- Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » »

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Jumat, 03 Juni 2016 | Jumat, Juni 03, 2016

INTERNALISASI NILAI-NILAI RELIGIUS MELALUI PEMAHAMAN KARAKTERISTIK REMAJA
 Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, S. Pd. I
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Masa remaja merupakan masa peralihan (transisi) dari kanak-kanak menuju masa dewasa.[1] Pada masa ini seseorang mengalami ketidakstabilan, kegoncangan, dan pemberontakan dari segi psikisnya. Dengan terjadinya ketidakstabilan dan kegoncangan psikis pada remaja ini menimbulkan berbagai tindakan-tindakan yang menyimpang dan melanggar aturan. Di berbagai kota besar maupun di desa-desa sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ulah remaja semakin lama semakin mengerikan. Oleh karena itu, orang tua dan guru memiliki peranan yang sangat penting dalam mendidik dan melakukan pengawasan terhadap anaknya agar tidak berperilaku menyimpang.
Masa remaja juga sering dikaitkan dengan masa kemandirian. Pada masa ini remaja sudah mulai berfikir kritis. Mereka tidak suka lagi berperilaku seperti apa yang diperintahkan oleh orangtuanya. Pada masa inilah hati nurani mulai berfungsi sebagai penentu arah dalam memilih perilaku yang cocok bagi dirinya. Tidaklah heran apabila doktrin-doktrin dan ajaran-ajaran yang diperoleh pada masa kanak-kanak mereka abaikan ataupun mereka ragukan dikarenakan adanya ketidaksesuaian dengan hati nuraninya tersebut.
Setiap orang tua maupun guru tentu tidak menginginkan anak didiknya melakukan perilaku negatif. Akan tetapi pola pendidikan yang dilakukannya seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik tersebut. Tidak sedikit peserta didik yang melakukan tindakan kriminal justru dididik dengan menggunakan kekerasan. Hal ini tentu tidak memiliki efek positif mengingat masa remaja sudah mulai berfikir kritis. Justru sebaliknya, mereka akan melakukan pemberontakan-pemberontakan dan bisa jadi mereka akan melakukan tindakan kriminal lebih dari yang sebelumnya.
Penanaman nilai-nilai religius pada remaja memang tidaklah mudah. Penggunaan metode pendidikan yang kurang tepat dalam mengembangkan nilai-nilai religius tersebut tentu akan menghasilkan kegagalan yang nyata. Terlebih lagi masalah remaja sangatlah kompleks. Oleh karena itu, seorang pendidik harus mampu memilih cara yang tepat demi terinternalisasinya nilai-nilai religius tersebut kepada peserta didik. Salah satu cara yang dapat digunakan dalam membentuk nilai-nilai religius tersebut adalah dengan pemahaman karakteristik remaja itu sendiri. Dengan memahami karakteristik dari peserta didik, maka pendidik akan mampu mengembangkan metode belajar yang tepat demi terinternalisasinya nilai-nilai religius kepada peserta didik.
Bertolak dari keterangan di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat sebuah makalah dengan judul Internalisasi Nilai-Nilai Religius melalui Pemahaman Karakteristik Remaja..
B.       Rumusan Masalah
Merujuk pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang menjadi landasan penulis dalam makalah ini adalah:
1.    Bagaimana masalah-masalah yang terjadi pada remaja ?
2.    Bagaimana karakteristik dari remaja ?
3.    Bagaimana proses internalisasi nilai-nilai religius melalui pemahaman karakteristik remaja ? 

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Masalah Remaja Saat Ini
Apabila kita menengok kehidupan yang real, tidak sedikit dari para remaja melakukan tindakan-tindakan kriminal. Tindakan-tindakan tersebut meliputi tawuran antar pelajar, seks bebas, hamil pra nikah, aborsi, konsumsi miras dan narkoba, dan lain sebagainya. Apabila diklasifikasikan secara lebih rinci, maka masalah-masalah kenakalan remaja saat ini adalah sebagai berikut:
1.    Tawuran Antar Pelajar
Tawuran antar pelajar selalu menjadi agenda perbincangan setiap tahunnya. Masalah ini bukanlah masalah yang baru, akan tetapi perkara tersebut tidak bisa dianggap remeh. Apabila dikaji secara mendalam, maka masalah tawuran antar pelajar akan membawa dampak yang panjang, baik bagi pelajar itu sendiri, maupun bagi keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat sekitar.[2]
Tawuran antar pelajar saat ini sangatlah mengganggu ketertiban dan keamanan lingkungan di sekitarnya. Hal ini dikarenakan proses terjadinya tawuran tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, melainkan terjadi pula di jalan-jalan umum. Di samping merusak fasilitas publik, tawuran ini juga menyebabkan ketidaknyamanan warga sekitar. Sebagai contoh kasus tawuran yang baru-baru ini terjadi adalah aksi tawuran antar Sekolah Menengah Kejuruan di Semarang pada hari Rabu, 26 November 2014 silam. Akibatnya, seorang pelajar mengalami luka di bagian kepala akibat terkena lemparan batu.[3]
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya tawuran pada remaja. Tawuran ini bisa terjadi karena adanya pengaruh dari lingkungan, dalam hal ini adalah teman sebaya. Ketika seorang remaja berada pada lingkungan yang tidak baik, maka ia akan mengikuti budaya dari lingkungan tersebut. Apabila teman-teman dari mereka suka terlibat tawuran, maka kemungkinan besar ia akan ikut dalam tawuran tersebut. Pandangan dari mereka adalah ketika ia ikut tawuran maka ia adalah lelaki yang hebat.
Tawuran juga bisa terjadi karena pengaruh media yang menyuguhkan pemberitaan-pemberitaan perlakuan anarkis. Aksi demonstrasi dengan merusak fasilitas maupun baku hantam dengan petugas keamanan seringkali mereka lihat dalam tayangan televisi. Inilah yang kemudian menyebabkan munculnya pola pikir yang salah pada diri peserta didik. Terlebih lagi masa remaja belum memiliki mental dan emosi yang matang sehingga mereka akan mudah terpengaruh pada hal-hal tersebut.
2.    Seks Bebas
Di zaman sekarang ini, para remaja harus diselamatkan dari bahaya globalisasi. Pada era globalisasi ini, banyak budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia. Tidak menjadi masalah apabila kebudayaan-kebudayaan tersebut berpengaruh baik bagi remaja. Akan tetapi kebanyakan budaya-budaya tersebut merupakan budaya yang dinilai kurang baik. Salah satu dari budaya tersebut adalah seks bebas. Seks bebas ini telah membudaya di beberapa negara asing dan telah dilegalkan. Apabila budaya seks bebas ini berkembang di Indonesia, tentu akan merusak tatanan budaya dan merusak moral bangsa.
Pergaulan seks bebas di kalangan remaja dari tahun ke tahun ternyata semakin meningkat. Pendataan yang dilakukan oleh Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Masri Muadz, menunjukkan peningkatan yang semakin miris.[4] Penelitian Komnas Perlindungan Anak (KPAI) di 33 provinsi menyimpulkan empat hal. Pertama, 97% siswa SMP dan SMA pernah menonton video porno; kedua, 93,7% remaja SMP dan SMA pernah melakukan ciuman, genetical stimulation (meraba alat kelamin), dan oral seks; ketiga, 62,7% siswa SMP tidak perawan; dan empat, 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.[5]
Seks bebas memiliki dampak yang buruk bagi para remaja. Mereka yang melakukan seks bebas dapat terjadi kehamilan di luar nikah. Sejak saat itulah remaja akan kehilangan masa depannya karena mereka akan sulit untuk melanjutkan sekolah maupun mencari pekerjaan.[6] Mereka dipaksa untuk menjadi orang dewasa meskipun ia belum mampu untuk melakukannya. Apabila ia telah melahirkan, maka ia telah diposisikan sebagai orang tua yang mana mereka juga belum tentu siap mendapatkan posisi tersebut.
Budaya seks bebas di kalangan remaja juga dapat menyebarkan penyakit HIV/ AIDS. Penyakit kelamin ini akan menular melalui hubungan tersebut dan dapat menurun kepada anaknya. Berhubungan seks dengan orang yang menderita HIV/AIDS akan menularkan kepada yang lain meskipun hanya berhubungan satu kali saja. Hal ini tentu akan membahayakan masa depan remaja mengingat penyakit HIV/AIDS sampai saat ini belum ada obatnya. Dan masih banyak dampak buruk bagi mereka yang melakukan seks bebas yang tentunya sangat menghancurkan masa depannya.
3.    Penyalahgunaan Obat Bius dan Alkohol
Penyalahgunaan obat bius dan alkohol pada remaja semakin bertambah dramatis. Beberapa siswa, baik SMA/SMK/MA pernah menggunakan mariyuana dan minuman keras.[7] Sebagai contoh adalah kasus penggerebekan polisi di kabupaten Jember, Jawa Timur. Sebanyak sembilan siswa dari salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) kabupaten Jember, Jawa Timur tersebut kedapatan sedang pesta minuman keras. Ironsinya, saat berpesta miras, mereka masih menggunakan seragam sekolah.[8] Kejadian semacam ini sangat disayangkan mengingat para pelajar (remaja) merupakan aset dan sebagai estafet penerus bangsa. Apabila mereka telah melakukan hal yang demikian, tentu ini akan menjadi penyebab hancurnya suatu bangsa.
Obat bius secara umum terbagi menjadi dua, yaitu hard drugs dan soft drugs. Hard drugs atau yang disebut sebagai obat keras bisa mempengaruhi saraf dan jiwa remaja secara cepat. Orang yang mengkonsumsi obat keras ini akan mengalami ketagihan. Apabila penderita tidak segera mendapatkan jatah obat tersebut maka bisa mengakibatkan meninggal dunia. Adapun soft drugs dapat mempengaruhi saraf dan jiwa penderita, akan tetapi tidak terlalu keras. Waktu ketagihannya pun panjang dan tidak mematikan.[9]
Para remaja yang memakai narkoba diawali oleh berbagai faktor. Tidak sedikit dari mereka yang mengkonsumsi narkoba karena rasa ingin tahu, iseng, atau sekedar ikut-ikutan temannya. Ada pula remaja yang mengkonsumsi narkoba karena didorong oleh nafsu mendapatkan status sosial yang tinggi, ingin menunjukkan kehebatannya, dan menjaga gengsi. Alasan yang paling kompleks dari penggunaan narkoba ini adalah karena ingin lari dari kesulitan hidup dan konflik-konflik batin.[10] Anggapan mereka, dengan mengkonsumsi narkoba tersebut dapat menghilangkan rasa depresi dan kesulitan-kesulitan hidup tersebut akan hilang. Namun, perlu kita ketahui bahwa itu hanyalah bersifat sementara. Justru dengan mengkonsumsi minuman keras, masalah-masalah tersebut akan semakin bertambah, terutama pemenuhan kebutuhan obat tersebut apabila telah ketagihan.
B.       Karakteristik Remaja
Masa remaja adalah suatu stadium dalam siklus perkembangan anak yang memiliki rentan usia 12-21 tahun bagi wanita dan 13-22 tahun bagi laki-laki. Masa remaja dikenal sebagai masa pencarian dan penjelajahan identitas diri. Kekaburan identitas diri menyebabkan remaja berada di persimpangan jalan. Mereka tidak mengetahui jalan mana yang harus diambil untuk sampai pada jati diri yang sesungguhnya.[11]
Meskipun diakui bahwa masa remaja masih belum mampu menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya secara sempurna, akan tetapi ia membutuhkan pengakuan dan penghargaan. Menurut penelitian Ericson, Eisenberg, Glasser, dan rekan-rekannya, masa remaja berusaha untuk menunjukkan identitasnya. Mereka ingin memiliki sesuatu, ingin berbeda, ingin dikenal, dan ingin dihargai kehadirannya.[12] Para remaja membutuhkan pengakuan bahwa mereka telah mampu berdiri sendiri, mampu melaksanakan tugas-tugas seperti yang dilakukan oleh orang dewasa, dan dapat bertanggung jawab atas sikap dan perbuatan yang dikerjakannya. Oleh karena itu, kepercayaan atas diri remaja sangat diperlukan agar mereka merasa dihargai.[13]
Satu tantangan yang paling penting bagi remaja adalah menyesuaikan diri terhadap perubahan tubuhnya. Koordinasi dan aktivitas fisik harus disesuaikan secara cepat, seperti tinggi badan, berat badan, dan perubahan keterampilan. Tubuh yang baru tersebut harus diintegrasikan ke dalam kesan diri (self-image). Sebagai remaja yang penampilannya menjadi orang dewasa, mereka mencoba untuk menemukan diri mereka sendiri dan mencoba berperilaku layaknya orang dewasa. Akan tetapi kesemuanya itu tidak dibarengi dengan memandang aspek emosi, intelek, dan kematangan sosial mereka.[14]
Masa remaja merupakan masa di mana mereka memiliki keunikan-keunikan pada tiap individu. Tampak jelas bahwa para remaja memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang mendasar seperti besar badan, intelegensi, minat, dan sifat sosialnya. Untuk memahami karakteristik dan keunikan dari remaja, maka kita dapat membagi karakteristik tersebut dari segi perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial, dan perkembangan moral remaja. Secara lebih rinci akan dipaparkan sebagai berikut:
1.         Perkembangan Fisik
Masa pubertas merupakan suatu rangkaian perubahan fisik yang terjadi pada awal remaja. Perubahan ini membuat organisme mulai mampu untuk berproduksi. Hampir setiap organ dan sistem tubuh dipengaruhi oleh perubahan ini. Walaupun urutan kejadian masa pubertas pada umumnya sama, akan tetapi kecepatan tiap-tiap anak akan berbeda. Rata-rata kaum hawa mengalami perubahan dua tahun lebih cepat dibandingkan dengan laki-laki. Demikian halnya dengan sesama perempuan ataupun sesama laki-laki. Mereka juga memiliki kecepatan perubahan yang berbeda-beda. Perbedaan ini menunjukkan bahwa beberapa individu mungkin betul-betul sudah matang secara sempurna, sedangkan yang lain pada umur yang sama belum memiliki kematangan yang sepurna, atau bahkan baru mulai pubertas.[15]
Ketika organ-organ tubuh sudah mulai berfungsi, maka mereka dihadapkan pada potensi-potensi baru. Salah satu potensi tersebut adalah minat terhadap seksual. Untuk memenuhi kebutuhan akan minat tersebut, maka bisa jadi para remaja melakukan masturbasi ataupun berhubungan seks. Minatnya terhadap seks inilah yang kemudian menjadi potensi munculnya seks bebas. Untuk itu diperlukan pengawasan yang ketat terhadap remaja untuk menghindari kegiatan-kegiatan tersebut. Apabila remaja sudah terjerumus pada hal yang demikian itu, maka ia akan berhadapan dengan berbagai masalah, yaitu kemungkinan pemindahan penyakit, konflik dengan orang tua, kehamilan, dan menikah pada usia dini.
2.         Perkembangan Kognitif
Selain terjadinya perubahan bentuk tubuh dan berfungsinya organ-organ tubuh, masa remaja juga mengalami perubahan dan peningkatan fungsi otak. Dalam teori perkembangan Piaget, masa remaja ini merupakan masa transisi dari penggunaan berpikir konkret secara operasional ke berpikir formal secara operasional. Remaja mulai menyadari batasan-batasan pikiran mereka. Piaget juga mengakui bahwa perubahan otak pada masa pubertas diperlukan untuk kemajuan kognitif remaja. [16]
Pada masa remaja, seseorang telah memiliki kemampuan untuk memperbaiki, menganalisis, membandingkan, dan memutarbalikkan hubungan yang abstrak. Para remaja juga memiliki kemampuan untuk memberikan alasan yang masuk akal tentang situasi dan kondisi yang tidak mereka alami. Mereka dapat menerima pikiran-pikiran orang lain demi menjaga ketertiban diskusi. Remaja tidak terikat pada pengalaman yang nyata akan tetapi juga mampu memikirkan sesuatu yang abstrak, sehingga mereka dapat menerapkan secara logis terhadap sesuatu yang diberikannya.[17]
3.         Perkembangan sosial
Kehidupan sosial pada masa remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Seorang remaja dapat mengalami sikap hubungan sosial yang bersifat terbuka ataupun tertutup terhadap masalah yang dialami olehnya. Keadaan seperti ini dinyatakan bahwa anak telah dapat mengalami krisis identitas. Artinya, remaja telah mengetahui mana yang sekiranya dipikirkan secara mandiri dan mana yang dipikirkan secara bersama-sama (curhat). Oleh karena itu, konsep diri remaja tidak hanya terbentuk bagaimana ia percaya tentang keberadaan dirinya sendiri, tetapi juga terbentuk dari bagaimana orang lain percaya tentang keberadaan dirinya.[18]
Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik kelompok kecil maupun kelompok besar. Dalam menetapkan pilihan kelompok yang diikuti, para remaja telah mampu mempertimbangkan berbagai hal, seperti moral, sosial ekonomi, minat, kesamaan bakat, dan kemampuan. Baik di dalam kelompok kecil maupun kelompok besar, masalah umum yang dihadapi oleh remaja adalah faktor penyesuaian diri. Di dalam kelompok yang besar akan terjadi persaingan yang berat. Masing-masing remaja bersaing untuk tampil menonjol dan memperlihatkan akunya. Oleh karena itu, sering terjadi perpecahan dalam kelompok tersebut. Akan tetapi di balik semua itu, terbentuk suatu persatuan yang kokoh dan diikat oleh norma kelompok yang telah disepakati.[19]
Perkembangan sosial remaja bukanlah proses yang independen, akan tetapi ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut adalah keluarga, kematangan remaja, status sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental (emosi dan intelegensi).[20] Maka dari itu, remaja ditempatkan pada posisi yang tepat sehingga ia dapat mengalami perkembangan sosialnya secara baik.
4.         Perkembangan Moral
Kemampuan berfikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja mulai berkembang. Mereka mulai melihat kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka ketahui dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan kenyataan yang baru. Perubahan inilah yang mendasari sikap pemberontakan remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat.[21]
Menurut Thomas (dikutip oleh Cicih Sumiati), perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan maupun pranata yang ada karena kekuasaan dan pranata tersebut dinggap sebagai suatu yang bernilai. Pada masa remaja, orisinalitas pemikiran moral remaja juga sudah nampak semakin jelas.[22] Apabila meminjam teori perkembangan moral dari Kohlberg berarti ia telah sampai pada tahap konvensional dan tahap pascakonvensional.[23]
Jean Piaget dan Kohlberg (dikutip oleh Mohammad Asrori) menyatakan bahwa pada masa remaja sekitar umur 16 tahun telah mencapai tahap tertinggi dalam proses pertimbangan moral.[24] Penelitian beliau membuktikan bahwa pola pemikiran operasional-formal baru berkembang pada usia remaja dan mencapai puncaknya pada umur sekitar 16 tahun tersebut. Pada masa ini pula remaja telah mampu menerapkan prinsip keadilan universal dalam penilaian moralnya.[25]
C.      Internalisasi Nilai Religius Peserta Didik melalui Pemahaman Karakteristik Remaja
Penanaman nilai-nilai religius kepada peserta didik tidak selamanya berlangsung secara lancar. Kadang-kadang nilai tersebut dapat diinternalisasi secara cepat, kadang-kadang lambat. Bahkan bisa jadi sangat sulit dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. Menurut asumsi penulis, setidaknya ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terhambatnya proses internalisasi nilai-nilai religius tersebut. Pertama, peserta didik kurang tertarik terhadap nilai-nilai tersebut sehingga ia menolaknya; kedua, kondisi psikologi peserta didik yang sedang labil sehingga ia tidak konsen dalam belajar; dan ketiga, guru yang kurang memahami karakteristik peserta didik sehingga proses penanaman nilai tersebut tidak berjalan secara efektif.
Menurut hemat penulis, dari ketiga faktor tersebut, maka faktor yang ketigalah yang paling menentukan berhasil atau tidaknya proses internalisasi nilai-nilai religius kepda peserta didik yang dalam hal ini adalah remaja. Apabila guru telah memahami karakteristik dari setiap peserta didik tersebut sehingga ia memiliki inovasi dalam menentukan strategi pembelajarannya, maka faktor-faktor yang lain dapat diatasi. Oleh karena itu, internalisasi nilai-nilai religius melalui pemahaman karakteristik peserta didik sangat penting untuk dilakukan dan patut untuk dipertimbangkan.
Apabila kita cermati karakteristik dari peserta didik yang telah penulis paparkan pada pembahasan sebelumnya, maka dapat diketahui bahwasanya peserta didik usia remaja merupakan masa penyesuaian diri dan ingin menunjukkan jati dirinya. Karena ingin menunjukkan jati dirinya, mereka membutuhkan penghargaan-penghargaan untuk diakui. Oleh karena itu, metode yang cocok dalam menanamkan nilai-nilai tersebut adalah dengan melibatkan langsung peserta didik. Proses pelibatan peserta didik secara langsung tidak hanya sekedar pada praktek ibadah saja. Maksud penulis di sini adalah menerjunkan langsung ke masyarakat. Apabila meminjam paradigma dari  Muhaimin terkait dengan pengembangan pendidikan Islam, maka metode ini masuk pada rekonstruksi sosial berdasarkan tauhid.[26]
Pelibatan peserta didik secara langsung ke masyarakat memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan permasalahan-permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Sebelum peserta didik terkena imbas dari budaya-budaya negatif, terlebih dahulu mereka dilatih untuk menyelesaikan budaya-budaya negatif tersebut sehingga apa yang tertanam pada dirinya bukanlah budaya negatif itu, akan tetapi upaya pemecahan masalah dari budaya negatif tersebut. Inilah yang harus ditanamkan pertama kali pada peserta didik sehingga ia mampu menolak berbagai macam perilaku-perilaku yang sekiranya tidak baik ataupun menyimpang.
Diterjunkannya peserta didik secara langsung ke masyarakat juga dapat meningkatkan rasa tanggung jawabnya terhadap perkembangan masyarakat yang sekaligus bertanggung jawab atas ajaran-ajaran agama Islam. Maka dari itu, dalam melaksanakan model pembelajaran yang seperti ini, peserta didik diajak untuk berfikir kritis dan berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut.



Secara lebih rinci, metode pembelajaran dengan menerjunkan peserta didik langsung ke masyarakat, penulis meminjam bagan dari Muhaimin sebagai berikut:[27]
MODEL PEMBELAJARAN PAI BERWAWASAN REKONSTRUKSI SOSIAL
 
Text Box: Masyarakat (Society)
 












Dari bagan di atas dapat dijelaskan bahwa peserta didik (remaja) terjun langsung ke dalam masyarakat. Sebelum diterjunkan, peserta didik mendapatkan arahan-arahan dari guru akan maksud dan tujuan diadakannya tersebut. Hal ini bertujuan agar peserta didik memiliki motivasi yang tinggi dalam membenahi problem-problem yang terjadi di masyarakat. Pada tahap selanjutnya, peserta didik bersama-sama dengan guru menganalisis problem-problem yang terjadi di masyarakat dan mengkategorikan permasalahan-permasalahan tersebut ke dalam tema pembelajaran PAI. Hasil dari analisis tersebut kemudian didesain sedemikian rupa menjadi desai pemecahan masalah. Apa yang telah didesain oleh peserta didik kemudian diimplementasikan pada masyarakat tersebut dan hasilnya dievaluasi sehingga ditemukan titik-titik kelemahannya. Hasil dari evaluasi tersebut direvisi untuk perbaikan pelaksanaan berikutnya.
Pelibatan peserta didik secara langsung di masyarakat diharapkan menjadi pengalaman bagi peserta didik dalam menjalankan kewjibannya sebagai umat Islam untuk berdakwah. Di samping itu, dengan adanya pelaksanaan ini akan menumbuhkan sikap kerja sama, rasa saling menghormati, saling membantu, dan peduli dengan sesama maupun dengan masyarakat. Sifat-sifat ini merupakan beberapa indikator dari nilai-nilai religius. Dengan terinternalisasinya nilai-nilai tersebut secara otomatis akan meningkatkan ketaqwaan peserta didik kepada Allah Swt. Maka dari itu, kasus-kasus kenakalan remaja yang saat ini marak terjadi dapat diatasi secara efektif dan efisien.
Selain melibatkan peserta didik secara langsung ke masyarakat, penciptaan suasana religius di lingkungan sekolah juga patut untuk dilaksanakan. Telah kita ketahui bahwa perilaku remaja biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Maka dari itu, peserta didik harus ditempatkan pada lingkungan yang religius.
Pada dasarnya budaya sekolah merupakan pola perilaku maupun kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh setiap warga sekolah. Tentunya kebiasaan-kebiasaan tersebut memiliki nilai positif bagi warga sekolah. Penciptaan suasana religius di sekolah di sini bermaksud menjadikan pendidikan sebagai pijakan nilai, sikap, semangat, dan perilaku bagi seluruh warga sekolah yang meliputi kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik itu sendiri.[28]
Penciptaan nilai-nilai ajaran agama Islam sebagai budaya sekolah mempunyai dampak yang kuat terhadap prestasi peserta didik. Budaya sekolah yang disemangati oleh nilai-nilai dan ajaran agama Islam, maka akan bernilai ganda. Di satu pihak sekolah tersebut akan mendapatkan keunggulan kompetitif dan komparatif dengan tetap menjaga nilai-nilai agama Islam, di lain pihak para pelaku sekolah (kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik) telah mengamalkan nilai-nilai Ilahiyah Ubudiyah dan muamalah, sehingga memperoleh pahala yang berlipat ganda dan memiliki efek terhadap kehidupannya di akhirat.[29]
Penciptaan suasana religius di sekolah ini dapat diwujudkan ke dalam berbagai cara. Penciptaan suasana religius yang sifatnya habluminallah dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan shalat dhuhur berjamaah, shalat jum’at, shalat dhuha, puasa senin kamis, puasa daud, berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan ibadah yang lain. Penciptaan suasana religius yang sifatnya hablumminannas dapat diwujudkan dengan budaya saling menghormati antar sesama teman, menghormati guru, saling menolong, saling menyapa, dan lain sebagainya. Sedangkan penciptaan suasana religius yang menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan adalah dengan menjaga kebersihan dan keindahan sekolah, memelihara berbagai fasilitas yang dimiliki sekolah, melestarikan lingkungan sekolah, dan lain-lain. Dengan adanya penciptaan suasana religius ini tentunya kenakalan-kenakalan remaja dapat di atasi karena peserta didik telah dibiasakan untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama Islam tersebut.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Masa remaja memiliki permasalahan yang kompleks. Hal ini dikarenakan kondisi psikologi pada masa ini tidaklah stabil, sering terjadi kegoncangan, bahkan sampai kepada keraguan akan keberadaan Tuhan. Masa remaja yang ingin menemukan jati diri dan ingin diakui menjadikannya rentan untuk terjerumus pada lembah kesesatan. Kegiatan-kegiatan negatif yang seringkali dilakukan oleh remaja antara lain adalah tawuran antar pelajar, seks bebas, dan mengkonsumsi minuman keras. Anggapan mereka, dengan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut menjadikan ia tergolong orang yang hebat. Padahal, apabila peserta didik telah terjerumus pada hal yang demikian itu, tentu akan merusak masa depannya.
Peserta didik masa remaja memiliki karakteristik yang unik. Di lihat dari segi fisiknya, ia telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi organ tubuh. Dari segi perkembangan kognitifnya, remaja telah mampu berfikir secara operasional-formal dan mulai berfikir abstrak. Dari segi perkembangan sosialnya, remaja telah memahami sikap hubungan sosial. Adapun dari segi perkembangan moralnya, remaja mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan maupun pranata yang ada karena kekuasaan dan pranata tersebut dinggap sebagai suatu yang bernilai. Pada masa remaja ini pula lah orisinalitas pemikiran moral sudah nampak semakin jelas. Keempat perkembangan tersebut dapat dijadikan dasar untuk menentukan metode yang tepat dalam menginternalisasikan nilai-nilai religius kepada remaja.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menginternalisasikan nilai-nilai religius kepada peserta didik dengan melihat karakteristiknya. Masa remaja merupakan masa di mana ia butuh dihargai dan diakui. Oleh karena itu, metode yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai religius tersebut adalah dengan menerjunkan peserta didik secara langsung ke masyarakat. Kegiatan ini dilakukan untuk memecahkan problem-problem yang terjadi di kalangan masyarakat. Secara tidak langsung kegiatan ini dapat menanamkan rasa tanggung jawab, peduli, saling menghormati, dan meningkatkan rasa keberagamaannya. Di samping itu, penanaman nilai religius juga dapat dilakukan dengan menciptakan suasana religius di sekolah. Hal ini mempertimbangkan bahwa perilaku remaja banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

DAFTAR PUSTAKA
Aksi Tawuran Pelajar di Semarang Akibatkan Satu Orang Terluka, http//:www.metrotvnews.com/play/2014/11/26//324182, diakses pada tanggal 10 Januari 2015.

Asrori, Mohammad, Psikologi Pembelajaran, Bandung: CV Wacana Prima, 2008.

Chaniago, Alma Hendra, Makalah Perkembangan Moral Remaja, http://almachaniago.blogspot.com/2013/2/makalah-perkembangan-moral-remaja.html, diakses pada tanggal 10 Januari 2015.

Ditangkap karena Pesta Miras, Pelajar SMK Menangis, http//:regional.kompas.com /read/2015/01.09//16402081/Ditangkap.karena.Pesta.Miras.Pelajar.SMK.Menangis.html. diakses pada tanggal 10 Januari 2015.

Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011.

Djiwandono, Sri Esti Wuryani, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2006.

Ernisa, Zahwa, Masa Remaja adalah Masa Transisi, http//: www.academia.edu/9279560/Masa-remaja-adalah-masa-transisi.html. Diakses pada tanggal 10 Januari 2015.

Hamalik, Oemar, Psikologi Belajar Mengajar: Membantu Guru dalam Perencanaan Pengajaran, Penilaian Perilaku, dan Memberi Kemudahan kepada Siswa dalam Belajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2012.

Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006.

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007.

Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009.

Munir, Misbahul, Tiap Tahun, Remaja Seks Pra Nikah Meningkat, http://news.okezone.com/ read/2010/12/04/338/400182/tiap-tahun-remaja-seks-pra-nikah-meningkat, diakses pada tanggal 10 Januari 2015.

Sumiati, Cicih, “Perkembangan Moral Remaja”, Makalah,  Cirebon: IAIN SyekhNurjati, 2012.

Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002.



[1] Zahwa Ernisa, Masa Remaja adalah Masa Transisi, http//: www.academia.edu/9279560/Masa-remaja-adalah-masa-transisi.html. Diakses pada tanggal 10 Januari 2015 pada pukul 9.09.
[2] Fikar Homeschooling, Penyebab Terjadinya Tawuran Antar Pelajar, http//:www. Fikarhomeschooling.net/index.php/86-news/123-penyebab-terjadinya-tawuran-antar-pelajar.html. diakses pada tanggal 10 Januari 2015 pada pukul 9.31.
[3] Aksi Tawuran Pelajar di Semarang Akibatkan Satu Orang Terluka, http//:www.metrotvnews.com/play/2014/11/26//324182, diakses pada tanggal 10 Januari 2015 pada pukul 9.54.
[4] Musbahul Munir, Tiap Tahun, Remaja Seks Pra Nikah Meningkat, http://news.okezone.com/ read/2010/12/04/338/400182/tiap-tahun-remaja-seks-pra-nikah-meningkat, diakses pada tanggal 10 Januari 2015 pada pukul 11.15.
[5] Ibid.
[6] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2006), hlm. 115.
[7] Ibid, hlm. 113.
[8] Ditangkap karena Pesta Miras, Pelajar SMK Menangis, http//:regional.kompas.com /read/2015/01.09//16402081/Ditangkap.karena.Pesta.Miras.Pelajar.SMK.Menangis.html. diakses pada tanggal 10 Januari 2015 pada pukul 9.45.
[9] Sri Esti Wuryani Djiwandoyo, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2006), hlm. 114.
[10] Ibid.
[11] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), hlm. 140 dan 141.
[12] Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar: Membantu Guru dalam Perencanaan Pengajaran, Penilaian Perilaku, dan Memberi Kemudahan kepada Siswa dalam Belajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2012), hlm. 119.
[13] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar.........., hlm. 141.
[14] Sri Esti Wuryani Djiwandoyo, Psikologi Pendidikan, ........., hlm. 95.
[15] Ibid, hlm. 94.
[16] Ibid, hlm. 96.
[17] Ibid, hlm. 98.
[18] Syaiful Bahri Jamarah, Psikologi Belajar, ......... hlm. 143.
[19] Ibid, hlm. 144.
[20] Ibid, hlm. 145. 
[21] Alma Hendra Chaniago, Makalah Perkembangan Moral Remaja, http://almachaniago.blogspot.com/2013/2/makalah-perkembangan-moral-remaja.html, diakses pada tanggal 10 Januari 2015 pada pukul 16.52.
[22] Cicih Sumiati, “Perkembangan Moral Remaja”, Makalah,  (Cirebon: IAIN SyekhNurjati, 2012).
[23] Yang dimaksud dengan tingkat moralitas konvensional  adalah ketika manusia memasuki fase perkembanagn yuwana (usia 10-13 tahun) yang sudah mampu menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial. Adapun tingkat moralitas pascaconvensional adalah ketika manusia telah memasuki fase yuwana dan pascayuwana (umur 13 tahun ke atas). Pada tingkatan ini, remaja sudah memandang moral lebih dari sekedar kesepakatan tradisi sosial. Mereka telah memiliki usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok dan terlepas pula dari identifikasi diri dari kelompok tersebut. Lihat Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), hlm. 42. Lihat pula Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2008), hlm. 157.
[24] Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2008), hlm. 156.
[25] Ibid.
[26] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), hlm. 135.
[27] Ibid, hlm. 174.
[28] Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), hlm. 132.
[29] Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009), hlm. 311.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger