Subscribe Us

Welcome to our website. Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum dolor.

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes. Ne per probo magna idque, est veniam exerci appareat no. Sit at amet propriae intellegebat, natum iusto forensibus duo ut. Pro hinc aperiri fabulas ut, probo tractatos euripidis an vis, ignota oblique.

Ad ius munere soluta deterruisset, quot veri id vim, te vel bonorum ornatus persequeris. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Tradisionalisme Islam "Sayyed Hossein Nasr"


TRADISIONALISME ISLAM
“Sayyed Hossein Nasr"
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, dkk

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur dengan hati dan pikiran yang tulus kehadirat Allah SWT, karena berkat nikmat, ma’unah dan hidayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik tanpa ada halangan apapun.
            Shalawat dan salam dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang setia mengorbankan jiwa raga dan lainnya untuk tegaknya syi’ar islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
            Selanjutnya makalah ini disusun dalam rangka untuk menambah wawasan bagi pembaca untuk lebih mengenal dan memahami bagaimana tradisionalisme islam yang ada di dunia timur, terutama di Iran. Terlepas dari itu makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah PMDI dengan dosen pengampu Drs. H. Abdul Malik Usman M.S.I.
            Disadari bahwa tulisan ini masih banyak memiliki kekurangan, baik dari segi isi, bahasa, analisis, dan lain sebagainya. Untuk ini, saran dan kritik pembaca dengan senang hati akan penulis terima, diiringi ucapan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb


                                                                                                Yogyakarta, 29  Oktober 2011


 Penulis           



BAB I
PENDAHULUAN
Setiap agama pasti menghendaki agar umatnya bisa maju dan bisa memberdayakan segala potensi yang dimilikinya, namun tidak dengan mencabut dari nilai-nilai sakral yang telah digariskan dalam ajaran agamanya. Peradaban barat modern merupakan perdaban yang secara materi telah berhasil membawa umat manusia ketingkat kemajuan dan keberhasilan secara materi. Peradaban modern telah berhasil membuktikan eksistensi manusia sebagai makhluk lebih unggul daripada makhluk manapun di bumi ini.
Peradaban modern juga semakin menggelapkan hati manusia dan semakin menempatkan posisi manusia dalam kemajuan semu belaka. Apa yang telah menjadi keberhasilan manusia modern justru tidak semakin mendekatkan manusia pada Tuhan yang secara hakikat ada di belakang segala keberhasilan umat manusia. Kemajuan peradaban modern justru telah menggiring manusia pada kesombongan. Puncak dari kesombongan itu adalah klaim bahwa manusialah yang telah menjadikan segala keberhasilan yang selama ini dicapai, sementara Tuhan tidak memiliki andil apapun.
Keyakinan atau aqidah adalah unsur yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Ia merupakan referensi bagi suatu tindakan, dalam arti bahwa sebelum seseorang melakukan suatu perbuatan, dia hampir selalu menimbang dengan keyakinan yang dimilikinya. Keyakinan ini pula yang kemudian melandasi gerak perjuangan Sayyed Hossein Nasr. Nasr merasa khawatir terhadap kecenderungan umat Islam yang lebih mengiblat terhadap peradaban barat dan telah melupakan akar budayanya.
Nasr merasa sangat khawatir kalau hal tersebut dibiarkan maka bisa meracuni pemikiran umat Islam. Maka Nasr merasa perlu untuk menyadarkan umat Islam untuk kembali pada nilai-nilai luhur tradisi Islam yang telah terbukti berhasil menjadi mercusuar kemajuan umat Islam dalam berbagai bidang. Nasr kemudian banyak menggelorakan semangat untuk kembali pada nilai-nilai tradisi Islam, atau apa yang sering ia sebut sebagai Islam tradisi. Islam tradisi merupakan perwujudan kehidupan beragama yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Qur’an dan Hadits, tanpa mengeliminasi semangat untuk mengejar kemajuan dunia.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Sayyed Hossein Nasr
Seyyed Hossein Nasr lahir di kota Teheran, Iran, pada tanggal 7 April 1933. Ayahnya bernama Seyyed Valiullah Nasr. Beliau adalah seorang ulama besar sekaligus menjabat sebagai guru dan dokter pada masa dinasti Qajar. Gelar Seyyed adalah sebutan kebangsawanan yang dianugerahkan oleh raja Syah Reza Pahlevi kepada keduanya. Keluarga Nasr adalah penganut aliran Syi’ah tradisional yang menjadi aliran teologi Islam. Aliran ini banyak dianut dan didominasi oleh penduduk Iran sampai sekarang, walaupun telah terjadi revolusi di sana. Hal ini disebabkan karena paham Syi’ah telah lama hidup di sana. Di samping itu juga karena didukung oleh banyak ulama terkenal dan berpengaruh.
Nasr memperoleh pendidikan tradisional di Iran pada usia 13 tahun. Pendidikan tradisional ini diperoleh secara informal dan formal. Pendidikan informalnya dia dapat dari keluarga, terutama dari ayahnya, sedangkan pendidikan tradisional formalnya diperoleh di madrasah Teheran. Selain itu dia juga dikirim oleh ayahnya untuk belajar filsafat, teologi, dan tasawuf di madrasah pendidikan yang bertempat di Qum. Allamah Thabathaba’i adalah pengasuh madrasah tersebut. Ia juga diberi pelajaran tentang hafalan al-Quran dan pendidikan tentang seni Persia klasik.
Obsesi Valiullah Nasr kepada Hossein Nasr adalah agar menjadi orang yang memperjuangkan kaum tradisional dan nilai-nilai ketimuran. Hal ini dimulai dengan memasukkkan Hossein Nasr ke Peddie School di Hightstown, New Jersey, Amerika Serikat. Ia  lulus pada tahun 1950. Kemudian melanjutkan ke Massacheusetts Institute of Technology (MIT). Di institusi pendidikan ini Nasr memperoleh pendidikan tentang ilmu-ilmu fisika dan matematika teoritis di bawah bimbingan Bertrand Russel. Beliau dikenal sebagai seorang filosof modern. Nasr banyak memperoleh pengetahuan tentang filsafat modern. Selain bertemu dengan Bertrand Russel, Nasr juga bertemu dengan seorang ahli metafisika bernama Geogio De Santillana. Dari kedua ini Nasr banyak mendapat informasi dan pengetahuan tentang filsafat timur, khususnya yang berhubungan dengan metafisika. Dia diperkenalkan dengan tradisi keberagamaan di timur, misalnya tentang Hinduisme. Selain itu Nasr juga diperkenalkan dengan pemikiran-pemikiran para peneliti Timur, diantaranya adalah pemikiran Frithjof Schuon tentang perenialisme. Selain itu juga berkenalan dengan pemikiran Rene Guenon, A. K. Coomaraswamy, Titus Burchardt, Luis Massignon dan Martin Lings.

Pada tahun 1956 Nasr berhasil meraih gelar Master di MIT dalam bidang geologi yang fokus pada geofisika. Belum puas dengan hasil karyanya, beliau merencanakan untuk menulis desertasi tentang sejarah ilmu pengetahuan dengan melanjutkan studinya di Harvard University. Dalam menyusun disertasinya Nasr dibimbing oleh George Sarton. Akan tetapi sebelum disertasi selesai ditulis, George Sarton meninggal dunia, sehingga Nasr mencari pembimbing yang baru. Ia mendapatkan bimbingan berikutnya oleh tiga professor, yaitu Bernard Cohen, Hammilton Gibb dan Harry Wolfson. Disertasi ini selesai dengan judul “Conceptions of Nature in Islamic Thought” yang kemudian dipublikasikan oleh Harvard University Press pada tahun 1964 dengan judul “An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines”. Dengan selesainya disertasi ini Nasr mendapat gelar Philosophy of Doctor (Ph.D) dalam usia yang cukup muda yaitu 25 tahun, tepatnya pada tahun 1958.

B.     Pengaruh Pemikiran Yang Didapat Semasa Belajar di Barat
Seyyed Hossein Nasr bertemu dengan banyak pemikir Barat yang mengkaji Islam dari berbagai macam perspektif. Selain belajar tentang ilmu sains, Nasr juga mempelajari ilmu-ilmu metafisika, khususnya metafisika Timur yang banyak ia dapatkan diperpustakaan-perpustakaan Barat. Ketertarikannya terhadap disiplin keilmuan ini tidak lepas dari latar belakang kehidupannya sebagai seorang Iran yang kental dengan budaya mistik kesufian dan didukung oleh pengetahuan mistis dari ajaran Syi’ah.
      Diantara para tokohnya yang paling berpengaruh adalah Frithjof Schuon seorang perenialis sebagai peletak dasar pemahaman eksoterik dan esoterik Islam. Nasr sangat memuji karya Schuon yang berjudul Islam and Perennial Philoshopy. Nasr memberikan gelar padanya sebagai My Master. Salah satu tokoh yang juga banyak mempengaruhi Nasr adalah Rene Guenon. Rene Guenon merupakan salah satu tokoh yang banyak mempengaruhi orientasi tradisionalisme Nasr, khususnya peletak pandangan metafisis hermetisme sebagai bagian yang penting dalam kerangka besar pemikiran perennial.
Seyyed Hossein Nasr kembali ke Iran tahun 1958 setelah menyelesaikan program doktornya di Harvard University. Sekembalinya ke Iran ia segera bergabung dengan kegiatan-kegiatan akademis di sana. Kedalaman ilmunya memberikan satu tempat khusus baginya sebagai seorang tokoh baru di Iran. Nasr aktif dalam kegiatan akademis dan keagamaan, seperti keterlibatannya dalam diskusi-diskusi dengan para tokoh Syi’ah di sana seperti Allamah Thabathaba’i, Muhammad Kazim Assar dan Abu Hasana Rafi’i Wazwini. Pada awalnya Nasr lebih berkiprah di dunia akademis. Ia banyak mempengaruhi filsafat Islam modern di Iran melalui karya-karyanya.
      Filsafat perennial adalah nama lain dari metafisika Islam sebagaimana dipahami Nasr. Ia juga menyebutnya sebagai ilmu tentang kenyataan ultim, yang ada dalam semua agama atau tradisi spiritual sejak awal sejarah intelektual manusia hingga kini. Meskipun disebut “filsafat”, warna mistikalnya amat kental. Nasr banyak merujuk pemahaman tentang esoteris dan eksoteris Islam dari buku Frithjof Schuon berjudul Understanding Islam yang diterjemahkan dari bahasa aslinya berbahasa Perancis berjudul Comprendre Islam oleh D.M. Matheson. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Gallimard tahun 1961. Diterbitkan dalam bahasa Inggris pertama kali tahun 1963 di London oleh George Allen and Unwin. Buku ini menjelaskan bagaimana metode filsafat perenial diterapkan dalam mendekati ajaran Islam. Diperjelas lagi dengan karya Schuon berikutnya berjudul Islam and the Pernnial Philosophy yang diterbitkan oleh World of Islam Festival Publising tahun 1976. Dapat dilihat dalam terjemahan bahasa Indonesianya dalam Frithjof Schuon, yang berjudul Islam dan Filsafat Perenial. Pemikir ini banyak memberikan kontribusi mengenai pandangan-pandangan metafisis dalam filsafat perenial yang berisi kritik atas filsafat Barat modern. Dan yang paling urgen adalah dia juga seorang tokoh utama dalam perspektif tradisional di dunia modern yang banyak berbicara tentang makna tradisi.

C.     Kritik Sayyed Hosein Nasr Terhadap Peradaban Modern
Hampir tidak ada lagi pokok perdebatan yang memancing gejolak rasa dan perdebatan dikalangan umat Islam dewasa ini selain relasi antara pemikiran Islam dengan dunia barat. Disadari atau tidak peradaban barat telah menggerogoti konstruk pemikiran Islam sehingga barangkali sudah lebih dari dua abad umat Islam hidup dalam bayang-bayang peradaban barat. Banyak pihak yang merasa khawatir akan tercabutnya nilai-nilai Islam itu sendiri dari pemeluknya.
Peradaban barat telah menimbulkan multi krisis, baik krisis moral, spiritual, dan krisis kebudayaan yang dimungkinkan lebih disebabkan corak peradaban modern industrial yang dipercepat oleh globalisasi yang merupakan rangkaian dari kemajuan barat pasca renaisans yang membawa nilai-nilai antroposentrisme dan humanisme sekuler. Paham barat serba mendewakan manusia dan kehidupan dunia yang sifatnya temporal. Hal ini secara faktual telah melahirkan tercerabutnya kebermaknaan dalam hidup manusia, akibat hilangnya nilai-nilai transendental agama dari kehidupan manusia. Pada antroposentrisme dan humanisme sekuler yang mendewakan kedigdayaan manusia, dan relatifitas itu akhirnya telah melahirkan krisis kemanusiaan yang sudah semakin mengkhawatirkan dalam kehidupan peradaban manusia sedunia. Manusia yang sebelumnya diposisikan sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya menjadi subordinasi dalam tekno-struktur, menjadi bagian dari benda-benda (hasil teknologi) yang diciptakannya sendiri, sehingga manusia melupakan identitasnya sebagai makhluk Allah yang merdeka dan memiliki fitrah hati nurani.
Satu hal yang dianggap sebagai kegagalan peradaban modern yang paling fatal ialah percobaan manusia untuk hidup dan menafikan keberadaan Tuhan dan agama. Suatu hal yang tentu sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang dalam hatinya memiliki potensi ilahiyah, dan pasti akan selalu membutuhkan Allah. Hal ini mengingatkan kita pada penegasan Al-Qur’an dalam surat Thaha ayat 124:
124.  Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
Seperti ungkapan Peter L Berger “Nilai-nilai supernatural telah hilang dari peradaban barat modern”. Lenyapnya nilai nilai tersebut dapat diungkapkan dalam suatu rumusan yang agak dramatis sebagai ‘Tuhan telah mati’ atau berakhirnya zaman Kristus.” Inilah lanjutan dari sekularisasi kesadaran. Dengan hilangnya batasan-batasan yang dianggap dan diyakini sebagai sakral dan absolut, manusia modern lalu melingkar-lingkar dalam dunia yang serba relatif, terutama sistem nilai dan moralitas yang dibangunnya.
Proses sekularisasi melangkah lebih jauh pada abad ke-19 bahkan memasuki wilayah Teologi, yang sampai saat itu masih secara alamiah bersatu dengan kerangka agama, dan kemudian jatuh dibawah kekuasaan sekularisme. Pada waktu itu ideologi agnostik dan ateistik mulai mengancam teologi itu sendiri sementara persfektif teologi tradisional mulai mundur dari satu wilayah yang seharusnya diduduki, yakni wilayah pemikiran agama yang murni. Di sini penting disebutkan bahwa teologi yang dipahami dalam konteks barat adalah hal yang utama bagi Kristen, berbeda dengan Islam yang menempatkan teologi tidak sepenting hukum Islam. Dalam Kristen, semua pemikiran yang berkaitan dengan teologi dan penyebab kemunduran teologi Kristen yang belum pernah terjadi sebelumnya juga berarti kemunduran agama di barat dari kehidupan sehari-hari dan pemikiran manusia barat. Kecenderungan ini mencapai tingkat seperti itu pada abad ke-20 ketika sebagian besar teologi itu, secara berangsur-angsur mengalami proses sekularisasi.
Manusia tentu saja tidak bisa mengangkat dirinya secara spiritual dengan begitu saja. Ia harus dibangunkan dari mimpi buruknya oleh seseorang yang telah sadar. Karena itu manusia memerlukan petunjuk Tuhan dan harus mengikuti petunjuk itu, agar dia dapat menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya dan agar ia mampu mengatasi rintangan dalam menggunakan akalnya. Nasr berkeyakinan bahwa akal dapat mendekatkan manusia kepada Tuhan apabila akal itu sehat dan utuh (salim), dan hanya petunjuk Tuhan yang menjadi bukti yang paling meyakinkan dari pengetahuan-Nya yang dapat menjamin keutuhan dan kesehatan akal, sehingga akal dapat berfungsi dengan baik dan tidak terbutakan oleh nafsu keduniawian. Setiap orang membutuhkan petunjuk Tuhan dan nabi yang membawa petunjuk itu, kecuali ia sendiri terpilih, atau menjadi orang suci yang merupakan pengecualian.
Sebagai manusia yang telah dibimbing oleh agama, kita tidak seharusnya mencontoh apa yang menjadi sisi negatif dari modernisasi di dunia barat, meskipun peranan modern itu lahir dari sebuah keunggulan metodologi sains. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mengusahakan agar bagaimana iman, ilmu, dan teknologi senantiasa selalu berjalan beriringan. Yang menjadi tugas kita sekarang adalah bagaimana agar kita dapat mengangkat kembali dan mengembalikan posisi kemanusiaan dalam tempat semula yang lebih baik. Seperti yang telah dikatakan Yusuf Qardhawi, manusia barat telah membuka tabir pengetahuan yang cukup banyak. Tetapi mereka tidak mampu menguak misteri di balik wujudnya. Mereka telah mengetahui pengetahuan fisik, tetapi tidak dapat menundukkan nafsunya. Mereka telah mendapatkan nuklir, tetapi gagal mendapatkan ideologi dan spiritnya. Sangat indah apa yang telah dikatakan filosof India ditunjukkan kepada salah seorang pemikir Barat, “Sudah cukup baik, kalian terbang tinggi di udara bagai burug. Kalian telah menyelam ke dasar laut seperti ikan. Namun kalian sama sekali tidak berjalan baik di muka bumi ini seperti layaknya manusia. Mungkin inilah yang bisa kita sebut sebagai krisis identitas. Peradaban barat yang maju dari segi materi, ternyata telah gagal memahami manusia sebagai makhluk yang multi dimensia. Manusia bukan hanya sebatas makhluk yang mengandalkan kemampuan indera dan akal, tetapi lebih dari itu ia adalah makhluk Tuhan yang mengemban amanat dari Tuhannya untuk menjadi pemimpin dan pengelola segala potensi yang ada di dunia ini, untuk kemudian dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Manusia modern harus kembali diingatkan dan diarahkan kepada kesucian. Tuhan yang merupakan asal dan sekaligus pusat dari segala sesuatu dan kepadanyalah manusia kembali. Tentulah sudah merupakan suatu konsekuensi apabila manusia harus mengabdi pada Tuhan. Manusia berada dalam belenggu kebebasan yang semu, sifat ketuhanan (theomorfis) yang seharusnya ada pada peradaban modern maupun renaisans. Kepada manusia-manusia yang seperti inilah tradisi agama seharusnya disampaikan dan manusia-manusia batiniah inilah yang hendak dibebaskan tradisi dari belenggu ego dan keadaan yang mencekikm karena sebuah aspeknya dilupakan dan dianggap sama sekali eksternal. Hanya tradisi yang dapat membebaskan mereka, bukan agama-agama palsu yang pada saat ini sedang bermunculan.
Sebagian orang Barat sebenarnya telah menyadari bahwa ada penyakit dalam peradaban mereka yang padahal sudah sangat modern. Mereka melihat bahwa peradabannya telah menghanguskan fitrah manusia, menghadang ketentraman jiwa, dan meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Diantara mereka adalah Bernard Shaw lewat dramanya, Spengler, lewat bukunya Runtuhnya barat, Toynbee, lewat buku-buku sejarahnya, Alexis Carell dengan bukunya yang terkenal Al- Insaan dzaalikal Majhuul (Unknown Man/ Misteri Manusia), dan yang lain. Hanya saja mereka merupakan pribadi yang sebelumnya telah banyak diracuni penyakit, dan setelah itu mereka tidak tahu untuk mengobatinya.

D.    Sayyed Hossein Nasr dan Gagasan Islam Tradisional (Tradisionalisme)
Dua abad lalu, apabila seorang Barat, seorang Konfucian Cina atau seorang Hindu dari India menelaah Islam, niscaya yang mereka jumpai adalah tradisi Islam yang tunggal. Orang yang seperti itu mungkin saja akan menemukan sejumlah madzhab pemikiran, interpretasi-interpretasi hukum, teologi dan bahkan sekte-sekte yang terpisah dari tubuh utama umat. Begitu pula orang tersebut akan menemukan ortodoksi dan heterodoksi dalam akidah dan juga praktek. Tetapi dari semua yang telah diamatinya, baik dari ucapan-ucapan esoterik seorang suci sufi hingga keputusan-keputusan yuridikal seorang ‘alim’, maupun dari pandangan teologikal ketat seorang doktor aliran hambali dari Damaskus hingga pernyataan-pernyataan berat Syiisme yang agak ekstrem, dalam tingkat tertentu merupakan bagian dari tradisi Islam: yakni dari pohon tunggal wahyu Illahi yang akar-akarnya adalah Al-Qur;an dan Hadits, sedang batang dan cabang-cabangnya membentuk tubuh tradisi yang tumbuh dari akar-akar itu selama lebih dari empat belas abad dihampir setiap penjuru dunia.
Tradisi bisa berarti ad-din dalam pengertian yang seluas-luasnya, yang mencakup semua aspek agama dan percabangannya. Tradisi bisa pula disebut as-sunnah, yaitu apa yang sudah menjadi tradisi sebagaimana kata ini umumnya dipahami; bisa juga diartikan as-silsilah, yaitu rantai yang mengkaitkan setiap periode, episode atau tahap kehidupan dan pemikiran didunia tradisional kepada sumber, seperti tampak gamblang dalam sufisme. Karenanya tradisi mirip sebuah pohon, akar-akarnya tertanam melalui wahyu didalam sifat illahi dan darinya tumbuh batang dan cabang-cabang sepanjang zaman. Di jantung pohon tradisi itu berdiam agama, dan saripatinya terdiri dari barakah yang karena bersumber dari wahyu, memungkinkan pohon tersebut terus hidup. Tradisi menyiratkan kebenaran yang kudus, yang langgeng, yang tetap, kebijaksanaan yang abadi, serta penerapan bersinambung prinsip-prinsp yang langgeng terhadap berbagai situasi ruang dan waktu.
Kenapa tradisionalis-tradisionalis bersikeras untuk mengukuhkan pertentangan antara tradisi dan modernisme? Itu tidak lain karena sifat modernisme itu sendiri telah menimbulkan citra yang sama di bidang religius dan metafisika yaitu menampakan yang setengah-benar sebagai kebenaran. Islam tradisional memandang manusia bukan sebagai makhluk yang terpenjara oleh akal dalam arti rasio semata sebagaimana yang dipahami pada zaman renaisans, tetapi sebagai makhluk yang suci, yang tak lain adalah manusia tradisional. Manusia suci, menurut nasr, hidup di dunia yang mempunyai asal maupun pusat. Dia hidup dalam kesadaran penuh sejak asal yang mengandung kesempurnaannya sendiri dan berusaha untuk menyamai, memiliki kembali, dan mentransmisikan kesucian awal dan keutuhannya. Hal itu didasarkan pada konsep manusia primordial sebagai sumber kemanusiaan, refleksi total, dan lengkap mengenai Illahi dan realitas pola dasar yang mengandung posibilitas-posibilitas eksistensi kosmik itu sendiri. Signifikasi Islam tradisional dapat pula dipahami dalam sinaran sikapnya terhadap fase Islam. Islam Tradisional menerima Qur’an sebagai kalam Tuhan baik kandungan maupun bentuknya. Sebagai persoalan duniawi abadi kalam Tuhan yang tak tercipta dan tanpa asal-usul temporal. Islam tradisional juga menerima komentar-komentar tradisional atas Qur’an yang berkisar dari komentar-komentar yang linguistik dan historikal hingga yang sapiental dan metafisikal. Dalam kenyataan, Islam tradisional menginterpretasikan bacaan suci tersebut bukan berdasarkan makna literal dan ekseternal kata-kata melainkan berdasarkan tradisi hermeneutika.
Sifat primordial dan paripurna tentang manusia islam menyebutnya “Manusia sempurna”(insan kamil), dan doktrin-doktrin sapiensial kuno Gracco-Aleksandrian juga menyinggung dalam istilah yang hampir sama, kecuali aspek-aspek Abrahamik dan Islamik yang secara khusus tidak muncul dalam sumber-sumber Neo-platonik dan hermetik, yang menyatakan bahwa realitas manusiawi mempunyai tiga aspek fundamental. Manusia universal, yang dalam realitasnya direalisasikan hanya oleh nabi-nabi dan pujangga-pujangga besar, karena hanya merekalah manusia yang dalam pengertian yang sesungguhnya di dunia, pertama adalah dari realitas pola dasar alam semesta, kedua instrumen atas makna dimana wahyu turun kedunia, dan ketiga, model sempurna untuk kehidupan spiritual dan pemancar pengetahuan esoterik mutakhir. Dengan kebajikan realitas manusia universal, manusia terestrial dapat memperoleh akses pewahyuan dan tradisi, sehingga tersucikan. Akhirnya, melalui realitas yang tak lain daripada aktualisasi realitas manusia itu sendiri, manusia mampu mengikuti jalan sempurna yang akhirnya memungkinkan memperoleh pengetahuan suci, dan akhirnya menjadi dirinya sendiri secara sempurna. Perkataan Oracle Delphic “Mengetahui dirimu sendiri”, atau dari nabi Islam, “ Dia yang mengetahui dirinya sendiri mengetahui Tuhannya”, adalah benar, bukan karena manusia sebagai ciptaan di bumi sebagai ukuran segala sesuatu, tetapi karena manusia adalah dirinya sendiri yang merupakan refleksi realitas pola dasar, yang menjadi ukuran segala sesuatu. Fungsi kesalehan manusia selalu tidak dapat dipisahkan dari realitas, dari apa dia sesungguhnya. inilah mengapa ajaran tradisional menggambarkan kebahagiaan manusia di dalam kesadaran dan kehidupannya menurut alam pontifikalnya, seperti jembatan antar surga dan bumi. Hukum-hukum keagamaan dan ritus-ritusnya mempunyai fungsi-fungsi kosmik, dan didasarkan tidak mungkin baginya menghindari tanggung jawab sebagai makhluk yang hidup dibumi, tetapi bukan hanya keduniawian, sebagai penghubung antara surga dan bumi, dari bentukan spiritual maupun material, diciptakan untuk mereflesikan sinar surga tertinggi Tuhan di dunia, menjadi harmoni di dunia melalui dispensasi dari penurunan dan pelaksanaan bentuk kehidupan yang dihubungkan dengan realitas batinnya sebagaimana ditentukan oleh tradisi.
Mengenai metafisika, Nasr berpendapat bahwa metafisika merupakan pengetahuan yang real. Ia menjelaskan asal-usul dan tujuan semua realitas, tentang yang absolut dan relatif . oleh karena itu, Nasr mengusulkan jika manusia ingin tinggal didunia lebih lama, prisip-prinsip metafisika harus dihidupkan kembali. Pandangan tentang realitas tersebut melihat manusia tradisional melihat citra illahi dalam bayangnya sendiri. Ia memahami kemungkinan-kemungkinan Illahiah dalam kodratnya memungkinkan mengatasi berbagai keterbatasannya, pada akhirnya, ia mentransendensi dirinya melalui pencarian pengalaman spiritual. Sedangkan manusia modern hanya melihatnya cirinya ketika ia menengok ke dalam. Mata egonya hanya melihat citra manusia, suatu bentuk manusia murni.

E.     Pembaharuan (Tajdid) Ke Arah Islam Tradisi
Keyakinan atau aqidah adalah unsur yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Ia merupakan referensi bagi suatu tindakan, dalam arti bahwa sebelum seseorang melakukan suatu perbuatan, dia selalu menimbangnya dengan keyakinan yang dimilikinya. Sebelum bertindak, seseorang yang memiliki keyakinan agama, pasti terlebih dahulu menilai apakah perbuatan yang akan dilakukan sesuai dengan keyakinan agamanya atau tidak. Jika sesuai, ia akan melakukan dengan sebaik-baiknya, sebab dia yakin bahwa perbuatannya tidak hanya memiliki dampak bagi kehidupan masa kini, tetapi juga pada kehidupan akhiratnya kelak. Akan tetapi  jika perbuatan itu bertentangan dengan keyakinannya, maka kemungkinan besar dia tidak akan melakukannya. Kalau pun karena satu dan lain alasan kemudian dia melakukannya juga, dia pasti akan merasa bersalah dan berdosa. Barangkali semua dorongan itulah yang menyebabkan timbulnya dorongan yang kuat bagi Nasr untuk tetap menggelorakan pembaharuan (tajdidd) ke arah bangkitnya kembali Islam Tradisional yang diyakininya merupakan solusi terbaik bagi umat Islam untuk mengangkat kembali Islam yang telah “terinjak” dibawah peradaban modern barat.
Menurut Yusuf Qardhowi tajdid diartikan “pembaruan, modernisasi” yakni upaya mengembalikan pemahaman agama kepada kondisi semula sebagaimana masa nabi. Ini bukan berarti hukum agama harus persis seperti yang terjadi pada waktu itu, melainkan melahirkan keputusan hukum untuk masa sekarang sejalan dengan maksud syar’i dengan membersihkan dari unsur-unsur bid’ah, khurafat dan pikiran-pikiran asing. Yusuf Qardhowi mengatakan bahwa kita harus mengembalikan kemurnian Islam menuju aqidah, kemurnian tauhid, menuju ibadah, kemurnian misi menuju akhlak dan moralitas Islami dan semangat keislaman. Semangat pembaharuan (tajdidd) ini merupakan cita-cita Nasr untuk mengembalikan Islam pada kedudukan semula yang sekarang ini sudah banyak terkontaminasi modernisasi barat yang sekuler, dan meninggalkan nilai-nilai Illahiah dan insaniah. Nasr kemudian mengidentikan tajdidd dengan renaisans yang menurut pengertian sebenarnya. Suatu renaisans berkaitan dengan tajdid atau pembaruan yang dalam konteks tradisional diidentikan dengan fungsi dari tokoh pembaruan (mujaddid) tersebut. Tetapi seorang mujadid selalu merupakan perwujudan dari prinsip-prisip Islam yang hendak ditegakkan dan diterapkan kembali di dalam situasi tertentu. Jadi, seorang mujadid berbeda dengan seorang “tokoh reformasi” menurut pengertian modernnya yang disebut muslih. Bahkan seorang mujaddid berbeda sekali dengan seorang tokoh reformasi karena ia bersedia mengorbankan sebuah aspek tradisi agama, demi faktor ketergantungan tertentu yang paling ditonjolkan mereka sebagai hal yang sangat mempesona, karena dikatakan kondisi zaman yang tak dapat dihindari atau ditolak.
Pembaruan yang dilakukan Nasr adalah mengembalikan manusia pada asalnya sebagaimana telah dilakukan manusia dalam perjanjian suci dengan Tuhan, sehingga membuat dirinya jatuh ke dalam belenggu karya rasionalitas yang meniadakan Tuhan. Menurut Nasr, manusia pada awalnya adalah makhluk suci, namun karena penolakannya kepada Tuhan melalui tradisi Ilmiah telah membuat dirinya tak mengenal siapakah realitas sesungguhnya dia di hadapan Tuhannya. Nasr berpendapat bahwa pembaruan tidak bisa hanya dilakukan dari sisi materi saja, tetapi juga yang paling dasar adalah melakukan perubahan dari dalam dirinya sendiri, untuk kemudian ia melakuan pembaruan terhadap realitas yang ada disekitarnya.
Dewasa ini seorang mujaddid tidak mungkin dilakukan oleh orang yang pikirannya telah dicuci oleh konsep-konsep modern, tetapi tidak bisa juga dilakukan oleh orang yang mengerti seluk beluk dunia modern. Dalam hal ini seorang Nasr merupakan figur yang sangat relevan apabila menggembor-gemborkan tentang tajdidd. Nasr merupakan tokoh yang memiliki wawasan yang sangat luas tentang seluk-beluk peradaban modern dengan segala implikasi-implikasi yang bisa ditimbulkannya. Namun demikian, keakraban Nasr dengan alam modern tidak lantas menyebabkan ia tercerabut dari akar peradaban Islam, malah ia lebih menancapkan lagi di mana posisi islam seharusnya di tempatkan. Nasr telah berhasil menciptakan batasan-batasan antara Islam dan barat, tradisi dan modernisasi, dan dengan itu semua orang bisa memilih posisi di mana ia akan mengambil tempat.
BAB III
KESIMPULAN
Di dunia ini tidak banyak orang yang memilki kepedulian begitu tinggi terhadap agamanya sebagaimana Nasr. Sayyed Hossein Nasr, adalah orang yang telah sekian lama hidup dan akrab dengan dunia modern. Semua orang tahu bahwa dunia modern yang ditandai dengan corak pemikiran materialis-kapitalistik telah banyak menggelapkan hati nurani manusia, sehingga banyak manusia yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, bahkan nilai-nilai ketuhanannya. Orang modern cenderung mengganggap bahwa apa yang telah mereka lakukan selama ini adalah semata sebagai puncak dari keberhasilan mereka dalam mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya. Mereka lupa bahwa ada Tuhan yang telah memberikan dan menjadi penyebab utama atas apa mereka anggap sebagai suatu keberhasilan.
Berbeda halnya dengan Sayyed Hossen Nasr, yang tetap istiqamah dalam pendiriannya, dan tidak tertipu oleh kemajuan semu peradaban modern. Hidup ditengah kemajuan semu dunia modern yang telah banyak meracuni pikiran umat manusia membuat Nasr semakin sadar bahwa apa yang menjadi realitas yang selama ini dilihatnya harus segera diluruskan, dan terutama ia harus membentengi umat Islam sebelum racun peradaban barat meracuni umat Islam.
Nasr kemudian menggelorakan semangat pembaharuan (tajdidd), yaitu seruan agar umat Islam tidak tertipu oleh peradaban barat, dan kembali pada nilai-nilai tradisi Islam, yang dilandasi oleh Al-Qur’an dan al-Hadits. Nasr berkeyakinan bahwa hanya jalan itulah yang mampu mengembalikan jati diri manusia terutama umat Islam untuk menyadari hakikat keberadaan dirinya. Semangat pembaruan atau tajdidd ini kemudian kita yang kenal dalam bahasa Nasr sebagai Islam tradisi. Islam tradisi tidak berarti menutup diri terhadap kemajuan, malahan Islam merupakan agama yang menyuruh umatnya untuk maju dan mengelola segala potensi yang telah diberikan Tuhan untuk manusia. Karena manusia adalah khalifah Tuhan dimuka bumi. Namun manusia juga harus menyadari hakekat keberadaan dirinya di muka bumi ini yaitu untuk beribadah dan menghambakan dirinya pada Tuhan. Karena hakekat dan tujuan hidup manusia adalah untuk Tuhan, jadi segala apa yang manusia lakukan dam manusia dapatkan seharusnya hal itu bisa lebih menambah rasa keimanan pada Tuhan. Kita patut mengacungkan jempol untuk Nasr atas gagasannya yang cukup brilian ini. karena umat Islam tidak akan menjadi umat yang beruntung ketika ia meninggalkan atau tercerabut dari tradisinya. Ketika orang-orang barat meninggalkan tradisinya, maka mereka berhasil mencapai kemajuan. Namun ketika umat Islam meninggalkan tradisinya, maka yang akan didapatkan hanyalah kenistaan.

Pengembangan Kurikulum

PENGEMBANGAN KURIKULUM
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, dkk

KURIKULUM 1975

LATAR BELAKANG
Sampai pada tahun 1975, sekolah-sekolah di indonesia memberlakukan berbagai macam kurikulum diantaranya:
1. SD : Kurikulum 1968, kurikulum PKPM (Proyek Pembaharuan Kurikulum dan Metode Pembelajaran), Kurikulum menurut sistematika buku-buku pelajaran oleh proyek pengadaan buku SD
2. SMP : Kurikulum 1968, kurikulum menurut sistematika buku-buku pelajaran hasil proyek pengadaan buku SMP
3. SMA : Kurikulum 1968, kurikulum menurut sistematika buku-buku pelajaran hasil proyek pengadaan buku SMA.
Faktor-faktor yang mendorong terjadinya perubahan kurikulum:
a. Munculnya gagasan baru tentang sistem pendidikan nasional
b. Inovasi pembelajaran yang efektif dan efisien telah memasuki indonesia
c. Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan.

Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah serangkaian ketentuan dan pedoman dalam pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan tertentu.
A. PEMBERLAKUAN KURIKULUM 1975
Berlaku mlai tahun 1975 bagi sekolah yang telah mampu, yang lainnya 1976.
B. CIRI-CIRI KURIKULUM 1975
a. Berorientasi pada tujuan.
b. Menganut pendekatan yang integratif
c. Adanya hubungan antara Pendidikan Moral Pancasila dengan IPS dan Agama
d. Efektif dan evisien
e. Menggunakan teknik penyusunan program pengajaran PPSI
f. Sistem evaluasi dilakukan pada satuan pembelajaran terkecil dan tetap memperhitungkan pada satuan akhir pembelajaran.
C. PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).
Langkah-langkah pengembangan dan pelaksanaan pembelajaran sebagai sistem untuk mencapai tujuan yang ditargetkan secara efektif dan evisien.
Langkah-langkahnya:
a. Perumusan TIK ( Tujuan Instruksional Khusus )
b. Penyusunan alat evaluasi
c. Penentuan kegiatan belajar dan materi
d. Perencanaan pprogram keegiatan
e. Pelaksanaan program
D. MODUL (paket pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif sesuai kecepatan masing-masing)
Unsur-unsur modul:
a. Rumusan tujuan khusus
b. Petunjuk untuk guru
c. Lembar kegiatan siswa
d. Kunci dan Lembar kerja
e. Kunci dan Lembaran evaluasi

E. PENGAJARAN MODUL
a. Didasarkan pada modul
b. Tujuan : Memberi kesempatan peserta didik dalam belajar sesuai kecepatan
c. Problem bagi siswa : Model pendengar, guru sumber belajar utama
d. Problem bagi guru : varian cara belajar siswa, gengsi.

F. SATUAN PELAJARAN : IMPLEMENTASI
a. Peserta didik memiliki apresiasi dengan materi yang hendak dipelajari
b. Dilakukan pre test sebagai pencarian informasi tentang peserta didik
c. Aspek utama : Bahan, waktu belajar dan urutan.

G. CARA MENYUSUN UNIT LESSON
a. Merumuskan tujuan
b. Menyusun Rasionalisasi
c. Merumuskan kegiatan-kegiatan
d. Menyusun post test
e. Menyiapkan sumber (pesan, bahan cetak, elektronik

KURIKULUM 1984
Hal-hal baru
a. Intensifikasi peranan materi kurikulum lokal
b. Masuknya beberapa mata pelajaran baru (PSPB)
c. Pendekatan pembeajaran: otoaktivitas, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
d. Sistem kredit
e. Program A (Fisika, Biologi, Sosial, Budaya, Agama)
Kebijakan Pokok Dikdasmen
Kebijakan dan Realisasi
a. Pembudayaan hidup sesuai pancasila.
b. Peningkatan kemampuan dan kecerdasan.
c. Peningkatan relevansi pendidikan dengan IPTEK.
d. Peningkatan efisiensi dan efektifitas.
Penerapan Praktis : SMP sebagai contoh
Kurikulum 84 merupakan penyederhanaan dari kurikulum 75.
Intensifikasi peranan materi muatan lokal (kesenian, bahasa daerah, ketrampilan).
Tujuan:
Siswa menjadi manusia pembangunan.
Bekal ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Bekal dasar hidup bermasyarakat.
MUATAN LOKAL
a. Definisi : program pendidikan yang isi dan media penyampaian dikaitkan dengan lingkungan sosial, budaya, alam, dan kebutuhan daerah
b. Mulok wajib diikuti oleh siswa di daerah tersebut.
c. Sifat : memperluas tujuan pendidikan yang telah digariskan.
d. Syarat-syarat :
Kekhasan lingkungan.
Menunjang kepentingan nasional.
Sesuai minat, sikap, dan kemampuan peserta didik.
Didukung oleh pemerintah pusat dan masyarakat.
Tersedia tenaga pelaksana dan sumber.
Dapat dilaksanakan dan dikembangkan.
Selaras dengan kemajuan dan inovasi pendidikan.
e. Bahan pengajaran muatan lokal meliputi bahasa, nilai, adat istiadat, lingkungan geografis, ekosistem, ormas.
f. Strategi pelaksanaan mulok :
Monolitik : Tersendiri, waktu khusus
Integrative : Bersama mata pelajaran lain
Ekologis : Menggunakan lingkungan

g. Materi, pendekatan pembelajaran dan penilaian.
Materi/program : pendidikan umum, pendidikan akademis, pendidikan ketrampilan.
h. Pendekatan pembelajaran (otoaktivitas CBSA).
Siswa dituntut untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga guru berfungsi sebagai fasilitator saja.

DAFTAR PUSTAKA
Sutopo, Hidayat. 1986. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. Bina Aksara: Jakarta.
ROFIK. 2011. Handout Pengembangan Kurikulum Jurusan Pendidikan Agama Islam. UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta

Pendidik dalam Pendidikan Islam

PENDIDIK
DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam
Dosen Pengampu :
Dr. Sabarudin, M.Si




Disusun Oleh :
Nama : Afdhol Abdul Hanaf
Kelas : II / PAI-D


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
SEMESTER GENAP 2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahamat dan hidayah-Nya, sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa manusia ke jalan yang terang, ad diin islam.
Alhamdulillahirabbil’alamin, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Pendidik Dalam Pendidikan Islam”.
Harapan kami, semoga makalah ini dapat menjadi embun esok hari yang senantiasa memberikan kesejukan dan penyegaran bagi kami, serta para pembaca.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, berbagai saran dan kritik yang bersifat membangun dengan lapang dada sangat kami harapkan.



Yogyakarta, Maret 2011



Penyusun



PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pendidik ialah orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing,sehingga antara pendidik dan pengajar memiliki perbedaan. Seorang pendidik tidak hanya bertanggung jawab pada penguasaan materi, akan tetapi juga bertanggung jawab membentuk kepribadian peserta didik yang bernilai tinggi.
Fungsi dasar pendidikan dalam masyarakat meliputi :
a) Alat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide nasional dan masyarakat.
b) Alat untuk perubahan dan perkembangan.
c) Melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif.
Dalam pendidikan islam tidak hanya menyiapkan anak didik memainkan peranannya sebagai individu dan anggota masyarakat saja, tetapi juga membina sikapnya agar menjadi manusia yang beragama, tekun beribadah, mematuhi peraturan agama, serta menghayati dan mengamalkan nilai luhur agama dalam kehidupan sehari-hari.
B. Peran Guru
Roestiyah NK mengemukakan bahwa seorang guru memiliki peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar, diantaranya :
1. Fasilitator, yaitu menyediakan situasi dan kondisi yang dibutuhkan individu peserta didik.
2. Pembimbing, yaitu memberikan bimbingan terhadap peserta didik dalam interaksi belajar mengajar, agar siswa tersebut mampu belajar dengan lancar dan berhasil secara efektif dan evisien.
3. Motivator, yaitu memberikan dorongan dan semangat agar siswa giat dalam belajar.
4. Organisator, yaitu mengorganisasikan kegiatan belajar siswa.
5. Manusia sumber, di mana guru dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa, baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.

C. Syarat-syarat Pendidik dalam Islam
Agar peserta didik dapat menjadi manusia yang beragama, tekun beribadah dan berguna bagi orang lain, maka pendidik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Beriman
Seorang pendidik Islam harus seorang yang beriman, yaitu meyakini akan keesaan Allah SWT. Iman kepada Allah SWT merupakan asas setiap aqidah. Dengan mengimani Allah SWT selanjutnya akan diikuti pula dengan keimanan yang lainnya. Keyakinan terhadap keesaan Allah SWT disebut juga dengan tauhid. Kalimat tauhid dalam Islam adalah “ lailaha illa Allah”. Firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19 yang artinya :
“ Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan mohonlah ampunan bagi dosamu........”.
Iman yang benar harus memiliki tiga syarat, yaitu pengakuan dalam hati, pengucapan dengan lidah dan pengamalan dengan anggota badan. Oleh karena itu iman bukan saja merupakan kepercayaan yang bersifat pribadi, akan tetapi mempunyai eksistensi terhadap seluruh aspek kehidupan. Seorang pendidik Islam harus mempunyai keimanan yang benar.
2. Bertaqwa
Syarat penting yang harus dimiliki pula oleh pendidik Islam adalah taqwa. Taqwa adalah menjaga diri agar selalu mengerjakan perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya, serta merasa takut kepada-Nya baik secara sembunyi maupun secara terang-terangan. Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Imran ayat 102 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”
Seperti halnya iman yang bukan sekedar urusan kepercayaan saja, taqwa juga bukan sekedar amalan batin semata, akan tetapi implikasi taqwa juga terlihat dalam kehidupan.

3. Ikhlas
Pendidik yang ikhlas adalah pendidik yang berniat semata-mata karena Allah, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan, atau hukuman yang dilakukannya. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan adalah sebagian dari asas iman dan keharusan islam. Allah tidak akan menerima perbuatan tanpa dikerjakan secara ikhlas. Perintah untuk ikhlas tercantum dalam Al-Qur’an dengan tegas dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (dengan ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dan menunaikan zakat; yang demikian itulah agama yang lurus”.
4. Berakhlak
Seorang pendidik haruslah mempunyai akhlak yang baik. Orang yang berakhlak adalah orang yang mengisi dirinya dengan sifat-sifat terpuji dan menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela. Beberapa tanda pendidik yang berakhlak diantaranya melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberikan haknya kepada yang berhak dan menjadi tauladan yang baik, khususnya bagi peserta didik.
Karena pentingnya kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia, maka diutuslah Rasulullah SAW untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Sabda Rasulullah SAW yang artinya :
“ Sesungguhnya saya ( Muhammad SAW ) ini diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. ( H.R. Ahmad Ibn Hanbab )
5. Berkepribadian yang Integral
Berkepribadian yang integral adalah dapat menghadapi segala persoalan dengan wajar dan sehat, karena segala unsur dalam pribadinya bekerja seimbang dan serasi. Pikirannya mampu bekerja dengan tenang, setiap masalah dapat dipahaminya dengan obyektif, sebagaimana adanya. Maka sebagai guru ia dapat memahami kelakuan anak didik sesuai dengan perkembangan jiwa yang sedang dilaluinya. Pernyataan anak didik dapat dipahami secara obyektif, artinya tidak ada ikatan dengan prasangka atau emosi yang tidak menyenangkan.
Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 142 :
“ Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat islam) umat yang seimbang, adil, dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia........”
Ketika guru sedang mendapat masalah atau dalam kesulitan, maka haruslah menghadapi masalah tersebut dengan tabah dan berusaha mencari pemecahannya tanpa mengganggu tugas-tugasnya menjadi guru, khususnya dalam proses belajar-mengajar.
6. Cakap
Guru yang cakap minimal ia harus menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan dalam pendidikan. Tidak hanya menguasai dalam teorinya saja, akan tetapi juga harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
7. Bertanggung Jawab
Islam menempatkan manusia di dunia ini dalam kedudukan istimewa, yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya :
“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi........”
Sebagai khalifah, ia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya kepada Allah SWT. Setiap pribadi harus menyadari bahwa kelak segala amal perbuatannya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT di akhirat, maka di dalam hidupnya manusia harus berusaha agar apa yang dilakukannya di dunia ini hanya semata-mata karena Allah SWT dan menurut keridhaan Allah SWT, sehingga semua amal dan perbuatannya bernilai ibadah. Seorang guru harus bertanggung jawab untuk menuntun peserta didiknya untuk dekat dengan Allah SWT dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
8. Keteladanan
Guru merupakan pembimbing murid-muridnya dan menjadi tokoh yang akan ditiru, maka kepribadiannya pun menjadi teladan bagi murid-muridnya. Sebaik-baik kurikulum dan cukupnya buku serta alat pelajaran, namun tujuan kurikulum itu tidak akan tercapai jika guru yang melaksanakan kurikulum tersebut tidak memahami, tidak menghayati apalagi kepribadiannya tidak baik dan tidak bisa dijadikan contoh.
9. Memiliki Kompetensi Keguruan
Kompetensi keguruan adalah kemampuan yang diharapkan yang dapat dimiliki oleh seorang guru. Pada dasarnya, seorang guru harus memiliki tiga kompetensi, diantaranya :
a. Kompetensi Kepribadian
Setiap guru memiliki kepribadiannya sendiri-sendiri yang unik. Tidak ada guru yang sama, walaupun mereka sama-sama memiliki pribadi keguruan. Seorang guru harus terampil dalam :
Mengenal ataupun mengetahui harkat dan potensi dari setiap peserta didik yang diajarnya.
Membina suasana sosial yang meliputi interaksi belajar mengajar sehingga amat bersifat menunjang secara moral (batiniah) terhadap murid bagi terciptanya kesamaan arah dan kesepahaman dalam pikiran murid dan guru.
Membina suatu perasaan saling menghormati, bertanggung jawab, dan saling percaya-mempercayai antara guru dan murid.
b. Kompetensi Penguasaan atas Bahan Pengajaran
Penguasaan yang mengarah kepada spesialisasi atas ilmu atau kecakapan atau pengetahuan yang diajarkan. Penguasaannya meliputi bahan bidang studi sesuai dengan apa yang diajarkannya.
c. Kompetensi dalam Cara-Cara Mengajar
Kompetensi dalam cara-cara mengajar atau keterampilan mengajar sesuatu bahan pengajaran sangat diperlukan guru. Khususnya keterampilan dalam :
Merencanakan atau menyusun setiap program satuan pembelajaran, demikian pula merencanakan atau menyusun keseluruhan kegiatan untuk satu satuan waktu.
Mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan (alat peraga) bagi murid dalam proses belajar yang diperlukannya.
Mengembangkan metode-metode mengajar yang sesuai dengan siswa agar lebih efektif dan evisien.
D. Unsur-Unsur Pokok dalam Masalah Belajar
Zakiah Darajat mengemukakan bahwa unsur-unsur pokok yang perlu diperhatikan dalam masalah belajar adalah sebagai berikut :
a. Kegairahan dan kesediaan untuk belajar.
b. Membangkitkan minat murid.
c. Menumbuhkan sikap dan bakat yang baik.
d. Mengatur proses belajar mengajar.
e. Berpindahnya pengaruh belajar dan pelaksanaannya dalam kehidupan nyata.
f. Hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.

Dari kutipan di atas menunjukkan bahwa guru hendaklah berusaha memberikan bimbingan penuh agar tercapainya tujuan pendidikan tersebut.

PENUTUP

Kesimpulan
Seorang guru memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar-mengajar, diantaranya sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, organisator dan manusia sumber. Seorang guru harus berusaha memberikan bimbingan dengan penuh semangat kerja,membangkitkan minat serta menumbuhkan sikap dan bakat yang baik, mengorganisir proses belajar mengajar, sehingga belajar di sekolah dapat ditransferkan ke dalam dunia nyata yang kesemuanya itu dilakukan melalui hubungan yang manusiawi.



DAFTAR PUSTAKA
Rosetiyah NK. 1982. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem. Jakarta:PT Bina Aksara.
Djanika Rachmat. 1985. Sistem Etika Islam. Surabaya:Pustaka Islam.

Al-Asma' Al-Majrurah

AL-ASMA’ AL-MAJRURAH
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, dkk


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur dengan hati dan pikiran yang tulus kehadirat Allah SWT, karena berkat nikmat, ma’unah dan hidayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik tanpa ada halangan apapun.
Shalawat dan salam dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang setia mengorbankan jiwa raga dan lainnya untuk tegaknya syi’ar islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
Selanjutnya makalah ini disusun dalam rangka untuk menambah wawasan bagi pembaca untuk lebih mengenal dan memahami bahasa arab, khususnya tentang al-asma’ al-majrurah. Terlepas dari itu makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum dengan dosen pengampu Drs. Mujahid M. Ag.
Disadari bahwa tulisan ini masih banyak memiliki kekurangan, baik dari segi isinya, bahasa, analisis, dan lain sebagainya. Untuk ini, saran dan kritik pembaca dengan senang hati akan penulis terima, diiringi ucapan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Yogyakarta, 13 April 2011


Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...........................................................................................................1
C. Tujuan ............................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ....................................................................................................................... 2
B. Macam-Macam Isim Majrur ............................................................................................2
C. Isim-Isim yang Mengikuti Isim-Isim Majrur ...................................................................5
BAB III PENUTUP ............................................................................................................  7
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 8



BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur'an, dan bahasa yang digunakan oleh Rasulullah dalam menjelaskan isi kandungan Al-Qur’an –kitab suci kaum Muslimin. Sehingga Bahasa Arab menjadi bahasa yang akan tetap ada dan tidak akan pernah hilang dari belahan dunia. Inilah yang menjaga bahasa Arab menjadi bahasa utama hingga lebih dari 1400 tahun peradaban Islam. Mengenai keterjagaan Al-Qur’an, yang secara otomatis juga keterjagaan Bahasa Arab, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku yang menurunkan adz-Dzikra (al-Qur’an) dan Aku lah yang akan menjaganya.” Orang yang ingin menafsirkan Al-Qur’an maka ia juga harus bisa belajar bahasa arab. Oleh karena itu bahasa arab sangat penting untuk dipelajari. Ketika belajar bahasa arab, maka juga harus belajar dan mengerti tentang Al-Asma’ Al-Majrurah. Al-Asma’ Al-Majrurah sangat penting untuk dipelajari karena digunakan untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar karena Al-Asma’ Al-Majrurah ini sangat menentukan harakat atau pembacaan Al-Qur’an.. Al-Asma’ Al-Majrurah sering juga disebut dengan isim majrur. Isim majrur adalah isim yang dijarrkan sehingga selalu dibaca kasrah.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Al-Asma’ Al-Majrurah?
2. Apa saja yang mempengaruhi isim itu di jarrkan?
C. TUJUAN
1. Mengetahui apa itu Al-Asma’ Al-Majrurah
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi suatu isim dijarrkan



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Isim majrur adalah isim-isim yang ber-i’rob jar. Jama’ dari majrur adalah majruroot. Isim yang terkena I’rab Jarr atau isim yang di jar kan disebut Isim Majrur, sehingga isim majrur selalu di baca kasrah.

B. Macam-Macam Isim Majrur.
Isim majrur (al-asma’ al-majrurah) terdiri dari :
a. Isim yang ada huruf jarrnya (سبقه حرف جر)
Huruf jarr adalah huruf yang meng-jarr-kan kata setelahnya. Kata yang terletak setelah Bhuruf jarr adalah isim (kata benda). Kata isim yang terletak setelah huruf jarr harus berharakat kasrah atau berakhiran ya’nun1.(ين)
Huruf jarr terdiri dari beberapa huruf2, yaitu :
1. مِنْ (dari)
Contoh :
saya pulang dari masjid اَرْجِعُ مِنَ الْمَسْجِدِ
Jika kata yang terletak setelah من (dari) berupa isim yang tidak disertai al, maka من dibaca مِنْ. (min/nun disukun). Tetapi jika berupa isim yang disertai al, maka من dibaca مِنَ (mina/nun difathah)
2. إِلَى (ke/kepada)
Contoh :
Saya berangkat ke sekolah أَذْهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ
3. لِ (milik/terhadap/karena)
Contoh :
Polpen itu milik zaid الْقَلَمُ لِزَيْدِ

4. عَنْ (dari)
Contoh :
Saya telah melempar anak panah dari busur رَمَيْتُ السَّهْمَ عَنِ الْقَوْسِ
Jika kata yang terletak setelag عن (dari) berupa isim yang tidak disertai al maka عن dibaca عَنْ (‘an/nun disukun). Tetapi jika berupa isim yang disertai al maka عن dibaca عَنِ (‘ani/nun dikasrah)
5. عَلَى (atas/di atas)
Contoh :
Buku itu di atas meja الْكِتَابُ عَلَى الْمَكْتَبِ
6. كَ (seperti)
Contoh :
Nabi Muhammad SAW seperti bulan purnama مُحَمَّدُ كَالْبَدْرِ
7. فِيْ (di/di dalam)
Contoh :
Para siswa berada di dalam kelas التَّلَامِيْذُ فِيْ الْفَصْلِ
8. بِ (dengan/sebab)
Contoh :
Saya menulis pelajaran dengan polpen. كَتَبْتُ الدَّرْسَ بِالْقَلَمِ
9. مُذْ (sejak)
Contoh :
Saya tidak melihatmu sejak hari Jum’at مَارَأَيْتُكَ مُذْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ
10. مُنْذُ (sejak)
Contoh :
Saya tidak melihatmu sejak hari jum’at مَارَأَيْتُكَ مُنْذْ يَوْمِ الْجْمُعَةِ
11. رُبَّ (sedikit/banyak)
Contoh :
رُبَّ قَارِءِ لِلْقُرْاَنِ وَالْقُرْاَنُيَلْعَنُهُ
Banyak orang yang membaca Al-qur’an tetapi AL-Qur’an itu malah melaknatinya
12. حَتَّى (sampai/hingga)
Contoh :
سَلَامٌ هِيَ حَتَّ مَطْلَعِ الْفَجْرِ ( القدر : ه )
Artinya : “malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr : 5)
13. تَ / بِ / تَ (demi)
Contoh :
بِاللَّهِ / وَاللَّهِ / تَاللَّهِ لأَصُوْمُ مَنَّ غَدًا
Demi allah, besok saya akan berpuasa.

14. حَاشَا / عَدَا / خَلَا (selain)
Contoh :
دَخَلَ التَّلَامِيْذُ الْفَصْلَ حَاشَا / عَدَا / خَلَا زَيْدً
Semua siswa telah masuk kelas selain zaid. 3

b. Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih. (مضاف إليه)

Isim yang berkedudukan sebagai mudhaf ilaih Contohnya yaitu:
a. اشتريتُ خاَتِمَ حديدٍ (Isytaroitu khotima hadiidin) = Saya membeli cincin besi.
Kata حديدٍ (= besi) merupakan mudhof ilaih, karena disandarkan kepada خاَتِمَ (= cincin) yang maknanya cincin yang terbuat dari besi.
b. رَسُوْلُ اللهِ (=Rasul Allah) –> رَسُوْلُ [Mudhaf], اللهِ [Mudhaf Ilaih]
c. أَهْلُ الْكِتَابِ (=ahlul kitab) –> أَهْلُ [Mudhaf], الْكِتَابِ [Mudhaf Ilaih]

Mudhaf Ilaih selalu sebagai Isim Majrur, sedangkan Mudhaf (Isim di depannya) bisa dalam bentuk Marfu’, Manshub maupun Majrur, tergantung kedudukannya dalam kalimat. Perhatikan contoh-contoh kalimat di bawah ini:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ
= berkata Rasul Allah
أُحِبُّ رَسُوْلَ اللهِ
= saya mencintai Rasul Allah
نُؤْمِنُ بِرَسُوْلِ اللهِ
= kami beriman kepada Rasul Allah

Dalam contoh-contoh di atas, Isim رَسُوْل merupakan Mudhaf dan bentuknya bisa Marfu’ (contoh pertama), Manshub (contoh kedua) maupun Majrur (contoh ketiga). Adapun kata الله sebagai Mudhaf Ilaih selalu dalam bentuk Majrur.4

1. Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti Zharaf.

يَجْلِسُوْنَ أَمَامَ الْبَيْتِ
= mereka duduk-duduk di depan rumah
أَقُوْمُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
= aku berdiri di bawah pohon

Dalam contoh di atas, Isim الْبَيْتِ (=rumah) dan Isim الشَّجَرَةِ (=pohon) adalah Isim Majrur dengan tanda Kasrah karena terletak sesudah Zharaf أَمَامَ (=di depan) dan تَحْتَ (=di bawah). Dalam hal ini, kedua Zharaf tersebut merupakan Mudhaf sedang Isim yang mengikutinya merupakan Mudhaf Ilaih.5

C. Isim-Isim Yang Mengikuti Isim-Isim Majrur
Yang dimaksudkan dengan tawa-bi’ pada isim-ism yang majrur, ialah isim-isim yang mengikuti kedua isim majrur di atas.
Macam tawabi pada isim yang majrur.
Macamnya sama dengan tawabi pada isim-isim yang marfu’ dan mansub yaitu ada lima yaitu na’at taukid, badal, athaf bayan, dan ma’thuf. Karena sama dengan yang terdahulu, maka pada pembahasan disini kami hanya mengemukakan satu dua contoh saja bagi setiap macam.
a) Naat
1. Pergilah kepada orang-orang yang saleh itu = اَذْهَبُ اِلَى الرَّجُلِ الصّا لح
2. Kitab-kitab mahasiswa yang rajin banyak = كتب الطا لب المجتهد كَثِيْعَةٌ

b) Ta’kid/tauhid.
Contoh :
1. Saya mendatangi mereka saja = جِئْتُ اِلَى التَّلَا مِيْذِ اَنْفُسِهِمْ
2. Saya berbakti kepada orang tua kedua-duanya=بَرَرْتُ بِا الْوَالِدَيْنِ كَلِيْهِمَا
c) Badal.
1. Badal mutha-biq.
Contoh :
a. Sungguh akan kami tarik ubun-ubunnya =لَنَسْفَعًا بِا لنّا صِيَة نَا صِيَةٍ
b. Ubun-ubun orang yang dusta lagi salah =كَا ذِبَةٍخَاطِئَةٍ
c. Puji-pujian hanya bagi Tuhan semesta alam =اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ
2. Badal ba’di min kul.
Contoh :
a. Islam dibina atas lima dasar, syahadat =بُنِىَ الْا سْلَامُ عَلُى خَمْسٍ شَهَا دَةٌ
b. Mereka bertanya tentang bulan-bulan haram berperang di dalamnya = يَسْأَ لُوْ نَكَ عَنِ السَّهْرالْحَرَام قِتَالٌ فِيْهِ
3. Badal Isytimal
Contoh :
Mengagumkan saya si Ali, akhlaknya yang mulia itu = اَعْخَبَنِىْ عَلِىٌّ خُلُقُهُ اَلْكَرِيْمٌ
4. Badal muba-yin
Contoh :
Saya pergi ke masjid sekolah = خِئْتُ اِلَى الْمَسْخِدِالْمَدْرَسَةِ 6



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Isim majrur adalah isim-isim yang ber-i’rob jar. Jama’ dari majrur adalah majruroot. Isim yang terkena I’rab Jarr atau isim yang di jar kan disebut Isim Majrur, sehingga isim majrur selalu di baca kasrah. Macam-macam isim majrur yaitu :
a. Isim yang ada huruf jarrnya (سبقه حرف جر), terdiri dari مِنْ (dari), إِلَى (ke/kepada), لِ (milik/terhadap/karena), عَنْ (dari), عَلَى (atas/di atas), كَ (seperti), فِيْ (di/di dalam), dan lain-lain.
b. Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih. (مضاف إليه)
Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti Zharaf



DAFTAR PUSTAKA
Basith, Abdul. 2009. Ilmu Nahwu. Yogyakarta : Madrasah Diniyah PP. Wahid Hasyim.
http://subpokbarab.wordpress.com/lesson/isim-majrur/.
http://www.freewebs.com/arabindo/w08.htm.

Kritisisme Immanuel Kant


KRITISISME IMMANUEL KANT
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf


BAB I
Pendahuluan
1. Latar belakang
Filsafat sebagai “induk segala ilmu pengetahuan” dalam hal ini adalah ilmu yang mendasari manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan maupun penemuan-penemuan baru. Pada dasarnya filsafat adalah suatu usaha mensistimatisir pemikiran dan menerapkan pemikiran-pemikiran itu pada segala bidang ilmu pengetahuan.
Pada umumnya makalah ini membahas tentang filsafat di barat pada zaman pertengahan atau zaman setelah abad pertengahan yaitu filsafat modern, dan khususnya membahas tentang filsafat Kritisisme Immanuel Kant. Yang mana pemikiran Immanuel Kant yakni penggabungan dua ajaran yang saling bertentangan yakni Rasionalisme Jerman dengan Empirisme Inggris.
Pada masa ini (abad 17) cenderung menganggap sumber pengetahuan salah satunya atau memberi tekanan pada akal (rasio) atau hanya melalui pengalaman (empiri) saja, sesuai dengan paham yang mereka anut.
Dari hal tersebut di atas, alangkah baiknya bila kita mendalami lebih jauh tentang ajaran Kritisisme Immanuel Kant.
2. Rumusan masalah
• Siapakah Immanuel Kant?
• Apa Kritisisme itu yang diajarkan oleh Kant?



BAB II
Pembahasan
A. Immanuel Kant
Immanuel Kant dilahirkan di Koningsbergen, Jerman. Beliau sebelumnya menekuni bidang filsafat, fisika dan ilmu pasti, kemudian sampailah dia menjadi guru besar dalam bidang ilmu logika dan metafisika, juga di Koningsbergen.
Secara umum hidupnya dapat dibagi menjadi dua tahap yakni, tahap pra-kritis dan tahap kritis dengan kira-kira pada tahun 1770 sebagai garis pembatasnya, yaitu saat dia menerima jabatan sebagai guru besar. Sejak saat itu dia menyodorkan filsafat-filsafatnya kepada dunia dengan penuh kepastian, sedangkan sebelumnya dia masih terpengaruh Rasionalisme Leibniz dan Wolff, kemudian dia terpengaruh Empirisme Hume dan sebagian kecil Rousseau. Menurutnya pengaruh Humelah yang membuatnya menjadi bangun dari dogmatisme yaitu filsafat yang mendasarkan pandangannya kepada pengertian-pengertian yang telah ada tentang Allah atau Substansi atau monade, tanpa menghiraukan apakah rasio telah memiliki perngertian tentang hakikatnya sendiri, luas dan batas kemampuannya.
Filsafatnya Immanuel Kant disebut dengan Kritisisme. Itulah sebabnya 3 karya besarnya disebut “Kritik”, yaitu: Kritik der reinen Vernunft ( Kritik atas Rasio Murni), Kritik der praktischen Vernunft (Kritik atas Rasio Praktis), Kritik der Urteilskraft ( Kritik atas Daya Pertimbangan).
Filsafat Kant bermaksud membeda-bedakan antara pengenalan yang murni, yang tiada kepastiannya. Dia ingin membersihkan keterikatannya kepada segala penampakan yang bersifat sementara. Jadi, dimaksudkan sebagai penyandaran atas kemampuan-kemampuan rasio secara obyektif dan menemukan batas-batas kemampuannya untuk memberi tempat kepada iman kepercayaan.

B. Pemikiran Immanuel Kant
Sebelum kita memahami pengertian Kritisisme Immanuel Kant, alangkah baiknya kita mengetahui teori rasionalis Eropa dan teori empiris. Teori rasionalis adalah teori tentang metode memperoleh pengetahuan dengan sumber sepenuhnya dari akal. Bukannya Rasionalisme tidak menganggap pengalaman (a posteriori), melainkan pengalaman dianggap hanya sebagai perangsang bagi rasio. Jadi, kebenaran (pengetahuan) hanya dapat ada dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
Tokoh-tokoh filsafat rasionalis antara lain RENE DESCARTES atau CARTESIUS (1596-1650), BLAISE PASCAL (1623-1662) dan BARUCH SPINOZA (1632-1677).
Rasionalisme dianggap sebagai pengetahuan deduktif, Descartes ialah pencetus pertama paham ini yang dalam ajarannya adalah berusaha memperoleh kebenaran dengan metode deduktif akal yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Jadi, para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide manusia, dan bukan di dalam diri barang sesuatu.
Sebaliknya filsafat Empirisme berpendapat bahwasannya empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan, akan tetapi tidak berarti bahwa rasio ditolak sama sekali. Baik pengalaman secara batiniah maupun pengalaman secara lahiriah. Penganut filsafat ini menggunakan perantara panca indra sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. Sebagai contoh, “bagaimana seseorang dapat mengetahui air itu panas?” jawabannya pasti adalah “karena mereka merasakannya atau menyentuhnya dengan indra perasa” atau “ karena seseorang telah melihatnya dengan munculnya asap di atas air”. Ditinjau dari sudut epistemologi, khususnya dari pandangan empiris pengalaman seringkali dipandang menunjuk pada hasil pengindraan.
Tokoh dalam filsafat empiris antara lain DAVID HUME (1711-1776), THOMAS HOBBES (1588-1679), GEORGE BERKELEY (1685-1753) dan JOHN LOCKE (1632-1704).
Sebenarnya Immanuel Kant “meneruskan” perjuangan Thomas Aquinas yang pernah melakukannya (kritik). Sebelumnya Immanuel Kant sangat berpegang teguh pada filsafat rasionalis secara dia adalah orang Jerman namun dia tersadarkan oleh filsafatnya David Hume (empiris), sejak saat itu dia menganggap bukan hanya rasional yang menjadi sumber pengetahuan melainkan dapat digabungkan dengan empiris (pengalaman) untuk saling melengkapi.
Jadi, Kritisisme adalah penggabungan dua paham yang saling berseberangan yakni rasionalisme Eropa yang teoritis “a priori” dengan empirisme Inggris yang berpijak pada pengalaman “a posteriori”. Immanuel Kant beranggapan bahwa kedua paham tersebut sama baiknya dan dapat digabungkan untuk mencapai kesempurnaan. Gagasan-gagasannya muncul oleh karena bentrokan yang timbul dari pemikiran metafisis Jerman, dan empirisme Inggris. Dari bentrokan ini Kant terpaksa memikirkan unsur-unsur mana di dalam pemikiran manusia yang telah terdapat dalam akal manusia dan unsur-unsur mana yang berasal dari pengalaman.
Menurutnya sebab-akibat tidak dapat dialami, sebagai contoh sebuah pernyataan “kuman typus menyebabkan demam tipus” bagaimana kita dapat mengetahui keadaan yang yang mempunyai hubungan sebab-akibat ini? Pasti jawabannya adalah setelah diselidiki oleh para ahli bahwa orang yang menderita tipus pasti terrdapat kuman tipus; dan bila tidak terdapat kuman itu maka orang itu tidak akan menderita tipus. Karena, seseorang pembawa kuman tipus pasti mengandung kuman tipus, namun mungkin di tidak menderita demam tersebut. Contoh lain adalah; jika kita melihat seekor ular kemudian kita membunuhnya, maka kita tidak akan mengatakan bahwa ular menyebabkan kita membunuh, walaupun yang demikian terjadi berulang kali. Indera hanya dapat memberikan data indera, dan data ialah yang bisa di tangkap oleh indera. Memang benar kita mempunyai pengalaman tetapi sama benarnya juga bahwa untuk mempunyai pengetahuan kita harus menembus pengalaman. Kata Kant, bagaimana hal ini mungkin terjadi? Jika dalam hal memperoleh pengetahuan kita menembus pengalaman, maka jelaslah dari suatu segi pengetahuan hal itu tidak diperoleh melalui pengalaman, melainkan ditambahkan pada pengalaman.
Kant membedakan pengetahuan ke dalam empat bagian, sebagai berikut:
1. Yang analitis a priori
2. Yang sintetis a priori
3. Yang analitis a posteriori
4. Yang sintetis a posteriori
Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman atau, yang ada sebelum pengalaman. Sedangkan pengetahuan a posteriori terjadi sebagai akibat pengalaman. Pengetahuan yan analitis merupakan hasil analisa dan pengetahuan sintetis merupakan hasil keadaan yang mempersatukan dua hal yang biasanya terpisah .
Pengetahuan yang analitis a priori adalah pengetahuan yang dihasilkan oleh analisa terhadap unsur-unsur yang a priori. Pengetahuan sintetis a priori dihasilkan oleh penyelidikan akal terhadap bentuk-bentuk pengalamannya sendiri dan penggabungan unsur-unsur yang tidak saling bertumpu. Misal, 7 – 2 = 5 merupakan contoh pengetahuan semacam itu. Pengetahuan sintetis a posteriori diperoleh setelah adanya pengalaman.
Dengan filsafatnya, ia bermaksud memugar sifat obyektivitas dunia dan ilmu pengetahuan. Agar maksud tersebut terlaksana orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak. Menurut Kant ilmu pengetahuan adalah bersyarat pada: a) bersiafat umum dan bersifat perlu mutlak dan b) memberi pengetahuan yang baru. Kant bermaksud mengadakan penelitian yang kritis terhadap rasio murni dan realita.
Kant yang mengajarkan tentang daya pengenalan mengemukakan bahwa daya pengenalan roh adalah bertingkat, dari tingkatan terendah pengamatan inderawi, menuju ke tingkat menengah akal (Verstand) dan yang tertinggi rasio atau buddhi (Vernunft) .
Immanuel Kant menganggap Empirisme (pengalaman) itu bersifat relative bila tanpa ada landasan teorinya. contohnya adalah kamu selama ini tahu air yang dimasak sampai mendidih pasti akan panas, itu kita dapat dari pengalaman kita di rumah kita di Indonesia ini, namun lain cerita bila kita memasak air sampai mendidih di daerah kutub yang suhunya di bawah 0̊ C, maka air itu tidak akan panas karena terkena suhu dingin daerah kutub, karena pada teorinya suhu air malah akan menjadi dingin. dan contoh lainnya adalah pada gravitasi, gravitasi hanya dapat di buktikan di bumi saja, tetapi tidak dapat diterapkan di bulan. Jadi sudah terbukti bahwa pengalaman itu bersifat relatif, tidak bisa kita simpulkan atau kita iyakan begitu saja tanpa dibuktikan dengan sebuah akal dan teori. Dan oleh karena itu Ilmu pengetahuan atau Science haruslah bersifat berkembang, tidak absolute atau mutlak dan tidak bertahan lama karena akan melalui perubahan yang mengikuti perkembangan zaman yang terus maju. (mungkin Sir Issac Newton bila hidup kembali bakal merevisi teroi Gravitasinya kembali)
Pengalaman juga bersifat data-data Inderawi. Makanya Immanuel Kant mengkritik Empirisme, data Inderawi sendiri harus dibuktikan atau dicek dengan 12 kategori "a priori" rasio, baru setelah itu diputuskan sah "a priory" atau 12 kategori azas prinsipal abstrak yang dibagi menjadi 4 oleh Immanuel Kant, antara lain:
- Kuantitas (hitung-hitungan) mengandung kesatuan, kejamakan dan keutuhan.
- Kualitas (Baik dan buruk) realitas, negasi dan pembatasan.
- Relasi (hubungan) mengandung substansi, kausalitas dan timbal balik.
- Modalitas mengandung kemungkinan, peneguhan dan keperluan.
Data-data inderawi harus dibuktikan dulu dengan 12 kategori tadi, baru dapat diputuskan, itulah proses Kritisisme Rasionalis Jerman yang di ajarkan Immanuel Kant. Metodelogi Immanuel Kant tersebut dikenal dengan metode Induksi, dari partikular data-data terkecil baru mencapai kesimpulan Universal.
Menurut Immanuel Kant, Manusia sudah mendapatkan ke 12 kategori tersebut sejak terlahir di dunia ini, Teori itu terinspirasi dari Dunia Ide Plato
Immanuel Kant juga beranggapan bahwa data inderawi manusia hanya bisa menentukan Fenomena saja. Fenomena itu sendiri adalah sesuatu yang tampak yang hanya menunjukkan fisiknya saja. Seperti benda pada dirinya, bukan isinya atau idenya. Seperti ada ungkapan "The Think in itself" Sama halnya dengan Manusia hanya bisa melihat Manusia lain secara penampakannya saja atau fisiknya saja, tetapi tidak bisa melihat ide manusia tersebut. Inderawi hanya bisa melihat Fenomena (fisik) tapi tidak bisa melihat Nomena (Dunia ide abstrak--> Plato). Cara berpikir yang demikian itu, yaitu pemikiran dengan memakai tese, antitese dan sintese.
Immanuel Kant menggabungkan dunia Ide Plato "a priori" yang artinya sebelum dibuktikan tapi kita sudah percaya, seperti konsep ketuhanan dengan pengalaman itu sendiri yang bersifat "a posteriori" yaitu setelah dibuktikan baru percaya, kata lainnya adalah kesimpulan dari kesan-kesan baru kemudian membentuk sebuah ide.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam usaha memperoleh ilmu pengetahuan manusia hendaknya tidak bersifat sepihak (Rasionalis atau Empiris) menurut Kant keduanya dapat digabungkan sesuai dengan keperluan.
Kritik yang dilayangkan oleh kant melahirkan suatu arah baru dalam pemikiran filsafat dan sangat mempengaruhi semua aliran-aliran yang mengikuti Kant. Aliran-aliran yang satu sama lain saling bertentangan berpangkal pada ajarannya.

Daftar Pustaka
Harun Hadiwijono, DR, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1980.
Kattsoff Louis, Pengantar Filsafat (Element of Philosophy), terjemahan Soejono Margono cetakan IX, Yogyakarta, 2004.
Salam Burhanuddin Drs., Pengantar Filsafat, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.
The_inner_light.blogspot.com