tersebut ternyata masih ada riwayat-riwayat yang bertentangan antara satu dengan lainnya. Di satu pihak, ditemukan hadist dengan ketentuan hukum membolehkan atau memerintahkan, akan tetapi di lain pihak, pada bab yang sama, ternyata ditemukan hadist yang melarang. Ada pula sebagian hadist yang sanadnya shahih, akan tetapi secara tekstual redaksi hadist tersebut tampak bertentangan dengan rasio dan ilmu pengetahuan.
Bagi orang awam, kejadian semacam ini menimbulkan kerancuan dan kebingungan, manakah hadist yang benar dan manakah hadist yang salah. Tidak menutup kemungkinan ada orang yang menganggap bahwa Rasulullah SAW. tidak konsisten, sehingga antara hadist yang satu dengan hadist yang lain saling bertentangan. Hal tersebut sangat berbahaya karena dapat melunturkan keimanan seseorang.
Berawal dari latar belakang masalah ini, perlulah kiranya seorang muslim mengetahui ilmu tentang hadist-hadist yang tampaknya bertentangan atau yang disebut dengan ilmu ikhtilaf al-hadist.  Maka dari itu, penulis bermaksud menguraikan seputar ilmu tentang ikhtilaf al-hadist. Dengan adanya pengetahuan akan ilmu ikhtilaf al-hadist, diharapkan apabila menjumpai hadist-hadist yang mukhtalif ( tampak bertentangan), kita dapat menyelesaikannya, sehingga tidak ada keraguan atas hadist tersebut.
B.     Rumusan Masalah
Merujuk pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang menjadi landasan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Apa pengertian ikhtilaf al hadist  ?
2.    Apa yang menjadi penyebab adanya hadist mukhtalif  ?
3.    Bagaimana cara menyelesaikan hadist-hadist mukhtalif  ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ikhtilaf al-Hadist
Secara etimologi, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mu`jamul al-Wasȋth, hadits berarti segala sesuatu yang diperbincangkan, bisa berupa ucapan maupun berita. Hadits juga bisa bermakna baru.[4] Sedangkan kata mukhtalif merupakan isim fa’il dari kata kerja ikhtilafa - yakhtalifu - ikhtilaf  yang berarti berselisih atau bertentangan.[5] Dengan demikian, hadist mukhtalif merupakan hadist yang bertentangan satu sama lain. Di satu sisi hadist tersebut memerintah, akan tetapi pada hadist yang lain justru melarangnya.
Secara istilah, Muhammad ‘Ajaj al-Khatib mendefinisikan bahwa ilmu mukhtalif al-hadist merupakan ilmu yang membahas tentang hadist-hadist yang tampaknya saling bertentangan, kemudian menghilangkan pertentangan itu dengan mengkompromikannya. Di samping itu, ilmu tersebut juga membahas hadist yang sulit dipahami, kemudian menghilangkan kesulitan tersebut dan menjelaskan hakekatnya.[6] Syaikh Mana’ al-Qaththan juga mengungkapkan bahwa mukhtalif al-Hadist adalah hadist yang diterima, akan tetapi pada zhahirnya kelihatan bertentangan dengan hadist maqbul lainnya, akan tetapi pada maknanya memungkinkan untuk dikompromikan antara keduanya.[7]
Apabila dicermati, maka definisi hadist mukhtalif yang disampaikan oleh para cendikiawan muslim di atas nampaknya baru sebatas pada hadist-hadist yang saling bertentangan satu sama lain. Dengan kata lain, pertentangan ini terjadi dalam internal hadist, yaitu hadist satu dengan hadist yang lain. Abdul Mustaqim mengembangkan pengertian hadist mukhtalif yang bukan hanya pada kasus kontradiksi internal, akan tetapi juga pada hadist-hadist yang tampak bertentangan dengan al-Qur’an, sejarah, atau ilmu pengetahuan dan sains modern. Dengan catatan, hadist-hadist yang dianggap bertentangan tersebut adalah hadist yang secara sanad dan matan shahih. Apabila ternyata hadist tersebut dhaif (lemah) sanadnya, maka tentu tidak perlu untuk dikompromikan atau dicari ta’wilnya.[8]
Para ulama sebenarnya telah memberikan perhatian mengenai hadist-hadist mukhtalif. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai kitab yang berkaitan dengan ilmu mukhtalif al-Hadist, antara lain:
1.         Kitab “ Ikhtilȃf al-Hadȋts” karya Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi`i (wafat 204 H). Buku ini paling dahulu sampai kepada kita.  Telah dicetak dalam bentuk catatan pinggir pada jilid kelima dari kitab al- Umm. Karya ini memang tidak mencakup seluruh hadist-hadist mukhtalif, akan tetapi hanya menjelaskan sebagian hadist-hadist mukhtalif dan cara menyelesaikannya.
2.         Kitab “ Ta`wȋl Mukhtalaf al-Hadȋts” karya Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad-Dainuri (wafat 276 H). Kitab ini disusun sebagai bantahan terhadap para musuh hadits yang menuduh bahwa para ahli hadits membawa berita-berita yang bertentangan dan ikut meriwayatkan hadits-hadits bermasalah. Maka dikumpulkannya akhbar yang dituduhkan bertentangan tersebut, lalu dibantahnya.
3.         Kitab “ Musykil al-Atsȃr” karya Imam al-Muhaddits al-Faqih Abu Ja`far Ahmad bin Muhammad ath-Thahawi (wafat 321 H). Kitab ini dicetak di India.
4.         Kitab “ Musykil al-Hadȋts wa Bayȃnuhu” karya Abu Bakar Muhammad bin al-Hasan bin Faurak al-Anshari al-Ashbahani (wafat 406 H). Kitab ini juga dicetak di India.[9]
Ilmu mukhtalif hadist memiliki objek formal. Objek formal dari ilmu mukhtalif hadist tersebut adalah hadist-hadist yang tampak bertentangan. Tujuan adanya ilmu ini adalah untuk mencari solusi agar hadist tersebut bisa dipahami secara tepat, sesuai dengan konteksnya masing-masing, sehingga kesan kontradiksinya bisa dihilangkan.[10]

B.     Penyebab Hadist Mukhtalif
Adanya hadist-hadist Nabi Saw yang tampaknya saling bertentangan disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:[11]
1.         Faktor internal hadist, yaitu menyangkut internal redaksi teks hadist yang memang terkesan bertentangan. Apabila kontradiksi ini benar-benar terjadi, maka biasanya karena hadist tersebut ada ‘illat (cacat) yang menyebabkan hadist tersebut menjadi dha’if (lemah). Oleh karena itu jelas bahwa hadist yang lemah tersebut harus ditolak, terutama ketika bertentangan dengan hadist yang shahih.
2.         Faktor eksternal hadist, yaitu faktor yang disebabkan oleh konteks di mana hadist Nabi SAW menyampaikan hadist tersebut dan kepada siapa beliau berbicara. Biasanya hadist-hadist yang tampak bertentangan ini masih bisa dikompromikan dan diletakkan sesuai dengan konteks masing-masing, sehingga kedua-duanya bisa diamalkan. Termasuk di dalam kategori faktor eksternal adalah konteks waktu dan tempat di mana Rasulullah SAW menyampaikan hadist tersebut.
3.         Faktor metodologi, yaitu berkaitan dengan proses dan cara seseorang dalam memahami hadist. Ada sebagian hadist dianggap bertentangan dengan hadist lain atau dengan akal (ilmu pengetahuan). Ada yang memahami hadist tersebut secara tekstual dan ada yang memahaminya secara kontekstual.
4.         Faktor ideologi, yaitu berkaitan dengan ideologi atau mazhab seseorang ketika memahami suatu hadist. Suatu hadist dinilai bertentangan dengan hadist atau ayat tertentu yang menjadi ideologi mazhab atau alirannya tertentu.
C.    Metode Menyelesaikan Hadist-Hadist Mukhtalif
Adanya kesan bahwa sebagian hadist-hadist Nabi SAW bertentangan antara yang satu dengan yang lain mendorong para ulama untuk merumuskan teori bagaimana cara menyelesaikan problem tersebut. Ada lima teori yang dapat ditawarkan untuk menyelesaikan problem hadist-hadist mukhtalif, yaitu:
1.         Metode al-Jam’u wa al-Taufiq
Metode al-Jam’u wa al-Taufiq merupakan metode yang dilakukan dengan cara menggabungkan dan mengompromikan dua hadist yang tampak bertentangan, dengan catatan bahwa dua hadist tersebut sama-sama berkualitas shahih. Metode ini tidak berlaku bagi hadist-hadist yang dha’if dan bertentangan dengan hadist-hadist yang shahih.[12]
Para ulama hadist menetapkan beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menggunakan metode al-Jam’u wa al-Taufiq ini, antara lain:[13]
a.         Hadist-hadist yang bertentangan tersebut termasuk kategori hadist yang maqbul.
b.        Penggabungan hadist tidak berakibat pada batalnya pengamalan dalil syar’i, karena tujuan utama metode ini adalah mengamalkan kedua hadist tersebut.
c.         Pertentangan hadist-hadist tersebut tidak bermakna saling bertolak belakang atau saling menafikan.
d.        Orang yang patut meneliti dan mendalami kegiatan ini adalah para mujtahid yang ahli di bidangnya dan memiliki kapasitas yang memadai.
e.         Apabila salah satu dari syarat-syarat ini tidak dipenuhi, maka penggabungan tersebut dianggap batal dan tidak berguna.
Sebagai contoh dari metode ini adalah hadist tentang cara berwudhu Rasulullah Saw. Hadist pertama menyatakan bahwa Rasulullah Saw berwudhu membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepalanya satu kali. Hal ini sesuai dengan hadist berikut ini:[14]
حدثنا الربيع، قال: أخبرنا الشافعي، قال: أخبرنا عبد العزيز بن محمد، عن زيد بن اسلم، عن عطاء بن يسار، عن ابن عباس، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم وضأ وجهه ويديه، ومسح برأسه مرة مرة. اختلاف الحديث ـ (ج 1/ ص6)
Artinya:
Rabi’ telah bercerita kepada kami, dia berkata: Imam al-Syafi’i memberi kabar kepada kami, dia berkata: Abdul Aziz ibn Muhammad telah memberi kabar kepada kami, dari Zaid ibn Aslam dari Atha’ ibn Yasar dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw berwudhu membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali satu kali (H.R. Al-Syafi’i).
Sementara dalam riwayat lain dinyatakan bahwa Rasulullah Saw berwudhu dengan membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala tiga kali, sebagaimana terlihat dalam hadist berikut ini:[15]
أخبرنا الشافعي، قال: اخبرنا سفيان بن عيينة، عن هشام بن عروة، عن ابيه، عن حمران مولى عثمان بن عفان، أن النبي صلى الله عليه وسلم توضأ ثلاثا ثلاثا. اختلاف الحديث ـ (ج1/ ص7)
Artinya:
Imam al-Syafi’i telah memberi kabar kepada kami, dia berkata, Sufyan Ibn ‘Uyainah telah memberi kabar kepada kami, dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, dari Hamran Maula Utsman ibn Affan bahwa Nabi Saw berwudhu dengan mengulangi tiga kali (dalam membasuh dan mengusap). (H.R Al-Syafi’i).
Kedua riwayat tersebut tampak bertentangan. Hadist pertama menyatakan bahwa Rasulullah SAW berwudhu dengan membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepalanya satu kali. Sementara itu, hadist kedua menyatakan bahwa Rasulullah SAW berwudhu dengan membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala tiga kali. Padahal kualitas dari kedua hadist tersebut sama-sama shahih. Maka dari itu, kedua hadist yang nampak bertentangan ini dapat diselesaikan dengan metode al-jam’u wa al-taufiq. Imam al-Syafi’i dalam kitab Ikhtilaful Hadist berkomentar bahwa:
“Hadist-hadist itu tidak bisa dikatakan sebagai hadist yang benar-benar kontradiktif. Akan tetapi bisa dikatakan bahwa berwudhu dengan membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali sudah mencukupi, sedangkan yang lebih sempurna dalam berwudhu adalah mengulanginya tiga kali (dalam hal membasuh wajah dan kedua tangan, serta mengusap kepala”.[16]

Pernyataan al-Syafi’i di atas membuktikan bahwa kedua hadist tersebut dapat dipakai, yakni boleh berwudhu dengan membasuh wajah, kedua tangannya, dan mengusap kepala satu kali maupun dengan mengulanginya tiga kali. Namun demikian, membasuh dan mengusap dengan mengulanginya tiga kali lebih sempurna dibanding dengan hanya satu kali saja. Dengan mengulanginya sebanyak tiga kali, maka air wudhu yang diusapkan tersebut akan lebih merata.
Contoh lain dari penggunaan metode al-jam’u wa al-taufiq adalah terkait dengan penyakit menular. Rasulullah Saw bersabda bahwa:
لا عدوى ولا طيرة و لا هامة ولا صفر
 “Tidak ada adwa,tidak ada tiyarah, tidak ada hammah, dan tidak ada shafar”. (H. R. Al-Bukhari nomor 5757). [17]
Menurut Abu As-Sa’adat, al-adwa merupakan penyakit yang menular dari pemiliknya kepada orang lain. Adapun thiyarah merupakan kesialan/anggapan sial terhadap sesuatu. Rasulullah Saw juga bersabda dalam hadist lain bahwa :
فر من المجذوم كما تفر من الأسد
“menjauhlah kamu dari orang yang menderita kusta sebagaimana kamu lari dari singa”. (H. R. Bukhari ). [18]
Kedua hadits di atas berstatus shahȋh, namun secara zhahir artinya nampak berlawanan dan bertentangan. Hadits pertama menyatakan bahwa tidak ada penyakit yang menular, sedangkan hadits yang kedua menerangkan adanya penyakit menular. Menurut Al-Baihaqi dan diikuti pula oleh Ibnu Qayyim, Ibnu Rajab, Ibnu Muflih, dan lain-lain, bahwa cara menyelesaikan dua hadits yang nampak bertentangan tersebut adalah bahwa, “ Tidak ada adwa” diartikan sebagai menyandarkan perbuatan kepada selain Allah Swt dan segala sesuatu itu menular dengan sendirinya. Hal ini yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah. Jika tidak, mungkin Allah menjadikan orang yang sehat bercampur dengan orang yang terkena penyakit sebagai penyebab terjadinya penyakit itu. Oleh karena itu Nabi mengatakan, “Menjauhlah kamu dari orang yang menderita kusta sebagaimana kamu menjauh dari harimau”. Hadist lain yang terkait di antaranya adalah, “Janganlah orang yang sakit mendatangi orang yang sehat”,[19] dan masih banyak hadist-hadist senada lainnya.  
2.         Metode Tarjih
Metode ini dilakukan setelah upaya kompromi tidak memungkinkan lagi. Seorang peneliti perlu memilih dan mengunggulkan mana di antara hadist-hadist yang tampak bertentangan yang kualitasnya lebih baik sehingga hadist yang berkualitas itulah yang dijadikan dalil.
Harus diakui bahwa ada beberapa matan hadist yang saling bertentangan satu sama lain. Bahkan ada juga matan hadist yang benar-benar bertentangan dengan Al-Qur’an. Sebagai contoh adalah hadist tentang nasib bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan berada di neraka sebagaimana hadist berikut ini:
الوائدة والموؤودة في النار
Artinya: “Perempuan yang mengubur bayi hidup-hidup dan bayinya akan masuk neraka.” (H.R Abu Dawud).
Hadist tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud dan Ibn Abi Hatim. Konteks munculnya hadist tersebut (asbabul wurud) adalah bahwa Salamah Ibn Yazid al-Ju’fi pergi bersama saudaranya menghadap Rasulullah Saw seraya bertanya: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya percaya Malikah itu dulu orang yang suka menyambung silaturahim, memuliakan tamu, tapi ia meninggal dalam keadaan jahiliyah. Apakah amal kebaikannya itu bermanfaat baginya?” Nabi Saw menjawab: “Tidak”. Kami berkata: “Dulu ia pernah mengubur saudara perempuanku hidup-hidup di zaman jahiliyah. Apakah amal kebaikannya akan bermanfaat baginya?” Nabi Saw menjawab: “Orang yang mengubur anak perempuan hidup-hidup dan anak yang dikuburnya berada di neraka, kecuali jika perempuan yang menguburkannya itu kemudian masuk Islam, lalu Allah memaafkannya.” [20]
Hadist tersebut musykil (janggal) dari sisi matannya dan mukhtalif (bertentangan) dengan Al-Qur’an Surat At-Takwir ayat 8 dan 9:
#sŒÎ)ur äoyŠ¼âäöqyJø9$# ôMn=Í´ß ÇÑÈ Ädr'Î/ 5=/RsŒ ôMn=ÏGè% ÇÒÈ
Artinya:
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (Q.S At-takwir (81): 8-9).[21]
Apabila seseorang yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup masuk neraka, itu memang logis. Akan tetapi apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup tersebut itu masuk neraka, itu sangat tidak masuk akal. Bayi itu suci dan tidak berdosa. Sedangkan orang yang masuk neraka adalah ia yang memiliki dosa. Oleh sebab itu, menurut penulis, hadist ini perlu dipertimbangkan untuk ditolak.
Di dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi Saw pernah ditanya oleh paman Khansa, anak perempuan Mu’awiyyah al-Sharimiyyah. “Ya Rasul, siapa yang akan masuk surga?” Beliau menjawab: “Nabi Saw akan masuk surga, orang yang mati syahid juga akan masuk surga, anak kecil juga akan masuk surga, anak perempuan yang dikubur hidup-hidup juga akan masuk surga.” (H.R Ahmad).[22]
3.         Metode Nasikh – Mansukh
Apabila ternyata hadist tersbut tidak mungkin untuk ditarjih, maka para ulama menempuh metode nasikh-mansukh (pembatalan). Para ulama akan mencari mana hadist yang lebih datang terlebih dahulu dan mana hadist yang datang belakangan. Secara otomatis, hadist yang datang lebih awal akan dinaskh dengan yang datang belakangan.
Secara bahasa, nasikh berarti menghilangkan. Adapun secara istilah, nasikh berarti penghapusan yang dilakukan oleh syari’ (pembuat syariat, yaitu Allah Swt dan Rasulullah) terhadap ketentuan hukum syariat yang datang lebih dulu dengan dalil syar’i yang datang belakangan. Dengan definisi tersebut, berarti bahwa hadist-hadist yang sifatnya hanya sebagai penjelasan dari hadist yang bersifat global atau hadist-hadist yang memberikan ketentuan khusus dari hal-hal yang sifatnya umum, tidak dapat dikatakan sebagai hadist nasikh (yang menghapus).[23]
Sebagai contoh adalah hadist tentang larangan memakan daging qurbannya sesudah tiga hari sebagaimana hadist Rasulullah Saw:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لاَ يَأْكُلَنَّ أَحَدُكُمْ مِنْ نُسُكِهِ بَعْد ثَلاَثٍ

Artinya:
Rasulullah Saw Bersabda: janganlah salah seorang di antara kamu, makan dari kurbannya sesudah tiga hari (Al-Syafi’i). [24]
Larangan tidak boleh makan dari daging qurban sesudah tiga hari ini sudah dihapuskan oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya:
نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُوْمِ الأَضَاحِيْ أَنْ لاَ تَأْكُلُوْهَا بَعْدَ ثَلاَثٍ فَكُلُوْا وَانْتَفِعُوا بِهَا فِيْ أَسْفَارِكُمْ
Artinya:
Aku pernah melarang kamu tentang daging qurban, bahwa jangan kamu makan dia sesudah tiga hari, akan tetapi (sekarang) makanlah dan gunakanlah dia dalam pelayaran-pelayaran kamu. [25]
Hadist yang pertama dinamakan mansukh, karena hukum yang ada padanya telah dihapuskan. Adapun hadist yang kedua dinamakan nasikh, karena hadist ini menghapuskan hukum yang ada pada hadist pertama. Oleh karena itu, hadist yang telah dihapuskan hukumnya, tidak boleh untuk dipakai lagi.
Proses nasikh dalam hadist hanya terjadi di saat Rasulullah Saw masih hidup. Sebab, yang berhak menghapus ketentuan hukum syara’ adalah syari’, yaitu Allah dan Rasulullah Saw. Nasikh hanya terjadi ketika pembentukan syari’at sedang berproses. Apabila ketentuan hukum tersebut sudah tetap, maka nasikh tidak akan terjadi.[26]
4.         Metode Tawaqquf
Apabila metode nasikh-mansukh juga tidak memungkinkan, maka langkah selanjutnya dapat menggunakan metode tawaqquf (menghentikan atau mendiamkan). Apabila terdapat dua hadist yang bertentangan, maka kedua hadist tersebut tidak diamalkan sampai ditemukan adanya keterangan, hadist manakah yang bisa diamalkan. Akan tetapi, sikap tawaqquf ini tidak menyelesaikan masalah, melainkan membiarkan dan mendiamkan masalah tersebut tanpa solusi. Oleh karena itu, teori tawaqquf harus dipahami sebagai sementara waktu saja, sehingga ketika ditemukan ta’wil yang rasional mengenai suatu hadist, dengan ditemukannya suatu teori dari penelitian ilmu pengetahuan atau sains, maka tawaqquf tersebut tidak berlaku lagi.[27]
5.         Metode Ta’wil
Metode ta’wil ini bisa menjadi salah satu alternatif baru dalam menyelesaikan hadist-hadist yang nampak bertentangan. Salah satu tokoh yang menggunakan metode ini adalah Imam Ibnu Qutaibah. Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad-Dainuri. Beliau merupakan seorang ulama besar, pakar dalam berbagai disiplin ilmu, dan termasuk ulama yang aktif menulis buku.[28]
Penggunaan metode ta’wil dalam memahami hadist yang nampak bertentangan dapat dilihat pada contoh berikut ini: [29]
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَ سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ قَالَ حَدَّثَنِيْ عُتْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ أَخْبَرَنِيْ عُبَيْدُ بْنُ حُنَيْنٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَاِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً (صحيح البخاري)
Artinya:
Khalid ibn Makhlad bercerita kepada kami, Sulaiman ibn Bilal bercerita kepada kami, dia berkata: Uthbah ibn Muslim telah bercerita kepadaku, dia berkata, Ubaidah ibn Hunain berkata: Saya mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw bersabda: Apabila ada lalat jatuh dalam minuman salah seorang kalian, maka hendaklah ia membenamkannya sekalian, lalu buanglah lalat tersebut. Sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, sedang pada sayap yang lain terdapat penawar (obat). (H.R Al-Bukhari).
Hadist di atas dinilai kontradiktif dengan akal dan teori kesehatan. Secara rasional, mana mungkin lalat yang merupakan sumber penyakit berbahaya justru harus ditenggelamkan dalam minuman untuk dapat dikonsumsi kembali. Sangat mustahil apabila di dalam satu tempat terdapat racun dan obat penawar sekaligus.
Menurut Ibnu Qutaibah, setiap ajaran agama pastilah mengandung hikmah yang mungkin sudah dibuktikan secara ilmiah maupun yang belum dibuktikan secara ilmiah. Manusia yang beriman pastilah percaya bahwa hewan-hewan ciptaan Allah selalu bertasbih dan memuji-Nya, setan makan dan minum menggunakan tangan kiri, dan lain-lain. Demikian halnya dengan sabda Rsulullah tersebut. Walaupun nampaknya janggal diterima oleh akal, akan tetapi kita harus percaya akan kebenarannya. Barangsiapa yang mendustakan sebagian yang diajarkan oleh Rasulullah SAW maka ia seperti mendustakan seluruh ajarannya.[30]
Selintas hadist tersebut memang tidak masuk akal dan kontradiksi dengan teori kesehatan. Akan tetapi ternyata hasil penelitian dari sejumlah peneliti Muslim di Mesir dan Saudi Arabia terhadap masalah ini justru membuktikan lain. Mereka membuat minuman yang dimasukkan ke dalam beberapa bejana yang terdiri dari air, madu, dan jus. Minuman tersebut dibiarkan terbuka agar dimasuki oleh lalat. Setelah lalat masuk ke dalam minuman-minuman tersebut mereka melakukan komparasi penelitian antara minuman yang di mana lalat tidak dibenamkan, dengan minuman yang mana lalat dibenamkan di dalamnya. Melalui pengamatan, diperoleh hasil bahwa minuman yang dihinggapi oleh lalat dan tidak dibenamkan di dalamnya, dipenuhi dengan kuman-kuman dan mikroba. Adapun minuman yang dihinggapi lalat lalu dibenamkan ke dalamnya, justru tidak dijumpai sedikitpun kuman dan mikroba. [31]
Para pakar kedokteran juga telah menyebutkan bahwa pada daging lalat terdapat obat dari racun yang dimilikinya. Jika obat ini digunakan, maka dapat mencegah sakit dari sengatan kalajengking, gigitan anjing, demam malaria, kelumpuhan, menambah daya penglihatan, ayan (epilepsi) dan lain-lain.[32] Penelitian-penelitian ini semakin membuktikan bahwa hadist tersebut adalah benar dan dapat dibuktikan secara ilmiah.


PENUTUP
Hadist mukhtalif merupakan hadist yang tampak saling bertentangan antara yang satu dengan yang lain. tampak bertentangan di sini bukan berarti selalu bertentangan secara maknanya. Oleh karena itu, jangan terburu-buru untuk menolak hadist-hadist yang kontradiktif, sebelum melakukan pemahaman dan penelitian secara mendalam. Bisa jadi hadist-hadist tersebut sebenarnya tidak benar-benar saling bertentangan.
Secara garis besar, adanya hadist-hadist yang mukhtalif disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal hadist, faktor eksternal, faktor metodologi, dan faktor ideologi. Faktor internal hadist menyangkut internal redaksi hadist yang memang terkesan bertentangan. Sedangkan faktor eksternal disebabkan oleh konteks di mana dan kapan Nabi Saw menyampaikan hadist tersebut. Faktor metodologi berkaitan dengan proses dan cara seseorang memahami hadist. Adapun faktor ideologi berkaitan dengan ideologi atau mazhab seseorang ketika memahami suatu hadist.
Terdapat lima teori yang dapat ditawarkan untuk menyelesaikan problem hadist-hadist mukhtalif, yaitu metode al-jam’u wa al-taufiq; metode tarjih; metode nasikh-mansukh; metode tawaqquf; dan metode ta’wil. Menurut hemat penulis, metode al-jam’u wa al-taufiq merupakan metode yang paling bagus dalam menyelesaikan problem hadist-hadist yang mukhtalif, sehingga kedua hadist tersebut dapat diamalkan. Adapun apabila hadist tersebut sukar untuk dipahami dan terkesan janggal, maka metode ta’wil merupakan metode yang paling tepat untuk menyelesaikan problem tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, Kairo: Matbaah as-Sunnah al-Muhammadiyah, 1957.

Abdurrahman, Mifdhol (ed), Pengantar Studi Ilmu Hadist, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005.

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj, Ushul Al-Hadits: Pokok-Pokok Ilmu Hadits, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007.

Isyki, Darul, Ikhtilaf Hadits, http://iKHTILAFAL-HADIST/IkhtilafHaditsDarulIsyki.htm, diakses pada tanggal 15 Oktober 2014.

Lihin, Kaidah Penyelesaian Hadis Mukhtalif, http:// iKHTILAFAL-HADIST/KaidahPenyelesaian HadisMukhtalifReferensiMakalah.htm, diakses pada tanggal 15 Oktober 2014.
Mudasir, Ilmu Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 2008.

Mustaqim, Abdul, Ilmu Ma’anil Hadits Paradigma Interkoneksi: Berbagai Teori dan Metode Memahami Hadis, Yogyakarta: IDEA Press, 2008.

Qutaibah, Ibnu, Ta’wil Hadist-Hadist yang Dinilai Kontradiktif, penerjemah: Team Foksa, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.

RI, Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: Jumanatul Ali-Art, 2005.




[1] Mifdhol Abdurrahman, Pengantar Studi Ilmu Hadist, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005), hlm. 19.
[2] Ibid, hlm. 22.
[3] Mudasir, Ilmu Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 14 dan 15.
[4]  Majma’ Lughatul Arabiyah, al-Mu`jam al-Wasith, (Mesir: Maktabah Shurouq ad-Dauliyah, 1985), hlm. 166.
[5] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits Paradigma Interkoneksi: Berbagai Teori dan Metode Memahami Hadis, (Yogyakarta: IDEA Press, 2008), hlm. 84.
[6] Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadits: Pokok-Pokok Ilmu Hadits, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), hlm. 254.
[7] Mifdhol Abdurrahman, Pengantar Studi Ilmu Hadist, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005), hlm. 127.
[8] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits Paradigma ..........., hlm. 84 dan 85.
[9]  Ibid.
[10] Ibid, hlm. 86.
[11] Ibid,hlm. 87.
[12] Ibid, hlm. 88.
[13] Lihin, Kaidah Penyelesaian Hadis Mukhtalif, http:// iKHTILAFAL-HADIST/KaidahPenyelesaian HadisMukhtalifReferensiMakalah.htm, diakses pada tanggal 15 Oktober 2014 pada pukul 21.13.
[14] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits ........, hlm. 89.
[15] Ibid, hlm. 90.
[16] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits .........., hlm. 90.
[17]Abdurrahman, Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, (Kairo: Matbaah as-Sunnah al-Muhammadiyah,195) , hlm. 305.
[18] Ibidhlm. 576
[19] Ibid.
[20] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits ........., hlm. 96.
[21] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Jumanatul Ali-Art, 2005), hlm. 587.
[22] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits ........., hlm. 96.
[23] Ibid.
[24] Darul Isyki, Ikhtilaf Hadits, http://iKHTILAFAL-HADIST/IkhtilafHaditsDarulIsyki.htm, diakses pada tanggal 15 Oktober 2014 pada pukul 21.13.
[25] Ibid.
[26] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits .........., hlm. 97.
[27] Ibid, hlm. 98 dan 99.
[28] Ibnu Qutaibah, Ta’wil Hadits-Hadits yang Dinilai Kontradiktif, penerjemah: Team Foksa, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 8.
[29] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits .........., hlm. 99. Lihat juga Ibnu Qutaibah, Ta’wil Hadist-Hadist .........., hlm. 383.
[30] Ibnu Qutaibah, Ta’wil Hadist-Hadist........., hlm. 384.
[31] Abdul Mustaqim, Ilmu Ma’anil Hadits .........., hlm. 101
[32] Ibnu Qutaibah, Ta’wil Hadist-Hadist........., hlm. 385-387.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger