- Afdhol Abdul Hanaf
Headlines News :

Perhatian

makalah ini hanya sebagai panduan kawan-kawan dalam membuat makalah. sebisa mungkin untuk tidak copy paste. terimakasih
Home » »

Written By Afdhol Abdul Hanaf on Jumat, 03 Juni 2016 | Jumat, Juni 03, 2016

TAFSIR Q.S AN-NAHL AYAT 93
(Analisis Keadilan Tuhan dalam Memberikan Petunjuk dan Menyesatkan sesuai Kehendak-Nya)
 Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, S. Pd. I

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Masalah kehendak Allah Swt merupakan hal yang sangat penting untuk dikaji. Terlebih lagi dengan adanya salah satu asma’ul husna dari Allah Swt, yaitu Al-Jabbar[1] sehingga kehendak-Nya tidak dapat diingkari lagi oleh siapapun. Apapun yang dikehendaki oleh Allah Swt, maka hal itu pasti akan terjadi. Sebaliknya, apabila Allah Swt tidak menghendakinya, maka sesuatu tersebut tidak akan pernah terjadi.
Kehendak Allah Swt yang tidak dapat diganggu gugat menjadikan umat manusia berfikir bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan seutuhnya. Semua kebaikan dan kejahatan merupakan kehendak dari Allah Swt. Hal tersebut senada dengan firman Allah Swt dalam Q.S An-Nahl ayat 93 yang artinya: Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.......”[2].
Apabila kita baca sekilas, maka ayat di atas mengindikasikan bahwa seolah-olah keadilan Allah (Al-‘Adl)[3] sudah tidak berlaku lagi. Allah Swt hanya memberikan petunjuk kepada manusia yang dikehendaki-Nya dan justru menyesatkan kepada yang dikehendaki-Nya pula. Pemahaman semacam inilah yang kemudian menjadikan manusia pesimis dalam menggapai ridha Allah Swt. Alhasil tidak sedikit dari manusia melakukan perbuatan negatif tanpa merasa bersalah karena kesemuanya itu merupakan kehendak dari Allah Swt.
Seseorang yang beranggapan seperti itu nampaknya terlalu terburu-buru dalam menafsirkan ayat tersebut. Menurut asumsi penulis, memang benar Allah Swt Maha Berkehendak dan kehendaknya tidaklah terbatas. Apapun yang Allah kehendaki pasti akan terjadi. Akan tetapi perlu diketahui pula bahwa Allah Swt juga memiliki sifat Adil. Kedua sifat Allah Swt ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Oleh karena itu kemungkinan besar ada makna tersembunyi di balik teks al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 93 tersebut. Berawal dari sini, maka penulis tertarik untuk mencoba mengkaji dan menafsirkan Q.S An-Nahl ayat 93 tersebut dan membuktikan bahwa ayat tersebut tidak menggugurkan ke-Maha Adilan Allah Swt.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Ayat
Allah Swt berfirman dalam Q.S An-Nahl ayat 93:
öqs9ur uä!$x© ª!$# öNà6n=yèyfs9 Zp¨Bé& ZoyÏnºur `Å3»s9ur @ÅÒム`tB âä!$t±o Ïôgtƒur `tB âä!$t±o 4 £`è=t«ó¡çFs9ur $£Jtã óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÒÌÈ
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”[4]
Surat An-Nahl merupakan surat Makkiyah.[5] Al-Qurthubi (dikutip oleh Jalaluddin As-Suyuthi) mengatakan bahwa Q.S An-Nahl merupakan surat Makkiyah seluruhnya. Surat ini disebut juga dengan surah An-Ni’am karena di dalamnya banyak menyebutkan nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Menurut Ibnu Abbas, surat An-Nahl merupakan surat Makkiyah kecuali tiga ayat yang turun di Madinah setelah terbunuhnya Hamzah, yaitu ayat 95 dan 96.[6]
Dari keterangan tersebut maka dapat penulis simpulkan bahwa Q.S An-Nahl ayat 93 merupakan ayat makkiyah. Dari segi uslubnya (gaya bahasa), pada umumnya surat/ ayat makiyyah sangat kuat dan tegas dalam pembicaraannya. Hal ini dikarenakan orang yang diajak berbicara mayoritas adalah para pembangkang dan orang-orang yang sombong, sehingga tidak ada hal yang lebih patut bagi mereka kecuali dengan bahasa yang kuat dan tegas.[7] Adapun dari segi temanya, surat/ ayat makkiyah berisi tentang ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah Swt.[8]
Di dalam berbagai kitab asbabunnuzul, tidak ada yang memberikan keterangan terkait dengan asbabunnuzul dari Q.S An-Nahl ayat 93. Akan tetapi apabila dikaji dengan melihat ayat-ayat sebelumnya maupun ayat-ayat sesudahnya, maka ayat ini membahas tentang sumpah/ perjanjian terhadap Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam Q.S An-Nahl ayat 91-94:
  (#qèù÷rr&ur ÏôgyèÎ/ «!$# #sŒÎ) óO?yg»tã Ÿwur (#qàÒà)Zs? z`»yJ÷ƒF{$# y÷èt/ $ydÏÅ2öqs? ôs%ur ÞOçFù=yèy_ ©!$# öNà6øn=tæ ¸xŠÏÿx. 4 ¨bÎ) ©!$# ÞOn=÷ètƒ $tB šcqè=yèøÿs? ÇÒÊÈ Ÿwur (#qçRqä3s? ÓÉL©9$%x. ôMŸÒs)tR $ygs9÷xî .`ÏB Ï÷èt/ >o§qè% $ZW»x6Rr& šcräÏ­Fs? óOä3uZ»yJ÷ƒr& KxyzyŠ öNä3oY÷t/ br& šcqä3s? îp¨Bé& }Ïd 4n1ör& ô`ÏB >p¨Bé& 4 $yJ¯RÎ) ÞOà2qè=ö7tƒ ª!$# ¾ÏmÎ/ 4 ¨ûsöÍhu;ãs9ur ö/ä3s9 tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $tB óOçGYä. ÏmŠÏù tbqàÿÎ=tGøƒrB ÇÒËÈ öqs9ur uä!$x© ª!$# öNà6n=yèyfs9 Zp¨Bé& ZoyÏnºur `Å3»s9ur @ÅÒム`tB âä!$t±o Ïôgtƒur `tB âä!$t±o 4 £`è=t«ó¡çFs9ur $£Jtã óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÒÌÈ Ÿwur (#ÿräÏ­Gs? öNä3uZ»yJ÷ƒr& KxyzyŠ öNà6oY÷t/ ¤AÍtIsù 7Pys% y÷èt/ $pkÌEqç6èO (#qè%räs?ur uäþq¡9$# $yJÎ/ óO?Šy|¹ `tã È@Î6y «!$# ( ö/ä3s9ur ë>#xtã ÒOŠÏàtã ÇÒÍÈ
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah Hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar.”[9]

 Sebagaimana yang penulis sampaikan sebelumnya bahwa Q.S An-Nahl ayat 93 memiliki hubungan yang erat dengan ayat-ayat sebelumnya maupun ayat sesudahnya, yakni mengenai perjanjian kepada Allah Swt. Hal ini dibuktikan dengan adanya persamaan pokok bahasan dari ayat sebelumnya dengan ayat seseudahnya. Asbabunnuzul dari Q.S An-Nahl ayat 91 adalah bahwa Allah Swt memerintahkan kaum Muslimin untuk menepati ikatan perjanjian mereka dengan Allah bilamana mereka sudah mengikat perjeanjian tersebut. Menurut Ibnu Jarir, ayat ini diturunkan dengan baiat (janji setia) kepada Nabi Muhammad Saw yang dilakukan oleh orang-orang yang baru masuk Islam.[10] Mereka diperintahkan untuk menepati janji setia yang telah mereka teguhkan dengan bersumpah bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan hanya Allah Swt dan Muhammad adalah utusan Allah. Jumlah kaum Muslimin yang hanya sedikit menjadikan mereka rentan untuk melanggar sumpah tersebut dan kembali mengikuti kaum musyrikin. Maka dari itu turunlah Q.S An-Nahl ayat 91.[11] Dengan turunnya ayat ini maka umat muslim tidak berani untuk membatalkan sumpah-sumpah tersebut karena ada ancaman dari Allah Swt bahwa ia mengetahui apa yang mereka perbuat.
Allah Swt kemudian menurunkan Q.S An-Nahl ayat 92 tentang perumpamaan bagi orang yang melanggar perjanjian. Perumpamaan bagi orang-orang yang melanggar perjanjian adalah seperti seorang perempuan yang mengurai tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat kemudian dirombak kembali menjadi bercerai-berai. Perumpamaan ini diambil dari seorang wanita penduduk Mekkah yang terganggu pikirannya. Nama wanita tersebut adalah Raithah Ibn Sa’d. Dia memiliki alat pemintal yang digunakan untuk memintal benang. Raithah Ibn Sa’d memintal bersama budak-budak wanitanya dari pagi hingga siang hari. Setelah selesai memintal, mereka merombak kembali apa yang mereka lakukan sejak pagi itu sehingga benang-benang hasil pintalan mereka bercerai berai kembali.[12]
Dalam referensi lain disebutkan bahwa perumpamaan bagi orang yang melanggar perjanjian sama seperti Sa’idah al-Asadiyah. Dikemukakan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abi Bakar bin Abi Hafsh yang berkata bahwa Sa’idah merupakan orang gila yang kerjanya hanya mengepang dan mengurangi kembali rambutnya berulang kali. kemudian turunlah Q.S An-Nahl ayat 92 sebagai perumpamaan orang yang biasa mengikat janji akan tetapi tidak pernah menepatinya.[13]
Adapun ayat 94 merupakan lanjutan dari kecaman ayat 91 dan 92 yang mana Allah Swt melarang keras menjadikan sumpah sebagai kerusakan hubungan di antara mereka. Allah Swt memberikan ancaman yang berat bagi mereka yang melanggar sumpah tersebut, yaitu berupa azab yang besar. Apabila melihat runtutan ayat ini, maka dapat diketahui bahwa Q.S An-Nahl ayat 93 nampaknya memiliki kaitan erat terhadap ayat 91, 92, maupun 94, yakni berkaitan dengan sumpah/ perjanjian.
B.     Metode Penafsiran
Dalam melakukan penafsiran (analisis) Q.S An-Nahl ayat 93, penulis menggunakan dua metode tafsir, yakni tafsir bil ma’tsur dan tafsir hermeneutika. Tafsir bil ma’tsur adalah penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan as-Sunnah, atau penafsiran al-Qur’an menurut atsar yang timbul dari kalangan sahabat.[14] Pada makalah ini, penulis hanya menggunakan tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an saja dan tidak menggunakan as-Sunnah maupun atsar yang timbul dari kalangan sahabat. Selain itu, penulis juga menggunakan tafsir hermeneutika, yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan mencari makna dibalik teks dengan melihat sisi teksnya maupun historisitas teks tersebut.

Secara garis besar, langkah-langkah yang penulis lakukan dalam melakukan penafsiran ini adalah sebagai berikut:
1.      Mendeskripsikan Q.S An-Nahl ayat 93 berdasarkan teks kebahasaannya. Kata-kata yang dideskripsikan merupakan kata-kata tertentu saja (kata kunci).
2.      Menafsirkan Q.S An-Nahl ayat 93 berdasarkan teks kebahasaannya yang telah dideskripsikan.
3.      Menafsirkan Q.S An-Nahl ayat 93 dengan menggunakan peran ayat-ayat lain yang mendukung ayat tersebut.
4.      Menafsirkan Q.S An-Nahl ayat 93 dengan melihat asbabunnuzul dan keterkaitan antara ayat sebelumnya dan sesudahnya.
C.    Tafsir Q.S An-Nahl ayat 93
Apabila dicermati secara bahasa, kata lau ( لو ) dalam kalimat                              ولو شاء الله لجعلكم امة واحدة yang artinya dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja merupakan kalimat pengandaian. Dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, kalimat pengandaian merupakan suatu ungkapan yang menunjukkan suatu keinginan yang belum terpenuhi atau tidak terpenuhi, namun pembicara bermaksud untuk melakukan hal tersebut.[15] Kata-kata yang menunjukkan kata pengandaian adalah kalau, jika, seandainya, apabila, dan lain sebagainya. Sebagai contoh adalah kalimat berikut ini: “jika hari ini tidak hujan, Rio akan pergi ke sekolah jalan kaki. Dari kalimat ini kita dapat mengetahui bahwa pada hari tersebut sedang terjadi hujan sehingga ketika Rio pergi ke sekolah dia tidak jalan kaki. Demikian halnya firman Allah Swt dalam Q.S An-Nahl ayat 93 tersebut yang menyatakan ولو شاء الله لجعلكم امة واحدة ( dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja ). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt tidak menghendaki manusia dijadikan sebagai satu umat saja, baik satu agama, satu pendapat, satu model bentuk tubuh manusia, dan lain-lain.
Perbedaan umat, suku, ras, agama dan lain-lain merupakan nikmat yang luar biasa dan merupakan salah satu keadilan Allah Swt. Kehidupan manusia akan lebih indah apabila penuh dengan warna. Tidak bisa dibayangkan apabila manusia hanya mengenal satu warna saja. Manusia yang hanya mengenal warna hitam saja, maka dunia ini akan terasa gelap gulita. Apabila manusia hanya mengenal warna putih saja, ia tidak bisa melihat benda-benda di sekelilingnya. Demikian halnya apabila Allah Swt menciptakan manusia dalam satu golongan atau satu umat saja, maka dunia akan terasa hampa dan tidak akan seindah sekarang ini. Inilah keadilan dari Allah Swt.
Permasalahan yang kemudian muncul ketika Allah menghendaki pebedaan tersebut adalah terletak pada perbedaan dalam memeluk agama maupun perbedaan terhadap jalan hidupnya. Dalam Q.S An-Nahl ayat 93 di paparkan secara jelas bahwa ولكن يّضلّ من يّشاء ويهدي من يّشاء yang artinya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk siapa yang dikehendaki. Seolah-olah ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt tidak adil terhadap manusia. Ia pilih kasih terhadap makhluknya sendiri. Hal ini dikarenakan Allah Swt hanya memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan justru menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya pula. Orang-orang yang disesatkan oleh Allah Swt pasti tidaklah beruntung dan kelak ia akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat. Sebaliknya, manusia yang diberi petunjuk oleh Allah Swt akan mendapatkan nikmat yang luar biasa di dalam surga.
Seseorang yang memiliki pemahaman tersebut nampaknya baru melihat ayat secara sekilas mata. Sebelum penulis menjabarkan maksud dari ayat ini, perlulah kiranya kita mengetahui beberapa arti per kata dari potongan Q.S An-Nahl ayat 93 yang sekiranya penting untuk dikaji. Kata yudhillu (يضلّ) dalam Q.S An-Nahl ayat 93 merupakan kata kerja pasif yang sedang atau akan terjadi. Arti dari kata tersebut adalah “disesatkan”. Demikian halnya dengan kata wayahdii ( ويهدي ) yang berarti “dan memberi petunjuk”. Kata ini merupakan bentuk kata kerja aktif yang sedang atau akan terjadi. Selanjutnya adalah kata (من يشاء) yang memiliki arti “siapa yang dikehendaki. Kata man ( من ) merupakan kata penghubung atau kata depan. Dalam ayat ini, artinya adalah “siapa”. Adapun kata yasyaau  (  يشاء ) merupakan bentuk kata kerja aktif yang sedang atau akan terjadi. Arti dari kata ini adalah “kehendaki”.[16]
Apabila kita cermati dari bentuk dan jenis kata yang digunakan, ternyata kata tersebut adalah kata kerja yang menunjukkan bahwa kegiatan itu sedang terjadi atau akan terjadi. Ini menunjukkan bahwa Allah Swt belum menyesatkan ataupun belum memberikan petunjuk kepada seseorang. Ia belum menakdirkan seseorang untuk disesatkan maupun diberi petunjuk. Dengan kata lain, kehendak Allah Swt untuk menyesatkan ataupun memberikan petunjuk kepada seseorang pasti ada dasar-dasar yang menjadi penyebab hal tersebut. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apa sebab-sebab itu dan siapa yang akan diberi petunjuk oleh Allah Swt maupun yang disesatkan oleh-Nya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka perlulah kiranya kita menggunakan peran ayat-ayat yang lain. Allah Swt berfirman:
@ÅÒãƒur ª!$# šúüÏJÎ=»©à9$# 4 ã@yèøÿtƒur ª!$# $tB âä!$t±tƒ  
“dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang dia kehendaki.” (Q.S Ibrahim: 27).[17]
Di dalam ayat lain Allah Swt berfirman:
y7Ï9ºxŸ2 @ÅÒムª!$# ô`tB uqèd Ô$̍ó¡ãB ë>$s?öB
“Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.” (Q.S Al-Mu’min: 34).[18]
Allah Swt juga berfirman:
ª!$#ur Ÿw Ïöku tPöqs)ø9$# tûüÏJÎ=»©à9$# ÇËÎÑÈ
“dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S Al-Baqarah: 258).[19]
Dari beberapa ayat di atas menunjukkan bahwa memang benar Allah Swt akan menyesatkan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi Beliau memiliki alasan mengapa Ia menyesatkan orang tersebut, yakni karena ia merupakan orang yang zalim, fasik, melampaui batas, kafir, dan lain sebagainya. Karena memang ia telah tersesat terlebih dahulu sebelum disesatkan oleh Allah Swt, maka dapat pula dikatakan bahwa ia telah menyesatkan dirinya sendiri. Demikian halnya orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt. Mereka mendapatkan petunjuk dari-Nya dikarenakan ada sebab-sebab tertentu. Allah Swt berfirman:
z`ƒÏ%©!$#ur (#rßyg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏöks]s9 $uZn=ç7ß 4 ¨bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$#
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S Al-Ankabut: 69).[20]
Melihat penjelasan yang penulis paparkan di atas, maka kita dapat mengetahui bahwa Allah akan memberikan petunjuk dan menyesatkan seseorang tersebut diawali oleh perbuatan manusia itu sendiri. Apabila ia melaksanakan amal kebaikan, menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larang-larangan-Nya maka ia akan mendapatkan hidayah dari Allah Swt. Demikian pula sebaliknya, apabila manusia membangkang terhadap perintah-perintah-Nya dan melaksanakan larangan-larangan-Nya, maka pantaslah orang tersebut untuk disesatkan. Itulah keadilan dari Allah Swt untuk memberikan reward kepada hamba-Nya yang taat dan memberikan punishment kepada hamba-Nya yang membangkang.
Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 93 sama sekali tidak mengindikasikan bahwa manusia tidak diberikan kebebasan oleh Allah Swt. Justru ayat ini menunjukkan bahwa manusia diberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya oleh Allah Swt untuk memilih jalan hidayah atau jalan kesesatan. Namun demikian, Allah Swt tetap menganjurkan kepada seluruh umat manusia untuk melakukan amal kebaikan, bukan amal keburukan. Ayat ini ditutup dengan pernyataan Allah, yaitu            ولتسئلنّ عمّا كنتم تعملوان yang artinya “sesungguhnya kamu pasti akan di tanya tentang apa yang telah kamu kerjakan” semakin membuktikan bahwa manusia diberikan kebebasan oleh Allah Swt. Kebebasan manusia untuk memilih jalan hidayah dan jalan kesesatan tentulah ada konsekuensinya. Sebagai seorang khalifah di muka bumi, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas kekhalifahannya. Apabila ia berhasil, maka ia akan mendapatkan reward berupa kebahagiaan abadi. Bagi mereka yang gagal tentunya akan menerima sanksi dari Allah Swt sebesar kegagalannya tersebut.
Apabila kita kaji berdasarkan keterkaitan antara ayat-ayat sebelumnya maupun sesudahnya, maka Q.S An-Nahl ayat 93 memiliki hubungan yang erat dengan ayat 91, 92, maupun 94, yaitu berkaitan dengan sumpah/ perjanjian yang dilakukan pada masa itu. Orang yang ingin masuk Islam terlebih dahulu mengucapkan sumpah untuk mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Swt dan selalu setia kepada Rasulullah Saw. Jumlah kaum muslimin yang terlalu sedikit apabila dibandingkan dengan kaum kafir, maka sangat rentan bagi mereka untuk kembali kepada jalan kekafiran. Maka dari itu turunlah Q.S An-Nahl ayat 91 yang menyuruh untuk menepati janji-janjinya sesudah ia meneguhkannya.[21] Ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa “sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. Pernyataan ini merupakan ancaman bagi mereka yang hanya bermain-main dalam melakukan sumpah atau janjinya, yaitu bahwa Allah mengetahui apa yang mereka ucapkan, niatkan, maupun apa yang mereka lakukan. Ancaman-ancaman tersebut dijelaskan pula dalam ayat 92 dan 94. Dengan demikian mereka yang telah mengucap janji/ sumpahnya akan takut untuk membatalkannya.
Pemberian petunjuk maupun penyesatan dari Allah Swt yang tertera dalam Q.S An-Nahl ayat 93 bisa jadi juga merupakan motivasi sekaligus ancaman bagi mereka yang baru masuk Islam agar tetap berada pada jalan agama Islam dan tidak membatalkan sumpahnya. Orang yang sudah berjanji dan bersumpah untuk masuk Islam, meyakini Allah Swt yang Maha Esa dan setia kepada Nabi, berarti Allah Swt menghendaki mereka masuk pada jalan yang benar, dan Allah akan memberikan hidayah kepada orang-orang tersebut. Akan tetapi apabila ia kembali (membatalkan sumpahnya), berarti ia telah memilih jalan kesesatan dan kehendak Allah Swt adalah membiarkan mereka kepada kesesatan yang nyata.
Pemaparan Q.S An-Nahl ayat 93 tidak ada yang mengindikasikan bahwa manusia hanyalah wayang yang didalangi oleh Allah tanpa adanya kebebasan. Justru ayat ini menunjukkan bahwa manusia diberi kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk memilih dua jalan yang telah ada, yaitu jalan hidayah ataupun jalan kesesatan. Orang yang dikehendaki Allah mendapatkan hidayah adalah mereka yang selalu taat pada-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Adapun orang yang dikehendaki Allah untuk sesat adalah mereka yang memilih untuk berbuat maksiat, menjalankan larangan-larangan-Nya dan tidak pernah mengamalkan perintah-perintah-Nya. Itulah kehendak dan keadilan dari Allah Swt kepada para ummatnya. Maka dari itu, Allah yang Maha Berkehendak tidaklah semena-mena dalam menghendaki sesuatu seperti apa yang difikirkan banyak orang saat ini. Walaupun memang Allah Swt dapat melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya dengan tanpa batas. Itulah kehendak, keadilan, dan kasih sayang Allah Swt terhadap umat-Nya. Wallahu a’lam.


BAB III
PENUTUP

Kehendak Allah Swt seringkali dipertentangkan dengan keadilan-Nya. Terlebih lagi apabila dikaitkan dengan Q.S An-Nahl ayat 93 yang menegaskan bahwa Allah Swt memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Seolah-olah ayat tersebut menggugurkan ke-Mahaadilan dari Allah Swt. Padahal, kedua hal sifat Allah tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Maka dari itu penulis mencoba menafsirkan ayat tersebut dengan menggunakan metode tafsir bil ma’tsur dan tafsir hermeneutika.
Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 93 apabila dilihat dari aspek kebahasaannya, kata يضلّ,يهدى  و, dan من يشاء merupakan bentuk kata kerja yang sedang atau akan terjadi. Ini membuktikan bahwa Allah Swt belum menakdirkan seseorang untuk disesatkan maupun diberi petunjuk oleh-Nya. Ia baru akan menentukan hal tersebut bila ada sebab-sebab yang menjadikannya disesatkan ataupun diberi petunjuk. Apabila kita menengok ayat-ayat lain (Q.S Ibrahim: 27, Q.S Al-Mu’min: 34, Q.S Al-Ankabut: 69, dan Q.S Al-Baqarah: 258) , maka orang-orang yang disesatkan oleh Allah adalah mereka yang kafir, dzalim, berlebih-lebihan, dan lain-lain.
Apabila dianalisa dengan melihat keterkaitan ayat sebelumnya maupun ayat sesudahnya dengan melihat asbabunnuzul, Q.S An-Nahl ayat 93 ternyata tidak ada yang mengindikasikan bahwa manusia hanyalah wayang yang didalangi oleh Allah tanpa adanya kebebasan. Justru ayat ini menunjukkan bahwa manusia diberi kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk memilih dua jalan yang telah ada, yaitu jalan hidayah ataupun jalan kesesatan. Orang yang dikehendaki Allah mendapatkan hidayah adalah mereka yang selalu taat pada-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Adapun orang yang dikehendaki Allah untuk sesat adalah mereka yang memilih untuk berbuat maksiat dan selalu membangkang terhadap-Nya. Maka dari itu, Allah yang Maha Berkehendak tidaklah semena-mena dalam menghendaki sesuatu. Walaupun memang Allah Swt dapat melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya dengan tanpa batas. Itulah kehendak, keadilan, dan kasih sayang Allah Swt terhadap umat-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Asyqar, Umar Sulaiman, Al-Asma’ al-Husna, Jakarta: Qisthi Press, 2010.

Al-Maragi, Ahmad Mustafa, Tafsir Al-Maragi, penerjemah: Bahrun Abu Bakar, ddk, Semarang: CV Toha Putra, 1992.

Ali, Ibrahim Muhammad, Berinteraksi dengan Al-Qur’an: Tafsir Q.S An-Nahl ayat 81-100, http://ibrahimmuhammadali.blogspot.com/2010/10/tafsir-qs16an-nahl81-100.html, diakses pada tanggal 2 Januari 2015.

Ash-Shabuniy, Muhammad Ali, Studi Ilmu al-Qur’an, Bandung: CV Pustaka Setia, 1998.

As-Suyuthi, Jalaluddin, Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, Penerjemah: Tim Abdul Hayyie, Jakarta: Gema Insani, 2008.

Belajar Bahasa Al-Qur’an: Metoda “Belajar Aktif Kata Per Kata Lewat Intra/ Internet”, http://quran.bblm.go.id/?id=111111 diakses pada tanggal 4 Januari 2015.

Fungsi dan Pengertian Kalimat Pengandaian (Conditional Sentence), http//:www.sekolahoke.com/2012/12/pengertian –conditional-sentence.html. diakses pada tanggal 3 Januari 2015.

Mizan dan Aniez, Ciri-Ciri Surat Makkiyah, http://www.perkuliahan.com/ciri-ciri-surat-makiyah/, diakses pada tanggal 29 Desember 2014.

RI, Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: CV Penerbit Jumanatul Ali-Art, 2005.

Shihab, M. Quraish, Menyingkap Tabir Ilahi: Asma al Husna dalam Perspektif Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2005.

----------------, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2011.

Zaini, Muhammad, ‘Ulumul Qur’an: Suatu Pengantar, Banda Aceh: Yayasan Pena, 2005.



[1] Kata Al-Jabbar bisa berasal dari kata ja-ba-ra yang dalam bahasa arab mengacu makna tumbuh dan berkembang. Dengan pengertian tersebut, maka Allah berkuasa membuat orang yang lemah semakin lemah, ataupun sebaliknya. Kata Al-Jabar juga bisa diartikan sebagai Maha Memaksa (berasal dari kata Al-Ijbar). Al-Ghazali mendefinisikan Al-Jabbar sebagai Zat akan semua kehendak-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, berlaku tanpa terhalangi oleh kehendak lain. Lihat Umar Sulaiman Al-Asyqar, Al-Asma’ al-Husna, (Jakarta: Qisthi Press, 2010) hlm.76.
[2] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Jumanatul Ali-Art, 2005), hlm. 278.
[3] Al-‘Adl merupakan salah satu dari 99 Asma’ul Husna. Allah Swt adalah Maha Adil, maka ini berarti bahwa Dia adalah pelaku keadilan yang sempurna. Lihat M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi: Asma al Husna dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2005), hlm. 149.
[4] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, ..........
[5] Ibid, hlm. 268.
[6] Jalaluddin As-Suyuthi, Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2008), hlm. 328.
[7] Muhammad Zaini, ‘Ulumul Qur’an: Suatu Pengantar, (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2005), hlm. 52.
[8] Mizan dan Aniez, Ciri-Ciri Surat Makkiyah, http://www.perkuliahan.com/ciri-ciri-surat-makiyah/, diakses pada tanggal 29 Desember 2014 pada pukul 21.29.
[9] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, .......... hlm. 278-279.
[10] Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, penerjemah: Bahrun Abu Bakar, ddk, (Semarang: CV Toha Putra, 1992), hlm. 242.
[11] Ibrahim Muhammad Ali, Berinteraksi dengan Al-Qur’an: Tafsir Q.S An-Nahl ayat 81-100, http://ibrahimmuhammadali.blogspot.com/2010/10/tafsir-qs16an-nahl81-100.html, diakses pada tanggal 2 Januari 2015 pada pukul 13.28.
[12] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), hlm. 707.
[13] Jalaluddin As-Suyuthi, Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, Penerjemah: Tim Abdul Hayyie, (Jakarta: Gema Insani, 2008), hlm. 333.
[14] Muhammad Ali Ash-Shabuniy, Studi Ilmu al-Qur’an, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), hlm. 248.
[15] Fungsi dan Pengertian Kalimat Pengandaian (Conditional Sentence), http//:www.sekolahoke.com/2012/12/pengertian –conditional-sentence.html. diakses pada tanggal 3 Januari 2015 pada pukul 9.08.
[16] Belajar Bahasa Al-Qur’an: Metoda “Belajar Aktif Kata Per Kata Lewat Intra/ Internet”, http://quran.bblm.go.id/?id=111111 diakses pada tanggal 4 Januari 2015 pada pukul 17.37.
[17] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, ........., hlm. 260.
[18] Ibid, hlm. 472.
[19] Ibid, hlm. 44.
[20] Ibid, hlm. 405.
[21] Ibrahim Muhammad Ali, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, ................
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Afdhol Abdul Hanaf - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger