Subscribe Us

Welcome to our website. Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum dolor.

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes. Ne per probo magna idque, est veniam exerci appareat no. Sit at amet propriae intellegebat, natum iusto forensibus duo ut. Pro hinc aperiri fabulas ut, probo tractatos euripidis an vis, ignota oblique.

Ad ius munere soluta deterruisset, quot veri id vim, te vel bonorum ornatus persequeris. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

USBN PAI

Ujian Sekolah Berstandar Nasional
Pendidikan Agama Islam
(USBN PAI)
Oleh : Afdhol Abdul Hanaf

            Sebelum kita memberikan argumen antara setuju dan tidaknya diadakan USBN PAI, terlebih dahulu kita bahas sebenarnya apa USBN PAI itu. Direktur PAI menjelaskan kronologi lahirnya ujian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sekaligus menegaskan bahwa istilah yang digunakan adalah USBN PAI. Jadi, USBN berbeda dengan Ujian Nasional (UN) ataupun Ujian Sekolah (US). Menurutnya, kebijakan USBN PAI lahir dilatarbelakangi antara lain untuk menaikkan derajat PAI, aspirasi guru PAI, meningkatkan mutu PAI sebagai garda depan pendidikan moral dan ketakwaan, PAI lebih sekedar sebagai mata pelajaran pelengkap, sampai pada rekomendasi Komisi VIII DPR RI tahun 2008 yang menghendaki PAI diUNkan. Sifat USBN PAI juga bukan sebagai penentu kelulusan melainkan hanya sebagai salah satu dasar pertimbangan kelulusan peserta didik.
                Adanya sedikit gambaran mengenai USBN PAI di atas, maka kami dapat  menimbang dan memutuskan untuk setuju diadakannya ujian tersebut. Sesuai tujuan dan fungsi USBN dalam Pedoman Pelaksanaan USBN PAI SD, SMP, SMA/SMK yang salah satunya untuk pembinaan dan peningkatan mutu Pendidikan Agama Islam. Kita ketahui bahwa pada saat ini mata pelajaran Pendidikan Agama Islam cenderung disepelekan dan dikesampingkan. Hal ini dikarenakan siswa cenderung konsentrasi pada Ujian Nasional seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan mata pelajaran lainnya sesuai dengan jurusannya masing-masing. Kebijakan sekolah pun memperbanyak jam pelajaran yang di UNkan tersebut sehingga mata pelajaran yang lain, bahkan Pendidikan Agama Islam menjadi korban pengurangan jam mata pelajaran. Terbukti dari pengalaman kami pada saat duduk di bangku SMA. Pada awalnya jam mata pelajaran PAI adalah 3 jam setiap minggunya, akan tetapi jam pelajaran PAI ini dikurangi menjadi 2 jam. Hal ini semakin memojokkan mata pelajaran tersebut. Kita ketahui bahwa ilmu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim adalah ilmu agama, sedangkan ilmu yang lain hukumnya fardhu kifayah. Einstein pun pernah mengatakan bahwa “Pengetahuan tanpa Agama adalah buta, Agama tanpa pengetahuan adalah lumpuh”. Hal ini dapat disimpulkan bahwa antara ilmu dan agama harus berjalan secara beriringan.
            Banyak dari kalangan orang yang tidak setuju dengan USBN PAI memiliki alasan bahwa dengan diadakannya Ujian tersebut justru akan menjadi kericuhan dan perkelahian karena mengandung masalah furu’iyah. Setiap daerah memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai agama. Alasan ini kurang kuat karena soal yang mengandung masalah furu’iyah tidak dimasukkan dalam soal. Di samping itu sesuai dengan pedoman pelaksanaan USBN PAI, disebutkan bahwa soal USBN PAI ditentukan dengan cara  menggabungkan 25% butir soal yang dibuat Penyelenggara Tingkat Pusat dan 75% butir soal yang dibuat Penyelenggara Tingkat Kabupaten/Kota.
            Para kelompok yang tidak setuju diadakannya USBN juga beralasan bahwa dengan diadakannya ujian ini maka akan cenderung mengutamakan pada aspek kognitif saja. Padahal yang terpenting dari agama itu adalah afektifnya, atau perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga belum kami terima alasannya karena di dalam USBN PAI, yang diujikan tidak hanya pada aspek kognitifnya saja. Akan tetapi psikomotoriknya pun diuji dengan diadakannya ujian praktek. Pada ranah afektifnya, guru memberikan laporan dan penilaian kepada siswa mengenai perilakunya di sekolah, dan hasil nilai tersebut diserahkan kepada penyelenggara pusat. Jadi, apabila USBN PAI hanya mengembangkan kognitifnya saja itu tidak benar.
            Diadakannya USBN PAI justru akan lebih mudah dalam mengembangkan siswa dari ranah kognitif, psikomotorik, maupun afektif. Dengan adanya ujian ini secara otomatis jam mata pelajaran PAI di sekolah-sekolah akan ditambah. Apabila PAI tidak diUSBNkan justru akan semakin sulit dalam mengembangkan aspek afektif siswa. Rata-rata jam mata pelajaran PAI saat ini hanya 2 jam setiap minggunya. Hal ini belum tentu cukup untuk memberikan materi pada diri siswa, apalagi mengembangkan karakter siswa agar berakhlak mulia. Sebaliknya, dengan adanya tambahan jam mata pelajaran ini, maka akan semakin banyak pula waktu yang digunakan oleh guru PAI untuk membentuk kepribadian siswa. Di samping memiliki pengetahuan agama yang lebih luas juga memiliki kesempatan yang besar pula untuk memiliki akhlak yang mulia. Di sinilah tugas guru dalam membentuk karakter anak tersebut.
             Kami sengaja masuk jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan supaya bisa menjadi guru PAI. Ketika PAI diUSBNkan maka jam mata pelajaranpun akan ditambah, dan ketika jam mata pelajaran PAI ditambah secara otomatis akan membutuhkan guru PAI yang lebih banyak pula. Itu berarti kesempatan kami menjadi guru PAI pun juga semakin besar. Sangat munafik apabila kami menolak kesempatan yang ada ini. Dengan adanya kesempatan ini kita memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjadi guru, mendapat gaji yang halal, bermanfaat bagi orang lain khususnya siswa, dan yang pasti insyaallah mendapat pahala dari Allah SWT.
Wallahu a’lam.

RELIGIOUS DOUBT (Miniriset)


RELIGIOUS DOUBT
(Miniriset)

Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Agama
Dosen Pengampu : Dra. Hj. Susilaningsih, M.A




Disusun Oleh :
AFDHOL ABDUL HANAF (10410051)
III / PAI D
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang Masalah
            Masa kanak-kanak dan masa remaja merupakan masa yang berurutan, akan tetapi terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya, terutama dari segi psikisnya. Masa kanak-kanak lebih cenderung untuk meniru apa yang dia lihat disekelilingnya. Masa kanak-kanak juga belum bisa berfikir secara abstrak, maka sangat jarang sekali apabila masa kanak-kanak melakukan berbagai perenungan.
Sangat berbeda ketika menginjak usia remaja. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa remaja ini terjadi ketidakstabilan, kegoncangan, maupun pemberontakan dari segi psikis. Dengan terjadinya ketidakstabilan dan kegoncangan psikis pada remaja ini, maka timbul berbagai penyimpangan-penyimpangan. Di berbagai kota besar sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ulah remaja semakin lama semakin mengerikan. Oleh karena itu, orangtua sangat berperan penting dalam mendidik dan menjaga anaknya agar tidak berperilaku menyimpang.
Masa remaja juga sering dikaitkan dengan masa kemandirian, karena pada masa ini remaja sudah mulai berfikir secara kritis. Remaja tidak suka lagi berperilaku seperti apa yang diperintahkan oleh orangtuanya. Pada masa inilah hati nurani sudah mulai berfungsi sebagai penentu arah dalam memilih perilaku yang cocok untuk dirinya. Oleh karena itu tidak sering doktrin-doktrin dan ajaran-ajaran yang diperoleh pada masa kanak-kanak ia abaikan dan ia ragukan karena tidak sesuai dengan hati nuraninya. Bahkan tak jarang juga Tuhan pun diragukan oleh mereka. Dalam psikologi agama, keraguan keagamaan inilah yang disebut sebagai religious doubt. 
Religious doubt banyak dijumpai dan dialami oleh anak remaja. Bahkan para psikolog pun banyak menyimpulkan bahwa keraguan keagamaan ini terjadi pada masa remaja karena masa remaja sudah mulai berfikir abstrak. Akan tetapi gejala religious doubt bisa juga terjadi pada masa kanak-kanak. Pada usia anak bisa terjadi religious doubt karena masa kanak-kanak juga merupakan masa pencarian keyakinan. Hal ini sesuai dengan pengalaman penulis. Penulis sudah mulai merasakan religious doubt pada usia anak. Pada masa remaja pun  penulis masih mengalami religious doubt. Oleh karena itu penulis bermaksud menulis makalah miniriset tentang perkembangan religious doubt pada diri penulis karena penulis pernah merasakan religious doubt tersebut. Melalui proses mengalami inilah penulis sebisa mungkin untuk menyusun miniriset seobyektif mungkin agar semua pengalaman yang penulis alami bisa tercurahkan dalam makalah ini.
B.           RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana religiousitas pada usia anak dan usia remaja ?
2.      Bagaimana analisis kasus hubungan antara teori yang sudah ada dengan kasus yang dialami penulis?
        

BAB II
PEMBAHASAN TEORI
A.       Religiousitas Usia Anak
         Perkembangan religiousitas pada usia anak memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Clark, seorang anak memiliki sifat Verbalized and Ritualistic yaitu bahwa perilaku keagamaan anak, baik yang menyangkut ibadah maupun moral baru bersifat lahiriyah, verbal, dan ritual tanpa keinginan untuk memahami maknanya. Anak sekedar meniru dan melakukan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh orang dewasa. Akan tetapi apabila perilaku keagamaan itu dilakukan secara terus menerus dan penuh minat akan membentuk suatu rutinitas perilaku yang sulit untuk ditinggalkan.[1]
         Seorang anak juga memiliki sifat Imitative, yaitu bahwa sifat dasar anak dalam melakukan perilaku sehari-hari adalah menirukan apa yang terserap dari lingkungannya baik berupa pembiasaan ataupun pengajaran yang intensif[2]. Demikian juga dalam perilaku keagamaan. Anak mampu memiliki perilaku keagamaan karena menyerap secara terus menerus perilaku keagamaan dari orang-orang terdekatnya, terutama orangtua dan anggota keluarga yang lain.
         Religiousitas anak adalah hasil dari suatu proses perkembangan yang berkesinambungan dari lahir sampai menjelang usia remaja. Dalam proses tersebut ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan religiousitas anak, yang salah satunya adalah kognisi. Kognisi difahami sebagai kemampuan mengamati, menyerap pengetahuan serta pengalaman dari luar diri individu[3]. Perkembangan kognisi melewati beberapa fase yang masing-masing memiliki ciri yang berbeda. Pengetahuan dan pengalaman yang masuk pada diri individu hanya akan terserap sesuai dengan tingkat kemampuan kognisinya. Demikian juga pengetahuan dan pengalaman keagamaan. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa pada masa kanak-kanak ini memang merupakan masa di mana mereka hanya sekedar meniru saja seperti teori yang telah dikemukakan oleh Clark.

B.        Religiousitas pada Masa Remaja
         Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progresif.[4] Dinamika perkembangan rasa agama usia remaja ini ditandai dengan berfungsinya hati nurani. Pada masa remaja ini pula sudah mulai berfikir kritis dan abstrak. Jadi tidak heran apabila masa remaja ini mengalami Religious Doubt.
         Religious doubt merupakan keraguan rasa agama yang biasanya Tuhanlah yang menjadi pokok keraguan. Keraguan rasa agama ini biasa terjadi pada masa remaja. Akan tetapi gejala religious doubt ini bisa muncul pada saat usia anak maupun dewasa. Pada masa kanak-kanak bisa terjadi religious doubt karena pada masa ini merupakan masa pencarian keyakinan. Religious doubt yang terjadi terus menerus dan tidak menemukan jawaban akan menimbulkan masalah, salah satunya adalah hilangnya keyakinan. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya religious doubt, di antaranya :
a.       Kemampuan kognisi remaja yang sudah dapat digunakan untuk berfikir secara abstrak dan maknawi.
b.      Religious storoge (gudang keagamaan) yang terbawa dari masa kanak-kanak yang bersifat konkrit, dogmatik, sederhana, ritual, maupun verbal.
c.       Dogmatic teaching pada masa remaja.
d.      Religious teaching dengan kekerasan.
e.       Memiliki teman atau keluarga yang berbeda agama.
f.       Mempertentangkan antara ilmu dan agama.
g.      Adanya organisasi agama atau pemuka agama yang berbeda pendapat dan saling bertentangan.
h.      Kondisi jiwa masing-masin individu.
         Terjadinya keragu-raguan akan menjurus ke arah munculnya konflik dalam diri remaja, sehingga mereka dihadapkan kepada pemilihan antara mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Konflik yang terjadi ada beberapa macam, di antaranya[5]:
a.       Konflik yang terjadi antara percaya dan ragu.
b.      Konflik yang terjadi antara pemilihan satu di antara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan.
c.       Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama atau sekularisme.
d.      Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk Ilahi.
         Usia remaja dikenal sebagai usia rawan. Tingkat keyakinan dan ketaatan beragama pada masa remaja sebenarnya banyak tergantung dari kemampuan mereka dalam menyelesaikan keraguan dan konflik batin yang terjadi dalam diri. Apabila remaja tidak dapat keluar dari konflik yang dialaminya, atau terjadi religious doubt yang berkelanjutan, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah :
a.       Skeptis terhadap bentuk-bentuk keagamaan.
b.      Meninggalkan tugas-tugas keagamaan.
c.       Konfrontasi antara pengetahuan dan agama dengan cara mengagungkan ilmu barat dan membenci ilmu agama.
d.      Terjadinya religious conversion (pindah agama).
Jadi benar sekali apabila usia remaja dikatakan sebagai usia rawan. Apabila remaja tidak bisa menyelesaikan konflik batinnya, maka dampaknya sangat fatal, salah satunya yaitu dapat menafikan keberadaan Tuhan. Na’udhubillahimindhalik.

BAB III
KASUS DAN ANALSIS KASUS
A.    Kasus
         Kasus yang menjadi penelitian dalam makalah ini adalah pengalaman penulis sendiri. Penulis akan menceritakan semua pengalamannya pada saat mengalami religious doubt. Berikut ceritanya :
                                                                                                                                    “Nama saya adalah Afdhol Abdul Hanaf. Secara bahasa Afdhol mempunyai arti utama, Abdul berarti hamba, dan Hanaf (berasal dari kata حنيفا) yang berarti lurus. Inilah maksud orang tua memberi nama Afdhol Abdul Hanaf. Orang tua saya menginginkan anaknya menjadi anak yang diutamakan dan tidak pernah melenceng dari ajaran agama. Orang tua saya dapat dikatakan mempunyai pengetahuan agama walaupun tidak begitu banyak. Dari kecil saya sudah digembleng untuk belajar agama. Walaupun di daerah Sendangsari, Pengasih pada waktu itu belum ada TPA, akan tetapi orang tua saya, terutama ayah saya berusaha dengan keras untuk memberikan pengetahuan agamanya kepada saya. Usaha ayah saya dapat terlihat ketika saya khatam Al-Qur’an yang pada waktu itu saya berumur 7 tahun atau kelas 2 SD. Tidak hanya Al-Qur’an yang beliau ajarkan kepada saya, akan tetapi pengetahuan-pengetahuan lain tentang agamapun beliau ajarkan, walaupun hanya sekedar pengetahuan-pengetahuan yang sederhana saja seperti berbuat baik, tidak boleh berbohong, kisah para nabi, dan sejenisnya.
            Di desa, saya tergolong sebagai anak yang rajin ke Masjid. Minimal setiap maghrib dan ‘isya saya rutin untuk shalat berjamaah di masjid. Setelah selesai shalat maghrib saya selalu membaca Al-Qur’an secara rutin pula. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, hingga akhirnya saya menginjak umur 9 tahun yang pada waktu itu saya duduk di kelas 4 SD. Saya sudah mulai berfikir apakah semua yang diajarkan oleh orang tua saya tentang agama itu memang benar. Apakah memang benar besok setelah mati akan hidup lagi, sampai pada pemikiran apakah Tuhan itu memang benar Ada. Pertanyaan itu yang selalu terngiang-ngiang dalam otakku. Hingga akhirnya saya bertanya kepada ayah saya apakah Tuhan itu benar-benar ada dan Dia kapan mulai ada. Jawaban ayah tidak memuaskan hati saya. Beliau hanya menjawab bahwa Allah itu ada dan dari dulu sudah ada. Hal semacam ini membuat saya menjadi semakin ragu karena ayah pun tidak menjelaskan secara detail sejak kapan Allah itu ada. Saya menjadi semakin ragu dengan jawaban yang dilontarkan oleh ayah. Beliau kemudian menasihati untuk tidak memikirkan hal semacam itu karena akal fikiran manusia tidak bisa menjangkau dan menjawab sejak kapan Allah itu Ada. Jika memikirkan hal semacam itu yang terjadi hanyalah stress. Saya hanya mengucapkan iya kepada ayah dan berusaha untuk melupakan pertanyaan konyol itu. Akan tetapi usaha untuk melupakan pertanyaan itu gagal. Pertanyaan itu selalu menyertai hidupku.
            Masa SD pun telah saya lewati. saya melanjutkan sekolahku ke jenjang SMP. Pada masa SMP inilah pertanyaanku semakin memburu. Saya semakin ragu kepada Tuhan. Saya sudah mencoba untuk berfikiran bahwa Allah itu ada, akan tetapi tetap tidak bisa. Saya juga berfikiran kalau memang Allah itu  Ada, Allah itu tidak Maha Besar, akan tetapi maha kecil. Setiap saya mendengar orang yang menyebut Kebesaran Allah, saya selalu membalikkannya. Kalau Allah ada, Allah tidak Maha Pengasih, Allah tidak Maha Penyayang, dan seterusnya. Saya semakin takut karena saya semakin tidak percaya kepada Tuhan. Padahal saya sangat menginginkan sekali untuk menghilangkan perasaan itu. Saya pun meningkatkan ibadahku kepada Allah agar nantinya saya bisa menghilangkan fikiran buruk saya. Saya memulai dengan shalat 5 waktu berjamaah di masjid secara rutin. Usahaku sia-sia, karena perasaan itu tidak hilang, bahkan semakin menjadi-jadi. Saya semakin tidak percaya kepada Tuhan. Saya pun meningkatkan lagi ibadahku dengan berpuasa senin kamis, shalat dhuha, dan shalat tahajud. Hal ini saya lakukan secara rutin selama 1 tahun lebih. Apabila ada perasaan saya yang menentang keberadaan Tuhan saya selalu mencoba bertahan dan meningkatkan ibadah saya. Usaha saya tetap tidak berhasil, justru dengan cara seperti ini semakin menambah ketidakpercayaan saya. Keinginan saya untuk bisa percaya kepada Tuhan pun tidak tercapai. Padahal saya menginginkan agar saya percaya dengan Tuhan. Setiap hari saya juga berdo’a kepada Allah untuk menghilangkan perasaan semacam itu tapi tidak ada efeknya. Hingga pada akhirnya saya pun semalam suntuk menangis karena hati saya sangat sakit. Sangat sakit karena saya tidak bisa percaya dengan Tuhan yang menjadi keinginan saya. Saya tidak menceritakan kejadian ini dengan orang tua saya sehingga mereka tidak mengetahui apa yang saya alami dan saya rasakan.
            Dengan keraguan, ketidakpercayaan, dan pertanyaan saya yang tidak terjawab sehingga menyakitkan hati bahkan sampai sesak nafas, saya mulai berfikir untuk menurunkan tingkat ibadah saya. Pada akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk menurunkan tiingkat ibadah saya kepada Allah. Pada waktu itu saya menginjak kelas 1 SMA. Majsid pun mulai saya tinggalkan. Shalat tahajud, shalat dhuha, membaca qur’an, dan puasa senin kamis juga saya tinggalkan. Akan tetapi saya masih melaksanakan shalat lima waktu secara rutin walaupun itu hanya semau saya saja. Hasilnya membuktikan bahwa rasa sakit di hati saya mulai berkurang dan tidak dongkol lagi. Hal ini semakin membuktikan bahwa Tuhan memang benar-benar tidak ada. Jika Tuhan ada, pasti Dia membantu saya pada saat saya memaksa diri untuk berfikiran bahwa Tuhan itu ada dan menghilangkan perasaan keraguan yang menyebabkan hati saya sakit.
            Ujian semster dua kelas X SMA pun sudah saya jalani. Kemudian saya duduk di kelas XI IA4. Pada saat kelas XI ini saya menjadi pelatih tonti (pleton inti) di SMA saya. Pada suatu hari ketika saya sedang melatih tonti banyak orang yang kesurupan. Anehnya, setiap orang yang kesurupan kemudian saya dekati, orang yang kesurupan tadi bisa sembuh karena jin yang ada di tubuh orang kesurupan tadi menghilang takut. Hal itu tidak terjadi hanya sekali saja tapi berkali-kali. Apalagi pada saat saya membaca beberapa ayat Al-Qur’an, orang yang kesurupan itu semakin takut kepada saya. Sampai-sampai pada waktu ada orang yang mau kesurupan selalu berlindung kepada saya. Dengan pengalaman seperti ini saya mulai percaya bahwa Tuhan selalu berada di dekat saya dan Tuhan selalu melindungi saya. Pada akhirnya saya percaya 100% bahwa Tuhan memang benar-benar Ada. Sampai sekarang saya tidak meragukan keberadaan Tuhan lagi dan insyaallah sampai kapanpun saya tetap yakin bahwa Allah benar-benar Ada, walaupun pada saat itu dan sampai sekarang ini dalam beribadah sudah tidak serajin dulu lagi.”
         Demikian cerita dari penulis yang mana penulis hampir menafikkan keberadaan Tuhan. Tuhan telah memberi petunjuk kepada penulis untuk kembali ke jalan yang benar. Alhamdulillahirabbil’alamin.
B.     Analisis Kasus
         Dari cerita yang disampaikan penulis di atas dapat diketahui bahwa memang masa remaja sangat wajar mengalami religious doubt. Penulis sendiri mengalami religious doubt itu sendiri sampai-sampai menangis karena terjadi konflik batin. Penulis hampir saja menjadi manusia yang tidak percaya pada Tuhan. Bahkan dari kelas 4 SD yang pada waktu itu masih berumur 9 tahun, penulis sudah merasakan gejala religious dooubt itu sendiri.
         Pada masa kanak-kanak penulis rajin beribadah karena pengaruh dan didikan orang tua. Apa yang diajarkan oleh orang tua selalu di laksanakan. Apa yang dialami penulis sama dengan teori yang dikemukakan oleh Clark bahwa usia anak hanya sebatas meniru apa yang diajarkan dan dilakukan oleh orang dewasa tanpa mau mengetahui makna yang tersirat dari perbuatan itu. Apa yang diajarkan orang tua kepada penulis hampir dilaksanakan seutuhnya tanpa ingin mengetahui makna yang penulis lakukan. Menurut Clark inilah yang disebut sebagai Verbalized and Ritualistic.
           Penulis juga mengalami gejala religious doubt pada usia anak yang terjadi pada umur 9 tahun. Dalam psikologi agama, pada usia remaja bisa terjadi religious doubt. Hal tersebut terjadi karena pada usia anak juga merupakan masa mencari keyakinan. Oleh karena itu terjadinya religious doubt pada usia anak bukanlah suatu kelainan. Hal itu wajar bila terjadi walaupun jarang anak yang mengalaminya.
           Pada usia remaja, penulis semakin mengalami keraguan yang nyata. Rasa keraguan ini memuncak saat penulis berusia 14 tahun, tepatnya saat duduk di bangku SMP. Penulis mengalami konflik batin yang sangat berat untuk dihadapi. Memang pada usia remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak dan masa dewasa yang mana pada masa ini terjadi ketidakstabilan dari segi psikisnya. Masa remaja juga sudah tidak mau lagi menuruti apa yang telah didoktrin dan diajarkan pada masa kanak-kanak karena pada masa remaja ini juga sudah mulai berfikir kritis dan abstrak. Sangat wajar sekali apabila penulis meragukan apa yang dikatakan dan diajarkan orang tua pada masa kanak-kanak. Tidak aneh pula apabila masa remaja mengalami keraguan yang luar biasa.
           Keragu-raguan yang tidak dapat terselesaikan, atau dengan kata lain religious doubt yang berkelanjutan akan menimbulkan masalah yang besar bagi remaja tersebut. Penulis hampir tidak bisa menyelesaikan masalah yang terjadi akibat keragu-raguan ini hingga penulis sudah mulai mengendorkan ibadahnya kepada Allah dan seolah-olah ingin menjauh dari-Nya. Seandainya penulis masih dalam keraguan yang berkelanjutan maka bisa jadi penulis saat ini sudah tidak ber-Tuhan lagi. Akan tetapi penulis bisa mengembalikan keyakinannya dengan pengalaman yang dialami pada saat menjadi pelatih tonti. Hanya dengan ditakuti orang yang kesurupan karena jin, penulis merasa yakin kembali bahwa Allah berada di dekat penulis. Sampai saat ini penulis pun sudah tidak merasa ragu lagi bahwa Allah memang benar-benar ada. Do’a yang dulu pernah diminta kepada penulis agar tidak ragu bahwa Allah benar-benar Ada baru dikabulkan pada umur 16 tahun. Hanya kata syukur alhamdulillah yang dapat penulis ucapkan karena bisa kembali ke jalan yang benar. Wallahu a’lam.

BAB IV
PENUTUP
           Masa merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pada usia ini remaja mengalami ketidakstabilan dan kegoncangan dari segi psikisnya sehingga tidak mengherankan apabila banyak remaja melakukan tindakan yang menyimpang dari norma. Masa remaja juga merupakan masa awal kemandirian karena masa remaja sudah mulai berfikir kritis, abstrak, dan maknawi. Dengan emosi yang labil dan pola pikir yang mulai kritis inilah menimbulkan keraguan dalam keagamaan yang sering disebut sebagai religious doubt.
           Religious doubt ini pernah dialami oleh penulis. Penulis mengalami keraguan tentang keberadaan Allah. Keraguan ini memuncak pada usia 14 tahun sehingga penulis menggunakan berbagai cara untuk menghilangkan keraguan tersebut. Akan tetapi keraguan itu tidak kunjung hilang, justru malah semakin menjadi. Pada akhirnya penulis mulai mengendorkan ibadahnya kepada Allah SWT.
           Religious doubt yang berkelanjutan akan mengakibatkan masalah besar bagi remaja, salah satunya adalah dengan menafikan keberadaan Allah. Dengan menafikan Allah berarti ia juga tidak mempercayai adanya Allah. Penulis hampir mengalami hal semacam itu akan tetapi penulis kembali ke kepercayaannya karena sebuah pengalaman. Menurut penulis, pengalaman ini menjadi jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang hingga terjadi religious doubt.







DAFTAR PUSTAKA
Susilaningsih. Handout Perkembangan Religiousitas Usia Anak.
Baharudin.2008. Psikologi Agama dalam Perspektif Islam. Malang:UIN-Malang Press.
Jalaludin. 2010. Psikologi Agama. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.


[1] Susilaningsih. Handout Perkembangan Religiousitas Usia Anak. Halaman 3.
[2] Baharudin.2008. Psikologi Agama dalam Perspektif Islam. Malang:UIN-Malang Press. Halaman 113.
[3] Ibid. Halaman 5.
[4] Jalaludin. 2010. Psikologi Agama. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada. Halaman 74.
[5] Ibid. Halaman 80.

Subjek dan Objek Penelitian


SUBJEK DAN OBJEK PENELITIAN
Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, dkk
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur dengan hati dan pikiran yang tulus kehadirat Allah SWT, karena berkat nikmat, ma’unah dan hidayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik tanpa ada halangan apapun.
            Shalawat dan salam dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang setia mengorbankan jiwa raga dan lainnya untuk tegaknya syi’ar islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
            Selanjutnya makalah ini disusun dalam rangka untuk menambah wawasan bagi pembaca untuk lebih mengenal dan memahami tentang metode dalam penelitian, khususnya makalah ini membahas tentang subjek dan objek penelitian. Terlepas dari itu makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Metode Penelitian dengan dosen pengampu Dr. Karwadi.
            Disadari bahwa tulisan ini masih banyak memiliki kekurangan, baik dari segi isi, bahasa, analisis, dan lain sebagainya. Untuk ini, saran dan kritik pembaca dengan senang hati akan penulis terima, diiringi ucapan terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb


                                                                                                   Yogyakarta, 5 Desember 2011


      Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Untuk mengetahui sesuatu yang masih asing dan sama sekali baru, seorang peneliti dapat diumpamakan seperti orang baru yang baru saja tiba di kota atau negara baru. Semuanya tampak asing. Mau pergi ke manapun ia tidak tahu letaknya, padahal mungkin jaraknya dekat dan banyak kendaraan seperti taksi, bus, becak, dan sepeda. Banyak dan sering dijumpai orang-orang lewat di sekitarnya, mau bertanya juga kurang berani karena mungkin beda budaya, beda kepentingan, dan mengganggu kesibukan orang lain. Banyak kenalan di tempat tinggal yang lama tetapi jauh tempat tinggalnya dan tidak tahu nomor telepon untuk menghubunginya. Orang lain disekitarnya juga menganggap asing terhadap dia. Dia memerlukan bantuan agar dapat memecahkan masalah keterasingannya tersebut. Tetapi siapa dan ke mana agar memperoleh bantuan yang berarti?
Untuk dapat memecahkan masalah tersebut kita harus mengetahui ilmu atau metodologinya, dalam makalah ini akan kita bahas tentang komponen atau langkah awal penelitian yaitu menentukan subjek penelitian dan objek penelitian, karena apabila kita ingin meneliti sesuatu, terlebih dahulu kita menentukan subjeknya kalau kita sudah menentukan subjeknya maka kita akan menentukan apa yang akan kita teliti (objeknya).

B. Rumusan Masalah
Supaya kita lebih mengetahui dan memahaminya maka kita perlu membuat rangkaian-rangkaian permasalahan seperti dibawah ini :
1. pengertian tentang subjek dan objek penelitian?
2. contoh subjek penelitian dan objek penelitian?
C. Tujuan 
1.    mengetahui pengertian subjek dan objek penelitian
2.     Mengetahui  sampel subjek dan objek penelitian
3.     Mengetahui perbedaan antara subjek penelitian dan objek penelitian.

BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian
A.1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah sesuatu yang diteliti baik orang, benda, ataupun lembaga (organisasi) . Subjek penelitian pada dasarnya adalah yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian. Di dalam subjek penelitian inilah terdapat objek penelitian. [1]
A.2. Objek Penelitian
            Objek penelitian adalah sifat keadaan dari suatu benda, orang, atau yang menjadi pusat perhatian dan sasaran penelitian. Sifat keadaan dimaksud bisa berupa sifat, kuantitas, dan kualitas yang bisa berupa perilaku, kegiatan, pendapat, pandangan penilaian, sikap pro-kontra, simpati-antipati,keadaan batin, dan bisa juga berupa proses.
B.            Sampel Subjek dan Objek Penelitian
Sampel penelitian adalah sebagian dari “anggota” populasi penelitian yang terhadapnya pengumpulan data dilakukan. Hasil pengumpulan data dari sampel tersebut kemudian diberlaku-umumkan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi.
Sampel subjek penelitian : Jika anggota populasi banyak sekali, biasanya yang akan ditanyai (diteliti secara langsung) tentulah tidak semuanya, karena terlampau memakan waktu, energi dan biaya. Jadi, yang akan diteliti hanyalah sebagian dari mereka. Sebagian anggota populasi yang diteliti dari seluruh anggota populasi itu disebut sebagai sampel penelitian.
Sampel Objek Penelitian : Contoh peristiwa pengambilan sampel dari populasi objek penelitian adalah mengetes hasil belajar siswa sejak kelas pertama sampai kelas akhir suatu jenjang pendidikan (SD, SMTP, SMTA) lewat UNAS atau UAN. Pertama, dari seluruh mata pelajaran yang harus dikuasai murid hanya beberapa mata pelajaran yang diteskan (sampel mata pelajaran). Kemudian dari beberapa mata pelajaran tersebut hanya beberapa butir materinya saja dari sekian banyak butir pengetahuan atau ilmu yang dipelajari semasa bersekolah.
C.    Memilih Calon Subjek Penelitian
Apabila peneliti telah berhasil menyimpulkan bahwa penelitiannya dapat dilaksanakan di daerah tertentu, maka langkah selanjutnya adalah menata lahan. Dalam hal ini peneliti menyiapkan subjek penelitian. Langkah penyiapan lahan ini dilakukan agar segala sesuatu yang diinginkan sudah siap. Peneliti sendiri sudah siap dengan instrumen. Kini data yang akan dikumpulkan dengan instrumen sudah diambang pintu karena sudah menempel pada subjek penelitian yang sudah disiapkan.
Di dalam menentukan subjek penelitian, peneliti harus berfikir tentang dua hal, yaitu subjek untuk uji instrumen pengumpulan data dan subjek untuk pengambilan data. Untuk pengambilan kedua subjek ini, peneliti harus mengarahkan perhatiannya pada pengertian tentang populasi dan sempel. Pengambilan subjek tersebut harus dikaitkan dengan strategi penelitian yang akan dilakukan. Tiga strategi penelitian itu adalah
1.     

Subjek sedikit
 
Penelitian Kasus, yaitu penelitian yang dilakukan dalam lingkup terbatas dengan subjek penelitian yang sedikit dan kesimpulannya hanya berlaku bagi subjek yang diteliti.














Berlaku bagi Subjek Sedikit
 



Disimpulkan
 





 



2.      Penelitian Populasi, yaitu penelitian yang dilakukan terhadap lingkupan yang luas, dengan semua subjek penelitian dan kesimpulannya berlaku bagi semua subjek penelitian itu.














Populasi
 






Diteliti
 


Disimpulkan
 




Berlaku Bagi Populasi
 






 



3.      Penelitian Sampel, yaitu penelitian yang dilakukan terhadap sebagian dari populasi, akan tetapi hasil penelitiannya berlaku bagi semua subjek yang tergabung pada populasi itu.


Sampel
 


berlaku bagi populasi
 

Diteliti
 

Disimpulkan
 


D.           Contoh Subjek dan Objek Penelitian
Pada waktu peneliti merasakan ada sesuatu yang ingin dicari jawabannya melalui penelitian, atau dengan kata lain peneliti tersebut mempunyai suatu problematika sehingga harus diteliti, mungkin sekali bahwa peneliti sudah terpikirkan problematika tersebut ada pada siapa atau untuk subjek yang mana. Sebagai contoh masalah yang akan diteliti oleh peneliti adalah “Apakah pemberian PR setiap hari berpengaruh terhadap tingkat kebencian siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Islam?”[2] Maka dapat diidentifikasi bahwa :
4.      Siswa merupakan subjek dari penelitian ini karena siswa merupakan tempat variabel melekat, yaitu yang diberi PR setiap hari dan yang diukur benci atu tidaknya terhadap pelajaran. Siswa merupakan orang tempat variabel berada. Dalam hal ini  siswa dapat diberi pertanyaan langsung tentang variabel yang diteliti. Disamping sebagai subjek penelitian, siswa juga diposisikan sebagai responden dalam penelitian ini karena siswa adalah sumber data. Kita dapat memperoleh data penelitian dari seorang siswa atau beberapa siswa (sampel).
5.    Guru agama bukan merupakan subjek penelitian karena bukan merupakan tempat variabel yang diteliti. Akan tetapi guru dapat diartikan bahwa guru merupakan sumber penelitian tidak langsung karena guru tersebut adalah pihak yang memberi PR dan mengetahui tentang data variabel. Guru memiliki posisi sebagai responden karena dapat memberi jawaban atau informasi sehingga peneliti dapat memperoleh data darinya.
6.      Kepala sekolah bukan sebagai subjek penelitian karena kedudukannya diragukan sebagai responden, sehingga diragukan juga sebagai sumber data.
7.      Orang tua siswa bukan subjek, tetapi dapat dijadikan sebagai responden dan sumber data.
Dari contoh-contoh diatas dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan subjek, responden, dan sumber data penelitian bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Dengan mencoba mempertimbangkan kedudukan masing-masing pihak untuk variabel hubungan antara pemberian PR setiap hari dengan kebencian siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam, urutan kejelasan dari subjek penelitian, responden, dan sumber data adalah sebagai berikut :
1.      Siswa                    : subjek, responden, dan sumber data
2.      Guru PAI             : responden dan sumber data
3.      Orang tua siswa   : responden dan sumber data.
4.      Kepala sekolah lebih baik tidak diambil sebagai responden maupun sumber data, karena diragukan pengetahuannya tentang data yang dimaksudkan pada topik.
Sedangkan objek penelitian dari contoh di atas adalah kebencian siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dikarenakan mendapatkan PR setiap hari.
E.            Besarnya Subjek Penelitian
Pada umumnya peneliti menginginkan untuk mempunyai subjek penelitian yang cukup banyak agar data yang diperoleh cukup banyak pula. Dengan data yang banyak, gambaran kesimpulannya pun menjadi mantap. Namun tidak selamanya keinginan peneliti tersebut terpenuhi. Karena ada kendala tenaga, waktu, dan dana, peneliti terpaksa membatasi banyaknya subjek penelitian disesuaikan dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Jika peneliti memang terpaksa mengambil langkah yang demikian, timbul masalah bagaimana peneliti harus menentukan data yang lebih urgen. Dengan kata lain peneliti harus betul-betul memikirkan bagaimana menentukan sampel representatif.
Sebagai langkah pertama dari penentuan sampel adalah membuat batasan tentang ciri-ciri populasi. Misalnya peneliti menentukan subjek penelitiannya adalah “anak putus sekolah”. Yang menjadi target populasi meliputi semua anak yang pernah putus sekolah, baik SD, SMP ataupun SMA. Jika batasan tersebut ditambah dengan satu cirim misalnya “anak putus Sekolah Dasar” maka lingkup populasinya semakin menyempit. Anak dari SMP atau SMA tidak dapat masuk ke dalam subjek penelitian. Jika peneliti menambah satu cari lain, misalnya “anak putri putus Sekolah Dasar” maka lingkup populasi yang akan diteliti akan semakin menyempit lagi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin banyak ciri atau karakteristik yang ada pada populasi, akan semakin sedikit subjek yang tercakup dalam populasi, begitu pula sebaliknya
BAB III
PENUTUP
Subjek penelitian dan objek  penelitian merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan ketika melakukan suatu penelitian. Subjek penelitian adalah benda, hal atau orang tempat variabel penelitian melekat, Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Jika kita bicara tentang subjek penelitian, sebetulnya kita berbicara tentang unit analisis, yaitu subjek yang menjadi pusat perhatian atau sasaran peneliti.
Objek penelitian adalah sifat keadaan dari suatu benda, orang, atau keadaan, yang menjadi pusat perhatian atau sasaran penelitian. Sifat keadaan dimaksud bisa berupa sifat, kuantitas, dan kualitasnya yang bisa berupa perilaku, kegiatan, pendapat, pandangan penilaian, sikap pro-kontra atau simpati-antipati,keadaan batin, dan bisa pula berupa proses
DAFTAR PUSTAKA
Saifuddin, Azwar. 1998. Metode Penelitian.  Yogyakarta : Pustaka pelajar.
http://stitattaqwa.blogspot.com/2011/07/subjek-penelitian-dan-responden.html)
















[1] Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, Yogyakarta : Pustaka pelajar, 1998, hlm.35.
[2] (http://stitattaqwa.blogspot.com/2011/07/subjek-penelitian-dan-responden.html)