Subscribe Us

Welcome to our website. Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum dolor.

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes. Ne per probo magna idque, est veniam exerci appareat no. Sit at amet propriae intellegebat, natum iusto forensibus duo ut. Pro hinc aperiri fabulas ut, probo tractatos euripidis an vis, ignota oblique.

Ad ius munere soluta deterruisset, quot veri id vim, te vel bonorum ornatus persequeris. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Penerapan Budaya Positif di Sekolah melalui Inkuiri Apresiatif (Penerapan Karakter Religius Peserta Didik melalui Kegiatan Keagamaan sebagai Budaya Sekolah)

RENCANA AKSI NYATA

 INKUIRI APRESIATIF

Oleh : Afdhol Abdul Hanaf [14D]

 

 

“Penanaman Karakter Religius Peserta Didik melalui Kegiatan Keagamaan sebagai Budaya Sekolah”

 

A.        Latar Belakang

Pendidikan karakter merupakan usaha sadar dan terencana dalam mendidikan, menuntun, dan mengasah potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.

Pendidikan karakter religius menjadi perlu dilaksanakan di masing-masing sekolah, mengingat dekadensi moral telah melanda peserta didik di Indonesia. Pengamalan-pengamalan syariat agama, perbuatan-perbuatan yang bertolak belakang dengan aturan agama, serta toleransi antar umat beragama nampak kian luntur. Oleh karena itu, pendidikan karakter religius merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan di masing-masing sekolah sehingga terbentuk peserta didik yang berakhlak mulia,

Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah akan berjalan dengan baik manakala disesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar sekolah, kondisi peserta didik, maupun keinginan peserta didik itu sendiri. Adapun di wilayah lingkungan SMA Negeri 1 Kokap, terdapat pondok pesantren Nurul Qur’an, dan beberapa peserta didik merupakan santri dari pondok pesantren tersebut. Menjadi sebuah kekuatan apabila penanaman karakter peserta didik di SMA Negeri 1 Kokap menonjolkan karakter religius dengan mengembangkan kegiatan keagamaan sebagai budaya sekolah.

 

B.        Tujuan

Kegiatan aksi nyata ini bertujuan agar peserta didik dapat,

1.     Menggali dan mengembangkan pendidikan karakter religius di SMA Negeri 1 Kokap sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar dan keinginan peserta didik

2.     Memiliki karakter religius dengan selalu taat kepada ajaran agama yang dianutnya

 

C.        Tolok Ukur

Keberhasilan Aksi Nyata bisa diketahui bila,

1.     Peserta didik dapat menggali dan mengembangkan pendidikan karakter religius di SMA Negeri 1 Kokap sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar dan potensi yang dimilikinya.

2.     Peserta didik melaksanakan kegiatan keagamaan di sekolah dengan tertib dan disiplin sesuai dengan kegiatan keagamaan yang telah dirancang bersama-sama seusai dengan kondisi lingkungan dan potensi peserta didik.

 

 

 

 

D.        Linimasa

 

No

Kegiatan

Waktu

1

Penyusunan rencana bersama dengan kepala sekolah, guru, perwakilan peserta didik, orangtua, dan tokoh masyarakat

04 Janari2021

2

Sosialisasi

05-15 Januari 2021

3

Pelaksanaan aksi nyata

16 Januari 2021 dan seterusnya

4

Evaluasi kegiatan

31 Januari 2021

5

Tindak lanjut

Disesuaikan dengan hasil evaluasi

 

 

 

E.        Dukungan

1.     Kepala sekolah

2.     Guru

3.     Tenaga kependidikan

4.     Wali kelas

5.     Komite sekolah dan orangtua

6.     Sarana prasarana di sekolah

 


Merdeka Belajar dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMA Negeri 1 Kokap

PGP-Angkatan 1-Kab. Kulon Progo-Afdhol Abdul Hanaf-Modul 1.2.a.11-Rancangan Aksi

 

 

Latar Belakang

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Secara umum, tugas guru dalam pendidikan adalah sebagai pendidik, elatih, dan penuntun peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki peserta didik.Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pendidikan yang ideal belum terlaksana secara efektif. Pembelajaran yang dilakukan masih bersifat tradisional, kurang menarik, dan tidak berpihak pada peserta didik. Untuk itu diperlukan perubahan pembelajaran di mana nilai-nilai kemandirian,reflektif, kolaboratif, dan berpihak pada peserta didik harus dilaksanakan dalam pelaksanaan pembelajaran.

 

Tujuan

Terciptanya perubahan pembelajaran yang lebih menarik, variatif, kolaboratif, reflektif, dan berpihak pada peserta didik.

 

Tolok Ukur

1.     Pembelajaran yang bervariasi

2.     Proses pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan berpihak pada peserta didik.

3.     Peserta didik tidak bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran

4.     Peserta didik dapat membuat penugasan dengan rasa senang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

5.     Peserta didik mampu merefleksikan diri

 

Linimasa Tindakan yang Akan Dilakukan

1.     Membuat kesepakatan kelas (kontrak belajar) yang dibuat bersama dengan peserta didik.

2.     Melakukan refleksi atas kontrak belajar yang telah disepakati bersama.

3.     Membentuk kelompok untuk berdiskusi mengenai materi yang dipelajari, sekaligus membuat media sajian sesuai dengan yang diinginkan oleh peserta didik (dapat berupa powerpoint, mind map, video pendek, bercerita di depan kelas, drama, dan lain-lain, sesuai dengan potensi yang dimiliki kelompok).

4.     Setiap kelompok menyajikan media sajian yang telah mereka buat dengan senang, bahagia, dan merdeka. Peserta didik yang tidak presentasi dapat memberikan tanggapan, masukan yang membangun, serta apresiasi kepada peserta didik yang presentasi.

5.     Guru bersama dengan peserta didik melalukan evaluasi dan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

 

Dukungan yang Diperlukan

1.     Kepala sekolah

2.     Guru

3.     Orang tua / wali peserta didik

4.     Peserta didik

5.     Alat, media, dan sumber pembelajaran

 

RENCANA KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DA’I

SMA NEGERI 1 KOKAP

 

PGP - 1 -  Kab. Kulon Progo - Afdhol Abdul Hanaf - 1.1 - Rancangan Aksi

 

 

A.   Latar Belakang

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan non-pelajaran formal yang dilakukan peserta didik di luar jam pelajaran dengan tujuan mendapatkan tambahan pengetahuan, keterampilan, dan wawasan, serta membantu membentuk karakter peserta didik sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonseia Nomor 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan menengah menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan. Kkegiatan ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional.[1]

Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah merupakan cara yang efektif untuk menggabungkan bakat dan minat peserta didik. Salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dikembangkan adalah kegiatan sertivikasi da’i. Kegiatan sertivikasi da’i merupakan suatu kegiatan ekstrakurikuler dengan menitikberatkan kepada kemampuan berbicara dengan baik, mengajak kepada ketaatan beragama serta mengajak amar ma’ruf nahi munkar.

Kegiatan ekstrakurikuler da’i dipandang perlu dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kokap mengingat masih rendahnya kesadaran keagamaan peserta didik. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya kesadaran peserta didik untuk melaksanakan shalat dhuhur berjama’ah maupun shalat jum’at di sekolah,  belum tertibnya shalat lima waktu, serta kurangnya kemampuan verbal peserta didik ketika berbicara di depan umum. Dengan adanya ekstrakurikuler sertivikasi da’i di SMA Negeri 1 Kokap diharapkan mampu menjadi wadah dari bakat dan minat peserta didik sekaligus mengurangi permasalahan-permasalahan pendidikan agama Islam di sekolah.

B.   Tujuan

Maksud dan tujuan diadakannya ekstrakurikuler da’i adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;

2.  Melatih sikap disiplin, jujur, percaya diri, dan tanggungjawab dalam melaksanakan tugas;

3.  Memberikan peluang kepada peserta didik untuk memiliki kemampuan dalam berkomunikasi secara verbal maupun non verbal;

4.  Meningkatkan pemahaman terhadap pengetahuan agama sekaligus mengembangkan pengamalan agama dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya;

5.       Menumbuhkan akhlak dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam;

6.   Mempersiapkan diri dalam kegiatan lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) cabang pidato agama yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga pada setiap tahunnya; serta

7.   Mengembangkan potensi peserta didik untuk menjadi seorang da’i, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

C.   Tolok Ukur

1.    Peserta didik berperan aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler da’i.

2.    Peserta didik memiliki peningkatan kemampuan dalamberkomunikasi, baik secara verbal maupun non verbal.

3.    Peserta didik melaksanakan kegiatan keagamaan di sekolah, seperti shalat dzuhur dan lain-lain.

4.    Peserta didik melaksanakan nilai-nilai ajaran agama Islam di sekolah.

5.    Peserta didik mampu berdakwah.

D.   Lini Masa Kegiatan

1.    Melaksanakan izin kepada kepala sekolah (o4 November 2020)

2.    Menyusun rencana program ekstrakurikuler da’i (04-05 November 2020)

3.    Memberikan angket kepada peserta didik tentang kegiatan ekstrakurikuler da’i (09 – 12 November 2020)

4. Pelaksanaan kegiatan (16 – 20 November 2020 dan dilanjutkan menjadi kegiatan ekstrakurikuler di semester 2)

E.    Dukungan yang Diperlukan

1.    Kepala SMA Negeri 1 Kokap

2.    Bapak/ ibu guru dan karyawan SMA Negeri 1 Kokap

3.    Pembimbing kegiatan

4.    Tempat pelaksanaan kegiatan yang sesuai



[1] Salinan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Pasal 1 ayat 1 dan Pasal 2.

PARADIGMA STUDENT CENTERED LEARNING PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA

PARADIGMA STUDENT CENTERED LEARNING PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA

Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, S. Pd. I, M. Pd

Guru SMA Negeri 1 Kokap, CGP Angkatan 1 Kelas 14-D

 

 

Dinamika pendidikan di Indonesia dapat dikatakan selalu dinamis mengikuti arus globalisasi. Terhitung beberapa kali sistem pendidikan di Indonesia mengalami perubahan guna menemukan bentuk terbaik dalam memacu kemajuan masyarakat. Namun, disadari ataupun tidak, berbagai perubahan nampaknya belum mampu membentuk komposisi pendidikan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat pada kurikulum pendidikan yang masih bersifat teoritis dan pembelajaran yang belum mampu memerdekakan peserta didik. Pada akhirnya, peserta didik tidak dapat berbuat banyak setelah mereka menyelesaikan pendidikannya.

Peserta didik merupakan icon terpenting dalam pendidikan. Seperti apa yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”. Hal yang perlu digarisbawahi pada uraian di atas adalah bahwa suasana belajar dan proses pendidikan harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik sehingga dapat mengasah sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilannya. Namun ketika kita melihat realita pendidikan saat ini, pelaksanaan pendidikan ternyata masih bersifat tradisional, di mana pembelajaran masih cenderung terpusat kepada guru, guru masih diposisikan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang kuat, metode pembelajaran yang belum mampu menyelesaikan problematika peserta didik, dan guru masih menuntut berbagai macam tugas yang mungkin hal tersebut sangat tidak diinginkan oleh peserta didik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa model pembelajaran tradisional memang masih banyak digunakan oleh para pendidik. Meskipun kurikulum 2013 merancang dan mendorong untuk melaksanakan pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik, akan tetapi paradigma pendidikan tradisional masih melekat pada semua kalangan. Hal tersebut juga penulis rasakan ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah, di mana seorang guru masih dianggap sebagai orang yang serba bisa serta posisi peserta didik yang hanya melakukan aktivitas-aktivitas sesuai dengan petunjuk guru. Bahkan, tidak sedikit para pendidik yang menuntut kepada peserta didik untuk menguasai berbagai macam mata pelajaran tanpa melihat kodrat alam dan kodrat zaman saat ini. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan hanya berfokus pada transfer of knowledge, sehingga kegiatan pembelajaran akan selalu terfokus pada materi. Oleh karena itu, mereka hanya akan mendapatkan pemahaman materi dan tidak mampu menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Konsep pendidikan yang masih menggunakan paradigma pembelajaran tradisional mau tidak mau haruslah segera dirubah. Transformasi pendidikan harus dilakukan demi menyongsong Indonesia emas 2045. Sebagai icon utama dalam pendidikan, peserta didik harus dijadikan sebagai pusat pembelajaran atau yang kemudian disebut sebagai student centered learning. Pemikiran ini sebenarnya telah ada sejak tahun 1922 silam oleh bapak pendidikan Indonesia, yakni Ki Hajar Dewantara . Beliau menyampaikan bahwa pendidikan merupakan kegiatan menuntun kodrat peserta didik agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kata “menuntun kodrat peserta didik” memiliki makna bahwa kegiatan pendidikan bukanlah mencetak peserta didik sesuai dengan yang kita inginkan, namun lebih kepada mengasah dan mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya.

Pengembangan pendidikan yang berpusat kepada peserta didik menurut Ki Hajar Dewantara tidak serta merta hanya merancang dam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik saja. Segala aspek kegiatan pendidikan haruslah fokus kepada pengembangan kodrat, potensi, bakat, dan minat peserta didik. Itu artinya bahwa seorang pendidik haruslah mampu mendidik secara totalitas dalam mengembangkan potensi peserta didik tersebut. Maka tidak heran apabila beliau menyampaikan  “seorang pendidik harus bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta suatu hak, melainkan untuk menghamba pada sang anak.”

Konsep menghamba kepada sang anak menurut Ki Hajar Dewantara pada hakekatnya adalah membimbing, menuntun, dan mendampingi peserta didik secara ikhlas serta menyadari kebutuhan anak didiknya sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengan kondisi fisik, mental, minat, bakat, dan potensinya. Dalam menuntun dan membimbing peserta didik, Ki Hajar Dewantara menyampaikan trilogi pendidikannya, yakni “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Ing madya mangun karsa memiliki arti bahwa seorang pendidik harus mampu memberikan teladan kepada para peserta didik. Apalah artinya seorang guru yang mengajarkan kebaikan kepada peserta didik, namun tidak mampu memberikan teladan kepada mereka. Justru,peserta didik akan lebih cenderung melakukan apa yang guru lakukan daripada melakukan apa yang dinasihati oleh guru.

Ing madya mangun karsa, memiliki makna bahwa guru harus mampu berbaur ataupun masuk ke dalam kehidupan peserta didik, mengetahui karakteristik masing-masing peserta didik, membangun semangat, kemauan, serta memberikan motivasi kepada mereka. Sunan Kalijaga menganalogikan hal tersebut menggunakan bahasa jawa sebagai berikut, “anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli.” Apabila dikaitkan dengan pendidikan, kalimat tersebut memiliki makna ikutilah alur perkembangan peserta didik dan masuklah di dalamnya. Akan tetapi jangan masuk untuk mengubah aliran itu. Bimbinglah dan arahkan mereka agar tetap berada pada jalan yang benar.

Tut wuri handayani, memiliki makna memberikan dorongan moral maupun dorongan semangat kepada peserta didik dari belakang tanpa harus mengaturnya. Oleh karena itu semboyan tut wuri handayani ini juga menyiratkan prinsip kemandirian yang harus ditanamkan pada diri peserta didik. Peserta didik yang mandiri adalah mereka yang mampu mengetahui diri sendiri, mengandalkan kemampuannya, dan melakukan kegiatan atau menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi sesuai dengan kemampuannya. Hal ini tidak akan terwujud manakala guru selalu mengatur, mengharuskan, dan mengarahkan secara paksa untuk selalu mengikuti apa yang diinginkan oleh guru tersebut.

Trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara menyiratkan bahwa student centered learning atau kegiatan pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik harus dilaksanakan secara totalitas oleh seorang guru. Pada tahap pelaksanaannya, guru memiliki andil yang sangat besar sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan mampu mengasah potensi-potensi yang dimiliki peserta didik. Hal sederhana yang dapat dilakukan oleh guru ketika melaksanakan pembelajaran adalah dengan menanyakan kabar, memberikan motivasi sebelum kegiatan pembelajaran, melakukan observasi karakteristik peserta didik, melaksanakan pembelajaran secara kontekstual (disesuaikan dengan budaya sekitar dan apa yang dialami peserta didik), memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada peserta didik dalam penugasan proyek, serta model/ strategi pembelajaran lain yang dapat mengasah potensi peserta didik sesuai dengan kemampuannya tanpa harus memaksanya. Dengan adanya hal tersebut, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan dapat mengasah potensi masing-masing peserta didik sehingga menghasilkan pembelajaran yang efektif dan efisien.