- Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » »

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Selasa, 12 Januari 2016 | Selasa, Januari 12, 2016

PENDIDIKAN ISLAM MENURUT AZ-ZARNUJI
(Kajian Atas Hakekat Manusia, Ilmu, dan Pendidikan dalam Kitab Ta’lim Muta’alim)
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, S. Pd. I 


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Berbicara mengenai pendidikan Islam, di dalam benak hati kita biasanya langsung memunculkan gambaran pilu terhadapnya. Apabila mendengar kata tersebut, mindset kita langsung tertuju pada ketertinggalan, kemunduran, kehancuran, ataupun kondisi yang tidak jelas. Gambaran ini biasanya muncul ketika pendidikan Islam dihadapkan dengan kemajuan sains Barat.[1] Gambaran ini juga muncul ketika pendidikan Islam dibenturkan oleh masa lalu yang mana umat Islam pada waktu itu pernah mengalami kejayaan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari barat memang memiliki pengaruh yang besar terhadap kebudayaan dan peradaban Islam. Budaya-budaya barat yang  masuk tidak lain adalah budaya-budaya negatif yang kemudian membentuk paradigma baru dari masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Perubahan paradigma tersebut berdampak pada rusaknya tatanan budaya negeri ini. Kita bisa melihat dengan adanya perkembangan jaringan internet, tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang mendapatkan video-video porno ataupun gambar-gambar yang tidak senonoh. Adanya kebiasaan melihat hal tersebut menimbulkan paradigma baru bahwa perbuatan semacam itu sudah wajar dan tidak tabu lagi. Maka tidak heran apabila terjadi dekadensi moral di kalangan masyarakat yang berakibat pada lunturnya nilai-nilai kebudayaan Islam tersebut.
Dekadensi moral yang terjadi di Indonesia membuktikan bahwa pelaksanaan pendidikan Islam saat ini belum mampu mengatasi dampak buruk dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi barat. Untuk mengatasi problem-problem ini, perlulah kiranya seorang ilmuwan melakukan penelitian sebagai dasar untuk melakukan perbaikan-perbaikan pendidikan Islam. Dalam melakukan perbaikan-perbaikan pendidikan tersebut, kita dapat menengok para tokoh klasik yang memberikan kontribusi besar di bidang pendidikan Islam. Salah satu tokoh tersebut adalah Syaikh Az-Zarnuji. Dipilihnya Syaikh Az-Zarnuji sebagai bahan kajian penelitian ini karena ia memiliki pengaruh yang besar terhadap pengembangan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya pendidikan pondok pesantren. Kita telah mengetahui keberhasilan-keberhasilan dari pendidikan pondok pesantren tersebut yang mampu membendung budaya-budaya buruk dari barat.
 Karya Syaikh Az-Zarnuji yang paling populer dan menjadi satu-satunya pusaka yang tetap abadi sampai saat ini adalah Ta’limul Muta’allim Thoriqot Ta’allum. Kitab ini telah dikaji oleh para orientalis dan para penulis Barat. Di antara tulisan yang menyinggung kitab ini antara lain: G. E. Von Grunebaum dan T. M. Abel yang menulis Ta’lim al-Muta’allim Thuruq al-Ya’allum: Instruction of the Students, The Method of learning; Carl Brockelmann dengan bukunya Geshicte der Arabischen Litteratur; Mehdi Nakosten dengan tulisannya History of Islamic Origins of Western Education A D 800-1350; dan lain sebagainya.[2] Walaupun tidak sedikit umat muslim yang telah mengetahui kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Az-Zarnuji ini, akan tetapi sangat disayangkan karena masih sedikit sekali ilmuwan Muslim yang mengkajinya.  Padahal warisan intelektual muslim ini penting untuk dikaji ulang sebagai dasar dalam mengatasi pudarnya nilai-nilai akhlak yang terjadi di masyarakat.
Berawal dari latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk mengkaji konsep pendidikan Islam menurut Syaikh Az-Zarnuji. Secara lebih khusus, penelitian ini akan membedah pemikiran beliau terkait dengan hakikat manusia, ilmu, dan pendidikan yang terdapat di dalam kitab Ta’limul Muta’allim Thoriqot Ta’allum.
B.     Rumusan Masalah
Merujuk pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang menjadi landasan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana hakekat manusia menurut Syaikh Az-Zarnuji  ?
2.      Bagaimana hakekat ilmu menurut Syaikh Az-Zarnuji ?
3.      Bagaimana  hakekat pendidikan menurut Syaikh Az-Zarnuji ?

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Hakekat Manusia menurut Syaikh Az-Zarnuji
Manusia merupakan makhluk unik yang sangat penting untuk dikaji.[3] Berbicara mengenai manusia, berarti ia telah membicarakan diri sendiri sebagai makhluk Allah yang paling istimewa dibanding dengan makhluk yang lain. Dikatakan istimewa karena manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya.[4]
Manusia dikatakan paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah yang lain karena ia dikaruniai akal sebagai alat untuk berfikir. Dengan akal inilah manusia dapat mengembangkan potensi-potensi yang ia miliki serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta ini. Dengan dikaruniai akal ini pulalah manusia mampu melaksanakan tugas dari Allah untuk menjadi khalifah (wakil Allah) di muka bumi. Selain akal, manusia juga dilengkapi dengan unsur lain, yaitu kalbu (hati). Dengan kalbunya ini, manusia dapat menjadikan dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman, dan kehadiran Ilahi secara spiritual.[5]
Menurut Syaikh Az-Zarnuji, manusia dan binatang memiliki kesamaan. Banyak orang beranggapan bahwa yang menjadi perbedaan antara manusia dan binatang adalah akal. Akan tetapi, Az-Zarnuji berpendapat lain. Beliau menyatakan bahwa yang membedakan antara keduanya adalah terletak pada ilmunya.
وشرف العلم لايخفى على احد, اذ هو مختصّ بالانسانيّة؛ لانّ جميع الخصال سوى العلم يشترك فىها الانسان وسائر الحيوانات, كالشّجاعة والجرأة والقوّة والجود والشّفقة وغيرها سوى العلم.
Maksudnya: Tentang kemuliaan ilmu, sudahlah jelas dapat diketahui oleh setiap orang, sebab ilmu itu khusus dimiliki manusia. Dalam pada itu, segala sesuatu pertingkah selain ilmu, selain manusia memiliki juga binatang bisa memilikinya. Seperti misalnya keberanian, kuat, baik hati, belas kasih, dan lain sebagainya selain ilmu.[6]
Dari pernyataan ini kita dapat mengetahui bahwa yang membedakan antara manusia dan binatang terletak pada ilmunya, bukan akalnya. Manusia yang memiliki akal pikiran, akan tetapi tidak digunakan dengan sebaik-baiknya, maka manusia tersebut sama dengan binatang. Ia tidak mengetahui arah yang jelas. Maka dari sini jelas bahwa manusia yang diberi karunia oleh Allah Swt berupa akal harus mampu menjaga dan menggunakan akalnya tersebut secara baik. Dengan akal ini manusia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta. Apabila ia tidak mau memanfaatkan akalnya untuk menuntut ilmu, maka derajat manusia tersebut sama dengan binatang.
Kaitannya dengan perkembangan moral manusia, Az-Zarnuji sama sekali tidak menyinggungnya. Akan tetapi, ketika melihat pernyataan beliau terkait dengan cara memilih teman maka dapat dikaitkan dengan hal tersebut. Az-Zarnuji menyatakan bahwa:
وَاَمَّا اخْتِيَارُ الشَّرِيْكِ فَيَنْبَغِى اَنْ يَخْتَارَ الْمُجِدَّ وَالْوَرَعَ وَصَاحِبَالطَّبْعِ الْمُسْتَقِيْمِ وَالْمُتَفَهِّمِ وَيَفِرَّ مِنَ الْكَسْلَانِ وَالْمُعَطِّلِ وَالْمِكْثَارِ وَالْمُفْسِدِ وَالْفَتَّانِ
Maksudnya: Seorang santri harus memilih/ berteman dengan orang yang tekun belajar, bersifat wara’ dan berwatak istiqamah. Dan orang-orang yang suka memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi. Seorang santri harus menjauhi teman yang malas, banyak bicara, suka merusak, dan suka memfitnah.[7]
Untuk memperkuat pernyataannya tersebut, Al-Zarnuji mengutip seorang penyair. Beliau mengatakan:
قِيْلَ :
 عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَاَبْصِرْ قَرِيْنَهُ
فَاِنَّ الْقَرِيْنَ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِى
فَاِنْ كَانَذَاشَرٍّ فَجَنِّبْنُهُ سُرْعَةً
وَاِنْ كَانَ ذَاخَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَدِى
Maksudnya: Seorang penyair berkata, “Janganlah bertanya tentang kelakuan seseorang, tapi lihatlah siapa temannya. Karena orang itu biasanya mengikuti temannya. Kalau temanmu berbudi buruk, maka menjauhlah segera. Dan bila berlaku baik maka bertemanlah dengannya, tentu kau akan mendapat petunjuk.”[8]

Pernyataan yang disampaikan oleh Az-Zarnuji di atas membuktikan bahwa beliau sepakat apabila perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Apabila dikaitkan dengan aliran filsafat barat, maka masuk pada aliran filsafat empirisme.[9] Maka dari itu, seorang pembelajar (santri) harus mampu memilih teman yang baik, tekun dalam belajar, dan berwatak istiqamah. Ketika peserta didik berteman dengan orang baik, secara otomatis ia akan ikut menjadi baik. Demikian pula sebaliknya, apabila peserta didik berteman dengan orang-orang yang berperilaku buruk, malas-malasan, suka memfitnah, dan lain sebagainya, secara otomatis ia akan mengikuti perbuatannya. Oleh karena itu Az-Zarnuji menganjurkan untuk mencari teman yang baik dan menjauhi teman-teman yang berbudi buruk.
Di samping itu, di dalam kitabnya Az-Zarnuji juga mengutip sabda Rasulullah Saw:
وَقَالَالنْبِيُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالأسَّلَامُ : كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوَلَدُ عَلَى فِطْرَةِ الْاِسْلَامِ اِلَّا اَنَّ اَبَوَهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ.
Maksudnya: Nabi Muhammad Saw bersabda: “Setiap anak yang dilahirkan itu dalam keadaan fitrah (suci). Kedua orang tuanya lah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”[10]

Hadist Rasulullah di atas menjelaskan bahwa manusia dilahirkan sesuai dengan fitrah, yang merupakan potensi laten atau kekuatan terpendam pada diri manusia yang dibawa sejak lahir. [11] Apabila dikaitkan dengan aliran filsafat barat, maka cenderung pada aliran filsafat Nativisme.[12] Namun sabda Rasulullah tidak berhenti sampai di sini. Pengembangan potensi yang dibawa sejak lahir tersebut dipengaruhi dan ditentukan oleh lingkungan sekitarnya (empirisme). Maka dari itu, perkembangan moral manusia ditentukan oleh fitrah/ potensi yang dibawanya sejak lahir dan juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Apabila dikaitkan dengan aliran filsafat barat disebut dengan aliran konvergensi.
Menurut pandangan Maragustam, Az-Zarnuji dikelompokkan kepada aliran konvergensi plus.[13] Yang dimaksud dengan konvergensi plus di sini adalah bahwa dalam mengembangkan moral manusia perlu diperhatikan bakat/ potensi yang dibawanya sejak lahir dan juga lingkungan sekitar dengan penambahan nilai-nilai Islam.[14] Artinya, manusia harus ditempatkan di lingkungan yang baik agar tercipta manusia yang baik pula. Maka dari itu beliau menganjurkan untuk memilih ustadz, memilih teman yang baik, dan lain sebagainya sebagaimana yang telah penulis paparkan sebelumnya.
Maragustam juga berpandangan bahwa sifat dasar moral manusia menurut Az-Zarnuji bersifat good-interactive atau fitrah positif-aktif. Artinya, pada dasarnya manusia itu baik, aktif, interaktif, dan aksinya terhadap dunia luar bersifat proses kerjasama antara potensi hereditas dan alam lingkungan pendidikan. Seseorang dapat dipengaruhi oleh alam lingkungannya secara penuh atau sebaliknya, seseorang dapat mempengaruhi dunia luar sesuai dengan keinginannya. Seseorang dan dunia luar juga bisa melebur saling tarik-menarik dan saling berpengaruh satu sama lain. Akan tetapi, nampaknya Syaikh Az-Zarnuji lebih banyak menekankan kepada penataan lingkungan sosial budaya, seperti memilih ustadz, memilih guru, memilih teman, dan memilih lingkungan tempat pembelajar menimba ilmu.[15]
B.       Hakekat Ilmu menurut Syaikh Az-Zarnuji
Banyak para pemikir Islam yang menyatakan bahwa Az-Zarnuji membagi ilmu menjadi dua, yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Salah satu tokoh tersebut adalah Abuddin Nata. Beliau mengungkapkan bahwa Az-Zarnuji membagi ilmu ke dalam dua kategori, yaitu ilmu fardhu ‘ain dan ilmu fardhu kifayah.[16] Menurut beliau, yang dimaksud dengan ilmu fardhu ‘ain di sini yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh Muslim secara individu, di antaranya ilmu fiqh, ilmu ushul, dan dasar-dasar agama yang lain. Sedangkan ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang diwajibkan oleh umat Islam sebagai suatu komunitas, bukan sebagai individu. Contohnya adalah ilmu pengobatan, ilmu astronomi, geologi, dan lain sebagainya.[17]
Apabila kita perhatikan, pemisahan ilmu menjadi dua kategori tersebut menimbulkan dikotomi ilmu pengetahuan. Paradigma semacam itulah yang menurut penulis menjadi salah satu penyebab mundurnya peradaban Islam. Menurut asumsi penulis, Syaikh Az-Zarnuji tidak sesederhana itu dalam menyajikan ilmu yang fardhu kifayah ataupun yang fardhu ‘ain. Memang di dalam kitabnya beliau mengungkapkan bahwa:
 وامّا حفض مايقع فى بعض الاحايين ففرض على سبيل الكفاية, اذا قام به البعض فى بلدة سقط عن الباقين, فان لم يكن فى البلدة من يقوم به اشتركوا جميعا فى المأثم ؛ فيحب على الامام ان يأمرهم بذالك ويجبر اهل البلدة على ذالك.
Maksudnya: “Adapun mempelajari ilmu yang keperluannya hanya dalam waktu-waktu tertentu, hukumnya adalah fardhu kifayah. Berarti bila dalam suatu daerah telah terdapat orang yang mengetahuinya, maka cukuplah bagi orang lain; tetapi kalau sama sekali tidak ada, maka seluruh penduduk daerah itu menanggung dosanya.[18]

Ketika melihat pernyataan Az-Zurniji di atas memang ilmu yang keperluannya hanya dalam waktu-waktu tertentu adalah fardhu kifayah. Namun amat disayangkan ketika pandangan fardhu kifayah menurut Az-Zarnuji kemudian saat ini dipandang masyarakat sebagi sesuatu yang mubah. Mengapa demikian? Mereka tahu bahwa ilmu umum (science) seperti kedokteran, astronomi, geologi, dan lain-lain adalah ilmu yang fardhu kifayah. Akan tetapi kebanyakan dari mereka sudah tidak lagi memperhatikan ilmu tersebut karena menganggap bahwa orang lain sudah ada yang menguasainya. Apabila sebagian besar umat muslim memiliki paradigma yang demikian itu, maka secara tidak langsung ilmu umum tidak akan berkembang. Akhirnya, umat muslim akan selalu tertinggal oleh barat.
Paradigma semacam itu haruslah sesegera mungkin untuk dirubah. Pernyataan Az-Zarnuji yang memisahkan antara ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah dapat juga dimaknai bahwa seseorang wajib belajar ilmu-ilmu agama secara keseluruhan (Al-Qur’an, hadist, muamalah, fiqh, dan lain-lain) dan wajib menuntut salah satu atau beberapa ilmu pengetahuan yang bersifat umum (kedokteran, matematika, kimia, dan lain-lain). Maksud dari ilmu yang fardhu ‘ain adalah ilmu yang harus dipelajari secara menyeluruh. Dalam hal ini adalah ilmu-ilmu agama. Adapun ilmu yang fardhu kifayah adalah ilmu yang wajib dipelajari cukup dengan memilih salah satu atau beberapa cabang ilmu umum. Apabila ia telah menguasai salah satu dari cabang ilmu umum tersebut, maka kewajibannya sudah sah. Perubahan paradigma semacam ini tentu akan membantu umat Islam bangkit dari ketertinggalannya.
Apabila kita cermati secara mendalam, sebenarnya pernyataan Az-Zarnuji terkait dengan pembagian ilmu pengetahuan tidaklah sesederhana itu. Bisa jadi pembagian ilmu tersebut dikarenakan pada saat itu terjadi krisis akhlak. Oleh karena itu, beliau mewajibkan bagi setiap orang, minimal pada bab agamanya saja.[19] Di dalam mukaddimahnya beliau menyampaikan bahwa:
“Setelah saya melihat di masa kini banyak sekali penuntut ilmu yang tekun tetapi tidak bisa memetik kemanfaatan dan buahnya, yaitu mengamalkan dan menyiarkannya, lantaran mereka salah jalan dan meninggalkan persyaratan keharusannya. Padahal setiap yang salah jalan itu akan tersesat dan gagal tujuannya baik kecil maupun besar”.[20]
Pernyataan Az-Zarnuji dalam mukaddimahnya menjadi alasan yang kuat dalam penulisan kitab ta’limul muta’allim tersebut. Penjelasan isinya pun ingin menyelesaikan permasalahan pada waktu itu, yakni banyaknya masyarakat yang sudah tidak perhatian lagi terhadap nilai-nilai agamanya. Maka tidak heran apabila beliau lebih menonjolkan pada hal-hal yang bersifat agama agar dapat mengontrol ilmu pengetahuan yang sangat berkembang pesat pada saat itu. Apabila kita kaitkan dengan permasalahan-permasalahan saat ini, maka umat muslim sangat lemah terhadap ilmu science dan lemah pula akan akhlaknya. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, umat muslim harus memiliki manusia-manusia yang tangguh dalam hal science dan dalam hal akhlak tersebut agar mampu menguasai peradaban dunia kembali. Oleh karena itu diwajibkannya menuntut ilmu agama dan science menjadi hal yang sangat penting apabila ingin memajukan peradaban Islam.
Setelah penulis kaji, ternyata Az-Zarnuji juga tidak memisahkan antara ilmu umum (sains) dengan ilmu agama. Justru kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Pada pasal I yang kaitannya dengan kewajiban belajar beliau menyatakan bahwa:
وكذالك فى االبيوع ان كان يتّجر؛ قيل لمحمّد بن الحسن رحمه الله تعالى: الا تصنّف كتابا فى الزهد,, قال: صنفت كتابا فى البيع,, يعنى الزّهد من يتحرّز عن الشبهات والمكروهات فى التّجارات. وكذالك يجب فى سائر المعاملات والحرف.
Maksudnya: Wajib pula ilmu-ilmu tentang perdagangan, jika si Muslim itu adalah berdagang: Ada suatu permohonan yang pernah dikemukakan kepada Muhammad Ibnu Al-Hasan: Kami memohon bisalah kiranya tuan susun sebuah kitab mengenal Zuhud. Jawabnya: Telah saya susun sebuah kitab mengenai jual beli. Dengan demikian berarti termasuk arti orang Zuhud pula mereka yang dalam berdagang selalu menyingkiri syubhat dan makruh. Demikian pula halnya wajib dipelajari ilmu-ilmu yang lain, sehubungan dengan muamalah dan berbagai jenis pekerjaan.[21]

Pada pasal ini, Az-Zarnuji menyatakan bahwa manusia berkewajiban untuk memiliki ilmu pengetahuan sesuai dengan pekerjaannya. Apabila seorang muslim memiliki profesi sebagai seorang pedagang, maka ia wajib memiliki ilmu-ilmu tentang perdagangan. Telah kita ketahui bersama bahwa ilmu berdagang merupakan ilmu duniawi. Dalam perdagangan kita dapat menggunakan ilmu matematika dan ilmu ekonomi. Apabila tidak mengerti ilmu tersebut maka kemungkinan besar tidak akan mendapatkan laba, bahkan selalu merugi. Tidak hanya sampai situ saja, beliau juga menyatakan bahwa dalam berdagang harus menyingkiri syubhat dan makruh. Menyingkiri syubhat dan makruh adalah urusan ilmu agama. Secara tidak langsung ternyata Az-Zarnuji tidak memisahkan antara ilmu umum dan ilmu agama. Akan tetapi ilmu umum dan ilmu agama adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Ilmu umum (science) dan ilmu agama yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain menjadikan ilmu tersebut bersifat terikat nilai. Seperti halnya yang dicontohkan Az-Zarnuji di atas bahwa seorang yang bekerja sebagai pedagang, maka ia harus mengetahui ilmu tentang berdagang dan harus menyingkiri syubhat maupun makruh. Dari contoh ini maka dapat diketahui bahwa nilai-nilai yang mengikat pada hal tersebut adalah nilai-nilai kemaslahatan dan nilai-nilai ajaran agama Islam. Di samping itu, masih banyak nilai-nilai yang mengikat, di antaranya adalah nilai ekologis, sosial, budaya, dan lain sebagainya.
C.      Hakekat Pendidikan menurut Syaikh Az-Zarnuji
Konsep pendidikan dalam Islam memang memiliki makna sentral dalam mencerdaskan dan membentuk manusia yang bermoral. Tujuannya adalah untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di dalam kitab talim al-muta’allim karangan Syaikh Az-Zarnuji terdapat hal yang sangat menarik kaitannya dengan konsep pendidikan. Menurut penulis, konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Syaikh Az-Zarnuji adalah pendidikan tasawuf. Hal ini dapat terlihat pada pernyataan beliau sebagai berikut:
واقوى اسباب الحفض االجدّ  والمواظبة وتقليل الغذاء وصلاة اللّيل وقراءة القران من اسباب الحفظ, قيل: ليس شىء ازيد للحفظ من قراءة القران نظرا, وقراءة القران نظرا  افضل لقوله عليه الصّلاة  والسّلام: افضل اعمال امّتى قراءة القران نذرا.
Maksudnya: Yang paling kuat mudah hafal adalah kesungguhan, kontinuitas, mengurangi makan, dan shalat di malam hari. Membaca Al-Qur’an termasuk penyebab hafalan seseorang. Ada dikatakan: Tiada sesuatu yang lebih bisa menguatkan hafalan seseorang, kecuali membaca Al-Qur’an dengan menyimak. Membaca Al-Qur’an yang dilakukan dengan menyimak itu lebih utama, sebagaimana sabda Nabi Saw: Amalan umatku yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an dengan menyimak tulisannya.[22]

Pernyataan di atas menguatkan bahwa konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Syaikh Az-Zarnuji adalah konsep pendidikan tasawuf. Hal ini tidak hanya berlaku pada pendidikan agama saja, melainkan juga pada pendidikan yang lain. Az-Zarnuji juga menyatakan bahwa: Penyebab lupa adalah laku ma’siat, banyak dosa, gila, dan gelisah karena urusan duniawi.[23] Dalam pandangan ilmu tasawuf, ilmu bisa datang pada orang yang telah menjalan pengabdiannya kepada Tuhan secara ikhlas.[24] Seseorang yang menjalankan pengabdiannya tersebut maka hatinya akan bersih. Maka dari itu, orang yang senang berbuat maksiat dan berbuat dosa ilmunya pun akan di angkat oleh Allah Swt. Dengan menjalankan perintah-perintah-Nya secara ikhlas ini maka pemilik ilmu yang sebenarnya (Allah Swt) akan membantu dan memberikan sebagian ilmunya kepada manusia tersebut.
1.    Tujuan Pendidikan
Pendidikan merupakan upaya belajar dengan bantuan orang lain untuk mencapai tujuannya. Maksud dari tujuan pendidikan ini adalah suatu kondisi tertentu yang dijadikan acuan untuk menentukan keberhasilan belajar.[25] Di dalam kitab ta’limul muta’allim, Az-Zarnuji menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah sebagai berikut:
وينبغي ان ينوى المتعلّم بطلب العلم رضاالله تعالى والدّر الاخرة وازلة الجهل عن نفسه وعن سائر الجهّال, واحياء الدّين وابقاء الاسلام, فانّ بقاء الاسلام بالعلم, ولا يصح الزهد والتّقوى مع الجهل.
Maksudnya: Di waktu belajar hendaklah berniat mencari ridha Allah swt, kebahagiaan akhirat, memerangi kebodohan sendiri dan segenap kaum bodoh, mengembangkan agama, dan melanggengkan Islam, sebab kelanggengan Islam itu harus diwujudkan dengan ilmu, Zuhud dan taqwa pun tidak syah jika tanpa berdasar ilmu.[26]

Syaikh Az-Zarnuji menempatkan tujuan utama dalam pendidikan adalah mencari ridha Allah Swt. Ditempatkannya mencari ridha Allah pada urutan pertama membuktikan bahwa tujuan tersebut menjadi awal dari tujuan-tujuan yang lain. Menurut maragustam, mencari ridha Allah merupakan nilai sentral bagi pembelajar.[27] Beliau mengelompokkan tujuan pendidikan menjadi empat, yakni: pertama, ilmu untuk ilmu (kegemaran dan hobi); kedua, sebagai penghubung memperoleh kesenangan materi; ketiga, sebagai penghubung memajukan kebudayaan dan peradaban manusia; dan keempat, mencari ridha Allah dan kebahagiaan akhirat. Tujuan terakhir merupakan tujuan sentral, sedangkan tujuan yang lainnya adalah tujuan instrumental.[28] Secara lebih jelas, Maragustam menggambarkannya sebagai berikut:[29]







Dari gambar di atas jelas terlihat bahwa tujuan pendidikan/ memperoleh ilmu sebagai penghubung mencari ridha Allah dan kebahagiaan akhirat sebagai nilai sentral yang akan menyinari dan membingkai tiga tujuan di bawahnya. Artinya, seseorang boleh saja memperoleh ilmu untuk kegemaran, memperoleh materi, atau kemajuan kebudayaan dan peradaban. Akan tetapi tujuan-tujuan tersebut harus dibingkai dan disinari oleh nilai-nilai keagamaan. Hal ini harus dapat dimengerti karena tujuan pendidikan memiliki arti yang sangat penting.[30]
Apabila tujuan-tujuan yang dikemukakan Az-Zarnuji tersebut dikorelasikan dengan aliran pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Ridha, maka Az-Zarnuji termasuk dalam aliran konservatif religius. Ditempatkannya Az-Zarnuji dalam aliran ini karena ia menafsirkan realitas jagad raya berpangkal dari ajaran agama. Semua yang menyangkut tujuan belajar harus berpangkal dari ajaran agama. Tujuan keagamaan adalah tujuan belajar dan bingkai agama harus menyinari seluruh aktivitas pembelajar dalam memperoleh ilmu. Peserta didik boleh mencari kedudukan dalam menuntut ilmu, akan tetapi kedudukan tersebut harus difungsikan untuk tujuan-tujuan keagamaan, yakni amar makruf nahi munkar. Dengan dijadikannya mencari ridha Allah sebagai tujuan sentral, maka ia akan selalu berada pada jalan kebenaran meskipun tidak dikontrol oleh aturan-aturan manusia.[31]
2.    Metode Pembelajaran
Di dalam kitab ta’lim al-muta’allim karya syaikh Az-Zarnuji telah dipaparkan secara jelas bagaimana cara-cara dalam menuntut ilmu. Metode yang digunakan dalam menuntut ilmu menurut Az-Zarnuji meliputi niat dalam belajar, cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman, dan langkah-langkah dalam belajar. Menurut Mochtar Efendi, berbagai metode yang dikemukakan oleh Syaik Az-Zarnuji tersebut dapat dibagi ke dalam dua kategori. Kategori pertama adalah metode yang bersifat etik, yakni niat dalam belajar. Sedangkan kategori kedua adalah metode yang bersifat teknik strategi. Metode-metode tersebut meliputi cara memilih pelajaran, memilih guru, memilih teman, dan langkah-langkah dalam belajar.[32]
Penelitian serupa dilakukan oleh Grunebaum dan Abel. Kedua tokoh ini mengklasifikasikan pemikiran Az-Zarnuji ke dalam dua kategori utama. Kategori pertama adalah berhubungan dengan etik religi, sedangkan kedua berhubungan dengan aspek teknik pembelajaran. Pada hal yang berhubungan dengan etik religi, peserta didik diharuskan untuk mempraktekkan beberapa jenis amalan agama tertentu. Kategori ini dikatakannya sebagai allogical karena tidak dapat didiskusikan secara rasional.[33] Salah satu pernyataannya adalah sebagai berikut:
“Tidur dengan telanjang, kencing dengan telanjang, makan dalam keadaan junub atau sambil berelekan, membiarkan sisa makanan berserakan, membakar kulit berambang atau dasun, menyapu lantai dengan kain atau diwaktu malam, membiarkan sampah berserakan mengotori rumah, lewat di depan pinisepuh, memanggil orang tua tanpa gelar, membersihkan selilit gigi dengan benda kasar, melumurkan lumpur atau debu pada tangan, duduk di beranda pintu, bersandar pada kaki gawang pintu, berwudhu di tempat orang istirahat, menjahit pakaian yang sedang dipakai, menyeka muka dengan kain, membiarkan sarang lebah berada di rumah, meringankan ibadah shalat, bergegas keluar masjid setelah shalat subuh, berkepagian berangkat ke pasar, membeli rerontogan makanan dari fakir peminta lata, mendo’akan buruk kepada anak, membiarkan wadah tidak tertutupi, meniup mematikan lampu, kesemuanya itu mendatangkan kefakiran sebagaimana yang diterangkan dalam atsar”.[34]
Adapun yang termasuk pada teknik pembelajaran yang menjadi sorotan Az-Zarnuji menurut Grunebaum dan Abel adalah: (1), the curriculum and the subject matter; (2) the choise of setting and teacher; (3) the time for study; (4) techniques for learning and manner of study; (5) dynamics of learning, and (6) the student's relationship to others.[35]

BAB III
KESIMPULAN 
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling baik. Diciptakan dengan sebaik-baiknya bukan berarti menjadi makhluk yang paling baik. Apabila manusia tidak mampu dan tidak mau menggunakan akalnya, maka ia memiliki derajat yang sama dengan binatang. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk mengasah akalnya dengan ilmu agar bisa menjaga kesempurnaannya tersebut. Kesempurnaan manusia diawali ketika ia dilahirkan di dunia dalam keadaan fitrah. Apabila manusia mampu mempertahankan dan mengembangkan potensi baik tersebut, maka mereka adalah makhluk terbaik. Namun apabila ia tidak mampu mempertahankannya, bahkan merusaknya, maka itulah makhluk Allah yang paling hina.
Pendapat para ilmuwan yang menyatakan bahwa Az-Zarnuji membagi ilmu ke dalam dua kategori, yakni ilmu umum dan ilmu agama nampaknya terlalu terburu-buru dalam menyimpulkan hal tersebut.  Memang benar beliau menyatakan bahwa ilmu agama harus dimiliki oleh setiap individu dan ilmu science cukup ada yang mewakilinya saja. Pernyataan ini bukan berarti membagi ke dalam ilmu science dan ilmu agama. Beliau mengemukakan pernyataan ini dengan pertimbangan kondisi masyarakat pada waktu itu. Mereka terlena terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat sehingga nilai-nilai ajaran Islam kian luntur. Pada pasal I yang kaitannya dengan kewajiban belajar menjadi bukti bahwa beliau tidak memisahkan kedua ilmu tersebut. Melihat kondisi saat ini di mana umat muslim sangat lemah akan ilmu pengetahuan dan akhlak, maka perlulah kiranya umat muslim diwajibkan untuk menuntut kedua ilmu tersebut dengan sebuah keterpaduan.
Konsep pendidikan tasawuf Syaikh Az-Zarnuji dapat dijadikan pertimbangan dalam melaksanakan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemilik ilmu pengetahuan yang sebenarnya adalah Allah Swt. Agar kita dapat memperoleh ilmu tersebut, maka kita harus mendekatkan diri kepada pemilik ilmu itu sendiri. Pendidikan tasawuf ini tidak hanya sekedar membersihkan hati untuk mendapatkan ilmu, akan tetapi juga tetap berusaha mempelajari ilmu tersebut secara teknis-rasional.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam dan Filsafat Sains, Bandung: Mizan, 1995.

Assegaf, Abdur Rahman, Pendidikan Islam di Indonesia, Yogyakarta: Suka Press, 2007.

Az-Zarnuji, Bimbingan bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan: Terjemah Ta’lim Muta’allim, penerjemah: Aliy As’ad, Kudus: Menara, 1978.

Kamaluddin, Undang Ahmad, dan Juhaya S. Pradja, Filsafat Manusia: Sebuah Perbandingan antara Islam dan Barat, Bandung: Pustaka Setia, 2012.

Nata, Abuddin, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003.

RI, Departemen Agama, Al-Hidayah: Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka, Banten: Kalim, 2010.

Samual, Jhoni, Fitrah (Potensi) Manusia dalam Pandangan Filsafat Pendidikan Islam, http://jhonisamual.blogspot.com/2013/09/fitrah-potensi-manusia-dalam-pandangan.html, diakses pada tanggaL 10 Januari 2015.

Siregar, Maragustam, Pemikiran Al-Zarnuji dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim tentang Pendidikan Islam: Telaah dalam Perspektif Filsafat Pendidikan, https://maragustamsiregar.wordpress.com/2010/06/08/pemikiran-al-zarnuji-dalam-kitab-ta%E2%80%99li-al-muta%E2%80%99allim-tentang-pendidikan-islam-telaah-dalam-perpektif-filsafat-pendidikan/. Diakses pada tanggal 10 Januari 2015.

Thahir, Abd Wahid, “Konsep Manusia dalam Al-Qur’an”, Artikel, http//:sulsel.kemenag.go.id /file/file/ArtikelTulisan/rtmn1362081548.doc. diakses pada tanggal 10 Januari 2015.

Yatim, Badari, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000.


[1] Fahruddin Faiz, Membidik Problematika Pendidikan Islam lewat Kajian Diskusi Jum’at Malam, dalam Abdur Rahman Assegaf, Pendidikan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Suka Press, 2007), hlm. vii.
[2] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 107.
[3] Undang Ahmad Kamaluddin dan Juhaya S. Pradja, Filsafat Manusia: Sebuah Perbandingan antara Islam dan Barat, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hlm. 7.
[4] Di dalam Q.S At-Tin ayat telah dijelaskan bahwa “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”,. Departemen Agama RI, Al-Hidayah: Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka,(Banten: Kalim, 2010), hlm. 598.
[5] Abd Wahid Thahir, “Konsep Manusia dalam Al-Qur’an”, Artikel, http//:sulsel.kemenag.go.id /file/file/ArtikelTulisan/rtmn1362081548.doc. diakses pada tanggal 10 Januari 2015 pada pukul 9.40.
[6] Az-Zarnuji, Bimbingan bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan: Terjemah Ta’lim Muta’allim, penerjemah: Aliy As’ad, (Kudus: Menara, 1978), hlm. 5.
[7] Ibid, hlm. 20.
[8] Ibid, hlm. 24.
[9] Pelopor dari aliran filsafat empirisme adalah John Locke (1632-1704) atau yang dikenal dengan teori tabularasa. Setiap individu lahir sebagai kertas putih, dan lingkunganlah yang memberi corak atau tulisan pada kertas putih tersebut. Bagi John Locke, pengalaman yang berasal dari lingkungan itulah yang menentukan pribadi seseorang. Lihat Abdur Rahman Assegaf, Pendidikan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Suka Press, 2007), hlm. 61.
[10] Ibid.
[11] Jhoni Samual, Fitrah (Potensi) Manusia dalam Pandangan Filsafat Pendidikan Islam, http://jhonisamual.blogspot.com/2013/09/fitrah-potensi-manusia-dalam-pandangan.html, diakses pada tanggal 10 Januari 2015.
[12] Aliran ini dipelopori oleh thur Schonpenhauer yang hidup pada tahun 1788-1860 Masehi. Ajaran dari filsafat ini mengatakan bahwa perkembangan pribadi manusia hanya ditentukan oleh bawaan (kemampuan dasar), bakat, serta faktor dalam yang bersifat kodrati. Proses pembentukan dan perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor ini yang tidak dapat diubah oleh pengaruh alam sekitar (pendidikan). Lihat Abdur Rahman Assegaf, Pendidikan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Suka Press, 2007), hlm. 61.
[13] Maragustam Siregar, Pemikiran Al-Zarnuji dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim tentang Pendidikan Islam: Telaah dalam Perspektif Filsafat Pendidikan, https://maragustamsiregar.wordpress.com/ 2010/06/08/pemikiran-al-zarnuji-dalam-kitab-ta%E2%80%99li-al-muta%E2%80%99allim-tentang-pendidikan-islam-telaah-dalam-perpektif-filsafat-pendidikan/. Diakses pada tanggal 10 Januari 2015 pada pukul 13.42.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 109.
[17] Ibid.
[18] Az-Zarnuji, Bimbingan bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan: Terjemah Ta’limul Muta’allim, penerjemah: Aliy As’ad, (Kudus: Menara, 1978), hlm. 7.
[19] Syaikh Az-Zarnuji hidup pada abad ke-7 H atau abad 13-14 M. Dari kurun waktu tersebut dapat kita ketahui bahwa beliau hidup pada masa akhir periode Abbasiyah yang merupakan kejayaan sekaligus runtuhnya peradaban Islam. Telah kita ketahui bersama bahwa salah satu penyebab runtuhnya Islam karena adanya kecenderungan para penguasa dan hartawan untuk hidup mewah maupun berfoya-foya. Budaya-budaya tersebut bukan merupakan budaya Islam. Lihat Badari Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), hlm. 82.
[20] Az-Zarnuji, Bimbingan bagi Penuntut Ilmu ..........., hlm. 1.
[21] Ibid, hlm. 4.
[22] Ibid, hlm. 78.
[23] Ibid, hlm. 80.
[24] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 38.
[25] Abdur Rahman Assegaf, dkk, Pendidikan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Suka Press, 2007), hlm. 48.
[26] Az-Zarnuji, Bimbingan bagi Penuntut Ilmu ..........., hlm. 11.
[27] Maragustam Siregar, Pemikiran Al-Zarnuji dalam Kitab Ta’lim..........
[28] Ibid.
[29] Maragustam Siregar, Pemikiran al-Zarnuji dalam Kitab Ta’lim al Muta’allim tentang Pemikiran Pendidikan Islam: Telaah dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, dalam Abdur Rahman Assegaf, Pendidikan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Suka Press, 2007), hlm. 55.
[30] Ibid.
[31] Ibid, hlm. 57 dan 58.
[32] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan ........, hlm. 109.
[33] Ibid, hlm. 110.
[34] Az-Zarnuji, Bimbingan bagi Penuntut Ilmu ........., hlm. 84 dan 85.
[35] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan ......., hlm. 110.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger