Subscribe Us

Welcome to our website. Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum dolor.

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes. Ne per probo magna idque, est veniam exerci appareat no. Sit at amet propriae intellegebat, natum iusto forensibus duo ut. Pro hinc aperiri fabulas ut, probo tractatos euripidis an vis, ignota oblique.

Ad ius munere soluta deterruisset, quot veri id vim, te vel bonorum ornatus persequeris. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Pengembangan Kurikulum

PENGEMBANGAN KURIKULUM
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, dkk

KURIKULUM 1975

LATAR BELAKANG
Sampai pada tahun 1975, sekolah-sekolah di indonesia memberlakukan berbagai macam kurikulum diantaranya:
1. SD : Kurikulum 1968, kurikulum PKPM (Proyek Pembaharuan Kurikulum dan Metode Pembelajaran), Kurikulum menurut sistematika buku-buku pelajaran oleh proyek pengadaan buku SD
2. SMP : Kurikulum 1968, kurikulum menurut sistematika buku-buku pelajaran hasil proyek pengadaan buku SMP
3. SMA : Kurikulum 1968, kurikulum menurut sistematika buku-buku pelajaran hasil proyek pengadaan buku SMA.
Faktor-faktor yang mendorong terjadinya perubahan kurikulum:
a. Munculnya gagasan baru tentang sistem pendidikan nasional
b. Inovasi pembelajaran yang efektif dan efisien telah memasuki indonesia
c. Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan.

Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah serangkaian ketentuan dan pedoman dalam pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan tertentu.
A. PEMBERLAKUAN KURIKULUM 1975
Berlaku mlai tahun 1975 bagi sekolah yang telah mampu, yang lainnya 1976.
B. CIRI-CIRI KURIKULUM 1975
a. Berorientasi pada tujuan.
b. Menganut pendekatan yang integratif
c. Adanya hubungan antara Pendidikan Moral Pancasila dengan IPS dan Agama
d. Efektif dan evisien
e. Menggunakan teknik penyusunan program pengajaran PPSI
f. Sistem evaluasi dilakukan pada satuan pembelajaran terkecil dan tetap memperhitungkan pada satuan akhir pembelajaran.
C. PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).
Langkah-langkah pengembangan dan pelaksanaan pembelajaran sebagai sistem untuk mencapai tujuan yang ditargetkan secara efektif dan evisien.
Langkah-langkahnya:
a. Perumusan TIK ( Tujuan Instruksional Khusus )
b. Penyusunan alat evaluasi
c. Penentuan kegiatan belajar dan materi
d. Perencanaan pprogram keegiatan
e. Pelaksanaan program
D. MODUL (paket pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif sesuai kecepatan masing-masing)
Unsur-unsur modul:
a. Rumusan tujuan khusus
b. Petunjuk untuk guru
c. Lembar kegiatan siswa
d. Kunci dan Lembar kerja
e. Kunci dan Lembaran evaluasi

E. PENGAJARAN MODUL
a. Didasarkan pada modul
b. Tujuan : Memberi kesempatan peserta didik dalam belajar sesuai kecepatan
c. Problem bagi siswa : Model pendengar, guru sumber belajar utama
d. Problem bagi guru : varian cara belajar siswa, gengsi.

F. SATUAN PELAJARAN : IMPLEMENTASI
a. Peserta didik memiliki apresiasi dengan materi yang hendak dipelajari
b. Dilakukan pre test sebagai pencarian informasi tentang peserta didik
c. Aspek utama : Bahan, waktu belajar dan urutan.

G. CARA MENYUSUN UNIT LESSON
a. Merumuskan tujuan
b. Menyusun Rasionalisasi
c. Merumuskan kegiatan-kegiatan
d. Menyusun post test
e. Menyiapkan sumber (pesan, bahan cetak, elektronik

KURIKULUM 1984
Hal-hal baru
a. Intensifikasi peranan materi kurikulum lokal
b. Masuknya beberapa mata pelajaran baru (PSPB)
c. Pendekatan pembeajaran: otoaktivitas, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
d. Sistem kredit
e. Program A (Fisika, Biologi, Sosial, Budaya, Agama)
Kebijakan Pokok Dikdasmen
Kebijakan dan Realisasi
a. Pembudayaan hidup sesuai pancasila.
b. Peningkatan kemampuan dan kecerdasan.
c. Peningkatan relevansi pendidikan dengan IPTEK.
d. Peningkatan efisiensi dan efektifitas.
Penerapan Praktis : SMP sebagai contoh
Kurikulum 84 merupakan penyederhanaan dari kurikulum 75.
Intensifikasi peranan materi muatan lokal (kesenian, bahasa daerah, ketrampilan).
Tujuan:
Siswa menjadi manusia pembangunan.
Bekal ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Bekal dasar hidup bermasyarakat.
MUATAN LOKAL
a. Definisi : program pendidikan yang isi dan media penyampaian dikaitkan dengan lingkungan sosial, budaya, alam, dan kebutuhan daerah
b. Mulok wajib diikuti oleh siswa di daerah tersebut.
c. Sifat : memperluas tujuan pendidikan yang telah digariskan.
d. Syarat-syarat :
Kekhasan lingkungan.
Menunjang kepentingan nasional.
Sesuai minat, sikap, dan kemampuan peserta didik.
Didukung oleh pemerintah pusat dan masyarakat.
Tersedia tenaga pelaksana dan sumber.
Dapat dilaksanakan dan dikembangkan.
Selaras dengan kemajuan dan inovasi pendidikan.
e. Bahan pengajaran muatan lokal meliputi bahasa, nilai, adat istiadat, lingkungan geografis, ekosistem, ormas.
f. Strategi pelaksanaan mulok :
Monolitik : Tersendiri, waktu khusus
Integrative : Bersama mata pelajaran lain
Ekologis : Menggunakan lingkungan

g. Materi, pendekatan pembelajaran dan penilaian.
Materi/program : pendidikan umum, pendidikan akademis, pendidikan ketrampilan.
h. Pendekatan pembelajaran (otoaktivitas CBSA).
Siswa dituntut untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga guru berfungsi sebagai fasilitator saja.

DAFTAR PUSTAKA
Sutopo, Hidayat. 1986. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. Bina Aksara: Jakarta.
ROFIK. 2011. Handout Pengembangan Kurikulum Jurusan Pendidikan Agama Islam. UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta

Pendidik dalam Pendidikan Islam

PENDIDIK
DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam
Dosen Pengampu :
Dr. Sabarudin, M.Si




Disusun Oleh :
Nama : Afdhol Abdul Hanaf
Kelas : II / PAI-D


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
SEMESTER GENAP 2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahamat dan hidayah-Nya, sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa manusia ke jalan yang terang, ad diin islam.
Alhamdulillahirabbil’alamin, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Pendidik Dalam Pendidikan Islam”.
Harapan kami, semoga makalah ini dapat menjadi embun esok hari yang senantiasa memberikan kesejukan dan penyegaran bagi kami, serta para pembaca.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, berbagai saran dan kritik yang bersifat membangun dengan lapang dada sangat kami harapkan.



Yogyakarta, Maret 2011



Penyusun



PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pendidik ialah orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing,sehingga antara pendidik dan pengajar memiliki perbedaan. Seorang pendidik tidak hanya bertanggung jawab pada penguasaan materi, akan tetapi juga bertanggung jawab membentuk kepribadian peserta didik yang bernilai tinggi.
Fungsi dasar pendidikan dalam masyarakat meliputi :
a) Alat untuk memelihara, memperluas dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide nasional dan masyarakat.
b) Alat untuk perubahan dan perkembangan.
c) Melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif.
Dalam pendidikan islam tidak hanya menyiapkan anak didik memainkan peranannya sebagai individu dan anggota masyarakat saja, tetapi juga membina sikapnya agar menjadi manusia yang beragama, tekun beribadah, mematuhi peraturan agama, serta menghayati dan mengamalkan nilai luhur agama dalam kehidupan sehari-hari.
B. Peran Guru
Roestiyah NK mengemukakan bahwa seorang guru memiliki peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar, diantaranya :
1. Fasilitator, yaitu menyediakan situasi dan kondisi yang dibutuhkan individu peserta didik.
2. Pembimbing, yaitu memberikan bimbingan terhadap peserta didik dalam interaksi belajar mengajar, agar siswa tersebut mampu belajar dengan lancar dan berhasil secara efektif dan evisien.
3. Motivator, yaitu memberikan dorongan dan semangat agar siswa giat dalam belajar.
4. Organisator, yaitu mengorganisasikan kegiatan belajar siswa.
5. Manusia sumber, di mana guru dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa, baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.

C. Syarat-syarat Pendidik dalam Islam
Agar peserta didik dapat menjadi manusia yang beragama, tekun beribadah dan berguna bagi orang lain, maka pendidik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Beriman
Seorang pendidik Islam harus seorang yang beriman, yaitu meyakini akan keesaan Allah SWT. Iman kepada Allah SWT merupakan asas setiap aqidah. Dengan mengimani Allah SWT selanjutnya akan diikuti pula dengan keimanan yang lainnya. Keyakinan terhadap keesaan Allah SWT disebut juga dengan tauhid. Kalimat tauhid dalam Islam adalah “ lailaha illa Allah”. Firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19 yang artinya :
“ Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan mohonlah ampunan bagi dosamu........”.
Iman yang benar harus memiliki tiga syarat, yaitu pengakuan dalam hati, pengucapan dengan lidah dan pengamalan dengan anggota badan. Oleh karena itu iman bukan saja merupakan kepercayaan yang bersifat pribadi, akan tetapi mempunyai eksistensi terhadap seluruh aspek kehidupan. Seorang pendidik Islam harus mempunyai keimanan yang benar.
2. Bertaqwa
Syarat penting yang harus dimiliki pula oleh pendidik Islam adalah taqwa. Taqwa adalah menjaga diri agar selalu mengerjakan perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya, serta merasa takut kepada-Nya baik secara sembunyi maupun secara terang-terangan. Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Imran ayat 102 yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”
Seperti halnya iman yang bukan sekedar urusan kepercayaan saja, taqwa juga bukan sekedar amalan batin semata, akan tetapi implikasi taqwa juga terlihat dalam kehidupan.

3. Ikhlas
Pendidik yang ikhlas adalah pendidik yang berniat semata-mata karena Allah, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan, atau hukuman yang dilakukannya. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan adalah sebagian dari asas iman dan keharusan islam. Allah tidak akan menerima perbuatan tanpa dikerjakan secara ikhlas. Perintah untuk ikhlas tercantum dalam Al-Qur’an dengan tegas dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (dengan ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dan menunaikan zakat; yang demikian itulah agama yang lurus”.
4. Berakhlak
Seorang pendidik haruslah mempunyai akhlak yang baik. Orang yang berakhlak adalah orang yang mengisi dirinya dengan sifat-sifat terpuji dan menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela. Beberapa tanda pendidik yang berakhlak diantaranya melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberikan haknya kepada yang berhak dan menjadi tauladan yang baik, khususnya bagi peserta didik.
Karena pentingnya kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia, maka diutuslah Rasulullah SAW untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Sabda Rasulullah SAW yang artinya :
“ Sesungguhnya saya ( Muhammad SAW ) ini diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. ( H.R. Ahmad Ibn Hanbab )
5. Berkepribadian yang Integral
Berkepribadian yang integral adalah dapat menghadapi segala persoalan dengan wajar dan sehat, karena segala unsur dalam pribadinya bekerja seimbang dan serasi. Pikirannya mampu bekerja dengan tenang, setiap masalah dapat dipahaminya dengan obyektif, sebagaimana adanya. Maka sebagai guru ia dapat memahami kelakuan anak didik sesuai dengan perkembangan jiwa yang sedang dilaluinya. Pernyataan anak didik dapat dipahami secara obyektif, artinya tidak ada ikatan dengan prasangka atau emosi yang tidak menyenangkan.
Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 142 :
“ Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat islam) umat yang seimbang, adil, dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia........”
Ketika guru sedang mendapat masalah atau dalam kesulitan, maka haruslah menghadapi masalah tersebut dengan tabah dan berusaha mencari pemecahannya tanpa mengganggu tugas-tugasnya menjadi guru, khususnya dalam proses belajar-mengajar.
6. Cakap
Guru yang cakap minimal ia harus menguasai ilmu-ilmu yang diperlukan dalam pendidikan. Tidak hanya menguasai dalam teorinya saja, akan tetapi juga harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
7. Bertanggung Jawab
Islam menempatkan manusia di dunia ini dalam kedudukan istimewa, yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya :
“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi........”
Sebagai khalifah, ia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya kepada Allah SWT. Setiap pribadi harus menyadari bahwa kelak segala amal perbuatannya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT di akhirat, maka di dalam hidupnya manusia harus berusaha agar apa yang dilakukannya di dunia ini hanya semata-mata karena Allah SWT dan menurut keridhaan Allah SWT, sehingga semua amal dan perbuatannya bernilai ibadah. Seorang guru harus bertanggung jawab untuk menuntun peserta didiknya untuk dekat dengan Allah SWT dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
8. Keteladanan
Guru merupakan pembimbing murid-muridnya dan menjadi tokoh yang akan ditiru, maka kepribadiannya pun menjadi teladan bagi murid-muridnya. Sebaik-baik kurikulum dan cukupnya buku serta alat pelajaran, namun tujuan kurikulum itu tidak akan tercapai jika guru yang melaksanakan kurikulum tersebut tidak memahami, tidak menghayati apalagi kepribadiannya tidak baik dan tidak bisa dijadikan contoh.
9. Memiliki Kompetensi Keguruan
Kompetensi keguruan adalah kemampuan yang diharapkan yang dapat dimiliki oleh seorang guru. Pada dasarnya, seorang guru harus memiliki tiga kompetensi, diantaranya :
a. Kompetensi Kepribadian
Setiap guru memiliki kepribadiannya sendiri-sendiri yang unik. Tidak ada guru yang sama, walaupun mereka sama-sama memiliki pribadi keguruan. Seorang guru harus terampil dalam :
Mengenal ataupun mengetahui harkat dan potensi dari setiap peserta didik yang diajarnya.
Membina suasana sosial yang meliputi interaksi belajar mengajar sehingga amat bersifat menunjang secara moral (batiniah) terhadap murid bagi terciptanya kesamaan arah dan kesepahaman dalam pikiran murid dan guru.
Membina suatu perasaan saling menghormati, bertanggung jawab, dan saling percaya-mempercayai antara guru dan murid.
b. Kompetensi Penguasaan atas Bahan Pengajaran
Penguasaan yang mengarah kepada spesialisasi atas ilmu atau kecakapan atau pengetahuan yang diajarkan. Penguasaannya meliputi bahan bidang studi sesuai dengan apa yang diajarkannya.
c. Kompetensi dalam Cara-Cara Mengajar
Kompetensi dalam cara-cara mengajar atau keterampilan mengajar sesuatu bahan pengajaran sangat diperlukan guru. Khususnya keterampilan dalam :
Merencanakan atau menyusun setiap program satuan pembelajaran, demikian pula merencanakan atau menyusun keseluruhan kegiatan untuk satu satuan waktu.
Mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan (alat peraga) bagi murid dalam proses belajar yang diperlukannya.
Mengembangkan metode-metode mengajar yang sesuai dengan siswa agar lebih efektif dan evisien.
D. Unsur-Unsur Pokok dalam Masalah Belajar
Zakiah Darajat mengemukakan bahwa unsur-unsur pokok yang perlu diperhatikan dalam masalah belajar adalah sebagai berikut :
a. Kegairahan dan kesediaan untuk belajar.
b. Membangkitkan minat murid.
c. Menumbuhkan sikap dan bakat yang baik.
d. Mengatur proses belajar mengajar.
e. Berpindahnya pengaruh belajar dan pelaksanaannya dalam kehidupan nyata.
f. Hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.

Dari kutipan di atas menunjukkan bahwa guru hendaklah berusaha memberikan bimbingan penuh agar tercapainya tujuan pendidikan tersebut.

PENUTUP

Kesimpulan
Seorang guru memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar-mengajar, diantaranya sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, organisator dan manusia sumber. Seorang guru harus berusaha memberikan bimbingan dengan penuh semangat kerja,membangkitkan minat serta menumbuhkan sikap dan bakat yang baik, mengorganisir proses belajar mengajar, sehingga belajar di sekolah dapat ditransferkan ke dalam dunia nyata yang kesemuanya itu dilakukan melalui hubungan yang manusiawi.



DAFTAR PUSTAKA
Rosetiyah NK. 1982. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem. Jakarta:PT Bina Aksara.
Djanika Rachmat. 1985. Sistem Etika Islam. Surabaya:Pustaka Islam.

Al-Asma' Al-Majrurah

AL-ASMA’ AL-MAJRURAH
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, dkk


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur dengan hati dan pikiran yang tulus kehadirat Allah SWT, karena berkat nikmat, ma’unah dan hidayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik tanpa ada halangan apapun.
Shalawat dan salam dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang setia mengorbankan jiwa raga dan lainnya untuk tegaknya syi’ar islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
Selanjutnya makalah ini disusun dalam rangka untuk menambah wawasan bagi pembaca untuk lebih mengenal dan memahami bahasa arab, khususnya tentang al-asma’ al-majrurah. Terlepas dari itu makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum dengan dosen pengampu Drs. Mujahid M. Ag.
Disadari bahwa tulisan ini masih banyak memiliki kekurangan, baik dari segi isinya, bahasa, analisis, dan lain sebagainya. Untuk ini, saran dan kritik pembaca dengan senang hati akan penulis terima, diiringi ucapan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Yogyakarta, 13 April 2011


Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...........................................................................................................1
C. Tujuan ............................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ....................................................................................................................... 2
B. Macam-Macam Isim Majrur ............................................................................................2
C. Isim-Isim yang Mengikuti Isim-Isim Majrur ...................................................................5
BAB III PENUTUP ............................................................................................................  7
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 8



BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur'an, dan bahasa yang digunakan oleh Rasulullah dalam menjelaskan isi kandungan Al-Qur’an –kitab suci kaum Muslimin. Sehingga Bahasa Arab menjadi bahasa yang akan tetap ada dan tidak akan pernah hilang dari belahan dunia. Inilah yang menjaga bahasa Arab menjadi bahasa utama hingga lebih dari 1400 tahun peradaban Islam. Mengenai keterjagaan Al-Qur’an, yang secara otomatis juga keterjagaan Bahasa Arab, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku yang menurunkan adz-Dzikra (al-Qur’an) dan Aku lah yang akan menjaganya.” Orang yang ingin menafsirkan Al-Qur’an maka ia juga harus bisa belajar bahasa arab. Oleh karena itu bahasa arab sangat penting untuk dipelajari. Ketika belajar bahasa arab, maka juga harus belajar dan mengerti tentang Al-Asma’ Al-Majrurah. Al-Asma’ Al-Majrurah sangat penting untuk dipelajari karena digunakan untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar karena Al-Asma’ Al-Majrurah ini sangat menentukan harakat atau pembacaan Al-Qur’an.. Al-Asma’ Al-Majrurah sering juga disebut dengan isim majrur. Isim majrur adalah isim yang dijarrkan sehingga selalu dibaca kasrah.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Al-Asma’ Al-Majrurah?
2. Apa saja yang mempengaruhi isim itu di jarrkan?
C. TUJUAN
1. Mengetahui apa itu Al-Asma’ Al-Majrurah
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi suatu isim dijarrkan



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Isim majrur adalah isim-isim yang ber-i’rob jar. Jama’ dari majrur adalah majruroot. Isim yang terkena I’rab Jarr atau isim yang di jar kan disebut Isim Majrur, sehingga isim majrur selalu di baca kasrah.

B. Macam-Macam Isim Majrur.
Isim majrur (al-asma’ al-majrurah) terdiri dari :
a. Isim yang ada huruf jarrnya (سبقه حرف جر)
Huruf jarr adalah huruf yang meng-jarr-kan kata setelahnya. Kata yang terletak setelah Bhuruf jarr adalah isim (kata benda). Kata isim yang terletak setelah huruf jarr harus berharakat kasrah atau berakhiran ya’nun1.(ين)
Huruf jarr terdiri dari beberapa huruf2, yaitu :
1. مِنْ (dari)
Contoh :
saya pulang dari masjid اَرْجِعُ مِنَ الْمَسْجِدِ
Jika kata yang terletak setelah من (dari) berupa isim yang tidak disertai al, maka من dibaca مِنْ. (min/nun disukun). Tetapi jika berupa isim yang disertai al, maka من dibaca مِنَ (mina/nun difathah)
2. إِلَى (ke/kepada)
Contoh :
Saya berangkat ke sekolah أَذْهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ
3. لِ (milik/terhadap/karena)
Contoh :
Polpen itu milik zaid الْقَلَمُ لِزَيْدِ

4. عَنْ (dari)
Contoh :
Saya telah melempar anak panah dari busur رَمَيْتُ السَّهْمَ عَنِ الْقَوْسِ
Jika kata yang terletak setelag عن (dari) berupa isim yang tidak disertai al maka عن dibaca عَنْ (‘an/nun disukun). Tetapi jika berupa isim yang disertai al maka عن dibaca عَنِ (‘ani/nun dikasrah)
5. عَلَى (atas/di atas)
Contoh :
Buku itu di atas meja الْكِتَابُ عَلَى الْمَكْتَبِ
6. كَ (seperti)
Contoh :
Nabi Muhammad SAW seperti bulan purnama مُحَمَّدُ كَالْبَدْرِ
7. فِيْ (di/di dalam)
Contoh :
Para siswa berada di dalam kelas التَّلَامِيْذُ فِيْ الْفَصْلِ
8. بِ (dengan/sebab)
Contoh :
Saya menulis pelajaran dengan polpen. كَتَبْتُ الدَّرْسَ بِالْقَلَمِ
9. مُذْ (sejak)
Contoh :
Saya tidak melihatmu sejak hari Jum’at مَارَأَيْتُكَ مُذْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ
10. مُنْذُ (sejak)
Contoh :
Saya tidak melihatmu sejak hari jum’at مَارَأَيْتُكَ مُنْذْ يَوْمِ الْجْمُعَةِ
11. رُبَّ (sedikit/banyak)
Contoh :
رُبَّ قَارِءِ لِلْقُرْاَنِ وَالْقُرْاَنُيَلْعَنُهُ
Banyak orang yang membaca Al-qur’an tetapi AL-Qur’an itu malah melaknatinya
12. حَتَّى (sampai/hingga)
Contoh :
سَلَامٌ هِيَ حَتَّ مَطْلَعِ الْفَجْرِ ( القدر : ه )
Artinya : “malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr : 5)
13. تَ / بِ / تَ (demi)
Contoh :
بِاللَّهِ / وَاللَّهِ / تَاللَّهِ لأَصُوْمُ مَنَّ غَدًا
Demi allah, besok saya akan berpuasa.

14. حَاشَا / عَدَا / خَلَا (selain)
Contoh :
دَخَلَ التَّلَامِيْذُ الْفَصْلَ حَاشَا / عَدَا / خَلَا زَيْدً
Semua siswa telah masuk kelas selain zaid. 3

b. Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih. (مضاف إليه)

Isim yang berkedudukan sebagai mudhaf ilaih Contohnya yaitu:
a. اشتريتُ خاَتِمَ حديدٍ (Isytaroitu khotima hadiidin) = Saya membeli cincin besi.
Kata حديدٍ (= besi) merupakan mudhof ilaih, karena disandarkan kepada خاَتِمَ (= cincin) yang maknanya cincin yang terbuat dari besi.
b. رَسُوْلُ اللهِ (=Rasul Allah) –> رَسُوْلُ [Mudhaf], اللهِ [Mudhaf Ilaih]
c. أَهْلُ الْكِتَابِ (=ahlul kitab) –> أَهْلُ [Mudhaf], الْكِتَابِ [Mudhaf Ilaih]

Mudhaf Ilaih selalu sebagai Isim Majrur, sedangkan Mudhaf (Isim di depannya) bisa dalam bentuk Marfu’, Manshub maupun Majrur, tergantung kedudukannya dalam kalimat. Perhatikan contoh-contoh kalimat di bawah ini:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ
= berkata Rasul Allah
أُحِبُّ رَسُوْلَ اللهِ
= saya mencintai Rasul Allah
نُؤْمِنُ بِرَسُوْلِ اللهِ
= kami beriman kepada Rasul Allah

Dalam contoh-contoh di atas, Isim رَسُوْل merupakan Mudhaf dan bentuknya bisa Marfu’ (contoh pertama), Manshub (contoh kedua) maupun Majrur (contoh ketiga). Adapun kata الله sebagai Mudhaf Ilaih selalu dalam bentuk Majrur.4

1. Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti Zharaf.

يَجْلِسُوْنَ أَمَامَ الْبَيْتِ
= mereka duduk-duduk di depan rumah
أَقُوْمُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
= aku berdiri di bawah pohon

Dalam contoh di atas, Isim الْبَيْتِ (=rumah) dan Isim الشَّجَرَةِ (=pohon) adalah Isim Majrur dengan tanda Kasrah karena terletak sesudah Zharaf أَمَامَ (=di depan) dan تَحْتَ (=di bawah). Dalam hal ini, kedua Zharaf tersebut merupakan Mudhaf sedang Isim yang mengikutinya merupakan Mudhaf Ilaih.5

C. Isim-Isim Yang Mengikuti Isim-Isim Majrur
Yang dimaksudkan dengan tawa-bi’ pada isim-ism yang majrur, ialah isim-isim yang mengikuti kedua isim majrur di atas.
Macam tawabi pada isim yang majrur.
Macamnya sama dengan tawabi pada isim-isim yang marfu’ dan mansub yaitu ada lima yaitu na’at taukid, badal, athaf bayan, dan ma’thuf. Karena sama dengan yang terdahulu, maka pada pembahasan disini kami hanya mengemukakan satu dua contoh saja bagi setiap macam.
a) Naat
1. Pergilah kepada orang-orang yang saleh itu = اَذْهَبُ اِلَى الرَّجُلِ الصّا لح
2. Kitab-kitab mahasiswa yang rajin banyak = كتب الطا لب المجتهد كَثِيْعَةٌ

b) Ta’kid/tauhid.
Contoh :
1. Saya mendatangi mereka saja = جِئْتُ اِلَى التَّلَا مِيْذِ اَنْفُسِهِمْ
2. Saya berbakti kepada orang tua kedua-duanya=بَرَرْتُ بِا الْوَالِدَيْنِ كَلِيْهِمَا
c) Badal.
1. Badal mutha-biq.
Contoh :
a. Sungguh akan kami tarik ubun-ubunnya =لَنَسْفَعًا بِا لنّا صِيَة نَا صِيَةٍ
b. Ubun-ubun orang yang dusta lagi salah =كَا ذِبَةٍخَاطِئَةٍ
c. Puji-pujian hanya bagi Tuhan semesta alam =اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ
2. Badal ba’di min kul.
Contoh :
a. Islam dibina atas lima dasar, syahadat =بُنِىَ الْا سْلَامُ عَلُى خَمْسٍ شَهَا دَةٌ
b. Mereka bertanya tentang bulan-bulan haram berperang di dalamnya = يَسْأَ لُوْ نَكَ عَنِ السَّهْرالْحَرَام قِتَالٌ فِيْهِ
3. Badal Isytimal
Contoh :
Mengagumkan saya si Ali, akhlaknya yang mulia itu = اَعْخَبَنِىْ عَلِىٌّ خُلُقُهُ اَلْكَرِيْمٌ
4. Badal muba-yin
Contoh :
Saya pergi ke masjid sekolah = خِئْتُ اِلَى الْمَسْخِدِالْمَدْرَسَةِ 6



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Isim majrur adalah isim-isim yang ber-i’rob jar. Jama’ dari majrur adalah majruroot. Isim yang terkena I’rab Jarr atau isim yang di jar kan disebut Isim Majrur, sehingga isim majrur selalu di baca kasrah. Macam-macam isim majrur yaitu :
a. Isim yang ada huruf jarrnya (سبقه حرف جر), terdiri dari مِنْ (dari), إِلَى (ke/kepada), لِ (milik/terhadap/karena), عَنْ (dari), عَلَى (atas/di atas), كَ (seperti), فِيْ (di/di dalam), dan lain-lain.
b. Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih. (مضاف إليه)
Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti Zharaf



DAFTAR PUSTAKA
Basith, Abdul. 2009. Ilmu Nahwu. Yogyakarta : Madrasah Diniyah PP. Wahid Hasyim.
http://subpokbarab.wordpress.com/lesson/isim-majrur/.
http://www.freewebs.com/arabindo/w08.htm.