Subscribe Us

Welcome to our website. Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum dolor.

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes. Ne per probo magna idque, est veniam exerci appareat no. Sit at amet propriae intellegebat, natum iusto forensibus duo ut. Pro hinc aperiri fabulas ut, probo tractatos euripidis an vis, ignota oblique.

Ad ius munere soluta deterruisset, quot veri id vim, te vel bonorum ornatus persequeris. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

PARADIGMA STUDENT CENTERED LEARNING PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA

PARADIGMA STUDENT CENTERED LEARNING PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA

Oleh: Afdhol Abdul Hanaf, S. Pd. I, M. Pd

Guru SMA Negeri 1 Kokap, CGP Angkatan 1 Kelas 14-D

 

 

Dinamika pendidikan di Indonesia dapat dikatakan selalu dinamis mengikuti arus globalisasi. Terhitung beberapa kali sistem pendidikan di Indonesia mengalami perubahan guna menemukan bentuk terbaik dalam memacu kemajuan masyarakat. Namun, disadari ataupun tidak, berbagai perubahan nampaknya belum mampu membentuk komposisi pendidikan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat pada kurikulum pendidikan yang masih bersifat teoritis dan pembelajaran yang belum mampu memerdekakan peserta didik. Pada akhirnya, peserta didik tidak dapat berbuat banyak setelah mereka menyelesaikan pendidikannya.

Peserta didik merupakan icon terpenting dalam pendidikan. Seperti apa yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”. Hal yang perlu digarisbawahi pada uraian di atas adalah bahwa suasana belajar dan proses pendidikan harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik sehingga dapat mengasah sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilannya. Namun ketika kita melihat realita pendidikan saat ini, pelaksanaan pendidikan ternyata masih bersifat tradisional, di mana pembelajaran masih cenderung terpusat kepada guru, guru masih diposisikan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang kuat, metode pembelajaran yang belum mampu menyelesaikan problematika peserta didik, dan guru masih menuntut berbagai macam tugas yang mungkin hal tersebut sangat tidak diinginkan oleh peserta didik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa model pembelajaran tradisional memang masih banyak digunakan oleh para pendidik. Meskipun kurikulum 2013 merancang dan mendorong untuk melaksanakan pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik, akan tetapi paradigma pendidikan tradisional masih melekat pada semua kalangan. Hal tersebut juga penulis rasakan ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah, di mana seorang guru masih dianggap sebagai orang yang serba bisa serta posisi peserta didik yang hanya melakukan aktivitas-aktivitas sesuai dengan petunjuk guru. Bahkan, tidak sedikit para pendidik yang menuntut kepada peserta didik untuk menguasai berbagai macam mata pelajaran tanpa melihat kodrat alam dan kodrat zaman saat ini. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan hanya berfokus pada transfer of knowledge, sehingga kegiatan pembelajaran akan selalu terfokus pada materi. Oleh karena itu, mereka hanya akan mendapatkan pemahaman materi dan tidak mampu menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Konsep pendidikan yang masih menggunakan paradigma pembelajaran tradisional mau tidak mau haruslah segera dirubah. Transformasi pendidikan harus dilakukan demi menyongsong Indonesia emas 2045. Sebagai icon utama dalam pendidikan, peserta didik harus dijadikan sebagai pusat pembelajaran atau yang kemudian disebut sebagai student centered learning. Pemikiran ini sebenarnya telah ada sejak tahun 1922 silam oleh bapak pendidikan Indonesia, yakni Ki Hajar Dewantara . Beliau menyampaikan bahwa pendidikan merupakan kegiatan menuntun kodrat peserta didik agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Kata “menuntun kodrat peserta didik” memiliki makna bahwa kegiatan pendidikan bukanlah mencetak peserta didik sesuai dengan yang kita inginkan, namun lebih kepada mengasah dan mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya.

Pengembangan pendidikan yang berpusat kepada peserta didik menurut Ki Hajar Dewantara tidak serta merta hanya merancang dam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik saja. Segala aspek kegiatan pendidikan haruslah fokus kepada pengembangan kodrat, potensi, bakat, dan minat peserta didik. Itu artinya bahwa seorang pendidik haruslah mampu mendidik secara totalitas dalam mengembangkan potensi peserta didik tersebut. Maka tidak heran apabila beliau menyampaikan  “seorang pendidik harus bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta suatu hak, melainkan untuk menghamba pada sang anak.”

Konsep menghamba kepada sang anak menurut Ki Hajar Dewantara pada hakekatnya adalah membimbing, menuntun, dan mendampingi peserta didik secara ikhlas serta menyadari kebutuhan anak didiknya sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengan kondisi fisik, mental, minat, bakat, dan potensinya. Dalam menuntun dan membimbing peserta didik, Ki Hajar Dewantara menyampaikan trilogi pendidikannya, yakni “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Ing madya mangun karsa memiliki arti bahwa seorang pendidik harus mampu memberikan teladan kepada para peserta didik. Apalah artinya seorang guru yang mengajarkan kebaikan kepada peserta didik, namun tidak mampu memberikan teladan kepada mereka. Justru,peserta didik akan lebih cenderung melakukan apa yang guru lakukan daripada melakukan apa yang dinasihati oleh guru.

Ing madya mangun karsa, memiliki makna bahwa guru harus mampu berbaur ataupun masuk ke dalam kehidupan peserta didik, mengetahui karakteristik masing-masing peserta didik, membangun semangat, kemauan, serta memberikan motivasi kepada mereka. Sunan Kalijaga menganalogikan hal tersebut menggunakan bahasa jawa sebagai berikut, “anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli.” Apabila dikaitkan dengan pendidikan, kalimat tersebut memiliki makna ikutilah alur perkembangan peserta didik dan masuklah di dalamnya. Akan tetapi jangan masuk untuk mengubah aliran itu. Bimbinglah dan arahkan mereka agar tetap berada pada jalan yang benar.

Tut wuri handayani, memiliki makna memberikan dorongan moral maupun dorongan semangat kepada peserta didik dari belakang tanpa harus mengaturnya. Oleh karena itu semboyan tut wuri handayani ini juga menyiratkan prinsip kemandirian yang harus ditanamkan pada diri peserta didik. Peserta didik yang mandiri adalah mereka yang mampu mengetahui diri sendiri, mengandalkan kemampuannya, dan melakukan kegiatan atau menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi sesuai dengan kemampuannya. Hal ini tidak akan terwujud manakala guru selalu mengatur, mengharuskan, dan mengarahkan secara paksa untuk selalu mengikuti apa yang diinginkan oleh guru tersebut.

Trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara menyiratkan bahwa student centered learning atau kegiatan pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik harus dilaksanakan secara totalitas oleh seorang guru. Pada tahap pelaksanaannya, guru memiliki andil yang sangat besar sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan mampu mengasah potensi-potensi yang dimiliki peserta didik. Hal sederhana yang dapat dilakukan oleh guru ketika melaksanakan pembelajaran adalah dengan menanyakan kabar, memberikan motivasi sebelum kegiatan pembelajaran, melakukan observasi karakteristik peserta didik, melaksanakan pembelajaran secara kontekstual (disesuaikan dengan budaya sekitar dan apa yang dialami peserta didik), memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada peserta didik dalam penugasan proyek, serta model/ strategi pembelajaran lain yang dapat mengasah potensi peserta didik sesuai dengan kemampuannya tanpa harus memaksanya. Dengan adanya hal tersebut, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan dapat mengasah potensi masing-masing peserta didik sehingga menghasilkan pembelajaran yang efektif dan efisien.